Peringatan kemerdekaan Israel ke 67, President Reuven Rivlin kepada para wartawan asing


Pray now for the peace of Jerusalem: and [let there be] prosperity to them that love thee. Let peace, I pray, be within thine host, and prosperity in thy palaces. For the sake of my brethren and my neighbors, I have indeed spoken peace concerning thee. Because of the house of the Lord our God, I have diligently sought thy good. (Psalms 122:6-9, LXXE)

Saya kutip sebagian pernyataan President Israel Reuven Rivlin kepada para wartawan berbahasa Inggris, pertemuan ini terjadi tidak lama sebelum Hari Peringatan Kemerdekaan Israel. Sumber asli diambil dari tulisan David Horovitz, editor pendiri situs The Times of Israel.com.

David mendaftarkan secara indah dan gamblang bagaimana pandangan President Israel Rivlin atas: tantangan President Israel Reuven Rivlin (photo credit Hadas Parush)kunci negara Israel pada usia 67 tahun, tentang Islam, orang asing yang hidup di Israel, khususnya orang Palestina Arab dan sebagainya.
“President bagus secara alami, sabar, dan berkemurahan dengan waktunya – ia berbicara selama satu jam setengah secara penuh- menjawab pertanyaan-pertanyaan secara dialog yang berkisar dari point-point yang bersangkutan (dengan Hari Perayaan Kemerdekaan Israel) sampai ke konyol.” David menulis
“Saya lahir sembilan tahun sebelum bendera Israel dinaikkan dan bendera Britania diturunkan,” Mr. Revlin memulai percakapannya
Saya tidak meremehkan Israel … Kami terus mencoba untuk meyakinkan setiap orang bahwa Israel adalah suatu fakta.”
Mr. Rivlin pada hubungan antara orang-orangYahudi dan Muslim: “Secara histori, orang-orang Yahudi tidak pernah punya masalah apa pun dengan Islam Shia. Orang-orang Yahudi dan Shia telah hidup bersama dengan sangat baik … Kami tidak ada perang dengan Islam. Tidak seorang pun di Israel berpikir begitu. Ada orang-orang fundamental di dalam setiap agama ….
Kami sedang duduk pada ujung volcano (dalam terminologi bahaya-bahaya exstimisme keagamaan): Gunung Bait Suci (the Temple Mount) digolongkan oleh para Muslim untuk ada sebagai sangat penting. Kami harus menghargai itu … Tetapi kami haruslah membuat mereka megerti bahwa itu adalah sesuatu yang sangat suci untuk kami.”
Mr. Rivlin pada perlakuan ancaman yang diberikan oleh Iran: “Seluruh dunia – dan khususnya president Amerika – sedang mencoba bercerita kepada kita bahwa kita harus menemukan sebuah pengaturan baru dengan Iran …. Mereka tidak mengerti hal itu, bahwa Iran sedang mencoba menaikkan pengaruhnya pada seluruh wilayah: Hezbollah (Libanon), Irak, Yemen, Yordania, Libya , Tunisia, Sudan …..”
Mr Rivlin pada kaitan dengan Amerika Serikat: Amerika sagatlah penting untuk keberadaan Israel dan masa depan Israel, dan untuk kemampuan menjaga keseluruhan dunia bebas aman dari bahaya. Kami kedua belah pihak perlu memelihara dukungan Amerika bagi Israel.
Mr. Rivlin pada konflik Israel-Palestina: Kami perlu bernegosiasi dengan M Abbas (pemimpin Palestina di West Bank). Saya telah mengenal Abbas untuk lebih dari 25 tahun … Kami tidak runtuh untuk hidup bersama: itu adalah tujuan kami untuk hidup bersama. Kami dapat membangun jembatan diantara kami … Itu dapatlah menjadi suatu kenyataan, tidak hanya sebuah mimpi … Itu semua adalah kepentingan kami ….
Tetapi ada banyak orang Palestina yang percaya bahwa tidak mungkin mengakui Israel sebagai sebuah negara Yahudi … Mereka menuntut hak untuk kembali bagi para pengungsi yang megancam sungguh-sungguh keberadaan Israel …
Para terrorist sedang mecoba membawa mimpi dan negara kami berakhir. Mereka melihat diri mereka sendiri sebagai musuh-musuh kami dan melihat tugas mereka untuk mengakhiri negara Israel … Di Gaza, 1,5 juta orang Palestina tersandera oleh Hamas …. Kami tidak menyatakan perang atas mereka. Mereka menyatakan perang atas kami ….

President  Reuven Rivlin menyambut kedatangan imigran baru dari AS dan KanadaMr. Rivlin pada perasaannya bagi Israel: Untuk 2000 tahun kami telah bermimpi tentang kembali … Israel bukanlah sebuah keluaran dari atau kompensasi untuk Holokos …
Ketika saya lahir, telah ada 200.000 orang Yahudi di Palesitina di bawah mandat Britania. Ketika saya mecapai usia 9, dengan berdirinya negara (Israel) kami telah ada 700.000. Mencapai tahun 2000 saya telah berharap akan ada 2 juta. Terima kasih kepada Elohim, itu ternyata telah ada 6 juta. Sekarang 6,5 juta. Diharapkan satu juta lainnya akan datang dalam dekade berikut ….
Orang-orang haruslah datang bukan karena bahaya – meskipun Israel adalah juga sebuah naungan yang aman – tetapi karena ini adalah tanah air kita, tanah bapaleluhur, tanah perjanjian. Saya tentunya ingin setiap Yahudi datang ke Israel.
Mr. Rivin pada hubungan-hubungan dengan orang-orang Arab Israel (bangsa Arab yang tinggal di Israel) dan entah mereka dapat dan seharusnya ada bagian di pemerintahan Israel: Para warganegara Israel adalah warganegara Israel. Mereka berhak untuk menjadi anggota Knesset (parlement), dan saya sangat bangga bahwa 16 anggota baru Knesset adalah bukan-orang Yahudi – 11 Muslim, 3 Druse (agama tradisi orang Baduin) dan 2 Kristen …
Mereka (para Arab Israel) memiliki masalah-masalah di komunitas Arab Israel dan mereka tahu bahwa mereka memiliki masalah-masalah. Beberapa mereka memiliki sedikit konflik antara kesetiann kepada Negara Israel dan kesetiaan kepada suku-bangsanya … Itu sejenis ide saya bahwa mereka pada akhirnya haruslah mengenali sesuatu yang mereka tidak dapat terima saat ini: bahwa tanah Israel adalah tanah bapamoyang dari bangsa Yahudi …, itu adalah taPresident Reuven Rivlin memberi salam ke Hakim Salim Joubran Good job!nah pernjanjian saya. Ada konflik di Timur Tengah antara dua bangsa. Keduanya adalah benar dari sudut pandang mereka.
Tetapi kami, para Yahudi, tidak memiliki pilihan lain selain melekat pada pemikiran yakni kami telah kembali ke tanahair kami, tidak sebagai kompensasi atas Holokos, tetapi sebagai sebuah bangsa yang tidak hanya sebuah agama, tetapi juga sebuah negara ….
Tantangan tersebut adalah membangun keyakinan antara para Yahudi Israel dan para Arab Israel. Salim Joubran, seorang Hakim Arab, telah memimpin pemilu (Israel) terakhir. Dia telah membuat keputusan-keputusan yang penting. Saya sangat bangga atas itu sebagai seorang demokrat dan sebagai seorang Yahudi.

Mr. Rivlin pada pembantaian bangsa Armenia: Saya adalah president pertama yang berkata bahwa itu adalah pembantaian. (Pemerintah Turky tidak mengakui perbuatannya tersebut sebagai pembantaian bangsa). Jika kita tidak bersuara bagi orang-orang Armenia, apa yang mereka akan katakan tentang kami? …. Saya memberi selamat ke Paus apa yang ia telah katakan dalam mengenali pembantaian bangasa Armenia tersebut … Kalimat ”Never Again” haruslah berarti sesuatu.
Mr. Rivlin pada ancaman-ancaman untuk demokrasi Israel: Mengunjungi sekolah-sekolah orang Israel kamu mendengar anak-anak berkata, ‘negara demokrasi Yahudi adalah hanya untuk orang-orang Yahudi Israel,’ itu adalah berbahaya. Di Israel, pergi masuk ke tanam kanak-kanak Yahudi dan tanya siapa orang jahat, mereka akan berkata: para Arab. Pergi masuk ke taman kanak-kanak Palestina atau Arab dan tanya anak-anak tersebut siapa yang jahat, dan mereka akan berkata para Yahudi dan tentara Israel. Itu mengerikan. Tidak mungkin!
Mr. Rivlin pada reformasi Yudaisme (dalam kontek keagamaan, bukan politik): Saya bertumbuh pada Jerusalemite Orthodox. Jika seandainya saya bertumbuh di Boston atau New York, saya mungkin lebih memilih untuk ada istriku duduk di sebelah saya dalam Synagogue (Gereja). Knesset telah mengadopsi posisi itu untuk tujuan-tujuan kebangsaan, (yakni) berpindah ke Yudaisme di Israel haruslah ada menurut Halacha. Ini disebabkan kekuasaan politik … Jika dua juta orang Reform Yahudi berpindah ke Israel, hukum tersebut dapatlah ada dirubah. Halacha tidak dapat dirubah, tetapi hukum Israel dapat ada (dirubah).”
Pesan Mr. Rivlin di Hari Kemerdekaan Israel ke 67: Bangsa Israel, berbanggalah kepada bendera (Israel). Janganlah menerima negara ini dengan murah. Kita harus menghargai kemampuan kita untuk hidup dalam negara bangsa Yahudi yang mendeka ini.”

Sumber asli:  Israel’s conflicted president wrestles with democracy, Jewish historical rights

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Data-data rahasia dan struktur intelejen Negara Islam Khalifah terbongkar


Badan media Jerman yang terkenal, Spiegel, sebagaimana dilaporkan oleh reporternya Christoph Samir Abd Muhammad al-Khlifawi alias Haji Bakr dalang utama NIKReuter, telah mendapat kesempatan khusus melihat secara langsung data-data rahasia tentang struktur organisasi – bersifat intelejen – Negara Islam Khalifah (NIK) atau Da’ish dalam bahasa Arabnya. Data rahasia ini didapatkan setelah seorang anggota NIK dikenal dengan nama samaran “Haji Bakr” (Bakar) – si pembuat data sturktur intellejen NIK – tertembak mati saat ingin ditangkap oleh militan pemberontak kelompok Islam Sunni di Syria dari kelompok yang tidak sepaham dengan NIK. Dari rumah Haji Bakr inilah data rahasia yang sangat penting tersebut didapat. Data tulisan tangan ini berhasil dijangkau seluruhnya pada bulan November 2014. Di bawah ini adalah kutipan singkat Senjata Rohani weblog yang terambil dari tulisan Christoph Reuter.
Dari data rahasia ini, dua hal adalah jelas:
1. Haji Bakr adalah otak utama / pemimpin utama gerakkan Negara Islam Khalifah, sementara Kalifah Abu Bakr al-Bagdadi (pendiri NIK), yang tampil dipermukaan, hanyalah wajah keagamaan untuk menarik para Muslim bergabung ke dalam gerakkan militer NIK. Kondisi Ini persis seperti kepausan dalam Gereja Roma Katolik; ”Paus Hitam” (Ordo Jesuit aktif di politik dan pembuat doktrin) bergerak di belakang layar, dan ”Paus Putih” (rohaniwan) yang selalu tampil dimuka umum.
2. NIK berbahaya bagi setiap tatanan pemerintahan negara, khususnya negara-negara Islam atau mayoritas berpenduduk Muslim (saat ini), Haji Bakr, ex-intellejen Saddam Hussein ini, mengajari para Muslim untuk tidak setia kepada bangsa dan negaranya sendiri – memata-matai dan mengumpulkan informasi tentang pemimpin agama dan negara.

Isi dari data rahasia tersebut sungguh mengejutkan banyak pihak, baik bagi pihak di luar Islam dan khususnya bagi kalangan Islam sendiri. Haji Bakr, sungguh misterius, sehingga pihak yang ingin menangkap Haji Bakr tidak tahu siapa orang yang ia telah bunuh, yang ternyata bukan sekedar seorang pemimpin rohani yang bergabung ke Da’ist atau NIK yang didirikan oleh Abu Bakr al-Bagdadi.
Samir al-Khlifawi di jaman Saddam HusseinSiapakah “Haji Bakr?” Nama aslinya adalah Samir Abd Muhammad al-Khlifawi orang asal Irak, namun tidak seorang pun mengetahui nama aslinya, bahkan nama samarannya ”Haji Bakr” tidak banyak diketahui. Koran Spiegel pada laporannya menyimpulkan Samir sebagai orang: “menyendiri, sopan, pembujuk, sangat penuh perhatian, menguasai diri, tidak jujur, misterius dan berbahaya.” Bakr adalah ”seorang nasionalist, bukan seorang Islamist,” kata wartawan Irak Hisham al-Hahimi yang sepupunya satu posisi dengan Bakr di Komplek Angkatan Udara Habbaniya di jaman President Irak Saddam Hussein. Samir adalah bekas kolonel dalam badan intellejen pada angkatan udara pertahanan di pemerintahan Saddam Hussein. ”Kolonel Samir,” Hashimi memanggilnya,” adalah sangat intellijen, seorang logistik yang sangat luar biasa.
Ketika Paul Bremer, orang AS untuk wilayah pendudukan Amerika di Bangdad ”membubarkan tentara Sadam pada Mai 2003, ia kepahitan dan kehilangan pekerjaan.” Sejak itu Samir beroperasi secara rahasia. Pada masa Jalan Arab ia tinggal di Tal Rifaat, profinsi Aleppo di Syria. Di kota ini ia merekrut orang-orang muda dan mengadakan pertemuan dengan Abu Bakr al-Baghdadi – yang kelak dikenal sebagai ”pendiri dan pemimpin gerakkan Negara Islam Khalifah (NIK).” Samir begitu misterius sehingga ia dikalangan militan NIK ia hanya dikenal sebagai “Tuan Bayangan” (lord of shadows), dan bahkan tetangga sebelah rumah Samir berpikir ia hanyalah seorang imam dari kelompok Da’ist. Menurut Wikipedia, sejak Saddam tumbang, Samir menjadi pimpinan puncak dari Negara Islam Irak (NII), Samir memegang peranan dalam karir Abu Bakr dan menjadikan Abu Bakr pemimpin  NII berikutnya (dan Samir bermain di belakang layar). Dan di saat perang Syria, NII menjadi NIIS (S untuk Syria), dan segera menjadi NIK (K untuk Khalifah dalam arti global tidak hanya di Irak dan Syria), baca “Sejarah NIK modern

Isi dari data rahasia NIK buatan Kolonel Samir. Data tersebut terdiri dari 31 halaman. Saya simpulkan secara garis besarnya saja. (harap baca sumber aslinya, The Terror Strategist: Secret Files Reveal the Structure of Islamic State By Christoph Reuter.
Seperti kita ketahui bahwa sebelum serangan udara dilancarkan oleh Amerika Serikat (yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain) atas kantong-kantong militan NIK di akhir tahun 2014, militan NIK bergerak begitu cepat dan sukses, hanya dalam beberpa bulan saja NIK telah menguasai wilayah yang luar hampir sebesar negara Syria, wilayah yang ada di bawah kontol NIK tersebar dari Syria utara memanjang ke timur sampai ke Irak. Menjadi “organisasi Islam terrorist terkaya se dunia” media menulis. Kota demi kota dengan mudah dikalahkannya, Rahasia dari sukes ini ternyata adalah datang dari perencanaan strategi yang pintar tapi licik dari Kolonel Samir atau “Haji Bakr” atau “Tuan Bayangan” tersebut. [Berita-berita internasional mengabarkan, saya ingat, betapa mudahnya jihadist NIK merebut kompek-komplek militer di Irak, di tempat tertentu bahkan hampir tidak ada perlawanan sama sekali. Data rahasia ini menceritakan alasannya, pretasi NIK dan apa yang “NIK telah raih jauh melampau kerja keras bertahun-tahun organisasi Islam terroris Sunni Al-Qaida” – para ahli anti-terrorist berkata]

1 Struktur organisasi NIK seperti nampak pada gambar terbukti penuh dengan badan-badan intellejent, dan badan keagamaan (pengadilan Sharia) berfungsi untuk tujuan politik semata. Gambar ini adalah naskah asli yang telah di dijitalkan oleh Spiegel, draf tanganya berbahasa Arab dapat dilihat pada link di bawah.

Draf Struktur Badan Intelejen Da'ish Negara Islam Khalifah buatan Haji Bakr al-KhlifawiData mengatakan, mereka yang bertugas pada “hakim-hakim Sharia di pengumpulan data intellejen” bekerja sama dengan “petugas-petugas keamanan” semuanya adalah untuk suatu tujuan tunggal: pengamatan [dimata-matai] (surveillance) dan kontrol.
Kata yang Haji Bakr pakai untuk metode “pemurtadan Muslim-muslim yang sungguh,” takwin, bukanlah istilah agama, tetapi istilah teknik yang diterjemahkan sebagai “implementasi” yang dipakai oleh Muslim Shia sebagai “menciptakan kehidupan palsu (artificial life).” Pada abad 19 seorang Muslim Persia bernama Jabir Ibn Hayyan dalam bukunya “Buku Batu-batu (Book of Stones) – memakai naskah dan kode rahasia – tentang penciptaan homunculus (orang pendek), “Tujuannya adalah menbohongi semua orang, tetapi mereka yang mengasihi Allah.”  [Islam mengajar: “Muslim yang takwah haruslah berani mati bagi Allah dan Nabinya.” Indentik dengan “fungsi rakyat dalam pemerintahan Komunis,” atau “fungsi pion dalam permainan Catur. Suatu konsep yang sama sekali beda dengan Kristianiti: “Elohim mati berkorban bagi keselamatan umat-Nya.” Dr. Parvin Darabi dari Iran dengan berani menyatakan bahwa Hukum Sharia adalah berfungsi untuk mengonrol umatnya, dan bukan untuk keuntungan / kesejahteraan umat.]
Christoph menulis, “meskipun kelompok (NIK) tersebut memandang orang Shia sebagai para murtad yang merusak Islam yang benar, tetapi bagi Haji Bakr (Sunni Muslim), Allah dan kepercayaan 1400 tahun di dalam dia adalah satu dari banyak modul pada (sistim) pembuangan Bakr untuk megatur sebagaimana ia suka untuk sebuah tujuan yang lebih tinggi.” [Dengan kata lain: Bakr tahu aksi pembunuhan (pembuangan) dan praktek Islam Shia salah, namun ia tetap pakai sistim yang sama tersebut demi tujuannya]. Bakr mengulangi kejahatan pemerintahan Saddam Hussein, dimana setiap orang bisa lenyap begitu saja jika seseorang dianggab bisa membahayakan atau menghambat Sistim, yang ditulis oleh Kanan Makiya dalam bukunya “Republik of Fear” (Negara Takut).
2. Samir juga membuat coretan-coretan tangan daftar wilayah- wilayah yang harus dikuasai secara bertahap dan siapa-siapa yang bertanggung jawab, ia juga menggambar rantai-rantai logistik untuk post-post keamanan dan pertahanan militer NIK. [Telah terwujud, NIK menguasai kota-kota dan desa-desa yang strategis]

3. Merebut tanah Syria sebanyak mungkin, sebagai langkap pertama. Menjadikan Syria sebagai pusat kegerakkan, dan setelah itu baru menguasai tanah Irak. [Telah terwujud; Setelah Raqqa dan Aleppo dikuasai, NIK bergerak ke timur menduduki Mosul dan Kirkuk, dari situ mereka turun ke Bagdad]

4. Strategi perekrutan para jihadist. Kelompok NIK merekrut para pengikutnya melalui kedok keagamaan “pembukaan kantor-kantor Dawah,” yakni pusat penyebaran agama Islam. Sasaran empuk mereka adalah kelompok usia muda, bahkan usia 16 tahun.

5. Setelah direkrut, Untuk tugas mata-mata (termasuk kota/ desanya sendiri) Haji Bakr membuat daftar hal-hal yang harus mereka lakukan pada wilayah yang telah ditargetkan:

  • Daftarkan keluarga-keluarga yang berkuasa
  • Namai para pribadi yang berkuasa dalam keluarga-keluarga tersebut
  • Temukan sumber-sumber pendapatan mereka
  • Namai nama-nama dan besarnya kelompok pemberontak di desa yang bersangkutan
  • Temukan nama dari para pemimpin mereka
  • Temukan aktivitas illegal mereka (menurut Hukum Sharia), untuk bisa dipakai untuk menggancam (blackmail) mereka jika perlu.

Para mata-mata ini juga diperintahkan menulis secara detil entah seorang adalah kriminal atau seorang homosex, atau terlibat dalam hubungan gelap, sehingga dapat dipakai untuk mengontrol orang tersebut dikemudian hari. Prakek memanipulasi kelemahan orang lain terjadi di IFB – artikel ini juga memberi nasehat “bagaimana keluar dari jebakan ‘mafia’ tersebut.”

  • Pemuda yang pintar akan dijadikan imam-iman Sharia dan diutus
  • Beberapa pemuda akan diutus khusus untuk menikahi putri-putri dari keluarga-keluarga yang sangat berpengaruh untuk memastikan penyelusupan berjalan lancar
  • Haji Bakr juga ingin tahu: ideology dari imam setempat, pro rejim atau pro jihad, siapa yang menggaji dan siapa yang menugaskan imam tersebut
  • Untuk setiap dewan profinsi, Haji Bakr telah merencanakan seorang pemimpin agama Islam atau seorang komandan untuk melakukan terror untuk menyebarkan ketakutan di kedua institutusi itu (agama dan pemerintahan)

Abu Bakr al-BaghdadiHal ini dibuat sebab Haji Bakr percaya – dan ia tidak sendiri, para pemimpin Muslim Brotherhood berpikiran sama – bahwa keyakinan agama saja tidak cukup untuk mencapai kemenangan [taget Islam adalah menjadikan seluruh dunia tunduk kepada Islam atau ada dimusnahkan].
Laporan menulis bahwa tahun 2010 [sebelum lahirnya ”organisasi NIK”] Haji Bakr dan sekelompok kecil para bekas petugas intellejen Irak membuat pertemuan dengan Abu Bakr al-Baghdadi, pria lulusan S3 dari universitas Bagdad untuk bidang ilmu Islam, dan (besar kemungkinan) merekalah yang menobatkan Abu Bakr menjadi ”khalifah” bagi gerakan Neraka Islam tersebut.
Peristiwa kematian Haji Bakr
Sampai akhir 2013, segala sesuatu berjalan menurut rencana yang telah dibuat olen NIK – atau sedikitnya sesuai rencana dari Haji Bakr. Namun ketika para militan NIK menyiksa secara sadir seorang pemimpin pemberontak Sunni yang terkenal sekaligus seorang dokter yang membawa kematian pada Desember 2013, sesuatu yang tidak NIK harapan terjadi. Para pejuang pemberontak Sunni anti-President al-Hassad yang terdiri dari banyak kelompok yang semua satu tujuan dengan NIK, mereka sekarang bersatu melawan NIK. Bentrokan bersenjata terjadi antar sesama Sunni.

Haji Bakr, tetap tinggal di rumahnya di kota Tal Rifaat, yang semula dikuasai NIK. Namun kota ini terpisah menjadi dua di akhir Januari 2014 hanya dalam beberapa jam saja. Haji Bakr tertinggal di tempat yang salah – jatuh ketangan militan Sunni yang balas dendam kepada NIK. Seorang tetangga Bakr, membuka mulut kepada musuh NIK, “Seorang imam Da’ish (NIK) tinggal di pintu berikut!” Seorang komando lokal bernama Abdemalik Hadbe dan beberapa orangnya memghampiri rumah Bakr. Seorang wanita membuka pintu dan berkata dengan manis, ”Suamiku tidak di sini.”
Namun mobilnya diparkir di depan, para militan balas menjawab
Saat itu Haji Bakr keluar pintu dengan piamanya. Abdelmalik memerintahkan dia mengikuti mereka. Diprotes oleh Bakr bahwa ia ingin bertukar pakaian dulu.
”Tidak, Datang dengan kami! Segera!” Abdelmalik berseru.
Bakr melompat ke dalam rumah dan menutup pintu rumah dengan tentangan kakinya, kata dua saksi mata.
Lalu Bakr bersembunyi dibawa tangga dan bersertu: ”Saya memiliki sebuah sabuk bom bunuh diri! Saya akan ledakan kita semua! Lalu ia keluar rumah dengan pistol Kalashnikovnya dan mulai menembak.
Abdelmalik kemudian balas menembak dan membunuh Bakr.

Kemudian, setelah orang-orang ini mempelajari siapa yang mereka baru saja bunuh, mereka memasuki rumah tersebut, mengumpulkan komputer-komputer, pasport-pasport, kartu-kartu telpon mobil, navigator, dan yang terpenting surat-surat – yang ternyata rahasia dari NIK. Satu hal yang mereka tidak temui dari rumah Haji Bakr adalah kitab Kuran.
Pada buku NIK, tertanggal musim gugur 2013 ada sebuah daftar tertulis 2650 pejuang dari negara asing di profinsi Aleppo saja. Orang Tunisia mewakili ketiga dari keseluruhan, diikuti oleh orang Arab Saudi, Turki, Mesir dan jumlah terkecil adalah orang Chechen, Eropa dan orang Indonesia.
Spegel menyimpulkan: NIK ingin tahu setiap sesuatu, namun pada waktu yang bersamaan, kelompok ini ingin membohongi setiap orang – termasuk para anggotanya sendiri – tujuan NIK yang sesungguhnya.

Komentar: Untuk orang Timur, terbongkarnya data rahasia Da’ish atau Negara Islam Khalifah ini menimbulkan suatu masalah yang perlu direnungan dengan seksama: Apakah ideologi Islam yang sesungguhnya, apakah itu sekedar praktek keagamaan atau wadah praktek politik berjubah keagamaan?
Yeshua Ha Mashiah memperingatkan para murid-Nya, ”Siapa yang memakai pedang akan mati dengan pedang.” Di sini Ia menyatakan bahwa kerohanian tidak bisa dijalankan dengan cara politik, dan siapa yang mencampurkannya ia akan mati di luar ”Kebenaran” alias tidak masuk Sorga. Jalan ke Sorga, Yeshua menyatakan hanyalah melalui percaya kepada Yeshua, mengikuti ajaran dan perintah-Nya semata seperti Dia telah berkata di Injil:
“Akulah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan. Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa jika tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
Bapa mengasihi Putra dan Dia telah mengaruniakan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya.
Siapa yang percaya kepada Putra, dia mempunyai hidup kekal, tetapi siap yang tidak mentaati Putra, dia tidak akan melihat hidup, sebaliknya murka Elohim tiggal di atasnya (Yohanes 3:35-36)

Sumber: The Terror Strategist: Secret Files Reveal the Structure of Islamic State
By Christoph Reuter

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Bangsa ARMENIA memperingati 100 tahun Ottoman melaksanakan pembunuhan suku


Gadis-gadis Kristen Armenia disalib Kalifah OttomanPeristiwa Pembunuhan-Suku (Genocide) atas bangsa Armenia yang dilakukan oleh Kekaisaran Ottoman (Turki) adalah kisah nyata, dan secarah resmi diakui oleh the International Association of Genocide Scholars dan oleh banyak bangsa-bangsa di dunia, sekalipun Pemerintah Turki menolak adanya peristiwa genosit ini. Difinisi dari ”Pembunuhan suku” (Genocide) yang dibuat pertama kali oleh Raphael Lemkin di tahun 1943 dan dipakai oleh PBB didasarkan atas peristiwa ini.
Amerika Serikat dan Itali belum mengakui fakta tersebut sehubungan Turki adalah sekutu NATO yang penting di Timur Tengah.

Peta negara Armenia abad ke empat ADBangsa Armenia telah hadir sejak Jaman Perunggu. Kata ”Armenia” pertama kali diketahui terdapat dalam catatan sejarah tahun 521 BC pada papan tanah lempung Raja Darius I dari Persia.
Mencapai puncak kejayaannya pada abad pertama BC, dimana kerajaan Armenia menguasai wilayah antara Laut Kaspia dan Laut Mediterania dalam sebuah area sebesar kira-kira sama dengan besarnya Turki saat ini.
Kristianiti telah menyebar masuk ke wilayah ini segera setelah kematian Yeshua Ha Mashiah, dimana tahun 301 kerajaan Armenia menjadi negara pertama yang memproklamasikan Kristianiti sebagai agama resmi mereka.
Bangkitnya Kekaisaran (Empire) Islam Ottoman di Asia Minor (sekarang dikenal sebagai Turki) menimbulkan masalah bagi bangsa Armenia yang Kristen ini. Gelombang pembunuhan suku (genocide) pertama yang diperbuat oleh Kekaisaran Ottoman atas bangsa Armenia yang dicatat dunia terjadi antara tahun 1892 dan 1894, di bawah pimpinan Sultan Abdul Hamid II sebuah rangkaian pembunuhan masal terjadi antara 80.000 sampai 300.000 bangsa Armenia terbunuh, dan sebagian besar wilayah tanah mereka direbut.

Pembunuhan-suku gelombang kedua, terjadi antara 1915-1920, dikenal sebagai ”Pembunuhan-suku Armenia 1915.”
Dengan meletusnya Perang Dunia I dan ancaman invasi Russia, Pemerintah Ottoman meragukan kesetiaan Peta Armenia modernbangsa Armenia dan takut bahwa mereka akan mendukung Russia jika penyerangan datang dan mengklaim tanah air mereka kembali. Untuk mencegah kemungkinan tersebut Pemerintah Ottoman membuat sebuah rencana untuk menghapus orang-orang Armenia dari negra Turki. Hasilnya adalah satu dari pembunuhan-suku secara sistimatik yang sangat berdarah di abad ke 20. Sejarah mencatat korban jiwa dari bangsa Armenia ini berkisar antara 600.000 sampai 1,500.000 (1,5 juta) tewas – dari 2 juta penduduknya. ¾ tewas. Korban jiwa tambahan lainnya jatuh pada bangsa Assur/ Syria/ Kasdim, diperkirakan 250.000 jiwa.
Peristiwa ini terawal di musim Semi 1915, diawali dengan pembunuhan para pria Armenia, lalu diikuti dengan pengusiran bangsa Armenia dari tanah air mereka ke wilayah padang pasir yang kita kenal sekarang sebagai Syria
Suku Kurdi ambil bagian di dalam – didorong oleh pemerintah Ottoman – menambah penderitaan atas bangsa Armenia di kedua gelombang pembantaian suku yang dipimpin oleh Kekaisaran Ottoman tersebut; mengambil gadis-gadis bangsa Armenia, mengambil harta benda mereka serta aksi pembunuhan saat Ottoman melakukan pembunuhan dan deportasi.
Orang Armenia protes Turki atas genosit abad 20Salah satu seorang saksi mata yang mencatat peristiwa pembunuhan suku yang dilakukan pemerintah Ottoman atas bangsa Armenia adalah Henry Morgenthau, Duta Besar Amerika untuk Kekaisaran Ottoman yang bertugas antara 1913-1916. Baca tulisannya di Morgenthau, Henry; Ambassador Morgenthau’s Story (1918). Cuplikan singkat tulisannya bisa dibaca pada link di bawah “The Massacre of the Armenians, 1915. Mr. Morgenthau menulis bahwa pengusiran itu begitu keras dan disertai serangan-serangan sehingga banyak yang mati sementara mereka berjalan memasuki Syria, dan sisa pria yang masih bertahan setelah mereka sampai di suatu tempat mereka dibunuh sampai pria yang terakhir.
Ia menggambarkan peristiwa sebagai, “Saya yakin bahwa seluruh sejarah suku bangsa berisi episode yang tidak seburuk ini. Pembantaian-pembantaian dan aniaya-aniaya yang besar dimasa silam hampir tidak bernilai ketika dibandingkan dengan penderitaan-penderitaan suku Armenia di tahun 1915.” Untuk mendapat pengertian yang digambarkan oleh Dubes AS ini lihat video dokumentasi: The Armenian Genocide.

Paus Francis I mendukung fakta Pembunuhan Suku 1915 tersebut. Pada Perayaan 100 tahun memperingati peristiwa kecam tersebut, ia menyebut kejadian tersebut sebagai “pembunuhan-suku pertama abad 20 (the first genocide of the 20th century)” dan “memanggil komunitas dunia untuk mengenali kejadian tersebut.” Diresponi oleh Menteri Luar Negeri Turki sebagai, “Pernyataan Paus jauh dari kebenaran-kebenaran histori dan legal, adalah tidak dapat diterima,” Mr. Mevlut Cavusoglu menulis di Tweeternya. Tambahan, Pemerintah Turki memanggil duta besar Vatikan untuk Turki, dan sekaligus memanggil dutabesarnya pulang ke Angkara untuk berkonsultasi.
“Menutup-nutupi atau menyangkali kejahatan adalah seperti mengijinkan sebuah luka untuk tetap berdarah tanpa membalutnya,” Paus menkritik sikap keras Turki yang menolak fakta sejarah tersebut.

– Dan kurang dari 30 tahun dari pembunuhan suku yang dilakukan oleh Ottoman terhadap bangsa Armenia Kristen ini, terulang peristiwa sejenis yang lebih parah lagi kali ini dilakukan oleh Nazi German di bawah Adolf Hitler seorang Katolik fanatik dibantu oleh Haji Muhammed Amin al-Husseini (Mufti Yerusalem) dengan tentara yang dibuatnya (para Mulim Albanian dan Bosnia). Melalui tentaranya dan kamp-kamp konsentrasi Nazi; membantai 6 juta orang Yahudi, belum termasuk suku Gypsi – kali ini Pemimpin Iran dan petinggi Vatikan menolak adanya peristiwa kekejaman Nazi.
Dan saat ini, di abad 21, kita menyaksikan para radikal Islam membantai orang-orang Kristen di Syria, Irak, Negeria, Libya dan Kenya.
Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog