Menemukan jaminan jawaban doa, kesakisan hidup Profesor Charles Finney


Elohim bukanlah manusia sehingga Dia berdusta; juga bukan seorang anak manusia sehingga Dia menyesal! Apakah setelah Dia berfirman dan Dia tidak melakukannya; dan setelah Dia berbicara maka Dia tidak menegakkannya? Bilangan 23:19

Prof. Charles Grandison Finney

Prof. Charles Grandison Finney

Pendahuluan: Dunia Penginjilan mengenal baik Charles Grandison Finney (1792-1875). Ia dikenal sebagai Bapa Rivivalisme Modern. Ia seorang mahasiswa hukum yang dipanggil Elohim menjadi Pengkotbah yang penuh kuasa, bapa kebangunan rohani modern, professor Theologi, tokoh reformasi kemasyarakatan (pendidikan bagi wanita, dan orang kulit hitam serta pembela anti-perbudakan), dan seorang president dan dosen dari sebuah kampus. Ia memiliki cukup pengetahuan dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Kehidupan dan kotbahnya menjangkau semua tingkat sosial masyarakat.

Artikel ini menceritakan bagaimana pemuda Charles dari seorang mahasiswa yang sekuler dan rasional, menjadi seorang yang sangat yakin bahwa Elohim – yang adalah Roh (tidak kelihatan) – adalah eksis, dan terpenting dari semuanya, bagi para pembaca, ialah dia telah menemukan kunci rahasia untuk jaminan bagi jawaban doa-doa umat-Nya.
Kesaksian perjalan hidup masa muda Charles Finney ini bagus untuk siapapun Anda yang serius mencari Kebenaran sejati:
Bagus bagi orang Kristen, yang masih bergelut dengan doa-doa yang belum terjawab,
Bagus bagi orang Muslim, yang rajin berdoa 5 kali sehati, namun belum memiliki jawaban dari permohonan Anda.
Bagus bagi orang Atheis, yang masih tetap mempertanyakan “benarkah Elohim itu eksis, dan berkuasa atas semua ciptaan-Nya?”
Bagus bagi orang Buddha maupun Hindu, yang merindukan kehidupan rohani – mengalami jamahan kasih dan kuasa supernatural dari Elohim yang hidup.

Charles Finney, dalam bukunya Answers to Prayer, bercerita bahwa ia sangat yakin “Elohim akanlah menjawab doa-doa kita jika kita berdoa dengan benar.” Ia menceritakan keyakinannya ini melalui pengalamannya sendiri menjadi orang Kristen dan dalam pelayanannya sebagai hamba YAHWEH.

Pada catatan harian Finney ketika ia menjabat sebagai president pada Oberlin College, kondisi kerohanian di kota New York saat ia masih remaja ia gambarkan sebagai:

“Tidak satupun dari kedua orangtua ku adalah profesor agama, dan, saya percaya di antara tetangga kami ada sangat sedikit orang yang religius. Saya jarang mendengarkan khotbah, kecuali sesekali-sekali dari beberapa hamba Adonai yang berkeliling kota, atau dari pengkhotbah bodoh yang kadang-kadang bisa ditemukan di negara itu. Saya ingat sekali bahwa ketidaktahuan para pengkhotbah tersebut yang saya dengar adalah sedemikian buruknya, (sehingga) orang-orang akan keluar dari pertemuan dan menghabiskan banyak waktu tertawa tak tertahankan pada kesalahan-kesalahan aneh yang telah dibuat dan hal-hal kuno yang telah berkembang.”

Dan saya pikir di abad 21 ini kerohanian Kota New York bahkan lebih parah lagi. Seorang repoter FOX News yang bertobat di awal 2015 ini bercerita bahwa sekitar 99% penduduk New York adalah orang-orang yang tidak perduli dengan masalah keagamaan (jika tidak ingin dikatakan Atheists). Perlu diingat oleh setiap orang, bahwa jika kita melihat masalah-masalah dalam keagamaan, janganlah pernah berpikir bahwa kesalahan ada pada Yang bertahta di Sorga. Semua masalah di dunia ini, termasuk masalah kerohanian atau keagamaan bersumber dari manusia itu sendiri: penyalah gunaan kehendak bebas manusia untuk memilih dan berbuat.

Sebelum Finney menjadi Kristen ia adalah mahasiwa jurusan Hukum di Adams, kota New York, dimana ia magang di sebuah kantor hukum untuk menjadi seorang ahli. Di Adams ada terdapat sebuah Jemaat (Gereja) tanpa pemain piano. Charles bisa bermain piano, jadi ia menawarkan dirinya bermain piano bagi Jemaat tersebut. Karena keahliannya dalam bidang musik, ia bahkan menjadi pemimpin paduan suara kaum remaja.
Setiap hari Minggu ia bermain piano untuk ibadah mingguan, namun setiap orang dari Jemaat tersebut tahu bahwa ia bukanlah seorang Kristen.
Jemaat ini biasa mengadakan doa syafaat malam untuk kebangunan rohani setiap hari Selasa dan Kamis, itu sudah berlangsung beberapa tahun.
Setiap Minggu pagi, sebelum ibadah dimulai, pendeta setempat akanlah memimpin para pekerja berdoa untuk kebangunan rohani.

Mereka mulai berdoa untuk Charles agar mahasiswa Hukum ini membuka hatinya bagi Yeshua. Ketika Charles mendengar apa yang mereka lakakuan atas dirinya, ia menjadi tersinggung, mengapa mereka tidak permisi dulu kepadanya. Jadi Pendeta memanggil dia dan bertanya:

”Apakah kamu ingin kami berdoa bagi mu di gereja pada Minggu berikut?”
”Tidak,” Charles menjawab
”Apa maksudmu? Tidak kamu kamu suka didoakan? Tidakkah kamu mengasihi Elohim?” Pendeta bertanya.
”Saya tahu Elohim eksis, namun saya memiliki banyak pertanyaan tentang hal-hal yang saya tidak mengerti tentang Dia,” Charles memberi alasan penolakan tawaran doa pendeta tersebut.
”Ok, kami dapat berdoa untuk Elohim memberikan kepada mu pewahyuan dan pengertian,” Pendeta tidak menyerah
Charles Finney tetap menolak. Pendeta meminta Charles untuk menyelaskan lebih jelas penolakkan dirinya untuk didoakan.
Finney menjawab, ”Lihat, kalian telah berdoa sepanjang tahun-tahun ini untuk sesuatu yang secara pribadi kalian perlukan, dan itu belum mendapat jawabannya. Mengapa kalian ingin saya percaya jika kalian meminta untuk diriku , itu akan terjadi? Kalian telah meminta untuk suatu kebangunan rohani setiap minggu dan itu tidak terjadi. Mengapa saya harus percaya jika kalian berdoa untuk saya, itu pastilah akan berbeda?”

Charles Finney bukanlah seorang yang suka berpura-pura dalam hal ini, tambahan, ia adalah seorang mahasiwa Hukum, yang terlatih secara pendidikan untuk memakai logika dan percaya bahwa sesuatu hanyalah bekerja berdasarkan ”aturan permainan” perjanjinan dan undang-undang hukum.

Sekarang si pendeta gereja yang tersinggung dan memberi saran kepada majelis Jemaat setempat, ”Ini suatu karakter yang salah di dalam jemaat. Mungkin sebaiknya pemuda-pemudi kita berhenti berhubungan dengan dia.”  Rahasia kesuksesan pelayanan Charles Finney

Pendeta menghentikan Charles untuk bermain piano, namun Charles tetap mengunjungi gereja ini sekalipun ia tidak bermain piano dan memimpin paduan suara lagi. Tekanan bertambah atas Charles; Pendeta secara terbuka berkotbah untuk para pemuda menjaukan diri mereka dari Charles, sekali lagi Charles tetap kokoh. Tidak seorang pun dapat menghentikan dia untuk tidak datang ke gereja tersebut; ia tetap mencari dan bertanya JIKA Elohim benar-benar eksis atau tidak?

Sikap Finney yang rasional ini telah membuat seorang bapa, Tuan Gale, salah seorang pekerja dari Jemaat setempat, sangat yakin bahwa selama calon ahli hukum ini tetap berada di Adams, para pemuda setempat tidaklah akan pernah dipertobatkan. Bahkan seorang suami mengejek istrinya yang taat beribadah dengan bersembunyi di balik rasional Finney. Finney menulis kisah ini pada buku autobiografinya sebagai: ”Saya dapatkan setelah saya bertobat, bahwa beberapa orang-orang yang jahat di tempat itu telah bersembunyi di belakang diriku. Seorang pria untuk tepatnya, tuan C—-, yang memiliki seorang isteri yang saleh, telah berkali-kali berkata kepadanya (isterinya), ’Jika agama adalah benar, mengapa kalian tidak menpertobatkan Finney? Jika kalian para Kristen dapat mempertobatkan Finney, saya akanlah percaya kepada agama.’
Finney melanjutkan ceritanya, ”Seorang ahli hukum yang telah berusia lanjut dengan nama M—, hidup di Adams, ketika ia telah mendengar cerita pada hari itu bahwa saya telah bertobat, berkata bahwa itu semua adalah sebuah kebohongan.” – Bagaimanapun, gossip pertobatannya telah membuat gedung gereja dimana Finney biasa bermain piano menjadi penuh dengan pengunjung pada hari Minggu berikutnya, termasuk tuan Gale, pekerja Jemaat, dan dua bapa yang atheist tersebut tuan C— dan tuan M— hadir di sana. Kebangunan Rohani terjadi hari itu juga setelah mereka mendengar kesaksian Finney, dan tuan Gale sejak hari itu diubahkan Adonai menjadi pekerja Gereja yang memiliki wawasan baru.

Kita kembali pada priode disaat Finney dilarang oleh pendeta setempat untuk bermain piano dan berhubungan dengan para remaja gereja setempat.
Charles tetap membaca dan membaca ulang Alkitabnya dan kemudian memutuskan, “Saya pikir Dia sungguh eksis. Ada cukup banyak kesaksian di sekitarku.” Ia melangkah ke “kasus” ke dua; “Apakah Dia Elohim yang baik? Dapatkah saya bergantung kepada Nya?”
Charles telah melihat peristiwa penghakiman-penghakiman di dalam Perjanjian Lama, sebagai seorang calon ahli hukum ia terus bertanya-tanya, “Mengap Elohim melakukan hal-hal tersebut?” Dari penyelidikannya melalui pembacaan Alkitab ia mendapat jawabannya: “Sekalipun ketika Elohim melaksanakan penghukumannya, itu dilakukan Nya atas dasar keadilan dan kasih.
Charles sadar bahwa YAHWEH adalah Elohim yang baik, namun ia tetap bertanya-tanya, “Apakah Dia dapat diandalkan? Apakah Dia melakukan apa yang dikatakan-Nya? Mengapa orang-orang berdoa menurut janji-janji dan Dia tidak menjawabnya?
Jadi Charles kembali meneliti isi Alkitab, ia diyakinkan bahwa Elohim dapat diandalkan. Sehingga ia menyimpulkan:

”Jika Elohim eksis, dan baik, dan dapat diandalkan serta menggenapi apa yang Dia katakan, dan mengapa doa-doa mereka tidak mendapatkan jawabannya, masalahnya kecuali adalah sungguh pada mereka sendiri dan cara mereka berdoa.”

Charles Finney bertobat dan menjadi Kristen
Setelah ahli hukum ini yakin bahwa Elohim sungguh eksis, baik, dapat diandalkan dan menepati perkataan-Nya dan masalah bukanlah di pihak Elohim, tetapi orang-orang itu sendiri, lalu ia mendengar suatu pertanyaan di dalam hatinya: “Nah sekarang kamu tahu bahwa Elohim sungguh eksis, Dia dapat diandalkan dan Dia baik, dan menjawab doa-doa. Apa yang sekarang kamu ingin lakukan dengan semua ini? Apakah kamu akan berhenti di sini atau kamu pergi untuk berdoa? Akankah kamu menerima itu sekarang, hari ini?” Ia menjawab, ”Ya, saya akan meneriman itu hari ini, atau saya akan mati dalam mencapainya.”
”Hal pertama adalah saya akan bertobat, mengakui dosa-dosaku dan menyerahkan kehidupanku kepada Yeshua. Saya akan menjadi seorang Kristen,” Charles mengenang keputusan pentingnya itu.

”Saat itu adalah Oktober, … (sore hari) sebagai ganti pergi ke kantor, saya berbalik dan membatalkan kursusku, berjalan menuju hutan, jauh dari semua mata dan telinga manusia, sehingga saya dapat mencurahkan doaku pada Elohim.”

Ketika ia tiba di hutan, ia mulai mencari semak-semak dimana ia dapat berdoa.
Ia pergi dan masuk ke tengah-tengah semak tersebut, dan melihat ke sekelilingnya, “Oh, jika seseorang berjalan lewat, mereka akanlah melihat diriku.” Lalu ia bergerak lebih ke dalam hutan. Ketika ia hendak mau mulai berdoa, ia berpikir, ”jika saya berteriak, tentunya seseorang akan mendengarnya.” Jadi sekali lagi ia masuk semakin dalam ke hutan tersebut sehingga tidak seorang pun bisa mendengar tentang hal-hal buruk dalam hidupnya yang ia ingin keluarkan.
Ketika ia merasa benar-benar menemukan tempat yang tepat untuk menyerukan seluruh isi hatinya maka mulailah dia berdoa, namun celaka, hatinya telah menjadi begitu kering dan dingin. Doanya hanyalah kata-kata belaka – ungkapan tanpa hati nurani. Bukanlah suatu pertobatan yang keluar dari hati.

Finney bertobat di hutan

Finney bertobat di hutan

Ia mencoba berkali-kali, setelah dua puluh menit berlalu tidak mendapatkan hasil, ia berkata kepada dirinya sendiri, “Saya tidak dapat berdoa. Hatiku mati untuk Elohim. Mungkin saya telah menunggu terlalu lama dan sekarang saya telah menjadi keras. Mungkin saya jauh dari keselamatan. Saya tidak bisa sungguh-sungguh bertobat.”
Dengan sedih ia bangkit berdiri dan berjalan balik ke desa. Sementara berjalan keluar dari hutan, ia terus bertanya-tanya, “Apa yang akan terjadi kepadaku? Sekarang saya telah mengetahui kebenaran, saya mengetahui tentang Elohim, dan saya tahu juga bahwa jika saya tidak bertobat maka saya akan binasa. Apa yang akan terjadi kepadaku?”

Tiba-tiba suatu ayat firman Elohim muncul di hatinya: ”Elohim menentang orang-orang yang takabur (congkak), tetapi Dia memberikan anugerah kepada orang-orang yang rendah hati (Yakobus 4:6)
Firman itu datang seperti cahaya yang membongkar kesombongannya. Ia menulis kejadian itu sebagai:

“Bagaimana mungkin seorang berdosa menerima pengampunan, sadar hanya demi apa yang orang-orang akan katakan?”

Ia menyadari bahwa pertobatannya tidak berfokus kepada Elohim tetapi penyenangan bagi manusia (pendeta dan jemaat dimana ia beribadah).
Sadar akan kesombongan tersembunyi yang ada pada dirinya,  saat itu juga ia berseru, ”Adonai, kasihanilah aku seorang berdosa!” Ia tidak perduli dengan sekelilingnya, ia terus saja berseru dengan keras dan merintih – mengakui satu persatu dosanya. Ia tidak tahu berapa lama ia telah berada di hutan itu; ketika ia akhirnya berhenti ia merasakan ketenangan di dalam jiwanya suatu ketenangan yang belum pernah terjadi sebelumnya sepangjang hidupnya.
Hutan telah menjadi gelap. Ia bangkit segera dan buru-buru balik ke kantornya, dan bossnya telah meninggalkan kantor. Ia masih ingin terus berdoa dan melanjutkan pengakuan dosa yang ia pikir belum diucapkan atau belum dibereskan, jadi ia berlutut dan berdoa, ”Adonai, saya ingin melanjutkan pertobatanku,” namun tidak ada suatu apa pun yang keluar. Yang ada hanyalah keheningan yang penuh damai di hatinya.
”Adonai, apakah sekarang ke-akuan-ku telah mati? Apa yang telah terjadi pada diriku?” Lalu ia bangkit dan bermaksud ingin meninggalkan kantornya untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba suatu yang Charles tidak impikan terjadi, ia melihat Adonai Yeshua Ha Mashiah berdiri di ambang pintu. Yeshua melihat kepada dirinya sambil tersenyum. Charles Finney jatuh bertelut di depan hadirat Adonai yang mahamulia, saat itu juga kuasa dari tempat yang mahatinggi turun ke atas dirinya, ia mendengar Adonai berbicara kepadanya, ”Kepada yang rendah hati Dia memberi anugerah.” Dan berkata beberapa kali kepadanya, ”Aku mengasihimu. Aku mengasihimu.”

Setelah mengalami perjumpaan yang dasyat ini dengan Tuannya, ia menghentikan magangnya sebagai calon ahli hukum, ia menulis: ”Saya memiliki impressi, yang tidak pernah meninggalkan pikiranku, bahwa Elohim ingin saya mengkotbahkan Injil, dan saya harus memulai dengan segera.”
Kehidupan Charles Finney berubah drastis dan dikemudian hari Adonai melalui hidupnya merubah ratusan ribu orang-orang – kemanapun dia pergi, kebangunan rohani terjadi! Lawatan kuasa Roh Kudus melalui pelayanan Charles Finney tidak hanya merubah Gereja-gereja tapi juga kehidupan sosial masyarakat. PUB-PUB (kedai-kedai legal yang menjual minuman alkohol), dan tempat-tempat pelacuran tutup karena tidak ada pembeli, dan bahkan beberapa penjara menjadi kosong. Para polisi mendapatkan pekerjaan mereka menjadi ringan, sebab tindak kejahatan dan keributan turun drastis.

Minggu pertama dari hari pertobatan Finney, Oktober 1821, ia memberikan kesaksian kepada Jemaat bagaimana Yeshua telah melawat dan merubah hidupnya; kebangunan rohani terjadi pada Minggu itu juga di gedung gereja tersebut.
Apa respond dari pendetanya – yang telah bertahun-tahun berdoa untuk datangnya kebangunan rohani dalam Jemaat yang ia layani – atas kebangunan rohani yang disebabkan oleh kesaksian Finney ini? Di luar dugaan, pendeta ini menentangnya dan meminta Charles untuk tidak lagi datang ke gedung gerejanya.
Charles Finney tidak kembali ke gereja tersebut, sebaliknya ia pergi memasuki PUB-PUB dan tempat-tempat pelacuran. Setiap kali ia masuk, ia akan menatap kepada setiap mereka “mata ke temu mata dan berkata, ”Tahukah kamu betapa besar Elohim mengasihi kamu?” Dan kuasa Elohim turun saat itu juga; mereka menangis dan berlutut mengakui dosa-dosa mereka – tanpa ada seorang pun yang memerintahkan apalagi memaksa mereka. Tempat-tempat yang dijauhi oleh ”orang-orang agamawi” ini berubah menjadi tempat-tempat pertemuan Kristen. Pencuri dan pembunuh setelah dijamah Roh Kudus, secara suka rela mendatangi kantor-kantor polisi untuk mengakui apa yang mereka perbuat.
Di kemudian waktu, ketika ia mengunjungi pabrik-pabrik, Mr. Finney hanya berjalan lewat, secara luar biasa para karyawan ini merasakan jamahan kasih dan kesucian Elohim melalui kehadiran dirinya, mereka bertobat di tempat mereka berada, berlutut dan mengaku dosa dengan sendirinya! – Kuasa Elohim yang merubahkan manusia ini akanlah bekerja secara nyata di dalam kekudusan para hamba-Nya. Sebagaimana John Wesley (1730-1791) berkata pada pernyataannya yang sangat terkenal: ”Berikan pada saya seratus orang yang tidak takut apa pun kecuali Elohim dan saya akan merubah dunia.” John adalah pengkotbah Inggris yang terkenal dengan hidup kudusnya, dan saudara kandungnya Charles Wesley terkenal dengan ratusan lagu-lagu Gereja  – yang padat dengan prinsip-prinsip Kristianiti yang berfondasikan ajaran Alkitab  – yang sampai saat ini tetap dinyanyikan di banyak Gereja-gereja Injili.

Apa yang terjadi dengan Jemaat dimana Charles Finney pernah bermain piano di ibadah Minggu tersebut. Jemaat secara sehati memecat pendeta tersebut. Mereka juga rindu menerima kuasa Roh Kudus yang telah merubah banyak orang.

Charles Finney memiliki keyakinan, dan ia sering nyatakan di depan mimbar:

“Jika Anda berdoa dan melalukan hal yang benar, Elohim akan menurunkan kebangunan rohani.”

Para ahli theologi yang menolak keyakinan Mr. Finney berkata: “Anda tidak dapat mengatakan kepada orang-orang untuk mengharapkan kebangunan rohani. Elohim berkuasa. Dia melakukan apa yang Dia inginkan dan kapan Dia inginkan.”

Mr. Finney membuktikan apa yang ia percayai,

  • selama periode 1825-1835 (selama dua puluh tahun) ia sangat dikenal di kota New York dan Manhattan sebagai tokoh penggerakan kebangunan rohani.
  • Kampus Oberlin College didirikan oleh Mr. Finney dengan iman, di tengah-tengah krisis keuangan.
  • Selama hidupnya ia telah menjabat sebagai pengkotbah untuk pertemuan-pertemuan kebangunan rohani (KKR), pendeta, professor sekolah theologia, president dari sebuah kampus.

Bacaan yang berkaitan:

Pada GospelTruth.net Anda bisa temukan artikel-artikel bagus lainnya tentang biografi, pelayanan dan pekerjaan Charles G. Finney telah ditulis oleh banyak orang, Anda bisa lihat di link ini hal-hal yang berkaitan dengan Charles Finney termasuk foto-foto dan artikel dari orang-orang yang membela pemikiran theologi Charles Finney

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Iklan

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: