Referendum Kemerdekaan Sudan Selatan 9/01/2011


Berita hangat! Setelah melewati perang sipil yang berkepanjangan, hampir 54 tahun sejak Sudan mendapat kemerdekaannya dari Inggris, hari ini Minggu 9 Januari Sudan selatan yang mayoritas bependuduk Kristen dan Animisme akhirnya mendapat kesempatan untuk memutuskan masa depan mereka sendiri.

Dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Sudan (1956), pemerintahan negara selalu dikuasai oleh Sudan utara, yang tepatnya orang-orang Arab Islam. Penculikan untuk perbudakan, pemerkosaan dan pembunuhan massal telah mengambil tempat yang sangat mengerikan di negara Sudan.

Sudan (negara dengan wilayah terbesar di Afrika, dan kaya akan sumber alam minyak, khususnya di wilayah selatan) sejak awal kemerdekaannya, wilayah utara dan selatan memang sangat berbeda, utara dikuasai oleh orang-orang Islam Suufi  (Islam bercampur Animisme) dan selatan tetap dengan budaya asli mereka dengan kepercayaan Kristen dan Animisme. Namun ketika fundamental Islam menguasai Sudan di tahun 1960, perang sipil pertama terjadi dan berakhir sampai 1972. Bahasa resmi Sudan adalah bahasa Arab, sekalipun mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Arab.

Perjanjian Damai antara Selatan dengan Utara dibuat pada tahun 2005 di bawah pertolongan Amerika Serikat, namun tidak berjalan dengan baik. Tahun 2009, konflik meletus di wilayah selatan menelan korban jiwa lebih dari 2000 (dua ribu) jiwa dan pada Oktober 2010, sejumlah radikal Islam diselundupkan dari utara melalui helikopter pemerintah Khartoum ke wilayah Jonglei (Sudan selatan berbatasan dengan Ethiopia), pemerintah Sudan selatan berkata.

Pembunuhan massal dan haus akan minyak bumi. Peter Lam seorang bekas guru di Sudan yang sekarang berumur 70 tahun berkata bahwa penderitaan orang-orang selatan yang selama ini telah diciptakan  di masa kolonial Inggris. Para pemimpin suku asli Sudan Selatan telah memintanya kepada Inggris, namun ketika kemerdekaan dicetuskan (1956), Inggris menyerahkan wilayah mereka ke pemerintahan Khartoum (ibukota Sudan Utara), Peter Lam berkata.

Tahun 1980 di bahwa pemerintahan president Omar al-Bashir hukum Sharia diberlakukan di seluruh Sudan, yang menyebabkan penduduk asli Sudan semakin menderita, sehingga lahirnya perang sipil  kedua.

Kehadiran orang Arab di Sudan bukan saja membawa konflik antara Islam dengan Kristen tetapi juga kepada suku-suku Afrika asli lainnya – Arab Sudan memanggil mereka sebagai ”monyet-monyet hitam.” Tahun 2003 suku asli Darfur yang juga sebagian Islam, mengalami etnis cleansing (pemusnahan suku) dari tentara Arab Sudan  Janjaweed yang didukung oleh pemerintah Omar al-Basir. Korban jiwa pada suku asli Sudan ini diperkirakan 50 ribu sampai 80 ribu terbunuh (2003-September 2004).  PBB memerlukan 176 hari (mengabaikan laporan wartawan Internasional dan organisasi HAM) untuk akhirnya mengakui bahwa telah terjadi pembunuhan massal di Darfur.

Negara-negara dari perusahaan minyak seperti Kanada, Swedia, Austria, Cina, Malaysia dan India juga bersalah dengan mendukung partai politik Partai Kongres Nasional (nama aslinya Front Nasional Islam)  yang berkuasa saat itu. Negara Komunis Cina merupakan penanam modal asing terbesar di Sudan (laporan April 2005) dengan hak vetonya menolak sangsi PBB  untuk menyetop ekport minyak Sudan jika kekerasan tidak berhenti.
William Ezekiel, dari surat kabar Khartoum Monitor menulis: “Krisis di Sudan ada dikendalikan oleh masalah minyak. Pemerintah siap bergabung dengan Setan jika itu dapat melindungi keuntungan-keuntungan diri sendiri.” Firman YAHWEH berkata: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang (1Tim 6:10a).

April 2008 PBB mengeluarkan laporan kemungkinan korban pembunuhan massal adalah 300 000 (tiga ratus ribu jiwa), namun banyak NGO memperkirakan sekitar 400 000. 2,7 juta lainnya tanpa rumah dan harus mengungsi di tenda-tenda di Darfur dan Chad. Penulis laporan ini menuduh PBB dan para pemimpin dunia sengaja membiarkan hal itu terjadi demi memenuhi Agenda Mengurangi Populasi dari New Word Order mereka.

Catatan: Evolutionary Secularism (berfondasikan Atheism)  menjawab pemecahan kebutuhan pangan dunia dengan cara mengurangi jumlah kepadatan penduduk, memakai teory Evolusi Darwin yang disebut ”Seleksi Alamiah” (yang kuat menguasai yang lemah). Seperti pernyataan penganutnya sendiri: Natural selection is the preservation of a functional advantage that enables a species to compete better in the wild. Natural selection is the naturalistic equivalent to domestic breeding.

Berbeda 180 derajat dengan pola pikir Kristianity dimana “yangkuat haruslah menolong yang lemah”:

Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar (Luk9:45)
Elohim telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, (1Kor 12:24)

Ini sebabnya huruf Braille (untuk orang Buta), kursi roda, semua peralatan untuk orang-orang cacat lahir dari Negara-negara Kristen.

Orang-orang yang bijaksana tahu bahwa damai di bumi ini bukan datangnya dari para pemimpin dunia, tetapi hanya pada satu nama yaitu Yeshua Ha Mashiah, tepat sebagaimana nubuatan nabi Yesaya berkata tentang jabatan Yeshua: Raja Damai atau Prince of Peace (Pangeran Damai) pada Yesaya 9:5

Berdoalah untuk kelancaran jalannya Referendum Kemerdekaan Sudan Selatan ini dan terlebih masa depan mereka.

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: