Yeshua Ha Mashiah melihat Dunia Politik


Dialah (Yahshua, His beloved Son[1]) gambar Elohim yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan, sebab oleh Dia segala sesuatu telah diciptakan, yang ada di dalam surga dan yang ada di atas bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik takhta-takhta atau para pemegang kekuasaan, atau penguasa-penguasa atau otoritas-otoristas; segala sesuatu telah diciptakan melalui Dia dan bagi Dia (Kolose 1:15-16; ILT [2])

Pendahuluan. Artikel ini adalah bagian dari seri artikel ”Yeshua ha Mashiah sebagai pemikir dan pengajar filosofi kehidupan bagi manusia.”
Apa yang Yeshua katakan tentang kebebasan berpendapat, kesamaan hak gaya-hidup, hak asasi wanita dan setumpuk masalah-masalah kehidupan manusia lainnya?
Yeshua hadir sebagai guru rohani, moral serta kehidupan ketika ia tepat berusia 30 tahun. Hanya tiga setengah tahun Ia mengajar dan memuridkan. Pemikiran dan ajaran-Nya saat ini berada pada posisi pertama di dunia baik dari sisi jumlah pengikut maupun aplikasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara di negara-negara sedang berkembang dan maju di abad modern ini.

”Apakah sah (lawful [3]) untuk membayar pajak kepada Kaisar (penjajah) atau tidak? Bolehkan (should [4]) kami membayarnya, atau bolehkan (should) kami tidak membayarnya? (Markus 12:14-15) sekelompok orang bertanya kepada Yeshua.


Untuk mengerti kedalaman pertanyaan ini, kita perlu mengerti kondisi histori saat itu. Saat Yeshua hidup, negara Israel telah berada dalam penjajahan Kerajaan Romawi. Para pemimpin agama bangsa Yahudi dari kelompok Saduki dan Farisi menentang pembayaran pajak kepada pemerintah Romawi, sebab itulah orang Yahudi yang bekerja sebagai pemungut cukai atau pajak digolongkan sebagai ”orang berdosa.” bagaimana pun mereka membayar pajak secara terpaksa untuk menghindari status ”pelaku kriminalitas” – yang bisa berakibat pemenjaraan, hukuman pecut dan terburuk: hukuman mati melalui penyaliban di tiang kayu salib.
Para pemimpin agama Yahudi tersebut juga memiliki konflik dengan Yeshua yang mereka anggap sebagai ”perusak tradisi kepercayaan nenek-moyang mereka,” namun yang membuat mereka ingin sekali menghabiskan nyawa-Nya adalah klaim-klaim Yeshua sebagai ”Putra Elohim” atau ”Elohim yang menjelma menjadi Daging”
Dari dua konflik kehidupan di ataslah beberapa orang Farisi dan Herodian sengaja dikirim oleh imam-imam kepala, para ahli Torah dan tua-tua Israel untuk menjebak Yeshua dengan pertanyaan tersebut, di tengah-tengah kerumunan orang banyak. (Mark 11:27 & 12:13)


Konflik dengan Yeshua karena klaim dan ajarannya
Konflik jiwa para pemimpin agama (para imam dan para ahli Torah) dan pemuka bangsa (tua-tua Israel) dengan Yeshua adalah konflik permukaan dan baru, konflik mereka yang lebih dalam adalah pemberontakan dan kebencian kepada penjajah Romawi yang memerintah dengan tangan besi dan berkelanjutan.
Sebagaimana umumnya terjadi di banyak negara, dimana para pemimpin bangsa dan pemimpin agama pada khususnya, lebih perduli untuk memelihara keyakinan agama dan tradisi mereka daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan sosial bangsanya sendiri.
Itulah yang tepatnya terjadi kepada kedua institusi bangsa Yahudi di atas. Para pemuka ini menutup mata rapat-rapat semua perbuatan baik Yeshua: menyembuhkan rakyat dari berbagai penyakit, mentahirkan yang kusta, membebaskan mereka yang kerasukan roh-roh jahat dan memberi makan yang lapar dan menghibur yang susah. Nampaknya para pemuka tersebut berpendapat bahwa rakyat adalah milik mereka dan harus percaya kepada mereka saja.

Mengabaikan akar dari konflik hanyalah menghasilkan reaksi yang lebih buruk; mereka mengutus beberapa orang Farisi dan orang Herodian untuk menyingkirkan Yeshua, Orang Yang Diurapi YAHWEH.[5]
Kelompok Farisi melihat kelompok Herodian (orang-orang dari raja Herodes) sebagai ”orang-orang kafir,” dan mereka tidak bergaul, namun ajaibnya mereka bisa bersatu dalam memerangi Yeshua, itu seperti kucing dan tikus yang biasanya selalu berkelahi tiba-tiba menjadi akur karena suatu alasan yang lebih prinsip.


Konflik dengan ”Kaisar” (penguasa)
Pembayar pajak di negara-negara sedang berkembang dan pendudukan tentara asing adalah lambang dari “penundukan diri” dan ”penjajahan.” Sekelompok orang dan suku bisa merasa terjajah oleh bangsanya sendiri hanya karena penguasa teratas berlainan ideologi, berlainan aliran agama dan atau berlainan partai politik dengan kelompoknya.
Dalam jiwa mereka selalu terjadi konflik: ”seharusnyakah kami membayar pajak kepada ”kaisar?” Konflik jiwa ini ketika sudah matang akan menghasilkan konflik fisik: perang – yang dipimpin oleh tokoh agama dan masyarakat (tua-tua suku) yang perduli dengan agama dan tradisi nenek moyang mereka.
Anda mungkin masih ingat demontrasi global di Timur Tengah empat-lima tahun lalu, dimana rakyat secara serentak turun ke jalan-jalan, bentrok fisik dengan polisi di kota-kota besar. Pada permukaan gerakan protes itu nampak sebagai memperjuangkan rakyat. Namun masalah yang lebih dalam adalah gerakan keagamaan dan ideologi; rakyat jelata hanyalah alat bagi cita-cita orang-orang tertentu.
Kelompok yang merasa terjajah menganggap penguasa politik yang sedang memerintah sebagai ”kaisar-kaisar” yang harus disingkirkan, karenanyanya bagi mereka sendiri, aksi protes mereka adalah bagian dari ”hak-hak asasi;” menyebut gerakan revolusi mereka ”Jasmine Revolution” (bunga melati yang harum), dan Barat menyebut itu sebagai gerakan ”Arab Spring.” Sebaliknya penguasa melihat tindakan mereka sebagai ”terrorist-terrorist.” Dan kita sekarang melihat ”buah” dari gerakan tersebut; itu terbukti bukanlah ”jasmine” dan juga bukan ”spring,” tetapi ”bau asap-perang” dan ”autumn” (jiwa-jiwa berguguran). Itulah masalah dari setiap ”pemecahan konflik permukaan.” Mereka berjuang atas nama Damai melalui senjata dan terror, sehingga genaplah yang Alkitab katakan: ”Mereka menyesatkan umat-Ku dengan mengatakan: Damai sejahtera! (Peace!), padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera.” (Yez 13:10)
Inilah yang menyebabkan lahirnya perang suku karena aliran Islam yang berbeda di Somalia, sejak 1990 dan berkelanjutan sampai saat ini. Perang sipil di Libya, Sunni lawan Sunni, sudah berjalan 4 tahun. Syria perang Sunni lawan Shia telah berlangsung lebih dari 3 tahun. Mesir pun masih belum stabil serangan “terrorists” bisa terjadi setiap waktu.
Para tokoh agama dan pemimpin suku tersebut tidak perduli dengan penderitaan dan kebutuhan hidup rakyatnya yang harus tidur di tenda-tenda (kedinginan di waktu malam dan kepanasan diwaktu siang), hidup jauh di bawah standard nutrisi dan kebersihan serta privacy.

Konflik yang sesungguhnya, konflik dengan Pencipta mereka
Masalah utama atau yang terdalam dari manusia adalah konflik jiwa kita kepada Pencipta kita. Ketika kita memiliki konflik dengan Pencipta kita, buahnya adalah kita akan selalu ada konflik dengan siapa pun, apa pun alasannya, di mana pun kita hidup!
Saya pernah melayani seorang mahasiswi yang sering diganggu roh-roh jahat. Lilin yang dipasangnya bisa tiba-tiba mati, dan ia sendiri pernah terlempar ketika berada di kamar kosnya. Ia beberapa kali pindah rumah kos, masalah tetap terjadi. Ketika saya mempelajari kehidupan mahasiswa ini, saya mendapat hikmat bahwa pindah rumah kos bukanlah kunci pemecahan tetapi adalah mengusir roh-roh jahat yang menguasai jiwa dan tubuh mahasiswi tersebut. Masalah segera selesai ketika ia dilayani pelayanan pelepasan dan bertobat dari kehidupan yang tidak sesuai Firman Elohim.
Pemberontakan kita kepada Pencipta kita membuat kita jiwa kita tidak pernah puas dengan apapun, yang berakibat kita berontak kepada institusi otoritas yang Dia telah tetapkan kepada kita: orang tua, guru, pemerintah dan pemimpin rohani.
Jawaban Yeshua pada pertanyaan ”perlukah membayar pajak kepada kaisar” di atas bukan sekedar menunjukkan Ia seorang yang jenius (sebagai seorang guru), lebih dari itu Yeshua mampu melihat masalah utama di dalam jiwa mereka; ”Tetapi Yeshua mengetahui kemunafikan mereka.” (Mark 12:15). Terlalu sering manusia memakai kedok keagamaan untuk nampak di mata manusia bahwa ia orang yang suci. Namun Elohim tidak bisa ditipu.

Pemecahan pertama. Yeshua memberi pemecahan bagaimana caranya mereka bisa mengakhiri seluruh konflik jiwa mereka, dari yang nampak di permukaan sampai yang terdalam. Kalimat pertama dari jawaban Yeshua adalah cara klasik Elohim mengobati jiwa manusia: dari dalam menuju luar; dari jiwa menuju pikiran; Ia berkata, ”Mengapa kamu mencobai Aku? Yeshua tidak langsung menjawab pertanyaan (pikiran), tetapi Ia membongkar terlebih dahulu motif jahat yang tersembunyi dalam misi mereka (jiwa).
Ia membuka mata-jiwa mereka untuk melihat dosa mereka, menundukkan jiwa mereka di hadapan Elohim.

Pemecahan kedua. Yeshua mengajar mereka bagaimana seharusnya melihat dunia politik.
Perhatikan jawaban Yeshua atas pertanyaan ”Apakah sah (lawful) untuk membayar pajak kepada Kaisar (penjajah) atau tidak?”
Yeshua berkata:
”Bawalah kepada-Ku satu dinar agar Aku melihatnya.” Dan mereka membawanya, dan Dia berkata kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?”
Dan mereka berkata kepada-Nya: “Kaisar.”
Dan seraya menanggapi, Yeshua berkata kepada mereka: “Berikanlah kembali kepada Kaisar hal-hal milik Kaisar, dan kepada Elohim hal-hal milik Elohim!”
Dan mereka takjub kepada-Nya. (They marveled at Him; EMTV) (Mark 12:15-17)

Ini bukanlah suatu jawaban yang bersifat politis, Yeshua tidak menganut kebijakan “politically correct.” Yeshua mengajar: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:37, ITB). Para penanya-Nya tersebut mengakui ketegasan Yeshua (a.14). Di persidangan diri-Nya pun Ia menunjukkan siapa diri-Nya baik dihadapan 70 tua-tua (Sanhedrim) maupun Pilatus dan raja Herodes II.
Jawaban Yeshua ini adalah suatu konsep yang bersifat filosofi bagaimana kita manusia seharusnya melihat dan hidup pada dunia politik dan dunia kerohanian.
John Calvin, seorang theologi abad 16 menekankan pentingnya pemisahan kuasa antara Gereja dengan Pemerintahan Politik dan sebaliknya. Pemikiran Calvin menghasilkan apa yang kita kenal sekarang sebagai ”negara-negara Protestant Eropa:” Swiss, Jerman, Belanda, Norwegia, Swedia dan Finlandia.

Di lain waktu Yeshua mengajar kepada Petrus, murid-Nya, tentang perlunya membayar pajak sebagai teladan, bukan paksaan.
Di Kapernaum, seorang pemungut pajak untuk Bait Elohim bertanya kepada Petrus, “Apakah gurumu tidak membayar bea dua-dirham itu?
Ketika Petrus masuk ke rumah, Yeshua mendahului pembicaraan tentang bayar pajak. Ia bertanya kepada Petrus,
”Bagaimana rupanya hal itu menurutmu (what do you think), Simon? Dari siapakah para raja di bumi menerima bea atau pajak? Dari anak-anaknya atau dari orang-orang lain (stangers)?”
Dari orang-orang lain!” Petrus menjawab
“Jadi sesungguhnya, anak-anak itu bebas!” Yeshua berkata, tetapi melanjutkan perkataan-Nya,
“Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Matius 17:27, ITB)

”Kaisar” jelas bukan seorang pahlawan, terlebih lagi bagi mata orang beragama, ia akan sering kali terlihat sebagai ”orang kafir yang kejam.” Namun Alkitab Perjanjian Lama mencatat, bahwa para ”kaisar” ini dibangkitkan dan dihadirkan oleh Elohim sebagai alat-Nya untuk membereskan konflik-konflik terdalam dalam jiwa kita; baca Imamat 26:21-25.
Raja Babel Nebukadnezar, yang kafir, disebut-Nya “hamba-Ku” (Yeremiah 27:6) – untuk membersihkan tanah Israel dari penyembahan berhala dan memulihkan Sabat tanah garapan dan mendidik umat-Nya untuk mengalami pengalaman bagaimana rasanya hidup di bawah ”kekuasaan orang yang tidak percaya Elohim.”
Raja Persia Koresh, penyembah berhala, disebut-Nya ”yang Aku urapi” (Yesaya 45:1) dan ”gembala-Ku” (Yes 44:28) – membebaskan bangsa Israel dari raja Babel dan merestorasi kota Yerusalem, untuk mengajar umat-Nya dengar-dengaran perkataan para nabi-Nya.

Itulah sebabnya rasul Paulus pada surat-suratnya mengingatkan Jemaat Kristen untuk mentaati pemerintah, bahkan berdoa untuk kesejahteraan mereka.
”Pemerintah-pemerintah bukanlah ancaman bagi perbuatan yang baik, tetapi bagi yang jahat. … karena dia adalah pelayan Elohim yang menghukum orang yang melakukan yang jahat ke dalam murka.” (Roma 13:3-4). Ini adalah surat rasul Paulus kepada pengikut Yeshua di kota Roma, ibukota dari Kerajaan Romawi. Paulus sebagaimana Tuannya, ia melihat pemerintah (yang kejam dan anti-Kristianiti sekalipun) sebagai alat Elohim. Pasal 13 ini adalah salah satu bukti nyata bahwa ajaran rasul Paulus adalah turun dari ajaran Yeshua Ha Mashiah. Paulus juga menugaskan murid-Nya Titus untuk mengajar hal yang sama kepada Gereja-gereja yang ia kunjungi (Titus 3).

Kesimpulan. Yeshua mengajar manusia untuk melihat dunia politik dan tekanan politik dalam hidup kita sebagai alat Elohim untuk kita tersadar, intropeksi diri: apakah saya menderita karena saya telah keluar dari Firman-Nya? Jika ya, rendahkanlah diri kita dan bertobatlah. Penulis kitab suratan bagi orang-orang Ibrani menuliskan jalan-teguran Elohim ini dengan indah sekali:
Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan YAHWEH (Amsal 3:11), dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena YAHWEH menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Elohim memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang (illegitimate children). (Ibrani 12:5-8, ITB)

Bacaan berkait:

Catatan kaki:
1. Kolose 1:13; HRBV (Hebraic Roots Bible by Congregation of YHWH Jerusalem)
2. Terambil dari terjemahan ILT (Kitab Suci Indonesian Literal Translation edisi ke 2), dan seterusnya kecuali ditulis lain.
3. Terjemahan Alkitab Inggris pada umumnya; HRBV, Geneva, KJV, EMTV HCSB, ESV
4. Idem, “should we …?” = seharusnyakah kami…?
5. Orang Yang Diurapi YAHWEH adalah arti kata dari “Ha Mashiah” dalam bahasa Ibraninya.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Iklan

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: