Komisi penyelidik skandal sex anak Roma Katolik di Belanda dipertanyakan


Peringatan: Artikel ini ditulis untuk memurnikan umat Kristen dari cacat dan noda, jika ada orang yang memakai artikel ini secara sengaja untuk menyesatkan orang Kristen (terutama) dan orang lain (secara umum), yakni menyebabkan mereka menjadi semakin jauh dari iman mereka akan YAHWEH dan Putra-Nya, Yashua Ha Mashiah, yakni iman Kristen yang bersumber dari Alkitab, maka penyesat tersebut bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Uni Eropa (European Union), dibangun oleh gereja Roma Katolik, Vatikan, namun di abad 21 ini, negara-negara yang tergabung di dalam Uni Eropa semakin berani membongkar kejahatan penguasa mereka. Jerman, Irlandia dan sekarang giliran Belanda menyingkap kemeja rok  dari ibu dari wanita-wanita pelacur yang mengendarai mereka (Wahyu 17)

Wim Deetman, ex-menteri kabinet Belanda yang diangkat menjadi ketua Komisi penyelidikan skandal sex gereja Roma Katolik di negara Belanda kredibilitas laporannya diragukan oleh media.

Pada tahun 2010 di Belanda dibentuk suatu badan independent  yang disebut ”komisi penyelidik pelanggaran sex Roma Katolik di Belanda.” Bertujuan meneliti kejahatan sex yang telah dilakukan oleh institusi-institusi Katolik di Belanda terhitung sejak  tahun 1945 (Perand Dunia II) sampai 1981.

Laporan Komisi. Komisi penyelidik dalam laporan tertulisnya (1200 halaman) yang berdasarkan 18 bulan penelitian menemukan banyak hal. Diantarnya:

  • Uskup Katolik Philippe Bär bertugas di Rotterdam antara 1983-1993  dan para orang penting lainnya bertanggung jawab atas sejumlah besar pemerkosaan yang terjadi di tahun 1980an.
  • Komisi melaporkan (Radio Netherlands Worldwide, 16 Agustus 2011) bahwa para biarawan Roma Katolik bertanggung jawab atas meninggalnya 34 anak laki-laki di awal tahun 1950 di perawatan mental Saint Joseph, Limburg. Tingkat kematian di tempat tersebut bertambah di 1952, 1953, dan 1954. Itu tidak jelas mengapa tingkat kematian turun setelah 1954. Semua kasus tersebut adalah laki-laki berumur 18 tahun  kebawah. Rumah mental ini di jalankan oleh gereja Katolik sampai tahun 1969, sebelum diambil alih oleh the Daelzicht foundation.
  • Wim Deetman, dalam laporannya (Guardian tertanggal 16/12/2011) mengatakan ribuan anak-anak menderita akibat permerkosaan (sexual abuse) di institusi-institusi Katolik Belanda. Jumlah korban berada antara 10.000 dan 20.000 anak.
  • Komisi telah mengenali sekitar 800 orang (imam, pendeta, karyawan) yang pernah bekerja di gereja Roma Katolik Belanda. Sekitar 105 dari pelaku masih hidup.
  • Laporan tersebut menyatakan para pemimpin Katolik telah gagal menghentikan penyebaran pemerkosaan ”untuk mencegah skandal-skandal.”
  • Yang sangat disesali oleh komisi ini ialah Roma Katolik melihat para pekerjanya tersebut hanya sebagai ”penghianat” gereja dan bukan sebagai ”pelanggar hukum.”

Kredibilitas Laporan Komisi dipertanyakan. Laporan Mr. Deetman di atas dinyatakan oleh koran Guardian sebagai “tidak menyentuh dasar dari skandal pemerkosaan atau membuka semua kengerian (horrors) yang telah terjadi di belakang pintu-pintu gereja Katolik di negara Belanda.”

Joep Dohman, jurnalis dari koran NRC Handelsblad, baru-baru ini melaporkan hasil penelitiannya untuk kasus serupa di atas. Jurnalis ini menulis tentang seorang murid pria yang dikebiri secara paksa di klinik psikiatri Katolik setelah ia melaporkan ke polisi  (tahun 1956) kasus pemerkosaan yang di lakukan oleh seorang biarawan Katolik Belanda terhadap dirinya. Dengan menuduh korban sebagai homosex, remaja pria ini dikebiri secara paksa. [Maling teriak maling]. Pengebirian paksa sejenis juga telah terjadi kepada sedikitnya 10 (sepuluh) teman kelas dari korban yang juga telah mencoba membongkar kasus pemerkosaan.

Ahli-ahli sejarah Belanda, bersaksi dipengadilan, bahwa gereja Roma Katolik secara aktif melakukan kebiri baik bagi pria-remaja maupun dewasa antara 1950-1960. Pengebirian terkadang dilakukan sebagai sebuah hukuman di dalam doktrin Roma Katolik [Fakta: pengebirian adalah praktek umum gereja Roma Katolik yang sudah berlangsung ratusan tahun khusunya bagi mereka yang ingin menjadi pendeta. Larangan menikah bagi pemimpin rohani tetap berlaku di gereja Katolik sampai sekarang di seluruh dunia, baca online buku 50 years in the church of Rome].

Politikus Senior telah terlibat. Tetapi Dohman telah menemukan sesuatu yang lebih penting lagi, Guardian menulis. Dia menemukan bahwa laporan Mr. Deetman gagal menyebutkan seorang figure politikus, yang telah mencoba menyelamatkan Gregorius (tertuduh utama) dan para pria Katolik yang tertuduh dari Harreveld.

Figure politikus tersebut adalah Mr. Victor Marijnen, ex-Perdana Menteri Belanda dan sekaligus anggota pimpinan Partai Masyarakat Katolik (KVP). Partai KV ini dikemudian bergabung dengan partai-partai Protestant membentuk partai Kristen Demokrat (the Christian Democrat  disingkat CDA). Mr. Deetman berasal dari partai ini. [Inilah alasannya mengapa Oikumene tidak dianjurkan bagi orang-orang Kristen Protestant dan Injili2 Kor 6:13-18 ]

Mr. Marijen juga pernah menjadi wakil-pemimpin dari badan perlindungan anak Katolik Belanda, dan – langsung kesasaran- direktur dari penginapan sekolah Katolik Harreveld. Ia, atas nama para pemerkosa tersebut, menulis surat kepada Ratu Belanda untuk memaafkan mereka.

Radio Nederland New menyimpulkan, ”Itu sekarang menjadi jelas bahwa kritik-kritik adalah benar ketika mereka komplain bahwa sebuah komisi peneliti yang dibuat oleh gereja [Katolik] tidaklah mampu atau tidak akan dapat, mencapai dasar dari skandal pemerkosaan. Hanya parlement mampu  memenuhi tugas ini. Dan mungkin saksi pertama yang dipanggil untuk bersaksi dibawa hukum haruslah ada Wim Deetman sendiri.”

Kasus skandal di atas adalah kasus-kasus pengaduan setelah 1980, kasus-kasus laporan yang lebih tua dikatakan telah dihancurkan.

 

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

 

Iklan

Skandal sex abuse gereja Roma Katolik Irlandia dan Jerman belum selesai


Uskup Agung Robert Zollitsch, Pemimpin Konferensi para Uskup Jerman, akhirnya mengakui bahwa gereja Roma Katolik selama beberapa dekade secara sadar telah menutup-nutupi masalah penyalah gunaan sex (sex abuse) yang dilakukan oleh para pastornya. Uskup Agung ini secara pribadi meminta maaf atas peristiwa penyembunyian kasus sex abuse tersebut yang telah terjadi 20 tahun lalu di komunitas Black Forest.

Peringatan: Artikel ini ditulis untuk memurnikan umat Kristen dari cacat dan noda, jika ada orang yang memakai artikel ini secara sengaja untuk menyesatkan orang Kristen (terutama) dan orang lain (secara umum), yakni menyebabkan mereka menjadi semakin jauh dari percaya YAHWEH dan Putra-Nya, Yashua Ha Mashiah, yakni iman Kristiani yang bersumber dari Alkitab, maka penyesat tersebut bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Paus Benedict XVI berkata kepada para pendengarnya yang berbahasa Inggris di Halaman St. Petrus , Roma, untuk membela para pastornya dengan mengutip perkataan Yeshua dalam Injil tentang perempuan yang tertangkap berzinah, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada pezinah itu.”  [Yoh 8:7], Paus ini menambahkan: “Sementara menyadari dosa perempuan ini, Dia [Yeshua] tidak menyalahi perempuan tersebut, tetapi meminta kepadanya untuk tidak berbuat dosa lagi.”

Para korban tidak puas dengan permohonan maaf Paus. Seorang korban (di abuse ketika berumur 13 tahun) tahun lalu menemukan fakta bahwa Uskup Agung Dublin dan juga Polisi telah mengetahui keluhan tentang sex abuse, tetapi tidak ada sesuatu yang dikerjakan dan pastor tersebut terus melakukan abuse kepada anak-anak yang berada di bawah kekuasaannya, keluh Mrs Collins (63 tahun). Ibu ini menambahkan: ”Paus menyalahi itu semuanya kepada masyarakat Irlandia yang [telah ] sekuler  dan  menyalah artikan hukum gereja. Dia tidak bertanggung jawab sama sekali atas peranan Vatikan di dalam menutupi (skandal) abuse tersebut. Tidak ada kesadaran bahwa itu adalah problem seluruh dunia untuk gereja (Roma) …”

Paddy Doyle (59 tahun) menanggapi permohonan maaf Paus sebagai: ”Kata-kata Paus adalah  perkataan lama yang terus keluar bertahun-tahun. Dia tidak pernah menerima tanggung jawabnya sama sekali atas apa yang telah terjadi.”

Laporan bulan July 2011 menyatakan bahwa jumlah orang yang meninggalkan gereja Roma Katolik di Jerman melonjak mendekati 50% tahun ini sehubungan dengan skandal abuse yang melebar. 181.000 keluar dari keanggotaanya tahun lalu, dan 124.000 di 2009, jumlah ini dikeluarkan dari kantor gereja Roma Katolik Jerman.
Sejak dua puluh tahun ini, jumlah keanggotan gereja Roma Katolik telah turun dari 28,3 juta menjadi 24.6 juta atau 30,2 % dari populasi Jerman tahun 2010, data mengatakan.

Sementara di Austria 87.000 orang meninggalkan gereja Katoliknya di tahun 2010.

Gereja Roma Katolik, telah dikenali sejak lama oleh para pemimpin Gereja, bahwa gereja ini adalah wanita yang tertulis pada kitab Wahyu pasal 17. Yohanes mendengar peringatan Yeshua Ha Mashiah, ia menulis: Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.”  (Wah 18:4)

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Roma: Kritik sex abuse disamakan Anti-Yahudi oleh pengkotbah Vatikan


Berbicara di St. Peter’s Basilica, Roma, Rev. Raniero Cantalamessa berkotbah di depan Paus Benedictus XVI dan umat Katolik. Ia mempersamakan kritik-kritik dunia atas Gereja Roma Katolik  – sehubungan dengan ribuaan pastornya yang terlibat di dalam skandal pelecehan sex anak – dengan anti-Semitism atau anti-Yahudi. Pernyataan ini memicu kemarahan orang-orang Israel dan para korban (dan keluarga korban) sex abuse.

Rev. Raniero pada kotbah  perayaan ”Good Friday” tanggal 2 April 2010, yang mana Gereja Roma percaya secara tradisi bahwa Yahshua Ha Mashiah / Yesus Kristus tersalib pada hari Jumat, mengutip sebuah surat yang ia ”mengaku” dapat dari ”seorang teman Yahudinya” berbunyi:  “Saya mengikuti serangan-serangan kekerasan dan konsentris terhadap gereja [Roma Katolik], Paus dan semua orang beriman oleh seluruh dunia, … Penggunaan stereotip, berjalannya dari tanggung jawab pribadi dan rasa bersalah ke kesalahan kolektif, mengingatkan saya tentang aspek yang lebih memalukan dari anti-Semitisme.” Dengan kata lain kalimat ”temannya” ini berkata bahwa, ”rasa bersalah dan malu yang dialami oleh anak-anak korban skandal sex anak (yang sekarang sudah dewasa)  yang dilakukan oleh para pastor gereja Roma adalah bukan kesalahan kolektif dari Gereja Roma Katolik, tetapi tanggung jawab para korban skandal sex abuse itu sendiri.”

Pengkotbah ini adalah satu-satunya orang yang boleh berkotbah dan memberi meditasi kepada Paus dan petinggi-petinggi Vatikan. Ia dilantik tahun 1980 sebagai pengkotbah Vatikan oleh Paus Yohanes II.

Pengkotbah senior Vatikan ini lupa sama sekali pesan Yahshua ini:

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (Mat 5:27-29)

Komentar kemarahan atas penyamaan antara “kritik kepada Vatikan” dan “korban Holokos Yahudi”:

Kristine Ward, jurubicara the National Survivor Advocates Coalition sebuah badan yang menolong para korban skandal di USA: ”Dia memilih untuk menyamakan fitnah terhadap orang-orang Yahudi sebagai sama dengan kritik terhadap Paus Benedictus.”

Peter Isely, jurubicara Snap untuk menopang korban USA, berkata kotbah tersebut “tidak hati-hati dan tidak bertanggung jawab.” Ia berkata: ”Mereka duduk di istana paus, mereka mengalami sedikit tidak nyaman, dan mereka memperbandingkan mereka sendiri dikumpulkan atau dibarikan dan dikirim dengan gerobak-gerobak binatang ke Auschwitz? … You cannot be serious.”

David Clohessy, penasehat hukum untuk para korban pelecehan sex di US, menyebut memperbandingkan kritik kepada gereja Katolik dengan holokos Yahudi adalah ”sangat tidak berperasaan dan salah arah.” “Orang-orang yang dengan sengaja dan terus-menerus menyembunyikan kejahatan seks anak ialah sama sekali bukan para korban,” katanya.

Rabbi Riccardo Di Segni, ketua rabbi untuk Roma, tertawa dengan tidak percaya ketika ditanya tentang  pernyataan Rev. Cantalomessa. Rabbi ini berkata: ”Dengan sedikit ironi, saya akan mengatakan hari ini adalah Jumat Agung, ketika mereka (pemimpin Katolik) berdoa agar Yahweh menerangi hati kami sehingga kami mengenal Yahshua,” rabbi ini berkata, merefer kepada sebuah doa tradisi liturgi Katolik meminta para Yahudi berpindah ke Katolik, ”Kami juga berdoa Yahweh menerangi hati-hati mereka.”

Abraham Foxman, nasional direktur dari the Anti-Defamation League in US, berkata: “Anda dapat berpikir bahwa seorang pastor senior di gereja [Katolik] seharusnya  telah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang anti-Semitism daripada membuat perbandingan yang mengerikan ini.”

Stephan Kramer, Sekretaris Jendral dari the Central Council of Jews di Jerman, itu adalah ”kurang ajar dan sebuah penghinaan kepada para korban pelecehan sexual dan juga para korban Holokos.” Ia menambahkan bahwa Vatikan ”adalah jatuh kembali keatas methode-methode umum yang telah biasa digunakan selama beberapa dekade untuk menekan dan menyembunyikan masalah-masalah yang dikompromikan” Gereja Katolik.”

”Sejauh ini saya belum pernah melihat St. Peter terbakar, tidak juga ada ledakan kekerasan melawan imam-imam Katolik,” dia berkata. ”Saya tanpa kata-kata. Vatikan sekarang mencoba merubah para pelaku jadi para korban.”

David Willey dari BBC, di Roma, berkata komentar-komentar menunjukan Gereja [Roma Katolik] terus membela diri-sendiri secara ketat dan terbuka melawan tuduhan-tuduhan secara sistematik menutupi perkara-perkara pelecehan sexual oleh imam-imannya dalam beberapa dekade terakhir.

Anti-Semitism atau Anti-Yahudi dalam kontek di sini ialah seringnya dunia internasional menuduh dan menyerang orang Yahudi dibalik semua kekacauan dunia, menjadikan orang Yahudi sebagai kambing-hitam.

Bukti-bukti terakhir menunjukkan bahwa sumber Anti-Semitism sesungguhnya ialah Gereja Roma Katolik – ingin menguasai kota Zion / Yerusalem yang adalah lambang dari tempat ”kediaman” Raja Damai.

Dr. Derek Prince menyatakan dengan tegas bahwa ”akar dari anti-Semitism adalah anti-Kristus.”

Para korban ini sampai sekarang mengalami troma rasa malu dan kotor terhadap diri mereka sendiri atas apa yang para pemimpin rohani tersebut telah lakukan terhadap mereka di masa kanak-kanak mereka. Banyak gadis-gadis dan anak-anak laki yang dilecehkan oleh pastor ini tidak berani bicara kepada orang tua mereka, andaikan orang tua mereka mengetahuinya, orang tua mereka lebih merasa aman untuk tutup mulut daripada menerima hukuman ”excommunication” yakni dikucilkan oleh pastor dan komunitas mereka – bayangkan sebuah keluarga Kristen yang tinggal di propinsi Aceh.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Skandal sex abuse anak Gereja Roma Katolik tumbuh seperti jamur


“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. (Mat 25:31-33)

Artikel ini ditulis untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan Iblis yang bekerja melalui Gereja Roma Katolik (1Yoh 3:8), sehingga umat Katolik mampu melihat Terang yang sesungguhnya (Yoh 1:9). Perlu diingat bahwa diantara pekerja-pekerja institusi Gereja Roma Katolik yang jahat, tidak sedikit yang berhati murni, haus untuk melayani tuan mereka yang sesungguhnya, Yahshua Ha Mashiah, (Wah 18:4). Sementara saya menulis artikel ini perut saya merasa mual ingin muntah dan air mata saya berlinang sedih karena mengingat penderitaan para korban sex abuse ini dan mengingat sanak-famili, teman-teman yang disesatkan oleh Gereja Roma Katolik.

Pemisahan harus segera dilakukan sebelum kedatangan Yahshua yang kedua kalinya untuk memulai Pengadilan Terakhir-Nya.

Dr. Alberto Rivera,  ex-pastor Jesuit (Serikat Yesus) membongkar skandal sex di dalam institusi Gereja Roma Katolik ketika ia menyadari bahwa institusi yang ia layani ini adalah tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Tahun 1985 ketika pertama kali saya dan teman satu universitas mendengar pengakuan pertobatan Dr. Alberto Rivera, kami mencari bukunya. Seluruh toko buku Kristen di Jakarta kami kunjungi, tidak ada satupun yang menjualnya! Ketika kami bertanya kepada para penjual buku Kristen itu, jawaban mereka ”Kami belum pernah mendengar nama Dr. Alberto Rivera.”

Tahun 1985, buku-buku tentang Dr. Alberto Rivera seperti buku terlarang saat itu, mungkin dapat disamakan seperti majalah atau buku porno dan buku-buku faham Komunis. Singkat  cerita setelah kami banyak bertanya dan mencari, akhirnya kami dapatkan yang kami cari, mereka dijual secara sembunyi-sembunyi di sebuah ”toko buku” di dalam sebuah pasar. Saat itu baru ada dalam bentuk komik dan berbahasa Inggris. Perlu untuk diingat, ex-pastor Serikat Yesus ini berkata bahwa organisasi rahasia Serikat Yesus ini indentik dengan sekte Freemasonery dan partai Komunis Spanyol, General Jesuit (dikenal sebagai Black Pope atau Paus Hitam) mengenakan cincin (sebagai materai otoritasnya) berlambang Freemason (Jangka).  

Dr. Alberto Rivera menceritakan betapa jahatnya tentara rahasia Gereja Roma Katolik ini, baik di dalam institusi maupun di luar institusinya

Kejahatan di dalam institusi Gereja Katolik. Diantaranya adalah:

  • Perbuatan homo-sex diantara pemimpin dan pekerja orang-orang biara Roma Katolik, termasuk diantara para nunes (suster-suster biara). Perbuatan sumbang ini terjadi antara suka-sama-suka dan juga pemaksaan (antara pemimpin dengan murid calon imam dan calon biara)
  • Kejahatan lainnya ialah pembunuhan bayi-bayi. Dr. Rivera bercerita bahwa tulang-tulang bayi banyak ditemukan di biara-biara Katolik. Besar kemungkinan ini berasal dari calon-calon suster yang telah dipaksa melayani atasan mereka dan para wanita yang hamil diluar nikah dan ”diselamatkan” dan kemudian bergabung menjadi murid-murid biara Katolik.
  • Pembunuhan berencana diantara mereka sendiri, baik yang tidak setuju dengan doktrin dan keputusan atasan (beberapa paus yang berhati murni telah mati diracun, salah satu contohnya) maupun bagi ”penghianat” seperti Dr. Alberto Rivera ini. Dr. Rivera terancam mati kenegara manapun ia berada. Orang-orang yang dikuasai Setan tersebut akhirnya berhasil membunuh dia.

Kejahatan di luar institusi Roma Katolik. Dr. Alberto Rivera berkata bahwa Institusi Roma Katolik adalah biang dari banyak kekacauan besar di dunia baik politik maupun Gereja-gereja Protestant, Holywood dan Casino Dalas pun telah dikuasainya.

Kita sekarang melihat skandal sex abuse anak yang terjadi pada banyak gereja-gereja Roma Katolik di berbagai negara.  Ketika pertama kali berita ini merebak di awal tahun 1990, dunia berpikir itu suatu peristiwa ”kecelakaan.” Dunia tidak ambil perduli, Dunia berpikir bahwa itu hanyalah sekedar masalah intern Gereja Roma Katolik belaka. Skenario itu telah berubah di abad 21 ini: itu bukan sekedar ”kecelakaan” – setiap orang pasti pernah berbuat salah, benar tidak?, namun ”kecelakaan” yang terus menerus selama lebih dari 40 tahun – menurut beberapa ex-pastor Katolik bukanlah kecelakaan, sebab mereka berkata itu bukan “berita” baru:

  • Dr. Pastor Alberto Rivera, dalam buku “Alberto, based on a true story” berkata bahwa tubuh-tubuh bayi ditemukan di terowongan bawah tanah yang menghubungkan gedung pastor dengan gedung suster Katolik di banyak tempat di Spanyol dan Roma pada tahun 1930-35. Yang membuat jemaat Katolik Spanyol menghancurkan gedung-gedung tersebut. Gambar dapat dilihat di buku tersebut.
  • Pastor Clarles Chiniquy pada bukunya “50 Years in the Church of Rome,” skandal sejenis itu sudah umum terjadi sejak  dijamannya: abad 18.

Yahshua memperingatkan dengan keras: “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. (Mat 18:6)

Dunia sekarang bertanya, ”Siapakah yang harus diadili dari skandal sex abuse anak di dalam Gereja Roma Katolik ini?”

Mari kita lihat sejenak skandal-skandal sex-abuse anak ini:
Ireland. Sedikitnya 150 pekerja Gereja Roma Katolik di Ireland sudah terlibat didalam skandal  sex abuse anak lebih dari periode 67 tahun. menurut laporan telgegrah.co.uk news.

Berapa banyak korbanya? New York Times menulis, ”Puluhan ribu anak-anak Ireland telah dilecehkan secara sex, tubuh dan emosi oleh suster-suster, pendeta-pendeta dan pihak lainnya selama lebih dari 60 tahun di tempat-tempat tinggal sekolah yang dijalankan oleh Gereja [Roma Katolik]…, menurut sebuah laporan yang diterbitkan di Dublin pada hari Rabu; New York Times, May 20, 2009. Anak-anak malang ini sekarang berusia antara 50 sampai 80 tahun.

Lebih dari 30.000 anak-anak yang telah dikirim ke tempat-tempat lebih dari 6 dekade, laporan berkata, karena alasan-alasan:

  • sering melawan keinginan-keinginan keluarga mereka dan karena tekanan dari kekuasaan pastor-pastor setempat. Orang-orang tua dipaksa oleh Gereja Roma untuk menyerahkan anak-anak mereka untuk tujuan melayani intitusi gereja tersebut, persis seperti yang dilakukan oleh  institusi Taliban di Afganistan di abad 21 ini.
  • mereka telah dikirim karena keluarga-keluarga mereka tidak mampu merawat mereka,
  • karena ibu-ibu mereka telah melakukan perzinahan atau melahirkan diluar nikah, atau satu dari orang tua mereka sakit, atau pemabok atau terlalu kasar terhadap mereka.
  • mereka juga telah dikirm karena kejahatan kecil seperti mencuri makanan atau karena gagal disekolah umum.

Penyanyi Ireland, Sinead O’Connor, seorang Katolik yang mengasihi Elohim berkata bahwa, “Seharusnya ada sebuah penyelidikan kriminal yang penuh atas Paus Yohanes II.” Penyanyi wanita ini menjadi tidak terkenal di tahun 1992 sejak merobek foto Paus Yohanes II di depan camera American TV, perbuatannya itu dilakukan untuk mengeritik Gereja Roma karena gagal melindungi anak-anak yang telah menjadi korban skandal sex abuse para pastornya. Lost Angeles Times news. ”There should be…”

Amerika Serikat. Pastor di Wisconsin telah melakukan pelecehan sex terhadap 200 anak-anak tuli antara  1950-1974, New York Times.com.

Holland. Tangan pria remaja  ini dipaksa oleh seorang pastor untuk menyentuh bagian sensitif pastor tersebut. Esok harinya ia dipanggil untuk menhadap pastor tersebut dan  dikatakan kepada remaja ini, ”Itu seharunya tidak boleh terjadi.” Dia memberi saya pengampunan; dia mengampuni dosa saya. Itu telah membuat saya lebih bingung lagi,” remaja ini bercerita.

Melihat curahan baru-baru ini tuduhan pelecehan anak oleh pastor-pastor yang telah juga merendap di Holland, Switzerland, Austia, Polandia dan Italia, seorang pengamat veteran tentang Vatikan berkomentar: “Ini adalah tantangan terbesar untuk Gereja [Roma Katolik] di dalam masa modern sejak penggabungan Italy  di tahun 1861 atau Perang Dunia II,” tulis Financial Times (17 Maret 2010) “Pope battles to contain abuse scandal.”

Jerman. Saudara kandung laki-laki Paus Benedict XVI juga terlibat di dalam menutup-nutupi skandal ini. Sedikitnya ada 100 perkara pelecehan sex anak yang telah dilaporkan di dalam rumah-rumah sekolah Serikat Yesus di seluruh Jerman.

Peristiwa pelecehan ini juga terjadi di Inggris, Australia, Mexico, Kanada dan banyak tempat lagi di dunia.

Paus mengetahui namun menutupinya. Paus Yohanes II dan pembantunya, Kardinal Joseph Ratzinger yang sekarang menjadi Paus Benedictus XVI telah mengetahui skandal-skandal sex abuse anak diantara para pastor Katolik lama sekali, namun berdiam diri.

Gereja Roma Katolik adalah institusi rohani yang berfungsi berdasarkan hirarki yang absolute (struktur kepemimpinan piramid), artinya, segala sesuatu (aksi dan reaksi) terlaksana atas keputusan Paus.

Berikut ini beberapa kutipan surat kabar yang menyatakan bahwa Paus telah tahu perbuatan mesum pekerja-pekerja gerejanya jauh sebelum surat kabar sekuler membongkarnya.

“Korespondensi internal dari uskup di Wisconsin langsung kepada Kardinal Joseph Ratzinger, paus masa depan, menunjukkan bahwa sementara para pejabat gereja berjuang mengenai apakah imam harus dipecat, pioritas tertinggi mereka adalah melindungi gereja dari skandal. Masalah Wisconsin ini melibatkan pastor Amerika, Rev. Lawrence C. Murphy yang bekerja untuk sekolah bagi anak-anak tuli dari tahun 1950 ke 1974.” Surat kabar ini melanjutkan, “Tetapi itu adalah hanya satu dari ribuan masalah-masalah yang telah diteruskan oleh uskup-uskup kepada kantor Vatikan yang disebut The congregation for the Doctrine of the Faith, yang dipimpin oleh Kardinal Ratzinger dari tahun 1981 ke 2005.”

Hanya 20 persent dari 3000 imam yang tertuduh yang siapa kasusnya telah pergi ke Vatikan antara tahun 2001 ke 2010 telah diproses, dan hanya sedikit dari mereka yang dipindahkan tempat tugasnya.

Karena tidak ada respond dari Kardinal Ratzinger, Arkibishop Weakland telah menulis kekantor Vatikan yang berbeda di bula Maret 1997, mengatakan masalahnya urgent sebab seorang lawyer telah siap membawanya kepegadilan, masalah akan dapat menjadi publik dan “skandal sebenarnya di masa depan nampak sangat mungkin.” NewYorkTimes.com 25 Maret 2010

Goal dari Kardinal Ratzinger, sekarang Paus Benedict, adalah (was) menjaga rahasia ini,” Peter Isely, direktur dari the Survivors Network of those Abused by Priests, kata kantor berita The Associated Press. “Ini adalah kasus pedofilia paling tak terbantahkan yang Anda bisa dapatkan.”

Jeff  Anderson & Associates Advocates, sebuah organisasi yang terlibat di dalam penyelidikan skandal pastor-pastor Katolik pada paragraph pertamanya menulis, “(Maret 25) – Hanya berberapa hari setelah Paus Benedict XVI mengeritik uskup-uskup Ireland karena menutup-nutupi pekerja gereja yang terlibat didalam pelecehan seksual di Ireland, document-dokument baru menunjukan dia tidak melakukan apa-apa untuk mendisiplin pastor-pastor Wisconsin yang ia telah tahu sejumlah penyerangan sex anak-anak laki yang tuli tersebut – dan ada kemungkinan [Paus] telah menutup persidangan gereja dalam masalah ini.

TV France24 melaporkan perkataan Jeff Anderson: “Paus Benedictus XVI telah mengetahui skandal sex-abuse anak ini sejak tahun 1950, namun tetap menutup-nutupinya.”

Paus dengan jubah merah dan lambang Setan pada kedua jari-jari tangannya.

Pemimpin teras atas Gereja Roma Katolik sering kali “menghukum” para pastor dan pekerja gerejanya yang terlibat di dalam skandal pelecehan sex anak ini hanya dengan cara memindahkan pastor pedofilia tersebut ke negara lain. Dan mereka melakukan perbuatan mesum mereka di tempat yang baru.

Keluarga dari para korban, banyak yang mengatakan bahwa “meminta maaf” dengan kata-kata saja tidak cukup, apalagi dengan menutup masalah tersebut dengan pernyataan “Gereja bangkrut tidak mampu membayar biaya ganti rugi”, karena kenyataannya Gereja Roma Katolik memiliki harta kekayaan yang dipercayai salah satu institusi terkaya di dunia – melalui rampasan perang, purgatori, kolekte, money loundry (bank, petrol, casino dsb.) dan lain-lain

Pemecatan pastor-pastor di Ireland nampak sesuatu yang munafik, sebab Paus Benedict XVI yang sebelumnya adalah Kardinal sebagai kepala dan mengetahui skandal ini puluhan tahun sebelumnya, namun tidak mengambil tindakan tegas. Di dalam dunia sekuler dan terlebih rohani kesalah besar demikian  pastilah akan membuat pemimpin itu mengundurkan diri dari jabatannya.

Jadi, siapakah yang harus diseret kemeja pengadilan, para pendeta dan kepala suster biaya Katolik atau Paus? Adilnya ialah semua para pelaku skandal pelecehan sex anak tersebut, terlebih lagi Kardinal yang sekarang menjadi Paus Benedict XVI. Doktrin Roma Katolik yang melarang para pastornya menikah namun – SENGAJA – harus mendengarkan “pengakuan dosa jemaat” yang penuh dengan cerita sex  (keluarga, skandal, perzinahan, pornografi dan sejenisnya) persis sama dengan memaksa mereka minum bir dan wine sebanyak-banyaknya  tapi dilarang mabuk!!

Dari sisi Kristianiti, skandal sex abuse dan pedofilia di Gereja Roma Katolik yang melibatkan begitu banyak pekerja-nya dan terjadi bertahun-tahun tanpa ditindak-lanjut membuktikan bahwa Gereja Roma Katolik adalah Gereja Antikristus.

Gereja ini terus mencoba merusak citra Bapa Sorgawi, Yahshua Ha Mashiah dan Roh Kudus di mata Dunia. Inilah cara Roma menyesatkan bukan saja orang-orang Katolik tetapi juga orang-orang yang belum mengenal Injil Kerajaan Sorga.

Kata “Anti” pada Antikristus memiliki dua makna:

  • Melawan terang-terangan: merubah hukum dan waktu YAHWEH, menolak korban Yahshua di salib dengan cara memakai lambang “Salib terbalik”, “Salib Bengkok”, “Tubuhnya tetap tersalib (Alkitab menulis bahwa Yahshua telah menang atas Kematian, melalui Kebangkitan-Nya).
  • Melawan dengan cara pemalsuan: Berbaju Kristen, mengaku Kristen, bicara seperti Kristen, tetapi berbuat kebalikan dari apa yang Yahweh Yahshua Ha Mashiah perintahkan untuk dilakukan.

Alkitab telah menubuatkan tentang lahirnya Gereja Roma Katolik, waktu penghukuman baginya sudah dekat! Inilah wahyu Yahshua Ha Mashiah (Yesus Kristus) kepada rasul Yohanes di pulau Patmos yang tertulis pada kitab Wahyu:

Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas,  permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya tertulis suatu nama, MYSTERY, BABYLON THE GREAT, THE MOTHER OF HARLOTS AND ABOMINATIONS OF THE EARTH [KJV]. (suatu rahasia: “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.”) Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yahshua. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat heran. (Wah 17:4-6)

Kemudian dari pada itu aku melihat seorang malaikat lain turun dari sorga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya. Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci, karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya.” Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Elohim telah mengingat segala kejahatannya. Balaskanlah kepadanya, sama seperti dia juga membalaskan, dan berikanlah kepadanya dua kali lipat menurut pekerjaannya, campurkanlah baginya dua kali lipat di dalam cawan pencampurannya; berikanlah kepadanya siksaan dan perkabungan, sebanyak kemuliaan dan kemewahan, yang telah ia nikmati. Sebab ia berkata di dalam hatinya: Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung.  (Wah 18:1-7)

Bukan saatnya lagi kita bermain-main dengan agama, kedatangan Yahshua Ha  Mashiah sudah begitu dekat, nubuatan-Nya pada Matius 24 sudah hampir tergenapi seluruhnya, hanya tinggal menunggu waktu masak, untuk siap dituai. Kasihanilah jiwa Anda sendiri, berdamailah dengan YAHWEH sebelum kematian memanggil Anda.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog