Professor Faouzi Arzouri: “Apakah Kuran menyatakan Alkitab telah dikorupsi?”


“Elohim bukalah manusia sehingga Dia berdusta; juga bukan seorang  anak manusia sehingga Dia menyesal! Apakah setelah Dia berfirman dan tidak melakukannya, dan setelah berbicara maka Dia tidak menegakkannya?” Kitab Torah vol 3, pasal 23:19; Kitab Bilangan

Professor Faouzi (David) ArzouniKata Pengantar dari penterjemah
Artikel ini diterjemahkan dari pelajaran yang diberikan oleh Professor Faouzi suatu studi banding Kuran dan Alkitab dalam sebuah video; linknya tersedia di bawah. Menyadari bahwa ada banyak orang Muslim Indonesia sekalipun mampu menghafal isi Kuran berbahasa Arab, tetapi sangat sedikit dari mereka yang mengerti dari apa yang mereka mampu afal, dan mengingat tidak semua orang Indonesia mengerti bahasa Inggris, maka untuk keuntungan mereka pelajaran dari Professor Faouzi ini saya terjemahkan. Kiranya baik orang Islam maupun bukan Islam dapat mendapat berkat rohani dan pengertian dari terjemahan pelajaran ini. Professor Faouzi, dari ayat-ayat Kuran bahasa Inggris di video ini – nampaknya – memakai Kuran versi terjemahan Inggris versi Yusuf Ali, saya terjemahkan ke dalam bahasa indonesia secara literal, sedekat mungkin. Untuk memeriksa ulang ayat-ayat yang beliau kutip Anda bisa membandingkannya dengan 4 versi Kuran online lainnya di sini: Parallel Qur’an Translations
Catatan kaki ditambahkan oleh penterjemah. Salam sejahtera, moderator Senjata Rohani, Anggur Baru

Bahasan:
1. Apa Kuran menyatakan Alkitab telah dikorupsi?
2. Kesaksian Kuran tentang Alkitab
3. Para Komentator Islam menilai Alkitab (Abdullah ibn Abbas, al Tabari, Fakhruddin al-Razi, Ibn Taymiyyah, dan DR. Saeed Abdullah)

1. Apa Kuran menyatakan Alkitab telah dikorupsi?
”Ini adalah suatu masalah yang sungguh-sunguh serius,” Professor Faouzi[1] memulai pengajarannya, ”sebab ini menuduh Elohim bahwa Dia tidak mampu apa yang Dia sebut diri-Nya sendiri Penuntun, Pembelas kasihan bagi umat manusia yang mana Torah, Mazmur, Imbiat dan Injil telah dinyatakan kualifat di dalam Kuran. Mengatakan bahwa Alkitab telah dikorupsi adalah suatu tuduhan yang sangat serius, itu tidak hanya menentang apa yang telah Kuran ajar, bahkan komentator-komentator Kuran yang lebih awal telah bersaksi tentang Kitab-kitab yang lebih awal bahwa tidak ada tuduhan sedemikan tersebut.”
Apa yang Kuran telah katakan? Kuran tidak berkata tentang adanya korupsi tulisan Alkitab. Kuran berkata ada beberapa orang telah melakukan tahrif (memalsukan, merubah), tertulis pada Al-Imran 3:78 – ”There is among them a section who distort the Book[2] with their toungues …(Ada diantara sebagian dari mereka yang mendistorsi Alkitab dengam lidah-lidah mereka). Yang berarti, ada sedikit orang-orang Yahudi dan Kristen yang hidup di jaman Muhammad telah mencoba megkorupsi Alkitab dengan lidah mereka. Ayat surah ini menyelaskan bentuk alami dari tahfrif (memalsukan, merubah) yang sedang dibicarakan. Mereka ini mengkorupsi Alkitab dengan lidah mereka. Jadi korupsi dengan lidah ini adalah tahrif il-mahne, yakni “merubah arti.” Di sini tidak ada pertanyaan tentang tahrif il-lafzi (perubahan tulisan).
”Karenanya, professor Faouzi berkata, hi Muslim, janganlah berpikir dan bahkan berkata apa yang tidak ada di Kuran!”
2. Kesaksian Kuran tentang Alkitab
Beberapa halaman Kuran tidaklah masuk akal jika tulisan Alkitab benar telah dipalsukan, contoh: Al-Ma’ida 5:68”Say: ”O People of the Book![3] Ye have no ground to stand upon unless ye stand fast by the Law, the Gospel, and all the revelation that has come to you from your Lord.” (“Katakan: O Orang-orang Penganut Alkitab! Kalian tidak ada tempat untuk berdiri kecuali kalian berdiri teguh pada Kitab Torah, Injil, dan semua pewahyuan yang telah datang kepada kaBukti Untuk Firman Elohim Yang Tidak berubah Professor Faouzi Arzounilian dari Adonai kalian.”)
Ini tidaklah masuk akal jika Alkitab telah mengalami tahrif il-lafzi yakni perubahan dari teks.
Pada Al-Ma’ida 5:47 tertulis,  “Let the People of the Gospel judge by what Allah hath revealed therin.” (Biarlah Orang-orang Penganut Injil ( atau Orang Kristen) dihakimi oleh apa yang Allah telah nyatakan di dalamnya) Pernyataan ini juga tidak mungkin jika teks (Alkitab orang Kristen) tersebut telah dikorupsi.
Juga tertulis pada Yunus 10:94 perkataan Allah kepada Muhammad – ”If thou wert in doubt as to what We have revealed unto thee, then ask those who have been reading the Book from before thee.” (Jika kamu ragu atas apa yang Kami telah nyatakan kepadamu, maka tanyakanlah kepada mereka yang telah membaca Alkitab sebelum kamu.) Ayat ini jelas tidak masuk akal sama sekali jika Alkitab yang dimiliki oleh orang Yahudi dan Kristen telah dikorupsi.
Kuran sendiri menyertakan bahwa orang bisa memutar balikan arti teks (Alkitab) namun tidak bisa menyebabkan hilangnya teks tersebut, seperti tertulis di Yunus 10:64 – “There is no changing the Word of Allah that is the Supreme Triumph.” (Tidak ada perubahan Firman Allah itu adalah Kemenangan Besar tersebut). Ini suatu teks pernyataan yang sungguh tegas, bahwa tidak ada perubahan, tidak ada kemungkinan merubah Firman Elohim sejak Torah aslinya, and Mazmur dan Injil. Mereka haruslah ada dijaga dan tetap selamanya. Pernyataan “itu adalah Kemenangan Terbesar tersebut” menceritakan kepada kita dengan jelas bahwa kemenangan terbesar Elohim adalah bahwa Dia mampu menjaga Firman-Nya.
3. Para Komentator Islam menilai Alkitab
Pernyataan Alkitab telah dikorupsi tidak didukung oleh para Komentator mayoritas Islam. Kita mulai dengan Komentator Islam mula-mula
Abdullah ibn Abbas (618-687 AD), ia adalah satu dari beberapa orang yang menyertai Muhammad, dan sekaligus saudara sepupunya dan bisa dianggap saksi mata ajaran Islam Mula-mula. (Muhammad meninggal dunia 632 AD)
”the word tahrif signifies to change a thing from its original nature; and there is no man who could corrupts a single word of what proceeded from God so that the Jews and Christians could corrupt only by misrepresenting the meaning of the word of God.” (kata tahrif menandakan kepada perubahan sesuatu dari alam aslinya; dan tidak ada seorangpun yang telah dapat merusak/ mengkorupsi sebuah firman yang telah datang dari Elohim, sehingga para orang Yahudi dan para Kristen tidaklah mampu mengkorupsi hanya karena salah menghadirkan arti dari Firman Elohim tersebut). – Recorded by Imam Bukhari[4] (p.117, line 7), quoted in A Dictionary of Islam by T.P. Hughes, (Kazi Publication, 1994) p.62
Ibn Abbas menyatakan hal yang sama di tempat lain, “They corrupt the word” means “they alter or change its meaning.” Yet no one is able to change even a single word from any Book of God. The meaning is that they interpret the word wrongly” (“Mereka mengkorupsi Firman” berarti “mereka membuat beda atau merubah artinya.” Namun tidak seorangpun mampu merubah bahkan satu kata dari sebuah Kitab Elohim apapun. Arti dari itu adalah bahwa mereka menginterpretasi Firman tersebut secara salah”). – Al-Bukhari, Kitab Al-Tawheed, Baab Qawlu Allah Ta’ala, “Bal Huwa Qur’aanun Majeed, fi lawhin Mahfooth – (the Book of the Oneness of God, the Chapter of Surat Al-Borroj) (no.85).
Juga Tafsir Ibn Kathir megutip pernyataan Ibn Abbas, kutip. “As for Allah’s books, they are still preserved and cannot be changed.” (Sebagaimana untuk kitab-kitab Allah, mereka (kitab-kitab tersebut) adalah tetap terpelihara dan tidak dapat ada dirubah.”)Abridged, Vol 2, Parts 3,4 & 5.
Di sini Ibn Abbas menyatakan bahwa perubahan itu adalah perubahan arti (melalui lidah), bukan perubahan tulisan.

Sekarang kita melihat kepada komentator lainnya, al Tabari (838-923 AD).[5]
”They alter its meaning (ma’nabu); that is they change its direction, and its meaning to another meaning.” (“Mereka merubah artinya (ma’nabu); itu adalah mereka merubah tujuannya, dan artinya ke arti lainnya.”);  Tabari, Jami al-Bayan, I, 368
Meskipun Tabari sendiri termasuk orang yang menentang orang Yahudi dan Kristen, namun secara luar biasa bahwa ia tidak pernah satu kalipun menuduh kedua kelompok tersebut pernah mengkorupsi teks Alkitab.

Fakhruddin al-Razi (865-925 AD), “There is no statement to indicate that they take a particular word (tilka al-lafzab) out of the Book. … is impossible if the speech of God has been made manifest to a large number of people like the manifestation of the Qur’an.” (“Tidak ada pernyataan untuk menunjukkan bahwa mereka mengambil sebuat kata tertentu (tilka al-lafzab) keluar dari Alkitab. … adalah tidak mungkin jika perkataan Elohim telah dibuat nyata kepada sejumlah besar orang seperti pernyataan Kuran.”) Razi, al-Tafsir, 11, part 3,134
Di sini Fakhruddin menyatakan bahwa karena Torah, Mazmur dan Injil telah tersebar ke banyak orang dalam referen bahwa ketiga Kitab Suci ini telah diberikan oleh Elohim sebagai petunjuk, terang dan kemuran dari Elohim bagi seluruh umat manusia maka tidaklah mungkin menggantinya tanpa tidak diketahui [, dengan kata lain: kita bisa membandingkan manuskrip-manusikrip tertentu tersebut dengan lainnya yang telah diterjemahkan  ke dalam berbagai bahasa, misalnya: Yunani, Aram, Etophia, Latin, Inggris dan Arab dan bahasa lainnya]

Ibn Taymiyyah (1263-1328 AD) berbicara tentang Alkitab ia menulis, “… in the world there are true (sahih) copies, and these remained until the time of the Prophet (Muhammad). Whoever says that, after the Prophet (pbuh), all copies have been corrupted, he has said what is manifestly false. There is nothing in the Qur’an to indicate that they altered all copies.” (“… di dunia ada salinan-salinan authentik, dan semua ini tetap sampai masa Nabi (Muhammad). Siapapun yang berkata, setelah Nabi (pbuh), semua salinan telah dikorupsi, maka yang dia telah katakan adalah nyata salah. Tidak ada di Kuran untuk menunjukkan bahwa mereka merubah semua salinan-salinan.”). Ibn Taymiyya, al-Tafsir al-Kabir, I, 209
Dari semua komentator Islam di atas, Professor Faouzi Arzouri berkata lebih lanjut, sekarang pertanyaannya adalah “Darimana para Muslim modern sekarang ini mendapat pemikiran bahwa Alkitab telah dipalsukan?” Ia menjawab: ”Itu berasal dari tulisan Ibn Khazem (meninggal 1064 AD).”[6]

Yeshua Ha Mashiah: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)

Jadi berdasarkan uraian Professor Faouzi Arzouri dia atas, yakni bahwa ”Kuran dan para komentator Kuran Islam mula-mula ternyata tidak pernah satu kalipun menulis bahwa tulisan Alkitab telah dipalsukan atau dikorupsi,” ia menutup kesimpulannya dengan mengutip penyataan kesimpulan dari seorang professor Islam dari Australia, Saeed Abdullah dan sebuah nasehat penting bagi para Muslim:
[a]“… the reverence the Qur’an has shown them at the time should be retained even today. [b.] Many interpreters of the Qur’an, from Tabari to Razi to Ibn Taymiyya and even Qutb, appear to be inclined to share this view: The wholesale dismissive attitude held by many Muslims in the modern period toward the scriptures of Judaism and Christianity do not seem have the support of either the Qur’an or the major figures of tafsir.” ([a] “… referensi tersebut yang Kuran telah tunjukkan mereka pada saat itu haruslah telah ada dipertahankan bahkan hari ini. [b] Banyak interpreters Kuran, dari Tabari ke Razi ke Ibn Taymiyya dan bahkan Qutb, muncul untuk ada bersandar pada pembagian keyakinan ini: Sikap meremehkan yang besar sekali yang dipegang oleh banyak orang Muslim di periode masa kini terhadap Kitab-kitab berfaham Yahudi dan Kristianiti tidak memiliki dukungan baik Kuran atau tokoh-tokoh besar tafsir),” DR. Saeed Abdullah, professor of Islamic Studies, Melbourne University, menyimpulkan.
“Hari ini sahabatku, meskipun Anda mendengar suatu kata dari Ulama, siapapun yang mengaku seorang pakar Kuran, Anda harus berjalan pada terang yang telah dibangun dan dipercayai dalam Islam mula-mula dan para figur penafsir (Kuran) mula-mula, khususnya pada Ibn Abbas yang adalah saksi mata, sahabat dan menghormati Muhammad yang berkata bahwa Firman Elohim tidak dapat dirubah,” Professor Faouzi Arzouni berkata menasehati.
Bacaan menarik lainnya:

Referensi:

Catatan Kaki:
1. Professor Faouzi atau David ialah seorang Libanon lahir dan besar di Sinegal dari latar belakang Islam Sunni, sekalipun ia sendiri adalah bekas penganut Islam Shia. Ia lulusan Theologia dari Bethany Bible College di California. Ia bersama isterinya Linda telah melayani di Afrika Barat selama 37 tahun; 16 tahun di Ivory Coast dan 21 tahun di Maali. http://www.arzouni.com/
Kesaksian perjalanan hidupnya bagaimana ia menemukan Jalan yang Benar bisa dibaca pada Kesaksian Professor Faouzi (David) Arzouni ex-Muslim Sinegal menjadi pengikut Yeshua Ha Mashiah
2. “The Book” adalah terjemahan Kuran dalam bahasa Inggris untuk kata ”Alkitab”
3. “The People of the Book” di Kuran merefes kepada Orang-orang Yahudi dan Kristen yang berpegang kepada Alkitab sebagai Kitab Suci mereka.
4. Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari (810-870 AD) , ia orang Persia kelahiran Khorasan (Uzbekistan modern). Ia penulis Hadis “Sahih al-Bukhari”. Hadisnya terkenal sebagai hasil karya yang terasli/ authentic (sahih, bhs Arab) dari seluruh hadis.
5. Al Tabari dikenal sebagai penulis tafsir Kuran pertama setelah Muhammad meninggal dunia
6. Siapakah Ibn Khazem dan alasan apa ia telah membuat pernyataan ”Alkitab telah dikorupsi” silahkan baca Why do Muslims believe the text of the Bible has been corrupted?  dan ini Tahrif  dan yang lebih spesifik: Can we trust the Gospels? By Hans Wijngaards MHM

 

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: