Facing the PROBLEMS

The discretion of a man is shown by his patience; he glories when his iniquity is removed (Proverbs 19:11, GLT)[1] (Kebijakan seorang ditunjukkan oleh kesabarannya; ia bersukacita dengan bangga ketika pelanggarannya dihapuskan; terjemahan bebas)

Kehidupan tanpa problem (masalah) adalah kuburan, namun menguburkan diri sendiri karena problem adalah problem-kekal di kehidupan-kekal. Problem adalah suatu hal normal yang setiap orang hidup harus menghadapinya, sebagaimana bangsa Israel telah menghadapi banyak problem sepanjang perjalanan sejak keluar dari perbudakan menuju Tanah Perjanjian.
Problem datang dari banyak sebab, dari iri hati orang lain, dari kesalahan sendiri bahkan bisa datang dari Iblis.
Artikel ini adalah kumpulan kesaksian yang berdasarkan kisah nyata bagaimana mereka menghadapi problem-problem dan keluar sebagai Para PEMENANG.

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Elohim setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.  (1 Korintus 10:13)

Ayub menderita koreng busuk dari IblisAYUB dari tanah Us; Menghadapi problem tuduhan palsu. Asal-usul Ayub tidak begitu jelas, mungkin ia putra dari Nahor dan Milka, saudaranya Abraham (Kej 22:20-21) atau cucu dari dari Aram, putranya Sem (Kej 10:22-23). Alkitab menulis Ayub datang dari garis keturunan Sem, sebagaimana Abraham juga berasal (1 Taw 1:17-24). Orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Elohim dan menjauhi kejahatan.  (Ayub 1:1). Ia seorang imam yang setia bagi keluarganya, “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Elohim di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.  (5). Elohim YAHWEH menyebut Ayub sebagai ”hamba-Nya yang saleh dan jujur:”  Lalu bertanyalah YAHWEH kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Elohim dan menjauhi kejahatan.” (8).

Namun dalam satu hari saja Ayub telah tertimpa problem yang sangat berat. Semua ternaknya, dan sebagian besar dari pekerjannya, tujuh putra dan tiga putrinya lenyap dari tanganya. Semua terjadi karena perbuatan Iblis (13-19) – seijin dari YAHWEH (8-12).
Apakah reaksi Ayub yang pertama di dalam menghadapi problem yang begitu berat dan mendadak serta menyedihkan ini? Ayub jelas tidak mengetahui percakapan antara YAHWEH dan Iblis ketika pertemuan tersebut terjadi. Ayat 20 menceritakan reaksi Ayub: Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. YAHWEH yang memberi, YAHWEH yang mengambil, terpujilah nama YAHWEH! (20-21)

Iblis terbukti sebagai malaikat Penuduh, Ayub tetap saleh, jujur serta takut akan Elohim. Iblis menantang YAHWEH untuk kedua kalinya, dan DIA menerima tantangan Iblis!! (Ayub 2:4-6) – Lalu Iblis menimpa Ayub dengan koreng yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batok kepalanya (ayat 7), ditambah dengan pencobaan untuk mengutuk Elohim melalui mulut isteri Ayub, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Elohimmu dan matilah!” Bagaimana Ayub menghadapi problem ini?
Respond Ayub kepada perintah jahat tersebut ialah ”Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Elohim, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”

Penderitaan Ayub yang disebabkan oleh Iblis begitu berat sehingga ketiga sahabat Ayub, yang datang untuk menghibur dirinya tidak bisa berkata apa-apa kecuali hanya  ”duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam” (2:13). Ketika akhirnya mereka bisa berbicara, mereka bukan menghibur Ayub tetapi menyalahkannya. Pepatah berkata ”sesudah jatuh lalu ketiban tangga” demikian problem yang diterima Ayub.
Memerlukan 35 pasal sebelum akhirnya Elohim menghentikan percakapan mereka – yang tidak berkata benar tentang (karakter) YAHWEH seperti hamba-Nya Ayub (42:8). Lalu Ayub berdoa meminta pengampunan ketiga temannya itu, dan YAHWEH menerima permintaan Ayub (9) dan upah kemenangan Ayub di dalam menghadapi problem di atas ialah ia beroleh dua kali-lipat dari kekayaan semula dan lahir baginya 7 putra dan 3 puteri yang sangat cantik dan umur panjang sehingga ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat (12-16).

Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus.  (Wahyu 13:9-10)

Daud dikejar tombak raja SaulDAUD putra ISAI; Menghadapi problem dikejar musuh yang iri hati. Diurapi oleh nabi Samuel sebagai raja Israel (Yudea dan Samaria) ketika ia masih remaja, berjasa besar di dalam kerajaan Saul dan rakyat Israel: mengalahkan Goliat pemimpin perang suku Filistin hanya dengan katapelnya (1 Sam 17), memukul puluhan ribu tentara musuh dan bahkan mengusir roh-roh jahat yang mengganggu jiwa raja Saul hanya dengan permainan kecapinya (1 Sam 16); namun upah yang diterima dari raja Saul adalah ancaman kematian demi kematian selama bertahun-tahun, sampai ia berusia 30 tahun.
Iri-hati raja Saul kepada Daud, seorang kaptennya, membuat roh jahat semakin leluasa menguasai Saul. Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya (1 Sam 18:5).

Pada suatu ketika – hanya satu hari setelah Daud kembali dari peperangan melawan orang Filistin, dan disambut oleh rakyat dengan tarian dan nyanyian dengan rebana “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” – roh jahat membuat raja Saul kerasukan sehingga Saul ingin membunuh Daud yang sedang bermain kecapi dirumahnya (Daud tinggal di istana raja). Dua kali ia melemparkan tombaknya kepada Daud yang hanya berjarak tidak jauh daripadanya, namun  Daud selamat (1 Sam 18:5-10)
Sejak itu Saul selalu mengirim Daud ke garis depan peperangan – supaya ia tewas, namun Daud selalu taat dan berhasil menang, sebab YAHWEH menyertai dia (15) dan problem ini berubah menjadi berkat bagi Daud – ia semakin dikasihi oleh seluruh bangsa Israel (16).

Keinginan raja Saul untuk Daud mati semakin besar, dengan mamakai nama Yang Mahatinggi Saul menjanjikan Merab, puteri sulungnya, menjadi isterinya jika ia pergi perang melawan orang Filistin; Daud menang, tapi Merab diberikan kepada pria lain. Lalu raja Saul menjanjikan Mikhal, putrinya, dengan catatan Daud harus membawa 100 kulit khatan orang Filistin sebagai mas kawinnya, dalam hal inipun Daud kembali dengan selamat dan menjadi mantu Saul.

Suatu malam Daud sedang menyembah Elohim dengan kecapinya, Saul ingin menancapkan Daud ketembok dengan tomboknya, YAHWEH menyertai Daud, ia menghindar dan melarikan diri kerumahnya. Pada malam yang sama, Saul mengutus mata-mata, namun Mikhal, isteri Daud, puteri Saul, memperingatkan Daud rencana ayahnya dan menolong Daud untuk melarikan diri ke Nayot dimana nabi Samuel tinggal. (1 Sam 19)

Pasal 20 adalah cerita sejarah yang sangat mengharukan, bagaimana Daud dan Yonatan, putra Saul, membuat persahabatan di bawah sumpah. Daud tahu bahwa YAHWEH telah memilih dirinya menjadi raja, dan sebaliknya raja Saul berhasrat putranya yang meneruskan kerajaannya.  Kedua pemuda ini melihat persahabatan jauh lebih penting daripada jabatan kerajaan. Sangat menarik bagaimana Daud menghadapi problemnya di dalam keluarga Saul; Daud berkata kepada Yonatan,jika ada kesalahan padaku, engkau sendirilah membunuh aku. Mengapa engkau harus menyerahkan aku kepada ayahmu?” (8). Pada perjamuan makan resmi bersama ayahnya, ia bertanya kepada ayahnya tentang Daud, Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?” (32) Jawaban Saul adalah lemparan tombak yang hampir membunuh jiwa Yonatan. Lalu Yonatan tahu keseriusan ayahnya, dan ia membuat tanda rahasia kepada Daud untuk temannya ini melarikan diri. Saat inipun jika ada orang Muslim berani mempertanyakan pertanyaan yang sama kepada para Islam radikal Mengapa orang Kristen harus dibunuh?Apa yang telah dilakukannya? kemungkinan besar nyawa orang Muslim yang saleh tersebut akan terancam.

Daud harus lari dari kota ke kota lainnya, sebab Saul mengirim mata-matanya, Saul tidak segan-segan bahkan membunuh keluarga imam yang sempat menampung Daud. Tidak ada kota yang aman bagi Daud, sehingga ia dan pengikutnya harus tinggal di padang gurun disebuah pengunungan di padang gurun Zif. (1 Sam 23). Di sini Saul dan pasukannya hampir saja menangkap Daud oleh sebab Daud semata-mata menghindari tumpah darah; keahlian Daud berperang, orang-orannya yang pintar perang serta penyertaan Elohim tidak membuat Daud main hakim sendiri. Daud lari ke padang gurun En-Gedi.
Saul dengan 3.000 tentara pilihannya memasuki En-Gedi. Ketika Saul sendirian di dalam goa untuk membuang hajat, Daud dan orang-orangnya yang ngumpet dibelakang goa dapat dengan mudah membunuh Saul – orang yang berkali-kali hendak mencabut nyawa Daud.
Saat itu adalah kesempatan emas bagi Daud untuk menggenapi impiannya menjadi raja Israel, bukankah ia telah diurapi oleh nabi Samuel untuk jadi raja, atau sedikitnya mengakhiri penderitaannya dari kejaran maut musuhnya; nah sekarang musuhnya ada di tangannya.

Jika Anda sebagai Daud, melihat ’kesempatan emas’ (dunia berkata) seperti itu apa yang Anda akan lakukan?

Namun Daud menang dari problem ini, ia berkata kepada orang-orangnya, ”Dijauhkan YAHWEHlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi YAHWEH, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi YAHWEH.”  (1 Sam 24:7).
Daud hanya memotong jubah Saul, sebagai tanda. Ia memberi salut kepada rajanya dan memanggil mertuanya ”ayahku.” (12).

Daud menang dari kepahitan dan ia tidak tergesa-gesa menjadi raja, ia menanti waktu YAHWEH!

Kunci kemenangan Daud tertulis di 2 Samuel 22:1-7, Daud bersertu kepada Elohimnya, “Ya YAHWEH, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Elohimku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.” Perhatikan kalimat Daud berikutnya di terjemahan Inggrisnya bagus sekali, I called to the LORD (YAHWEH), who is worthy of praise, and I was saved from my enemies.” (4; HCSB).

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Elohim kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.  (Yakobus 1:12)

Zakheus bertemu Yeshua Ha MashiahZAKHEUS Pemungut Pajak / Cukai; Menghadapi problem double-murtad.
Cerita tentang laki-laki Israel yang bernama Zakheus (Zakkai; TS98/ISR)[2] yang hidup di Yerikho di jaman Yeshua Ha Mashiah hanya terdapat di Injil Lukas, walaupun hanya sepuluh ayat Lukas memberikan pembacanya latar belakang kehidupan pria ini dengan jelas, membuat kisah Zakheus ini begitu unik, sangat mengharukan namun berakhir dengan suka cita yang sangat besar. Baca Lukas 19:1-10.

Untuk mengerti benar-benar problem Zakheus, kita harus melihat kehidupan bangsa Israel saat itu dan latar belakang orang yang dikenal sebagai “Pemungut Pajak”  atau “Pemungut Cukai” tersebut.
Zakkai (Zaccai; in English) adalah nama orang Yahudi yang berasal dari nama keluarga “Zakkai,” lihat Ezra 2:1.2,9 daftar keluarga orang Israel yang kembali dari pembuangan; seperti PM Israel yang sekarang, Benyamin Netanyahu, ia berasal dari keluarga Benyamin.

Pada saat Zakheus dan Yeshua hidup, Israel masih berada di dalam penjajahan Romawi (63 BC-313 AD),[3] jadi hampir seratus tahun lamanya dikuasai Romawi – dengan tangan besi (Mat 20:25) – ketika cerita Zakheus ini terjadi. Kaisar Romawi saat itu adalah kaisar diktator (dominius) Octavian yang mengganti indentitasnya menjadi Augustus (yang berarti “layak disembah”). Menjadikan dirinya sebagai salah-satu dari dewa-dewa Romawi , dan bahkan sejak kematiannya, ayahnya, yakni Kaisar Julius, dinyatakan sebagai “god” (dewa). [4] Dan Arkhelaus ditunjuk sebagai raja Herodes II atas wilayah Yudea oleh Octavian. Arkhelaus adalah putra dari Herodes I (Herold the Great), yang telah diangkat oleh Julius Caesar sebagai ”King of the Jews” yang palsu di Yudea. Herodes II ini tidak kalah kejamnya dibanding ayahnya; ayahnya telah memerintahkan semua bayi laki-laki dibawah usia dua tahun di Yudea harus dibunuh, fakta ialah, ia lebih jahat dari ayahnya, di awal pemerintahannya Herodes II memerintahkan para tentaranya membunuh sembilan ribu orang Yahudi yang sedang merayakan Pesta Paskah (Passover) di Bait Elohim, hal ini mungkin yang menyebabkan Yusuf (suami Maria) takut balik ke Bethlehem, Israel, sehingga ia pergi dan menetap di kota Nazaret di Galilea (Mat 2:22-23).[5]

Sebagaimana umumnya di jaman penjajahan, bahwa rakyat harus membayar pajak/ cukai kepada penjajahnya, dimana besar pajak ditetapkan sesuka hati si penjajah.
Kerja sebagai Pemungut pajak bagi penjajah adalah kehinaan bagi yang terjajah, citra buruk tambahan dari pemungut pajak adalah mereka adalah “mata duitan,” tidak segan-segan berbuat berbohong (memanipulasi data)  dan melakukan pemerasan demi keuntungan dirinya sendiri. Jadi tidaklah heran jika orang-orang Yahudi saat itu – seperti tertulis di Injil -  mensetarakan moral para pemungut pajak dengan orang-orang berdosa.[6] Korban terbesar dari pemungut pajak yang “mata duitan” umumnya justru rakyat miskin, bukan orang kaya sekalipun keuntungan terbesarnya ia dapat dari orang kaya; contoh: pajak sebenarnya 50 juta, pemungut pajak menulis  25 juta, 5 juta masuk kantong sendiri dan si kaya untung 20 juta. Jadi pemungut pajak adalah orang yang baik dimata orang kaya yang kompromi dengan pendosa tersebut. Tidaklah heran Adonai Yeshuapun tidak ingin para pengikutnya memiliki kasih seperti jenis kasih yang dimiliki pemungut pajak (Mat 5:46).

Lukas mengawali cerita tentang Zakheus: Yeshua masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.  (Luk 19:1-2).

Sekarang kita dapat lebih jelas mengerti problem yang dihadapi oleh laki-laki Yahudi yang bernama Zakheus ini; ia bukan sekedar ”seorang pemungut cukai” atau ”pemungut pajak” yang dibenci oleh rakyat Israel sebagai ”penghianat bangsa,” lebih lagi pria ini adalah ”kepala penghianat bangsa Israel” di mata rakyat Israel, pada satu sisi. Dan pada sisi lainnya ia juga pendosa besar, menyalah gunakan jabatannya untuk memeras bangsanya sendiri yang sudah miskin. Zakheus menghadapi problem ”double-murtad,” kita bisa katakan.
Di mata mereka ‘dosa’ Zakheus ini adalah dosa yang tidak dapat dimaafkan.

Kota Yerikho adalah kota yang dikutuki oleh Yoshua (Yoshua 6:26), Yeshua tidak tertarik berbuat mujizat atau pelayanan apapun di kota ini, Ia hanya ”berjalan terus melintasi kota itu” menujut ke kota Yerusalem untuk menggenapi nubuatan para nabi, lihat Luk 19:28-40 [7]

Ajaran mulia Yeshua yang disertai mujisat dan kesembuhan telah menarik perhatian Zakheus. Ia ingin tahu dan melihat sendiri dengan matanya ”siapakah Yeshua orang Nasaret yang disebut Ha Mashiah tersebut?” Namun double-murtadnya menghalangi ia untuk bisa ada di tengah-tengah rakyat  – yang tidak suka kepadanya – yang juga ingin melihat Yeshua, ditambah dengan tubuhnya yang pendek membuat kerinduannya nampak mustahil.
Sementara ia berpikir bagaimana kerinduan hatinya melihat Juruselamat dapat terpenuhi jam terus perputar dengan cepatnya; ”Sesuatu harus diperbuat!,” Zakheus berkeputusan, “Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. (4)
Perhatikan, tidak ada bapa-bapa di Israel (dan juga di banyak negara Timur Tengah) apalagi orang kaya seperti Zakheus ini lari-lari dimuka umum, yang mengharuskan ia mengangkat sarungnya sehingga betisnya kelihatan, nah apalagi nonton orang lewat dengan memanjat pohon – Zakheus benar-benar berani keluar dari ”kotak tradisi dan kebiasaan setempat.” Luar biasa, ini suatu tindakan yang menunjukkan betapa besar kerinduan Zakheus melihat Ha Mashiah.

Zakheus mendapatkan lebih dari apa yang ia harapkan. Setibanya di atas pohon, sementara nafasnya mungkin masih engos-engosan, Mashiah Yeshua memanggil dirinya dengan namanya,  “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (5) Adonai tidak hanya ingin berbicara dengan dirinya, lebih lagi ingin menumpang di rumahnya!! Genaplah apa yang dinubuatkan Yesaya tentang Adonai Yeshua Ha Mashiah, tertulis, Mendekatlah kepada-Ku … , dan sekarang, Tuhan YAHWEH dan Roh-Nya telah mengutus Aku. Beginilah YAHWEH, Penebusmu, Yang Mahakudus, (Elohim) Israel berfirman: “Akulah YAHWEH, Elohimmu, yang mengajarmu supaya beruntung, yang membuat engkau menapak di jalan yang akan engkau tempuh.  (Yes 48:16-17; ILT)
Ditengah sungut-sungut semua orang, lalu Zakheus berdiri menyatakan pertobatan kepada Yeshua: “Tuhan (Adonai), setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan ku kembalikan empat kali lipat.” (8)
Yang disambut Yeshua dengan gembira, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (9-10).
Jangan pernah berpikir bahwa Elohim Abraham menolak bangsa Israel, yakni orang Yahudi (datang dari kata “suku Yehuda”), terlepas dari kekerasan hati sejumlah orang Israel, YAHWEH tidak akan pernah membatalkan pernjanjian-Nya kepada Israel!! Baca kitab Roma pasal 11, dan seluruh kitab Hosea. Lahirnya kembali Israel sebagai negara di tahun 1948, dan tetap tidak terhapuskan sampai saat ini adalah bukti kesetian dan kuasa YAHWEH atas Israel!!

Pilgrem ProgressJOHN BUNYAN (1628-1688); Menghadapi problem kesulitan hidup, kemudian dipenjara berkali-kali karena imannya.
John adalah pendeta yang sangat termashur dalam sejarah Gereja, ia penulis buku yang terkenal The Pilgrim’s Progress, telah diterjemahkan kedalam 200 bahasa. Ia menulis 58 buku di dalam kehidupannya.
Usia 16 tahun, ibunya meninggal dunia, sebulan kemudian adik perempuannya, lalu hanya dalam dua bulan ayahnya menikah kembali. Dua tahun (1642) kemudian Inggris menghadapi Perang Saudara yang sangat berat Parlement melawan Monarki; Uksup dieksekusi Parlement (1645), raja dipenggal kepalanya di tahun 1649. Perang ini dibagi tiga periode: 1942-45; 1648-49; 1649-51.
1649 ia menikahi Mary, seorang gadis yang membawa peranan besar di dalam membawa John kepada Yeshua; dari istrinya ini ia beroleh 4 anak. Mary, putrinya yang pertama, sama dengan nama ibunya, terlahir buta.

Kehidupan pribadi yang sulit ditambah dengan kondisi ekonomi dan politik yang buruk John pergi ke Bedford, ia mendengarkan percakapan tiga-empat wanita miskin yang duduk di depan pintu rumah sambil berjemur; mereka membicarakan ”kebaikan Elohim” dan ”kelahiran baru” yang mereka alami. Percakapan mereka sungguh menemplak ”pemuda hypokrite malang” ini, John menulis pada buku autobigrofinya Grace Abounding to the Chief of Sinners. Di kota ini ia bergabung dengan kelompok sel dan Alkitab menjadi jangkar hidupnya sejak itu, ”Saya tidak dapat keluar darinya. Alkitab bernilai bagi ku pada hari-hari itu.” Di menjadi pengkotbah di kota ini 1655, setahun berikutnya ia menerbitkan buku koleksi kotbatnya yang berjudul ”Some Gospel Truths Unfolded

Usia 30, 1958, isteri Bunyan meninggal dunia, meninggalkan dirinya beserta empat anak-anak yang masih kecil; Mary, Elizabeth, John dan Thomas. Setahun kemudian ia menikahi Elizabeth. Lalu tahun 1660 Monarki bangkit kembali, kebebasan beribadah kembali tertekan, Di bawah raja Charles II, 300 pengkotbah dihukum mati, dan John Bunyan dipenjara ketika Mary, yang buta itu masih berumur 10 tahun.

The LORD is near to all who call upon Him, to all who call upon Him in truth (Psalms 145:18; GLT) (YAHWEH dekat kepada semua orang yang berseru kepada-Nya, kepada semua orang yang berseru kepada-Nya dalam kebenaran)

Elizabeth harus merawat 4 anak angkatanya dan dua lagi yang ia lahirkan sendiri dari Bunyan; Sarah dan Joseph selama 12 tahun Bunyan keluar masuk penjara hanya karena imannya dan kotbahnya yang berpusat pada Alkitab. Wanita ini menghadap para hakim meminta keringanan bagi Bunyan, oleh sebab wanita ini tidak mampu merawat 6 anak yang masih kecil tersebut. Namun para hakim raja tersebut tidak perduli, seorang dari mereka berkata kepada wanita ini tentang Bunyan, ”Doktrinya adalah doktrin Iblis!” Yang dijawab oleh Elizabeth dengan berani, “Tuanku, ketika Hakim yang adil datang, itu akan diketahui bahwa doktrinya bukanlah doktrin Iblis!”

Setiap kali ia dibebaskan ia selalu kembali berkotbah, dan diseret kembali ke penjara. Hidupnya yang berat membuat tubuh John begitu lemah, namun ia tetap melayani Elohimnya dengan setia.

John Piper, pengkotbah abad 21 yang terkenal membuka rahasia kesuksesan John Bunyan di dalam menghadapi problem hidupnya. John Piper mengutip dari buku autobiografi Bunyan Grace Abounding to the Chief of Sinners,[8] “Ia mengutip 2 Korintus 1:9 dimana Paulus berkata, Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Elohim yang membangkitkan orang-orang mati. Lalu ia [Bunyan] berkata,
“Melalui ayat ini, saya telah dibuat melihat bahwa jika pernah saya akan menderita dengan benar, saya haruslah pertama-tama lulus hukuman kematian diatas setiap hal yang dapat ada disebut dengan benar sesuatu dari kehidupan ini, bahkan memperhitungkan diriku sendiri, istriku, anak-anakku, kesehatanku, kesenanganku, dan semuanya, sebagai mati bagiku, dan saya sendiri sebagai sebagai mati bagi mereka. Yang kedua ialah, untuk hidup bagi Elohim yang tidak kelihatan, sebagaimana Paulus menulis di tempat lain; cara yang tidak sia-sia, yang adalah Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.  (2 Kor 4:18).

”Kita harus hidup demi Elohim yang tidak kelihatan,” John Pipir menyimpulkan intisari keberhasilan John Bunyan di dalam mengatasi problem hidupnya.
Kebenaran analisa John Piper sejalan dengan kotbah Bunyan yang terakhir sebelum ia meninggal dunia, “Hiduplah seperti anak-anak Elohim, sehingga kalian dapat melihat wajah Bapa dengan yakin untuk hari berikutnya.”
Baca: Penglihatan-penglihatan tentang Sorga dan Neraka; kesaksian John Bunyan

Misty EdwardsMISTY EDWARDS; Menghadapi problem kangker.
Misty adalah pemimpin pujian dan penyembahan, penulis lagu Kristen menerima penyakit kangker dua kali.
Saat ia berusia lima sampai tujuh tahun tidur dirumput dan melihat kelangit memperhatikan bintang-bintang dan benda-benda angkasa lainnya, ia telah mengerti bahwa Elohim pastilah eksis, dan pastilah ada kehidupan setelah kematian. Saat ia aktif-aktifnya melayani Elohim 24 jam sehari dan 7 hari seminggu dengan pujian-penyembahan dan doa di International House of Prayer (IHOP) di Kansas City, dokter mendiagnosa Misty menderita kangker – ia akan kehilangan kakinya atau hidupnya.

Sementara berbaring di rumah sakit, karena kangker tersebut, Misty bertanya pada dirinya sendiri, ”Saya mungkin meninggal pada usia 20 tahun, apa itu artinya bagi keberadaanku (di bumi ini)? Sudahkan saya mencapai tujuanku pada usia 20? Atau saya dapat saja meninggal pada usia 90, apa itu artinya? Apa itu maksudnya? Misty menyadari Elohim mempunyai rencana besar pada dirinya namun disisi lain ”saya tidak mendapatkan kesembuhan supernatural, sekalipun saya percaya hal itu bisa terjadi,” ia bercerita kepada Sid Roth di acara It’s Supernatural! ”Jadi saya hanya mengangkat kedua tangan saya ke atas dan berkata kepada Dia, Engkau adalah Elohim, saya adalah manusia. Terkadang saya tidak mengerti Engkau, tetapi saya percaya kepada Mu.’” Elohim menyembuhkan saya!” 

Ketika enam setengah tahun kemudian kanker itu kembali kepada dirinya, Misty tahu bagaimana menghadapi problem tersebut. Menyerahkan masalah itu kepada Elohim dengan ucapan syukur. Dari pengalaman ini lahirlah lagunya yang terkenal ”Finally I Surrender.”  Dari problem ini juga lahir bukunya yang  berjudul ”What is the Point?, seperti terlihat pada interviewnya di CBN.com”Ada kebebasan di dalam mempercayai otoritas Elohim sebagai Pencipta. Dia tahu apa yang Dia kerjakan!” Misty berkata.

Penutup. Kelima pribadi di atas menang di dalam menghadapi problem-problem yang menghadang hidup mereka, oleh sebab mereka memiliki iman yang hidup kepada YAHWEH. Ya mereka percaya kepada kekuasaan dan keadilan Pencipta mereka, namun lebih lagi mereka berseru meminta pertolongan-Nya.
Penulis kitab Ibrani menasehatkan kita, para orang percaya, agar kita ”berlomba dengan tekun sambil mata tertuju kepada Yeshua” yang berdiri di garis finish dengan mahkota-mahkota bagi Anda dan saya, Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yeshua, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Elohim. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.  (Ibr 12:1-3)

Yeshua telah menang, maka kitapun pasti juga menang jika kita tetap tinggal di dalam Dia! Selamat menempuh kehidupan tahun 2014, YAHWEH memberkati Anda dan Immanu’el!!

Referensi: 
[1] George M. Lamsa’s Translation, dari bahasa Aram Peshitta
[2] TS singkatan dari The Scriptures.
[3] Roman Rule (63 BC-313 AD)
[4] Behind Luke’s Gospel: The Roman Empire During the Time of Jesus
[5] John Gill Exposition of the Entire Bible at Matthew 2:22; Mengutip tulisan Josephus.
[6] Mat 9:10; Mark 2:16; Lukas 18:10
[7] Yeshua menunggang keledai muda dan disambut rakyat dengan seruan Hosana (artinya: selamatkan kami sekarang) telah dinubuatkan oleh nabi Zakaria (9:9) dan nabi Daud (118:25-26)
[8] To Live Upon God that Is Invisible: Suffering and Service in the Life of John Bunyan by Pastor John Piper

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya http://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: