Kapal bantuan untuk Gaza, 16 korban jiwa


Updated Kamis, 3 Juni 2010. CNN: Para aktivis asing yang ditahan sudah dilepaskan hari Rabu kemarin. Korban jiwa ternyata hanya 9 orang, mayoritas dari aktivis dan korban jiwa adalah warga negara Turkey yang misi mereka untuk menantang penutupan Israel (atas peraian Gaza) dan mengirim bantuan.

CNN yang sama menulis juga bahwa Kapal laut yang berikut, yang diberi nama the Rachel Corrie, dengan motive tujuan yang sama telah bertolak dari Ireland, dan direncakan tiba pada Saptu pagi waktu setempat. Pemerintah Israel telah menawarkan bantuannya ke pemerintah Ireland untuk kapal tersebut dapat berlabuh di Ashdod, pelabuhan kapal laut dekat utara Gaza. Pemerintah Israel akan menurunkan barang-barang bantuan tersebut, men-screen itu, dan mengirim itu ke Gaaza.

PBB dan para pemimpin negara meminta Israel secara penuh memberi loporan peristiwa bentrokan tersebut. Siapa yang memulai penyerangan terlebih dahulu.

Selasa, 1 Juni 2010. Konfoi kapal-kapal laut pro Gerakan Palestina Merdeka (GPM), yang berpenumpang dari berbagai negara seperti Turky, Malaysia, nampak juga bendera Indonesia dll, mendapat hambatan untuk berlabuh di Gaza. Bentrokan antara  para aktivis pro GPM dengan tentara Israel tidak dapat dihindari. BBC berkata, korban jiwa dari pihak aktivis 16 meninggal, dan tidak sedikit yang luka-luka di kedua belah pihak.

Seorang pembicara wanita dari GPM, Audrey Bomse,  pada wawancara melalui telephon sehubungan korban jiwa dan luka-luka ini, menyatakan bahwa tembakan senjata api di kapal kebangsaan Turky datang dari pihak Israel semata. namun ketika BBC memastikan apakah ia yakin 100% bahwa hal itu tidak dilakukan oleh aktivis, wanita ini menjawab “I don’t know.”

Sebaliknya dari pihak Israel, dengan wajah yang serius disertai kesedihan dengan korban jiwa dan luka-luka tersebut menjawab pertanyaan yang sama ini: “100% yakin, aktivis bukan hanya menyerang tentara Israel dengan pisau dan kampak, tetapi juga dengan senjata api.” Hal ini bisa diteguhkan melalui laporan jurnalis SMH Paul McGeourgh (pemimpin korespondensi dari SMH), setelah ia kembali ke Turkey,  yang turut serta di dalam kapal aktivist tersebut, kutipan ceritanya pada detik-detik sebelum bentrokan fisik terjadi: Dia (Mr. McGeourgh) berkata orang-orang Israel kemudian “bergerak tiba-tiba dari dua sisi”. Telphon direbut dari tangannya. “Salah satu dari aktivist … yang memiliki sebuah senjata api mengarahkannya kepada dia (Kate Geraghty; juruphoto Australia),”McGeough berkata. (Garis bawah dari saya)

Konfoi kapal laut kali ini merupakan gerakan pro GPM terbesar yang mencoba mendobrak pagar laut Israel atas Gaza, yang menurut Pemerinta Israel adalah salah satu ’jendela’ penyelundupan senjata gelap untuk Organisasi Hamas.

Pemerintah Israel secara resmi telah mengumumkan seminggu sebelumnya bahwa para aktivis ini tidak akan diijinkan masuk ke wilayah Gaza. Seorang pembicara dari IDF (the Israeli Defence Forces, sejenis TNI) berkata kepada VOA (sebuah media USA) bahwa organisasi apapun yang ingin mengirim bantuan-bantuan ke Gaza adalah pastilah bebas untuk melakukannya, tetapi berkordinasi dengan pemerintah Israel.

Badan keamanan pemerintah Israel, VOA pada beritanya, menyebut tindakan aktivis ini sebagai sebuah provokasi, di orkestra olah Hamas di bawah label pengiriman bantuan kemanusian untuk masyarakat Gaza.

BBC News pada laporannya tertanggal 6 Febuari 2009 ”Israel expels Gaza aid ship team” menulis bahwa Israel menahan kapal laut dari Libanon yang berisi para aktivis dan wartawan untuk memasuki Gaza, dan mengijinkan bantuan makanan masuk Gaza melalui jalan darat. Salah satu aktivis pada kapal ini adalah bekas Uskup Agung Katolik Yunani untuk Yerusalem, yang kemudian ia dikembalikan ke Syria. Uskup ini pernah masuk penjara Israel di tahun 1970 karena menjelundupkan senjata-senjata untuk PLO.

Pada konvol kapal laut bantuan untuk Gaza tahun ini, badan resmi Israel menyatakan bahwa diantara aktivis ini terdapat kelompok Islam garis keras. Dan setelah bentrok terjadi pemerintah Israel dalam laporan resminya menyatakan bahwa ”tujuan utama dari para aktivis ini bukanlah bantuan untuk rakyat Gaza, tetapi provokasi agama berkedok kemanusiaan.” Beberapa wartawan Al Jazeera, media Arab yang dituduh USA sebagai speakernya organisasi terrorist ternyata bagian dari penumpang kapal tersebut, ini terbukti dari laporan Saleb Khader (wartawan Al Jazeera) itu sendiri yang dikutip BBC tentang bentrokan fisik aktivis dengan tentara Israel, berkata: ”Tentara Israel menahan sementara semua rekaman video kami.”

Sebelum bentrokan fisik terjadi, pemerintah Israel menawarkan beberapa bentuk cara untuk penyaluran bantuan kemanusia tersebut kepada para aktivis ini: melalui pemerintah Mesir, PBB atau Palang Merah.

Seorang wakil dari pemerintah Israel yang diwawancari oleh BBC, 31 May 2010, menjawab pertanyaan BBC bahwa ”konfoi ini semata bantuan kemanusia,” dengan serius menyatakan bahwa 100% tidak ada masalah dengan suplai bantuan kemanusiaan, nyatanya sekitar 1500 ton bantuan setiap minggunya dibawa oleh truk-truk dari berbagai NGO (Swasta dan non-profit) diijinkan masuk ke Gaza melalui Israel,

Bukti radikal keseriusan pemerintah Israel mengijikan NGO menolong rakyak Palestina, bisa dilihat dari periode panjang bantuan organisasi OpenDoors. Ketika lebih dari 415 aktivis PLO ditangkap dan diungsikan pada suatu daerah dekat perbatasan Libanon, tanpa listrik dan suplai makanan (1993). Brother Andrew pemimpin OpendDoors dipersilahkan menolong para aktivis tersebut, yang dimata pemerintah Israel jelas sebagai terrorist.

Logikanya, jika “terrorist”, musuh Israel, saja boleh dibantu untuk mendapat pakaian, makanan dan buku bacaan, bagaimana mungkin Israel menolok bantuan untuk rakyat jelata Palestina?

Sangat menarik untuk direnungkan, mengapa pemerintah Turkey mengijinkan raykatnya membuat provokasi agama yang berkedok politik-bantuan kemanusian ini? dan menterinya meresposi bentrokan yang menelan korban jiwa ini sebagai “tindakan Israel tidak dapat diterima,” sementara bangsa Kurdi tidak diberikan hak untuk memakai bahasa ibu mereka di tanah air mereka sendiri, yang diduduki Turkey. Elohim tahu dengan persis berapa banyak orang Kurdi yang mati dan masih dipenjara ditangan pemerintah Turkey modern ini, Dan pemerintah Turkey masih tetap “tidak dapat menerima” pernyataan bahwa Turkey telah melakukan pembantaian masal terhadap rakyat Armenia.

Sungguh menyedihkan terlalu banyak pemimpin politik ingin menjadi “Pembuat Perdamaian,” sementara hidup dengan menginjak-injak makna DAMAI yang sesungguhnya. Damai tidak akan pernah ada di bumi ini selama ketidak adilan dan kemunafikan masih tinggal di kepala para pemimpin negara dan agama.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: