Pidato Simon Deng (ex-budak Sudan) yang luar biasa pada Konferensi Durban III, New York


Simon Deng, pria Sudan, bekas seorang budak, adalah salah satu tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) yang berani berbicara “benar adalah benar” dan “salah adalah salah [Matius 5:37].” Ia bahkan berani mengeritik cara kerja PBB. Ia telah diundang untuk berbicara dihadapan banyak pemimpin dunia. Ia adalah penggerak Sudan Freedom Walk, suatu aksi damai menentang penyalahgunaan HAM atas bangsa Sudan hitam.

Di bawah ini adalah pidato resmi Simon Deng di hadapan pemimpin dunia pada Konferensi Durban III.

Saya ingin berterima kasih para penyelenggara konferensi ini, The Perils of Intoleransi Global. Ini adalah kehormatan besar bagi saya dan itu adalah sungguh suatu hak istimewa berada di antara pembicara terkemuka saat ini.
Saya datang ke sini sebagai sahabat negara Israel dan orang-orang Yahudi. Saya datang untuk memprotes konferensi Durban yang didasarkan pada serangkaian kebohongan-kebohongan. Itu diselenggarakan oleh negara-negara yang adalah turut bersalah dari berbagai macam penindasan yang terburuk.
Ini tidak akan membantu korban rasisme. Ini hanya akan mengisolasi dan menargetkan negara Yahudi. Ini adalah alat dari musuh-musuh Israel.
PBB sendiri telah menjadi alat melawan Israel. Selama lebih dari 50 tahun, 82 persen dari pertemuan-pertemuan darurat Majelis Umum PBB  (the UN General Assambly) mengecam satu negara – Israel. Hitler tidak bisa dibuat lebih berbahagia!

Konferensi Durban adalah kemarahan. Semua orang jujur akan mengetahui itu.
Tetapi teman-teman, saya datang ke sini hari ini dengan sebuah ide radikal. Saya datang untuk memberitahu Anda bahwa ada orang yang menderita di bawah anti-Israelism PBB bahkan lebih dari orang-orang Israel. Saya termasuk salah satu dari orang-orang tersebut.
Tolong dengarkan saya.

Dengan membesar-besarkan penderitaan orang Palestina, dan dengan menyalahkan orang Yahudi untuk itu, PBB telah meredam keluhan mereka yang menderita dalam skala yang jauh lebih besar.
Selama lebih dari lima puluh tahun penduduk kulit hitam asli Sudan – Kristen dan juga Muslim – telah menjadi korban dari kebrutalan, rezim rasis Muslim Arab di Khartoum [negara Sudan].
Di Sudan Selatan [sekarang sudah menjadi negara merdeka], tanah air saya, sekitar 4 juta orang laki-laki, perempuan dan anak dibantai dari 1955-2005. Tujuh juta telah mendapat pembersihan etnis dan mereka menjadi kelompok pengungsi terbesar sejak Perang Dunia II.
PBB prihatin dengan apa yang disebut para pengungsi Palestina. Mereka [orang PBB] membuat sebuah lembaga terpisah untuk mereka, dan mereka diperlakukan dengan hak istimewa.
Sementara itu, bangsaku, dihapus secara etnis, dibunuh dan diperbudak, adalah relatif diabaikan. PBB menolak untuk memberitahu dunia kebenaran tentang penyebab sesungguhnya dari konflik Sudan. Siapakah yang tahu benar-benar apa yang terjadi di Darfur? Ini bukan “konflik suku.”
Ini adalah konflik yang berakar pada kolonialisme Arab yang telah terkenal di Afrika utara. Di Darfur, sebuah wilayah di Sudan Barat, semua orang adalah Muslim. Semua orang Muslim karena orang-orang Arab telah menjajah Afrika Utara dan penduduk asli dipaksa pindah ke Islam. Di mata para Islamis di Khartoum, Darfur bukan Muslim yang benar. Dan Darfur tidak ingin di Arab-kan.
Mereka mencintai bahasa-bahasa Afrika mereka sendiri dan gaun dan adat istiadatnya. Respon bangsa Arab adalah genosid! Tapi tak seorang pun di PBB menceritakan kebenaran tentang Darfur.
Di Pegunungan Nuba, wilayah lain di Sudan, genosida sedang berlangsung saat saya berbicara. Rezim Islamis di Khartoum menargetkan orang Afrika hitam – Muslim dan Kristen. Tidak ada orang di PBB mengatakan kebenaran tentang Pegunungan Nuba.

Apakah engkau mendengar PBB mengutuki rasisme Arab terhadap orang-orang kulit hitam?

Apa yang Anda temukan pada halaman koran New York Times, atau dalam catatan kecaman-kecaman PBB adalah “kejahatan bangsa Israel” dan penderitaan Palestina.

Bangsaku telah diusir dari halaman depan media karena  [media internasional] membesar-besarkan penderitaan Palestina.
Apa yang Israel lakukan adalah digambarkan sebagai dosa Barat. Tapi kebenaran adalah bahwa dosa yang sebenarnya terjadi ketika Barat meninggalkan kami: para korban dari bangsa Arab / Islam apartheid.
Perbudakan dipraktekkan selama berabad-abad di Sudan. Ini dihidupkan kembali sebagai alat perang di awal 90-an.
Khartoum menyatakan jihad melawan bangsaku dan pengambilan budak-budak ini dilegitimasi sebagai harta rampasan perang.
Milisi Arab telah dikirim untuk menghancurkan desa-desa Selatan dan dianjurkan untuk mengambil perempuan dan anak-anak Afrika sebagai budak-budak.
Kami percaya bahwa  200.000 orang telah diculik, dibawa ke Utara dan dijual kedalam perbudakan.
Saya adalah bukti hidup dari kejahatan melawan kemanusiaan!
Saya tidak suka berbicara tentang pengalaman saya sebagai seorang budak, tetapi saya melakukannya karena itu adalah penting bagi dunia untuk tahu bahwa perbudakan ada hingga saat ini.
Saya hanya berusia sembilan tahun ketika tetangga seorang Arab bernama Abdullahi menipu saya untuk mengikuti  dia ke perahu. Perahu berlabuh di Sudan Utara di mana ia memberi saya sebagai hadiah kepada keluarganya. Selama tiga setengah tahun aku budak mereka melewati hal-hal yang tidak seharunya seorang anakpun harus melaluinya: pemukulan-pemukulan brutal dan berbagai penghinaan; bekerja sepanjang waktu; tidur di tanah dengan hewan-hewan; makan makanan sisa. Selama tiga tahun saya tidak dapat mengucapkan kata ”tidak.”
Semua yang telah dapat saya katakan adalah ”ya,” ”ya,” ”ya.”

PBB telah tahu tentang perbudakan orang Selatan Sudan yang dilakukan oleh orang Arab. Staf (pekerja) mereka sendiri telah melaporkan hal tersebut. UNICEF memerlukan – di bawah tekanan dari American Anti-Slavery Group yang dipimpin oleh Yahudi – enam belas tahun untuk mengakui apa yang telah belangsung. Saya ingin berterima kasih secara terbuka kepada teman saya Dr. Charles Jacobs untuk memimpin perjuangan anti-perbudakan.
Namun pemerintah Sudan (Utara) dan Liga Arab telah menekan UNICEF, dan UNICEF mengambil langkah mundur, dan mulai mengkritik mereka yang bekerja untuk membebaskan para budak suku Sudan. Pada tahun 1998, Dr Gaspar Biro, Reporter Khusus PBB yang berani pada HAM di Sudan yang melaporkan tentang perbudakan, mengundurkan diri sebagai protes terhadap tindakan PBB.

Teman-temanku, hari ini, puluhan ribu orang hitam Sudan Selatan masih melayani tuan mereka di Utara dan PBB tetap diam tentang itu. Ini akan menyinggung OIC (OKI) dan Liga Arab.

Sebagai mantan budak dan korban paling buruk dari rasisme, izinkan saya untuk menjelaskan mengapa saya berpikir memanggil Israel sebuah negara rasis sama sekali tidak masuk akal dan tidak bermoral.
(Baca pengakuan Kasim Hafeez, mahasiswa Inggris yang sangat anti-Israel, setelah ia melihat bukti-bukti di Israel, sekarang ia menjadi pembela Israel). Saya telah berkunjung ke Israel lima kali mengunjungi para pengungsi orang Sudan. Biarkan saya memberitahu Anda bagaimana mereka berakhir di sana. Mereka adalah orang-orang Sudan yang melarikan diri rasisme Arab, berharap menemukan tempat tinggal di Mesir. Mereka salah. Ketika pasukan keamanan Mesir menyembelih dua puluh enam pengungsi hitam (Negro) di Kairo yang memprotes rasisme Mesir, Orang Sudan menyadari bahwa rasisme Arab adalah sama di Khartoum atau di Kairo. Mereka membutuhkan tempat tinggal dan mereka menemukannya di Israel. Menghindari peluru dari patroli perbatasan Mesir dan berjalan untuk jarak yang sangat jauh, satu-satunya harapan para pengungsi adalah menjangkau sisi pagar negara Israel, di mana mereka tahu mereka pastilah akan aman.
Muslim-muslim hitam dari Darfur memilih Israel di atas semua negara-negara Arab-Muslim lainnya di daerah tersebut. Apakah Anda tahu apa artinya ini!!!?? Dan orang-orang Arab mengatakan Israel adalah rasis!!!?
Di Israel, orang-orang hitam Sudan, Kristen dan Muslim, disambut dan diperlakukan seperti manusia layaknya. Pergilah dan bertanya kepada mereka, seperti telah saya lakukan. Mereka mengatakan kepada saya bahwa dibandingkan dengan situasi di Mesir, Israel adalah “surga.”
Apakah Israel negara rasis? Untuk bangsaku, orang-orang yang tahu (apa itu) rasisme – jawabannya adalah absolutly tidak. Israel adalah negara orang yang warna (kulitnya) pelangi (artinya multi ras). Yahudi sendiri datang dalam semua warna, bahkan hitam. Saya bertemu dengan orang-orang Yahudi Ethiopia di Israel. Yahudi-yahudi hitam yang indah.
Jadi, ya … Saya datang ke sini hari ini untuk memberitahu Anda bahwa orang yang paling menderita akibat kebijakan PBB anti-Israel bukanlah bangsa Israel tetapi semua orang yang PBB abaikan supaya (dapat) mengatakan kebohongan besar PBB menentang Israel: kami, para korban dari penyalah gunaan Arab/ Muslim: para wanita, para minoritas etnis, para agama minoritas, para homoseksual, di dunia Arab / Muslim. Ini adalah korban terbesar dari PBB benci-Israel.
Lihatlah situasi para Koptik (Kristen) di Mesir, para orang Kristen di Irak, dan di Nigeria, dan di Iran; orang Hindu, dan Bahai yang menderita penindasan Islam. Para Sikh. Kami – sebuah koalisi pelangi para korban dan sasaran para pelaku Jihad – semuanya menderita. Kami diabaikan, kami ditinggalkan. Sehingga kebohongan besar menentang orang Yahudi dapat terus berlanjut.
Pada tahun 2005, saya mengunjungi salah satu kamp pengungsi di Sudan Selatan. Saya bertemu dengan seorang gadis berusia dua belas tahun yang mengatakan kepada saya tentang mimpinya.
Dalam mimpi dia ingin pergi ke sekolah untuk menjadi dokter. Dan kemudian, ia ingin mengunjungi Israel. Saya sangat terkejut.
Bagaimana mungkin gadis pengungsi yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Utara tahu tentang Israel? Ketika saya bertanya mengapa ia ingin mengunjungi Israel, gadis ini berkata: “Ini adalah bangsa kita.” Saya tidak pernah bisa menemukan jawaban atas pertanyaan saya.
Pada tanggal 9 Januari tahun 2011 Sudan Selatan menjadi negara merdeka. Untuk Sudan Selatan, itu berarti kelanjutan dari penindasan, brutalization, demonisasi, Islamisasi, Arabisasi dan perbudakan.
Dengan cara yang sama, orang Arab terus menolak hak orang Yahudi untuk kedaulatan di tanah air mereka dan konferensi Durban III terus menyangkal legitimasi Israel.
Sebagai teman Israel, saya membawa kabar bahwa Presiden saya, Presiden Republik Sudan Selatan, Salva Kiir – secara terbuka menyatakan bahwa Kedutaan Besar Sudan Selatan di Israel akan dibangun – bukan di Tel Aviv (sebagaimana kantor kedutaan negara Barat berada), tapi di Yerusalem, ibukota abadi bangsa Yahudi.
Saya juga ingin meyakinkan Anda bahwa negara baru saya, dan semua masyarakatnya, akan menentang forum-forum rasis seperti Durban III. Kami akan melawannya dengan hanya terus mengatakan yang benar! Kebenaran kami!
Teman-teman Yahudi saya mengajarkan saya sesuatu yang sekarang saya ingin mengatakan kepada Anda.
AM YISRAEL CHAI! –  Orang-orang Israel hidup!
Terima kasih.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog
Iklan

Arab Spring or Arab Dying?


Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Elohim (Allah). (Mat 5:6,9)

Peta Jalan Arab atau Arab Spring“Arab Spring” atau “Jasmine Revolusi” orang Afrika Utara menyebutnya telah berlangsung lebih dari satu tahun 4 bulan sejak Desember 2010. Benarkah hasilnya adalah orang-orang Arab Islam (dengan segala cabangnya) maupun Arab non-Islam menuju pertumbuhan yang positif (universal positif, bukan golongan tertentu saja) seperti nama dari gerakan tersebut “Arab Spring” yang artinya “Arab bersemi”? Atau sebaliknya, menuju ke jalan kehancuran, yakni “Arab Dying” – kemunduran di dalam moral, stabilitas dan ekonomi, dan tumbangnya jiwa-jiwa manusia yang terus membengkak?

Artikel ini ditulis untuk bangsa Arab dan negara Islam lainnya (pada khususnya) dan komunitas dunia (pada umumnya) merenungkan dan mengevaluasi kembali Arab Spring atau “Jalan Arab” (pemikir Islam Barat mengenalnya), ”kearah mana sesungguhnya masyarakat Arab sedang menuju, kearah yang benar atau kearah yang salah?”

Jalan Arab ini masih terus berlangsung di berbagai negara Arab saat artikel ini ditulis, di di negara tertentu seperti Mesir, Bahrain, Iran ‘bara api Jalan Arab’ belum mati, itu terpendam di bawah karpet, sebagian menyala-nyala dengan jelas seperti di Syria, lebih dari satu tahun tanpa pemecahan yang jelas. Mari kita teliti apakah peristiwa yang berlangsung di negara-negara Timur Tengah ini benar “Arab Spring” atau sesungguhnya adalah “Arab Dying”?

Daftar di bawah ini mungkin akan bisa menolong Anda mengerti apa yang saya maksud di atas.

Unsur positif, dari Jalan Arab (panggilan dari mana konsep gerakan demo ini berasal yg berarti ’masyarakat Arab turun kejalan’) bisa didaftarkan sebagai berikut:

  • Tumbangnya para pemimpin ‘diktator’ seperti Ben Ali (Tunisia), Hosni Mubarak (Mesir), Muamar Qaddafi (Libya) dan yg keempat, dan bukan terakhir, adalah Ali Abdullah Saleh (Yemen).
  • Lahirnya sistim pemilihan-pemimpin negara yang lebih melibatkan suara rakyat. Masih jauh dari standard Barat namun itu suatu awal yang baik. Ini perlu didukung, dan mayarakat Barat bersedia turut membayar harganya.
  • Organisasi Hak-hak Asasi Manusia mulai bisa beroperasi dan berpengaruh di negara-negara bekas ’diktatorsip’ tersebut.
  • Mayarakat Arab mulai mendapat ekses ke media internasional lebih bebas lagi. Mereka sekarang bukan saja bisa mengikuti berita dunia tapi juga mulai memberitakan kabar melalui media sosial (facebook, twiter, e-mail dan lain sebagainya).
  • Hak-hak wanita mulai diperkenalkan dan dibawa ke pengadilan. Para wanita di negara-negara Islam mulai berani membuka suara dimuka umum, melakukan aksi bakar diri di muka umum demi haknya. Yang terakhir ini ekstrim. Wanita  yang dahulunya hanyalah ’objek’ atau pelengkap dari kebutuhan pria, sekarang peranan dan kemampuan intelek wanita mulai diterima dan diakui oleh para pria Arab, ini tentunya suatu hal yang sangat positif. Jangan salah, saya tidak setuju feminism yang berlandaskan pemberontakan, namun saya mendukung hak wanita sebagaimana Alkitab menyatakan bahwa “Wanita adalah rekan kerja yang sepadan bagi Pria.”

Unsur negatip akibat Jalan Arab atau Arab Spring, (atau harga yang harus dibayar jika kita tidak ingin dikatakan sebagai unsur atau efek negatip) tidaklah sedikit dan tidak murah. Berikut ini hanyalah beberapa contoh:

  • Hancurnya kebutuhan dasar mayarakat Arab, seperti: rumah, harta benda, pekerjaan dan fasilitas-fasilitas umum. Siapakah yang tahu berapa besar kerugian  material mereka?
  • Hancurnya infrastruktur negara-negara yang terlanda Jalan Arab tersebut oleh karena dirusak secara sengaja oleh para demontrant dan aparat pemerintah serta serangan pihak ketiga (NATO di Libya). Berapa milyar dollar telah hilang untuk harga positif di atas? US$ 20,56 billion dari factor GDP dan US$ 35,28 billion dari factor keuangan masyarakat, total US$ 55,84 billion (Sembilan angka nol di belakang koma!!). Angka ini hanya untuk Libya, Mesir, Tunisia, Syria, Yamen dan Bahrain bersama untuk tahun 2011 saja. Ini hanyalah menambah berat utang negara!
  • Lenyapnya ribuan jiwa-jiwa yang mereka kasihi dan berpotensi bagi keluarga dan bangsa. Di Syria saja, laporan PBB bulan Maret berkata sudah lebih dari 9000 tewas. 846 jiwa di Mesir. Dan tidak terhitung di Libya. Orang-orang Arab bertumbangan (dying) terus-menerus malalui aksi Jalan Arab (spring) ini. Di Libya penculikan dan pembunuhan terus berlangsung dibawah payung pemerintahan yang baru.
  • Para aktivist Jalan Arab menyerukan perang kepada aparat militer, ”NoSCAF” (No Supreme Council of the Armed Forces). Dengan kata lain faktor stabilitas dan keamanan negara ditolak, coba digantikan oleh ’demokrasi-kebebasan tanpa batas’ (’kuasa sepenuhnya berada di tangan rakyat, dari rakyat untuk rakyat,’ ini adalah slogan sosial-komunis sebelum Cina komunis dibawah pimpinan Mao Zedong / Cetung menjadi penguasa tunggal). Dari total ’kontrol’ menuju ke arah total ’freedom,’ ini adalah jalan menuju kepada hukum rimba dan anarkis – kematian negara dan bangsa melalui jalan tol!
  • Karena motivasi dari Jalan Arab ini adalah ketidak puasan dan rasa iri atas keberhasilan suku lainnya dan faham Islam yang berbeda (Sunni dan Syiah/ Shi’a), maka kita akan tahu hasil akhirnya, sekarangpun sudah terlihat, ialah kepahitan, dendam, saling bunuh. Ini akan semakin parah jika aparat hukum dan negara tidak berfungsi, hanya mayoritas yang menang, keadilan akan semakin terinjak. Politikus menyebut kejadian ini sebagai ”Arab Spring,” Alkitab melihat semua ini sebagai ”Arab Dying.” (Amsal 29:18)
  • Dikatakan bahwa Jalan Arab ini bertujuan meruntuhkan pemimpin yang korupsi. Namun kita perlu bertanya,  ”apakah pemimpin yang beriktunya lebih bersih dari para’diktator’ yang telah tumbang atau yang ingin ditumbangkan?” Tidak ada jaminan sama sekali! Sejarah dunia telah membuktikan para pemimpin dunia yang telah menolak keadilan dan kebenaran yang bersumber dari hikmat YAHWEH, Elohim Pencipta alam semesta, pemerintahan mereka tumbang. Korupsi (material) bukanlah akar penyakit pemimpin, tetapi bejat moral (immorality), yakni menolak hikmat Pencipta mereka. Buta akan diri sendiri adalah penyakit yang parah, baca Matius 7:3-5.
  • Mayoritas rakyat Arab yang haus demokrasi sekarang sadar bahwa para pemimpin yang baru akan lebih ’diktator’ dari yang sebelumnya. Dahulu mereka dikontrol secara politik, sekarang jiwa dan pikiran mereka dikontrol dibawah Hukum Sharia. Arab non-Islam khusunya sangat kuatir atas gejala ini, nyawa mereka lebih terancam akitbat Arab Spring ini, di Syria sedikitnya 200 Kristen dibunuh oleh kelompok Islam anti president Assad. Di Mesir, baru-baru ini bangunan gereja, rumah toko orang-orang Kristen dibakar oleh Islam Salafi, oleh sebab Kristen memberi suara kepada calon pemimpin Islam moderat.
  • Islam jelas mengajar bahwa faham Demokrasi (Barat secara umum) adalah haram – ini arti perjuangan yg sebenarnya dari kelompok radikal Islam Nigeria yang bernama ”Bako Haram.” Bako adalah sebuah kata dari Nigeria Utara yang berarti ”pendidikan atau filosofi.” Artinya kekacauan dan ketidak stabilan di negara-negara Timur Tengah akan lebih parah lagi di masa depan jika dibanding jaman ‘pemerintahan militer’ sebelumnya.

Hasil dari ”Arab Spring” sesungguhnya adalah ”Arab Dying” kerugian bagi rakyat dan negara Arab baik secara material, jiwa dan roh.

Efek buruk Jalan Arab ini juga mempengaruhi negara-negara Barat dan Israel, termasuk Indonesia:

  • Harga minyak yang semakin meroket, pengeluaran anggaran negara bertambah untuk biaya perang (langsung dan tidak langsung) menolong para aktivist Jalan Arab atau ’radikal/ terrorist Islam’ (para pemerintah militer Islam menamai mereka).
  • Biaya tambahan untuk para imigran perang dan mereka yang hidup di tenda pengungisan sementara, biaya control perbatasan negara dll.
  • Belum lagi aksi balas dendam orang Arab kepada Barat atas kekacauan Timur Tengah yg dibuat oleh para politikusnya; banyak masyarakat Barat Kristen dan non Kristen tidak setuju dengan kebijakan luar negeri pemimpin mereka.
  • Israel juga dirugikan oleh Jalan Arab ini sekalipun Israel netral, keamaan dan stabilitas Israel terganggu dengan ketidak stabilan negara-negara tetangganya.

Akankah para Mahasiswa Islam Indonesia ingin juga membangkitkan Jalan Arab ini di tanah air Indonesia, seperti yang nampak pada akhir Maret 2012 dengan isiu “harga BBM naik”? Orang bijaksana dan berwawasan luas tidak akan mudah ditipu. Hukum negara harus dijunjung tinggi, setiap gerakan “atas nama membela rakyat” namun melanggar hukum negara adalah penghiatan dan musuh rakyat yang berdaulat.

Alkitab mencatat dan menilai sejarah kehidupan manusia. Isi Alkitab menyatakan bahwa Arab Spring hanyalah sebuah nama dari sebuah movement yang berlandaskan sebuah ideologi kotor (unclean spirit) yang sedang menjalar di negara-negara Arab, yang juga menyebar ke negara non-Arab. Hasil dari ”Arab Spring” sesungguhnya adalah ”Arab Dying” kerugian bagi rakyat dan negara Arab baik secara material, jiwa dan roh. (Wahyu 16:12-14).

  • Perang antar suku dan negara semakin berkobar dan parah, itu merambat ke negara lainnya (Mat 24:6-8)
  • Islam radikal menjadi semakin ekstrim, Mohamed Merah hanyalah satu dari puluhan ribu. Alkitab memberi jalan keluar: balas kejahatan dengan kebaikan, kasihilah musuhmu. Dendam, benci dan pembunuhan adalah jalan Iblis, bukan Elohim (Yoh 10:10).
  • Karena fokusnya adalah demo dan perang (bernamakan ’perjuangan hak dan kebebasan’) maka stabilitas dan ekonomi tercurah untuk mesin-perang bukan untuk perkembangan sosial dan moral masyarakat. Alkitab memberi jalan keluar: tanggalkan hak pribadi dan golongan demi keuntungan dan kebaikan banyak orang. Yeshua telah memberi contoh, Ia mati tersalib untuk keselamatan semua orang). Baca Filipi 2:3-11.

Sekaranglah waktunya untuk terbangun dari tidur Anda, buatlah rambu-rambu jalan agar umat-Nya dapat kembali ke jalan yang benar, agar bangsa dan negara dipulihkan seperti contoh pada Yeremia 31:21-25 dan 2 Taw 7:13-14 ini.

Karena begitu besar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Elohim mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Putra Tunggal Elohim. (Yoh 3:16-18)

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog