Bercerai dan Menikah Kembali


Ketika orang-orang jahat bertambah, hancurlah rakyat; tetapi orang yang berpegang kepada hukum diberkati.(LB) atau, Dimana tidak ada wahyu, hancurlah rakyat; tetapi orang yang berpegang kepada hukum berbahagia (KJV)( Ams 29:18). Terjemahan bebas.

Inilah adalah suatu topik yang jaman sekarang sangat jarang dikotbahkan, bahkan juga dikalangan Injili. Dunia sangat cepat berubah. 30 tahun lalu  perceraian adalah suatu yang tabu untuk dilakukan, namun sekarang mempercakapkan masalah perceraian dan pernikahan kembali adalah tabu, bahkan di gereja-gereja.

Apa sesungguhnya firman YAHWEH katakan tentang kedua perkara ini? Mari buka Alkitab Anda dan kita baca Maleakhi 2:13-16.

Ayat 14 tertulis: Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab YAHWEH telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.

Untuk mengerti latar belakang teguran ”bercerai dan menikah kembali” pada kitab Maleakhi ada baiknya saya ceritakan secara garis besar surat nabi Maleakhi ini.

Nabi berbicara setelah orang-orang Israel kembali dari pembuangan (setelah 539 BC) setelah raja Persia atas permohonan nabi Nehemia meminta kota-kota Yehuda dibangun kembali (Neh 2:7-8) dan setelah bait Elohim dibangun kembali di bawah pimpinan nabi Haggai dan Zakaria (516 BC, Ezra 6:14-15). Tanpa raja dan lama dipembuangan membuat mereka biasa dengan hal yang sekuler, beribadah asal-asalan (1:1-14), para imam tidak segenap hati memuliakan dan takut akan nama-Nya (2:1-2), memberi pengajaran yang salah dan perjanjian keimam dirusak mereka (3-10). Dimata banyak orang yang kembali ini sepertinya hidup fasik (sihir, berzinah, dusta, memeras karyawan, menindas janda, anak yatim dan orang asing) lebih baik dari pada menuruti perintah-Nya (2:17-3:5). Perpuluhan diabaikan (3:7-12).*1

Nabi menutup tegurannya dengan memastikan bahwa setiap perbuatan (baik atau jahat) akan mendapat upahnya (4:1-3) dan meminta mereka untuk mengingat ketetapan dan hukum-hukum-Nya, dan akhirnya sebuah janji penghiburan-Nya untuk merestorasi para keluarga umat-Nya  sebelum bumi dihancurkan (4-6).

Pasal 3:6 Ia memperingatkan mereka: Bahwahsannya Aku, YAHWEH, tidak berubah; tetapi engkau anak-anak Yakub belumlah keluar dari kejahatan-kejahatan kalian (Lamsa Bible). Ayat ke 7 (Even from the days of your fathers…Return to Me) membenarkan terjemahan LB ini. Harap bandingkan dengan terjemahan lainnya.

Dan pasal 2:13-16 Ia menegur cara hidup pernikahan mereka yang sekuler tersebut. Istilah ”istri masa mudamu” adalah suatu ungkapan Alkitab Perjanjian Lama yang berarti ”istri pertama yang sah dibawah hukum perjanjian nikah.” Lihat Ams 5:18; Yes 54:6.

A. Perceraian. Alkitab mengajar bahwa pernikahan atau ”satu tubuh” itu kudus, apa yang telah disatukan YAHWEH tidak boleh diceraikan. Empat ribu tahun setelah kejatuhan Adam dan Hawa, ketika Elohim datang kebumi dalam wujud manusia, Ia kembali mengingatkan umat-Nya bahwa perceraian bukanlah kehendak Dia tetapi itu adalah pemberontakan dan ego manusia semata (Mat 19:8).

Perceraian dengan istri pertama sungguh mendukakan hati YAHWEH, sehingga Ia tidak mau menerima persembahan umat-Nya (Mal 2:13). Jangankan bercerai, cukup suami mendukakan istrinya saja bisa membuat doa-doa suami tidak terjawab (1Pet 3:7), pernikahan bukanlah masalah kecil di mata YAWHEH, sebab hal ini adalah cermin antara perjanjian kekal pribadi-Nya dengan Gereja-Nya (Ekklesia-Nya) (Mat 16:18; Wah 22:16-17).

Perceraian hanya dibenarkan (tetapi tidak harus dilakukan) apabila salah satu dari pasangan menikah ini merusak kekudusan pernikahan yakni berjinah / ”ber-satu tubuh dengan orang lain” (Mat 19:9; Ul 24:1-4).

Menceraikan pasangan-hidup di mata YAHWEH itu seperti seorang menutupi pakaiannya sendiri dengan kejahatan:  Sebab YAHWEH, Elohim Israel, berkata bahwa Ia membenci perceraian: orang menutupi kejahatan dengan pakaiannya, YAHWEH semesta alam berkata: maka jagalah rohmu dan janganlah berkhianat! (Mal 2.16 KJV). atau terjemahan lainnya; For the LORD, the God of Israel, says that no one should conceal the iniquity on his robe; therefore take heed to your spirit, and do not deal treacherously (Lamsa Bible).

B. Kawin lagi setelah menceraikan pasangan pertama. Budaya kawin-cerai pada para bintang film Holywood sekarang telah menjalar di seluruh dunia. Dan dampak dari budaya kawin-cerai ini juga telah melanda orang-orang percaya pada 10 tahun belakangan ini. Beberapa orang menganggap perkara ini sama seperti ”mencoba pakaian di toko baju.”

Apa yang Yahshua Ha Mashiah katakan tentang menikah setelah bercerai? Masalah ini sangat jelas di Alkitab, sehingga tidak perlu ditafsirkan. Semua orang yang bisa membaca akan mengerti itu dengan tepat. Ini beberapa perkataan-Nya:

Suami menceraikan istri dan mengawini wanita lain:

  • Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. (Mat 5:32)
  • Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” (Mat 19:9; Mark 10:11)
  • Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.” (Luk 16:18).

Istri menceraikan suami dan mengawini pria lain:

  • Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.” (Mar 10:12)

Jelas terlihat bahwa perceraian pada pernikahan pertama dan menikah kembali akan menghasilkan dua pasangan suami-istri yang berzinah.

Seorang istri menceraikan suaminya, … tidak diperaktekan diantara orang Yahudi,, …itu dari orang-orang pagan. Salome adik wanita dari Herodes Agung mengirim surat cerai kepada suaminya, Costobarus; dan hal ini diikuti oleh Herodias, anak wanita  Aritobulus (John Gill’s exposition of the entire Bible).

Perkaatan-perkataan Yahshua tentang bahaya cerai dan kawin lagi ini disampaikan kepada pendengar-Nya sehubungan dengan a. kepastian bahwa hukum Taurat atau kitab para nabi (Perjanjian Lama) tidak akan lenyap selama bumi yang lama ini masih ada. (Mat 5:17-18) b. Jawaban Yahshua atas pertanyaan orang-orang Farisi, mengapa Musa mengeluarkan surat cerai bagi suami-suami yang menceraikan istri-istri mereka (Mat 19 3-10).

Rasul Paulus mengingatkan: Yahweh–perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. (1Kor 7:10-11)

Jika Anda terkecut dengan perkataan keras Yahshua di atas, itu normal. Murid-murid-Nya bereaksi sama: Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” (Mat 19:10). Dimata Elohim pernikahan bukanlah mencari pakaian di toko baju, dimana orang bisa pasang dan lepas lalu ganti lainnya!!

Mungkin kita bertanya: ”Mengapa YAHWEH sangat serius dengan pernikahan yang kudus?

Maleakhi 2:15 menjawabnya dengan jelas: ”Did not He make them one? And the rest of the spirits are His also. And therefore a man seeks one offspring from God [That he might seek a godly seed; KJV]. Therefore take heed to your spirit, and let none deal treacherously against the wife of his youth.

Pesan YAHWEH melalui nabi ini kepada umat-Nya bahwa:

  • Ingatlah akan rencana awal-Nya, bahwa Ia telah membuat pasangan ini (Adam dan Hawa) satu tubuh (Kej 2:24). Tidak ada wanita lain disisi Adam dan tidak ada pria lain disisi Hawa. Tidak ada manusia lain apalagi binatang di dalam kesatuan tubuh manusia pertama ini.
  • Ia mengingatkan juga bahwa kedua roh mereka adalah bukan milik mereka sendiri, tetapi milik YAHWEH, jadi mereka harus mempertanggung jawabkan kehidupan mereka kepada-Nya.
  • Tujuan dari kesatuan yang kudus dan bertanggung jawab ini ialah tidak lain: manusia ingin mendapatkan keturunan-keturunan dari Elohim atau benih-benih Elohim – keturunan yang serupa dengan gambar dan rupa Elohim (Kej 1:26-27;5:1; Hos1:10b; Kis. 3:25; 2Kor 6:18), ini merupakan suatu roh restorasi dari apa yang telah gagal sebelumnya (Kej 5:3; 6:2; Rom 3:9-18).

Bagaimana dengan pasangan suami atau istri yang belum di dalam YAHWEH? Paulus berkata itu adalah tugas suami yang telah percaya (atau istri yang telah percaya) untuk membawa pasangan hidup mereka kedalam pernikahan yang kudus, sehingga anak-anak mereka juga menjadi anak-anak kudus (1Kor 7:12-14).

Benih-benih yang elohim atau sorgawi ialah bukan karena keturunan darah maupun  kewarganegaraan manusia, tapi karena suami dan istri ber-iman dalam Yahshua Ha Mashiah bagi semua orang yang percaya (Rom 3:22), dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Ha Mashiah Yahshua. Ha Mashiah Yahshua telah ditentukan Elohim menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. (24-25a).

Budaya di atas ini tentu bukan budaya baru, itu hanyalah sebuah trend yang sedang naik, sebab 2000 tahun lalupun dicatat bahwa seorang wanita Samaria (orang Samaria adalah kelompok orang tidak percaya Elohim) telah bercerai selama 5 kali dan kemudian hidup bersama pria keenam tanpa nikah (Yoh 4:17-18). Dan para suami dan para istri di kerajaan Yunani dan Romawi meninggalkan persetubuhan yang wajar (hubungan suami-istri) dan birahi dengan teman satu jenis sex mereka (Rom 1:26-27)

Salomo berkata tidak ada yang baru di bawah kolong langit ini, pepatah orang Cina bilang ”hidup itu seperti roda”, jadi ’roda cerai dan kawin lagi’ sedang ada di atas kembali – sekali ini ialah yang terakhir kalinya, sebab Yahshua berkata “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. (Mat 24:37-39)

Apakah kunci utama untuk menjaga pernikahan yang kudus?

1. Kunci utama untuk itu bukanlah berhenti melihat buku-buku / majalah / DVD porno, juga bukan dengan cara mengurangi waktu dengan orang lain yang bukan istri atau suami Anda. Tetapi yang utama ialah takut akan YAHWEH.
Bukan juga dengan membuang barang-barang porno Anda, sebab itupun juga bisa dibeli kembali. Juga bukan dengan memasang kaca mata kuda pada kepala Anda, atau memakai burga (umum dipakai oleh wanita Pakistan dan Afganistan) sekalipun, sebab Yahshua telah berpesan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Mat 5:28). Sebab itu takut akan YAHWEH adalah yang terutama.

Menurut penelitian-penelitian saya baik melalui pembacaan Alkitab dan penelitian lapangan saya dapatkan bahwa bila orang (baik secara pribadi maupun kelompok) menolok otoritas firman YAHWEH, yakni Alkitab: ketetapan dan perintah-perintah-Nya yang berarti juga keberadaan-Nya maka dengan cepat orang ini akan jatuh kedalam penyembahan berhala (perzinahan rohani) dan jika pada tahap ini mereka tidak berhenti dan bertobat maka mereka akan jatuh kedalam perzinahan tubuh dan jiwa: pelacuran dan atau penyelewengan sex (pasangan gelap).

Saat seorang tidak takut akan nama dan kekudusan YAHWEH, maka segera ia terperangkap di dalam jebakan yang mematikan ini: PERZINAHAN rohani, jiwani dan jasmani. Ia pasti tidak akan masuk kedalam Sorga, bahkan melihat Kerajaan Sorga saja tidak.

Jadi, masalah utamanya bukanlah menjaga mata dan pikiran kita, tetapi hati kita! Jika hati kita bersih maka bersih juga pikiran dan mata kita!! Baca  Mark 7:18-23; 2Kor 3:16-17; Mat 9:4 dan Yak 2:4. Jadi sekali lagi, takut akan YAHWEH adalah kunci utamanya (Maz 119:9), lalu:

2. Menjaga hukum rohani pernikahan: istri tunduk dan menghormati suaminya (Ef 5:22-24; Kol 3:18; 1Pet 3:1-6) dan suami harus mengasihi istrinya (Ef 5:25-30; Kol 3:19; 1Pet 3:7)

3. Memelihara hukum jasmani pernikahan: Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. (1Co 7:3). Setia kepada pasangannya pada satu sisi (sebab tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri tapi milik pasangannya dan di sisi lainnya ialah melayani kebutuhan sex pasangannya ketika diperlukan (4-5).

Bacaan Berkait

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: