Laporan PBB: Kebijakan Vatikan mengijinkan para pendetanya memperkosa anak-anak


Laporan PBB pada pelecehan sex anak Vatikan di Genova 2014Komisi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tertanggal 5 Febuari 2014 mengeritik secara keras kebijakan-kebijakan negara Vatikan sebagai otoritas tertinggi Gereja Roma Katolik sedunia, khususnya dalam masalah pelecehan sex anak-anak yang dilakukan oleh para pendeta Katolik di berbagai negara.
Laporan ini menyebutkan bahwa anak-anak yang telah menjadi korban pelecehan sex (skandal pedophile) tersebut telah mencapai puluhan ribu anak-anak di seluruh dunia – (ratusan ribu korban menurut president SNAP), namum sampai saat ini belum ada pendisiplinan atau hukuman nyata Vatikan terhadap para pelaku kejahatan tersebut, satu-satunya langkah yang telah dibuat Vatikan hanyalah memindahkan tempat pelayanan mereka, ”mereka telah dipindahkan dari sebuah paroki (komunitas gereja lokal) ke paroki ketika hal-hal (scandals) diketemukan, dan ini tetap menempatkan anak-anak di banyak negara dalam resiko tinggi pelecehan sex,” pemimpin Komisi PBB berkata.
Komisi PBB menyatakan dalam kritiknya tersebut bahwa ”Vatikan / Penguasa Gereja Roma Katolik secara konsisten telah menempatkan pelestarian reputasi gereja dan perlindungan terhadap para pelaku (pelecehan sex) di atas kepentingan terbaik anak-anak.”
Tahun-tahun pertama skandal pelecehan ini terkuak dipermukaan, ketika para korban yang telah berusia dewasa, 40-50 tahun membuka suara mereka di media sekelur, sebab para korban tidak melihat adanya niat atasan untuk mengakui, apalagi untuk memberi ganti rugi, sebaliknya mengancam setiap orang dalamnya yang berani buka mulut di luar dunia Gereja Katolik. Mempelari kasus-kasus sejenis yang terkuak di negara-negara Eropa, seperti di Irlandia, Belgia, Belanda, Jerman dan non-Eropa – tidaklah heran jika Komisi PBB pada laporan tahun 2014 ini menyimpulkan bahwa “Vatikan mengijinkan para pendeta mereka untuk mPaus Freancis I bertemu dengan para uskupemperkosa anak-anak.” Anak-anak yang seharusnya dilindungi baik dari sisi moral maupun hukum, tetapi sebaliknya malah dirusak oleh para pemimpin mereka; nampak seperti pepatah ”pagar memakan tananam.”
Oleh karenanya Komisi PBB ini menuntut Vatikan ”untuk segera mencabut” semua petugas gereja yang telah diketahui atau di duga sebagai peleceh-peleceh anak kecil.
Laporan ini disambut gembira oleh para pembela hak-hak anak, misalnya SNAP: ”Laporan ini memberi harapan untuk ratusan ribu korban-korban yang telah sangat terluka dan masih menderita di seluruh dunia karena pelecehan sex dari rohaniwan tersebut,” Barbara Blaine, president dari SNAP Amerika Serikat. SNAP singkatan dari Survivors Network of those Abused by Priests.

Pada saat yang sama, Komisi PBB juga mengeritik kebijakan Vatikan lainnya:
• Pelarangan pemakaian alat-alat pencegah kehamilan; contoh: kondom
• Pelarangan praktek aborsi [1]
• Pernyataan resmi Gereja Roma Katolik menentang hal-hal yang berkaitan dengan homoxualiti, yakni melawan praktek lesbian, gay, bisexual dan transgendered (waria) dan menolak hak pasangan homo ini mengadopsi anak-anak [2]

Vatikan membalas kritik PBB pada pendeta pedophile dan aborsi
Uskup Agung Silvano Tomasi, kepala delegasi dari Vatikan untuk pertemuan PBB di Genova, pada kesempatan lain menyerang balik kriktik Komisi PBB atas Vatikan.
Ia berargument bahwa Arab Saudi, Syria, Uganda dan Thailand – adalah para anggota komisi PBB – yang telah menuduh Vatikan ”secara sistimatis” mengadopsi kebijakan-kebijakan yang mengijinkan para pendeta untuk memperkosa dan menjamah dengan kasar anak-anak juga telah melakukan kejahatan-kejahatan; pemerintah Uganda memakai anak-anak 10 tahun untuk bertempur, Thailand yang menlayakkan penjual sex anak-anak. Syria  yang membunuh rakyatnya sendiri dengan gas racun . [Telah terbukti bahwa yang meracuni rakyat Syria ternyata adalah para tentara pemberontak dukungan Barat dan Arab; suatu taktik perang agama yang keji dan tidak bermoral dari militan Sunni telah terbongkar di Syria, juga di Irak dan di Indonesia].
Lebih lanjut Vatikan dalam pernyataan resminya, termuat pada buletin resmi Vatikan berbahasa Itali dan Inggris itu, menyatakan bahwa point-point pada laporan PBB tersebut adalah ”usaha untuk mencampuri pengajaran Gereja Katolik.”
Pada paragraf terakhir tertulis, ”The Holy See (artinya Tahta Suci, nama lain dari Vatikan/ Gereja Roma Katolik) menegaskan kembali komitmentnya untuk membela dan melindungi hak-hak anak, sesuai dengan prinsip-prinsip yang dipromosikan oleh Konvensi Hak-hak Anak dan sesuai nilai-nilai moral dan keagamaan yang ditawarkan oleh doktrin Katolik.” (Garis bawah ditambahkan).

Koin 2 Euro Uni Eropa bergambar Wanita mengendarai binatangKalimat terakhir dari pernyataan resmi Vatikan (yang di garis bawahi) menunjukkan bahwa Uni Eropa (sebagai pusat ‘kerajaan’ Barat yang membawahi NATO, ICC, PBB, Club of Rome) bukanlah yang mengendalikan Vatikan atau Gereja Roma Katolik, tetapi sebaliknya. Fakta ialah ide lahirnya Uni Eropa dimotori oleh Gereja Roma Katolik. Sehingga genaplah apa yang dinubuatkan Adonai Yeshua kepada rasul Yohanes di pulau Patmos 2000 tahun yang lalu; baca Wahyu pasal 13, 17. Dan kritik dan tuntutan Komisi PBB 2014 ini nampaknya suatu proses untuk menggenapi ayat 16 dan 17 dari Wahyu pasal 17 dan pasal 18 tersebut.

Catatan dari editor:
1. Dalam beberapa dekade yang lalu, memang benar Vatikan ’berseru di atas-atas rumah’ melalui para pemimpinnya di seluruh dunia bahwa aborsi adalah dosa. Namun ’di dalam dapur-dapurnya sendiri’ praktek aborsi adalah umum. Dan sekarang telah diketahui umum bahwa justru praktek aborsi terbesar di banyak negara di dunia saat ini terjadi di klinik-klinik dan rumah sakit yang dikelola oleh Gereja Roma Katolik. Contoh kasus: Meksiko, salah satu negara Katolik terbesar di Amerika Selatan.
2. Memang benar bahwa Gereja Roma Katolik / Vatikan secara resmi telah membuat pernyataan-pernyataan praktek homosexualiti, namun dalam prakteknya, sangat banyak pemimpin Katolik yang mempraktekkan perbuatan homosex – baik itu pedophile (hubungan badan antara pria dewasa dengan anak laki-laki / boys) dan juga sesama orang dewasa. Majalah Itali pernah membongkar prakek homosex yang dilakukan oleh para pendeta Katolik.
Semua skandal sex di dalam Vatikan disebabkan aturan hukum agamanya yang melarang semua pemimpinnya (dari mulai pendeta sampai menjadi paus) memiliki isteri.
Sederhananya: “Sebuah pohon dikenali dari buahnya,” Yeshua berkata.

Artikel ini ditulis agar supaya setiap orang tahu bahwa Alkitab adalah benar-benar Firman Elohim yang Suci, ditulis oleh para penulisnya di bawah inspirasi Roh Kudus; terlepas dari entah ada orang mau terima atau tidak kebenaran tersebut, Alkitab akan selalu membuktikan kebenarannya, seperti ada tertulis: Janji YAHWEH adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. (Mazmur 12:7) dan lagi:  “sebab itu beginilah firman Elohim YAHWEH “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah! (Yesaya 28:16). “Batu yang teruji” ini adalah Adonai Yeshua Ha Mashiah, sebagaimana rasul Petrus berkata di 1 Pet 2:4-6 dalam kaitannya dengan Matius 16:18 – batu fondasi dari Jemaat / Gereja YAHWEH,  yang siapa pintu alam maut (hell) sekalipun tidaklah akan mampu mengalahkan Jemaat tersebut! Percayalah kepada Alkitab dan bukan kepada doktrin-doktrin dan klaim-klaim buatan manusia!

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog
Iklan

Pendeta Katolik dipecat karena membongkar pelecehan sex rekannya


ex-Pendeta Andre Samson St. Joseph's Oratory KanadaRev. Andre Samson mengatakan upayanya untuk mengangkat isu pelecehan seksual – seorang imam memperkosa jemaat prianya – dengan rekan sekerjanya mengakibatkan dia diasingkan dan akhirnya dipecat dari gereja Katholik terkenal  St. Joseph’s Oratory di Montreal, Kanada.

Samson berkata awal masalah yang ia hadapi di St. Joseph’s Oratory terjadi pada bulan Juni, ketika seorang pria muda yang putus asa bercerita padanya tentang perkosaan yang dilakukan seorang imam dari paroki lainnya terhadap dirinya.

Simson, 59, yang menjabat sebagai pendeta militer selama Perang Teluk Persia dan mengajar ilmu konseling di University of Ottawa, mengatakan selama bertahun-tahun ia telah mendengarkan banyak orang muda dalam krisis, tapi ia belum pernah melihat seorang seperti pemuda ini yang sepertinya mengalami “tekanan psikologis yang parah.”

Dengan pergumulan yang berat, Samson berpikir masalah ini penting untuk ia ceritakan kepada rekan-rekan kerjanya.
”Saya bagikan penderitaanku  dan marahku terhadap imam tersebut yang telah menghancurkan kehidupan pemuda 18 tahun ini,” Samson bercerita.
Tetapi ceritanya dihentikan segera. Ia distop hanya dalam dua atau tiga menit, sementara mendiskusikan hal itu dengan tiga imam lainnya pada saat makan siang di ruang makan kantor.
”Pemimpin komunitas menjadi marah,” Samson berkata, ”ia berkata, ’Jangan bicara tentang ini di sini. Itu tidak boleh. Kita tidak bicara tentang ini di sini!’”

Pada hari yang sama, Claudel Petit-Homme, pemimpin komunitas tersebut, melarang Simson untuk makan siang di ruang makan, dan dianggap keluar dari jabatannya. Lalu beberapa bulan kemudian ia resmi dipecat.

Samson bercerita kebingungan dan kemarahannya kepada reporter the Canadian Press; dimuka umum pemimpin utama Katolik, paus Francis di bulan July, menyatakan akan meningkatkan keterbukaan tentang pelanggaran sex dan menindak tegas para imam yang bersalah, namun di sisi lainnya ia dipecat hanya karena membela seorang korban sekalipun ia telah mengabdi lama di gerejanya.
”Ini tidak mudah sebab sebagai imam-imam kami memberi hidup kami kepada gereja (Roma Katolik),” kata Simson, sementara suaranya pecah dengan emosi, ”dan itu menyedihkan bagaimana kami dapat dihianati oleh gereja ini.”

Pemimpinnya menyangkal bahwa ia dipecat karena masalah pelecehan sex yang ia telah bawa ke meja makan, namun Simson bersikeras bahwa ia disukai oleh umat paroki dan percaya ia dipecat karena  telah mengangkat masalah tabu tersebut.

Samson, yang telah bertugas selama 30 tahun sebagai imam katolik dan sebagai professor di universitas, berkata kepada reporter bahwa ia ingin masalah ini ”go public” mematahkan ’kode tutup mulut,’ ia menguatkan dirnya, ”Saya berkata kepada diri saya sendiri bahwa jika saya tidak berbicara, siapa yang akan berbicara? Tidak ada seorangpun dapat sungguh berbicara karena mereka begitu rawan.”
Dua sumpah ‘aneh’ bagi pekerja Gereja Roma Katolik yang merupakan bagian dari “kode tutup mulut” adalah:

  • “Saya tidak akan pernah menginterpretasikan Kitab-kitab Suci kecuali sesuai dengan persetujuan yang utuh dari para Bapa Yangkudus (Holy Fathers) .” Ini sumpah calon pendeta Katolik
  • “… kita haruslah selalu ada siap untuk menerima prinsip ini: ‘Saya akan percaya bahwa PUTIH yang saya lihat adalah HITAM, jika atasan Gereja [paus, kardinal, uskup dst.] menyatakan itu demikian.” Ignatius de Loyola, pendiri dan jenderal Jesuit. Paus Francis I adalah paus Jesuit pertama.

Para paus memanggil diri mereka sendiri sebagai Holy Fathers bukan saja telah melanggar perintah Yeshua di Matius 23:9, lebih parah lagi itu indentik dengan menghujat otoritas, nama dan perintah utama YAHWEH (Kel 20:1-7; Yes 43:11; Yes 44:6).

Komentar: Saudara Simson akanlah mengerti lebih baik tentang gerejanya (Roma Katolik) seandainya ia telah membaca buku atobiografi ex-Pendeta Katolik Charles Cynique ”50 Years in the Chuch of Rome.”
Seberapa besar apapun dedikasi pelayanan seseorang kepada institusi agamanya, segera ketika terang sorgawi membuka matanya cepat atau lambat ia akan menjadi musuh dari tuanya yang lama.

Bacaan berkait:

Referensi:

Shunned, then fired: a priest’s tale of what happened when he shared story about sex abuse

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Kardinal UK Keith O’Brien yang terlibat ’perlakuan tidak pantas’ pensiun


Kardinal UK Keith O'BrienPangajuan pensiun Kardinal O’Brien diterima secara resmi oleh Paus Benedictus XVI pada 18 Febuari 2013, dan berlaku secara resmi 25 Febuari, Senin kemarin.

”Saya berbahagia mengetahui bahwa dia (Paus) menerima pengunduranku. The Holy Father (‘Bapa Kudus’ panggilan orang Katolik kepada paus, menyamakan dirinya dengan Elohim Yang Mahakuasa) telah memutuskan pengunduran jabatanku akan berlaku secara resmi hari ini, 25 Febuari 2012.”

Kardinal O’Brien telah lama dikomplain secara resmi oleh empat pastor yang ada di bawah kuasanya sehubungan dengan ”perbuatan-perbuatan yang tidak pantas” pemimpin mereka terhadap diri mereka.

Kumpulan komplain tertulis mereka telah diserahkan kepada perwakilan paus untuk Britania Raya (UK), Antonio Mennini awal Febuari ini, hanya beberapa hari sebelum Paus Benedictus XVI berkeputusan mengundurkan diri pada tanggal 28 Febuari ini, laporan berkata.

Tuduhan resmi pertama, yang tidak diakui O’Brien, terjadi tahun 1980, ketika korban masih berumur 20 tahun sebagai murid seminari St. Andrew dan O’Brien sebagai rektor dan juga direktur kerohanian murid tersebut. Surat tuduhan  menyatakan O’Brien telah melakukan pendekatan-pendekatan yang tidak pantas setelah (pertemuan-pertemuan) doa malam.
Korban terlalu takut untuk melapor. Saat korban jadi pastor dan kemudian O’Brien dipromosikan menjadi Uskup dipertengahan tahun 80-an, korban segera meninggalkan jabatannya, berkata, ”Saya sadar bahwa ia akanlah selalu memiliki otoritas atas diriku.”

Tuduhan resmi kedua,  dari pastor ”A.” Segala sesuatu ok sampai suatu ketika O’Brien mengunjungi tempatnya. O’Brien berlaku hubungan yang tidak pantas juga kepada pastor ”A.”

Tuduhan ketiga, Pastor “B” baru memulai pelayanannya ketika ia diminta datang tinggal seminggu di kantor kediaman O’Brien untuk tujuan “pengenalan pemimpin,” dimana saat itu O’Brien adalah uskup agung dari St. Andrew dan Edinburgh. “Tindakan yang memalukan” dari uskup agung ini kepada bawahannya terjadi setelah sessi minum telat-malam, tuduhan menyatakan.

Tuduhan keempat. ”Pastor C” adalah pastor muda. O’Brien telah melakukan hal-hal yang tidak pantas juga kepada pastor C, yang adalah kondelinya, memakai pertemuan doa malam untuk hubungan yang tidak pantas. Pastor C berkata Kardinal O’Brien telah memprakasai sedikitnya sekali situasi hubungan badan. Keduanya tetap berhubungan.

Kardinal O'Brien bersama Paus Benedictus XVIBekas pastor, yang sekarang sudah menikah, berkata, ”Anda haruslah mengerti, hubungan antara uskup dan pastor. Pada penobatanmu (penobatan pastor Roma Katolik), kamu diambil sumpah untuk taat kepadanya. Dia lebih dari boss Anda, lebih dari CEO  (Chief  Executive Officer / Direktur Manager) perusahaan Anda. Dia memiliki kuasa yang besar atas Anda. Dia dapat memindahkan, meng-non-aktif-kan Anda, membawa kamu kedalam kematian … dia mengontrol setiap aspek kehidupanmu.” [Pembaca bisa bayangkan betapa besar keberanian Dr. Martin Luther (ex-uskup Katolik) yang bukan saja mengkomplain doktrin Roma Katolik, tetapi menentangnya secara terang-terangan 500 tahun lalu, disaat gereja tersebut memiliki kuasa yang sangat besar atas raja-raja Eropa].

Komentar: Kardinal ini tidak dipecat tetapi pensiun karena usia lanjut; mungkin jika ia dipecat ia akan membongkar apa yang atasannya juga pernah lakukan. Suatu lingkaran setan.  Menurut Nicholas, ex-Roman Katolik web master dari RemnantOfGod.org, perbuatan sodomi – yang disebut sebagai ”perlakuan yang tidak pantas” – di dalam lingkungan pemimpin ’gereja’ Roma Katolik sudah begitu dalam dan telah berlangsung ratusan tahun, tidaklah mengherankan kematian karena AIDS dari para pastor Katolik  11 kali lebih besar dari yang lainnya, tulisnya. Saya quote headlines dari situ Nicholas:

Did a Cross-Dressing Priest Sex Ring Bring Down Benedict XVI?
“Of all the rumors floating around about just why Pope Benedict XVI is hanging up his camauro, one has taken on a life of its own. According to several well-placed vaticanisti; or Vatican experts in Rome, Benedict is resigning after being handed a secret red-covered dossier that included details about a network of gay priests who work inside the Vatican, but who play in secular Rome. The priests, it seems, are allegedly being blackmailed by a network of male prostitutes who worked at a sauna in Rome’s Quarto Miglio district, a health spa in the city center, and a private residence once entrusted to a prominent archbishop. The evidence reportedly includes compromising photos and videos of the prelates, sometimes caught on film in drag, and, in some cases, caught “in the act.” – [Komentarnya mulai dari sini, huruf miring:] Many will say this is nothing more than the rumor-mill churning away. But when we see Catholic priests dying of AIDS 11 times greater than anyone else, Catholic priests molesting little boys, the Scripture declaring this church would be run by homosexuals, and a Didache document from 60AD that records the Vatican asking priests to stop raping children, you have a tendency to think, no, this is no rumor! Feb 25 13, 03:02:50.

Jika dilihat dari doktrin dan dokma gereja Roma Katolik dan buah-buah dari perbuatan para pemimpinnya, maka tepatlah apa yang dikatakan oleh bapa-bapa Gereja bahwa gereja Katolik ini adalah gereja AntiKristus; menamai dirinya sendiri “Holy Father”, “Vicarius Filii Dei / Vicar of Christ” tetapi menghina NAMA Elohim yang kudus melalui perbuatan sumbang dan ajarannya yang bertolak belakang dengan Alkitab.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog