Propaganda The New York Times Perang terhadap Mesir


Raymond Ibrahim Islam Unveiled The New York Times’ Propaganda War on Egypt
Raymond Ibrahim mengkomentari artikel di The New York Times yang ditulis oleh David Kirkpatrick.
“Sebuah artikel baru dari New York Times mencontohkan mengapa The Times sederhanannya tidak dapat dipercaya. Ditulis oleh seorang David Kirkpatrick berjudul “Sumpah dari Kebebasan Beragama Tidak Ditepati di Mesir”, artikel tersebut secara tidak langsung menafsirkan beberapa kebenaran yang umum dalam upaya untuk memvalidasi tesis nya.
Pada paragraf penutup Raymond Ibrahim menulis:
“Disesatkan dan diabaikan adalah penyebab-penyebab sebenarnya dari radikalisasi — The Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin) dan para sekutu Islamis, yang, melalui masjid dan stasiun-stasiun satelitnya, yang telah me-radikalisasi Mesir selama beberapa dekade. Itu akan mengambil waktu yang lama, jika pernah, untuk memberantas pengaruh mereka, tetapi pemerintah pasca-Brootherhood (pemerintahan yang sekarang) adalah langkah pertama dalam arah yang benar — meskipun NYT propaganda nonstop untuk melabur putih the Muslim Brotherhood dan kadang-kadang bahkan al-Qaeda.
Raymond Ibrahim adalah pakar masalah Timur Tengah dan Islam, http://www.raymondibrahim.com/

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Iklan

Mengerti Islam: Buddhist Common Sense vs. Western Nonsense oleh Raymond Ibrahim


Terjemahan singkat dari artkel aslinya.

Sebuah artikel dari New York Times baru-baru ini, berjudul ”Sikap Extrim bangkit Diantara Para Orang Buddha Myanmar,” menawarkan pelajaran yang penting pada pikiran sehat / masuk akal (common sense) dan tidak masuk akal (nonsense). Ditulis oleh Thomas Fuller, itu dimulai melalui bercerita bagaimana:

Setelah sebuah ritual doa pengampunan dosa-dosa masa lalu, Ashin Wirathu, pendeta Buddha hadir di depan ribuan jemaat dan memulai kotbah yang mengebu-ngebu melawan yang ia sebut ”musuh”- Negara minoritas Muslim. ”Kamu boleh penuh dengan kemurahan dan kasih, tetapi kamu tidak dapat tidur disebelah anjing gila,” Ashin Wirahu berkata, merefer kepada para Muslim. ”Saya menyebut mereka para pembuat masalah sebab mereka adalah para pembuat masalah.”

Sementara artikel (di NYT) diartikan untuk menekankan dugaan ”ketidak toleransian” para orang Buddha Myanmar (Burma, nama lama), untuk mereka yang dapat menbaca tujuan penulisan atau mereka yang mengerti pengajaran Islam, sejarah, dan peristiwa-peristiwa saat ini-itu adalah jelas bahwa para orang Buddha meresponi ancaman-ancaman yang hadir yang dibuat oleh para Muslim yang hidup di antara dan di sekitar mereka.

Pelajaran pertama: tidak seperti [Orang] Barat, para pendeta Buddha sekalipun reputasi mereka sebagai pencinta damai, tetap mampu menerima dan berespond kepada kenyataan; tetap dipimpin oleh pikiran sehat (common sense). Tidak seperti Barat yang pikiran nyatanya yang terbungkus oleh propaganda media, mengkondisikan para Amerika bagaimana berpikir dan apa yang dipercaya, para pendeta Buddha ”dunia ketiga” mengenal kenyataan dilapangan. Mereka tahu, jika dibiarakan, Muslim minoritas yang hidup diantara mereka – yang mulai permusuhan – akan tumbuh lebih agresif, fakta sejarah mendemontrasikan.

Sebagaimana di negara-negara lainnya, para Muslim Myanmar telah terlibat dalam kekerasan, terror jihad, dan pemerkosaan para gadis-gadis Buddha. … Diperbatasan Thailand, dimana orang Budha adalah mayoritas dan Muslim minoritas, ribuan pemuda Buddha, wanita dan anak-anak telah dibunuh, dipotong lehernya, dan diperkosa, sebagai separatis Muslim mereka mencoba menyapu daerah tersebut dari keberadaan semua ”infidel (kafir).”

Klik ini [peringatan: gambar mengerikan] untuk melihat laporan foto dan  gambar-gambar kekejaman Muslim yang dilakukan melawan para orang Buddha yang mungkin menjelaskan mengapa para Buddha Myanmar tidak percaya terhadap para Muslim.

Pelajaran kedua: Jika umat Buddha memahami apa yang dipertaruhkan – seluruh peradaban mereka – laporan NYT adalah kesaksian mengapa Barat masih belum bisa menghadapi kenyataan. Artikel Fuller (penulis di NYT) membawa semua merek dagang – moral relativisme dan pro-Islam bias, dan campuran berbahaya dari keyakinan dan ketidak perdulian – yang menjadi ciri ketidak mampuan utama Barat untuk mengenali dan berespond kepada Islam, melainkan tumbuh sentimental, pemikiran yang hampa.

Terbukti bahwa selama 14 abad, Islam telah menyapu seluruh masyarakat dan indentitas: apa yang kita dengan santai merefer sebagai ”Dunia Arab” yang bukanlah Arab dan hampir seluruhnya Kristen di abad ke tujuh, ketika Islam hadir dan melakukan jihad.

Fuller juga nampaknya kehilangan makna dari fakta bahwa ada lebih banyak orang Kristen dan Hindu di Myanmar dibanding orang Muslim – namun orang Buddha hanya bermusuhan kepada orang Muslim. Jika orang asli Buddha sederhananya menjadi radikal nasionalis, seperti Fuller nyatakan, kenapa mereka hanya menyerang (balik) Muslim, tidak Kristen dan Hindu?

Penyesatan yang jelas. Sementara menyoroti perlakuan orang Buddha terhadap Muslim, Fuller tidak menyinggung terror jihad dan pembunuhan yang para Muslim telah perbuatan kepada orang-orang Buddha. Ia megutuk orang Buddha yang membuat 150 ribu pendatang Muslim terusir, sementara tidak sadar  bahwa di seluruh dunia Islam Muslim telah mengusir ratusan ribu (tepatnya jutaan) bukan-Muslim, menyebabkan keluarnya secara paksa besar-besaran orang Kristen (dari Dunia Islam).

Sementara para Buddha Myanmar memperjuangkan hak mereka untuk bertahan hidup melawan Islam, the New York Times melakukan distorsi-terbaik kenyataan untuk membuat itu dapat diterima oleh “membuat dunia percaya” pada mainstream media, dalam hal ini, bahwa orang-orang Muslim adalah selalu tidak bersalah dan korban-korban salah paham.

Ralph Sidway mengingatkan saya akan Pendeta Indonesia, Fr. Daniel Byantoro, yang telah menulis kalimat yang dapat diappilikasikan:

Selama beribu-ribu tahun negaraku (Indonesia) adalah sebuah kerajaan Hindu-Buddha. Raja hindu terakhir adalah cukup baik memberikan bebas pajak bangunan bagi missionary muslim pertama untuk hidup dan mengkotbahkan agamanya. Secara perlahan para pengikut agama baru ini bertumbuh, dan setelah mereka menjadi begitu kuat kerajaan diserang, dan mereka yang menolak menjadi muslim haruslah melarikan diri untuk selamat ke pulau tetangga Bali atau ke gunung tinggi Tengger, dimana mereka mampu menjaga agamanya sampai saat ini.
Secara perlahan dari Kerajaan Hindu Buddha, Indonesia menjadi negara Muslim terbesar di dunia. Jika ada sebuah pelajaran untuk dipelajari oleh orang-orang Amerika, sejarah negara saya adalah layak untuk dihayati. Kita bukanlah para pembenci, orang-orang fanatik, melainkan pencinta demokrasi dan pencita sesama. Kita hanya tidak ingin kebebasan dan demokrasi ini dirampas dari kita oleh ketidak perdulian kita dan ’kebenaran yang bersifat politik’ salah pimpinan, dan kepalsuan toleransi.   

Catatan dari Moderator:

Referensi:

 

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Facebook dan sejenisnya, mereka sahabat atau musuh?


Apakah Facebook (dan sejenisnya seperti Twitter sekedar “public information” atau sebagai media  untuk “sharing privacy,” atau lebih dalam lagi sebagai “leaking privacy?”

Professor Clay Shirky dari New Media di New York University TISCH menyatakan bahwa Facebook, Twitter dan group komunikasi sosial via internet sejenis mereka adalah membunuh kehidupan  pribadi para pemiliknya.

Professor media ini menerangkan adanya perbedaan yang besar antara mendengarkan percakapan sekelompok orang di sebuah mol (tempat umum super store ) dengan membaca data-data profil (pribadi, keluarga dan teman dekat) sekelompok orang di internet.

Melihat kepada perjanjian pemakian Facebook: privacy policy, terms of service serta proses jaringan datanya yang mana tiga puncak struktur nya adalah pemerintah USA: CIA (Central Intelligence  Agency), DOD (Departement Of Defense) dan IAO (Information Awareness Office). Seorang lainnya, pada presentasinya berjudul: Facebook – CIA Profile Database, mengingatkan para pemakai Facebook untuk berhati-hati dengan data yang mereka tulis di Facebook.

Sesungguhnya Anda sudah cukup menjadi ‘public’ information untuk polisi pemerintah dan para perusahaan jasa internet, sebab setiap kali Anda membuka internet, misalnya Google, maka Google tahu kemana saja anda telah berkunjung. Dan melalui nomor IP (Internet Protocol) Anda, mereka tahu dimana Anda berada.

WorldNetDaily (WND), pada beritanya (21/2/2011) berjudul “White House making ‘fake people’ on Facebook?” menulis bahwa pemerintah USA sedang menawarkan sebuah tender kepada beberapa perusahaan intelligent pribadi untuk menciptakan software yang mampu menampakan “orang-orang palsu” pada situs-situs komunikasi sosial. Tender ini bernama “Pesona Management Software (PMS),” menurut Sean Kerrigan, sebagaimana dikutip oleh WND, software akan memampukan seorang agent rahasia pemerintah USA melalui computernya menjadikan dirinya 10 ‘orang palsu’ yang berlainan nomor IP (Internet Protocol), sehingga itu akan nampak – di si pemilik situs yang agent ini kunjungi – bahwa situsnya dikunjungi oleh 10 orang dari lokasi negara yang berbeda di seluruh dunia.

Komentar:
Efek dari teknologi PMS ini diantaranya ialah:

  • Anda tidak tahu bahwa Anda sedang dimata-matai oleh orang yang sama,
  • Anda akan mengalami misinformation (disesatkan, kasarnya), melalui data yang berlainan dari 10 ’fake people’ tersebut.
  • Ujungnya, manusia akan tiba pada suatu “budaya berita yang tidak pasti/ relative,” sehingga, berita nyata dan benar akan semakin susah untuk dipercaya/ diterima sebagai suatu tolak ukur untuk ditindak-lanjuti – berakibat manusia akan semakin apatis (kasih dan perhatian akan sesama semakin tawar).  “Budaya berita tidak pasti” ini adalah perkembangan dari “budaya kebenaran relative,” yang berkembang dari faham Relativism.

Kebenaran relative berkata: “sesuatu itu benar adalah menurut orang itu sendiri.” Artinya: semua agama benar, semua pendapat OK (tidak ada yang salah, dan tentunya berarti juga “tidak ada yang benar.”)

Kebenaran mutlak berkata: “YAHWEH (JEHOVAH/ KURIOS/ TUHAN) adalah Pencipta alam semesta, terlepas seorang percaya atau tidak akan hal tersebut.” Kebenaran mutlak tidak tergantung dari opini orang (baik minoritas maupun mayoritas), tetapi dari firman-Nya sendiri, yang tidak pernah berubah melalui kurun waktu dan kondisi kehidupan di Bumi.

Nasehat saya:

  • hati-hatilah menjaga data pribadi, dan orang  terdekat Anda
  • secara umum teknologi internet adalah sebuah alat (komunikasi), itu sama seperti sebuah pisau (alat kerja, a tool). Pisau jika dipakai dengan benar akan menjadi penolong, namun jika salah akan berbahaya untuk diri sipemakai dan juga orang lain.
  • jangan membuang waktu di internet tanpa tujuan yang berguna. Yeshua ketika Ia kembali sebagai Hakim, Ia tidak akan bertanya “berapa banyak jaringan teman Anda,” atau “berapa pandai Anda memakai teknologi internet,” tetapi Ia akan bertanya: ”Apakah yang Anda sudah kerjakan selama Anda hidup di Bumi dengan waktu, tanggung jawab dan talenta yang AKU telah berikan?”
  • Facebook dan sejenisnya adalah sahabat bagi Anda yang tidak terlibat di dalam kejahatan.

Mata YAHWEH ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.
Jalan orang fasik adalah kekejian bagi YAHWEH, tetapi siapa mengejar kebenaran, dikasihi-Nya. (Amsal 15:3, 9)

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Film 2009: Angles And Demons


Film Hollywood Angels and Demons akan muncul  di bulan Juni 2009 adalah contoh yang sempurna bagaimana Vatikan (Negara Roma) menggunakan uangnya dan kekuasaan yang kotor mengayun pendapat masyarakat di dalam arah petunjuk ibu binatang.

Organisasi Illuminati adalah Vatikan dan Vatikan adalah organisasi Illuminati (The Illuminati is the Vatican and the Vatican is the Illuminati), tetapi di dalam film ini mereka akan memutar bukti-bukti dengan bercerita kepada dunia Gereja Roma Katolik adalah di dalam sebuah kehidupan dan kematian yang susah menyelamatkan jiwanya dari kuasa-kuasa jahat organisasi Illuminati, yang mencoba menghancurkan pria-pria tua Vatikan yang baik.

Saksi-saksi mata di Roma melaporkan bahwa di bulan Mai 2007, tiga trio disebutkan di atas (Dan Brown –penulis Da Vinci Code, Ron Howard – direktur film, dan Tom Hanks – bintang film) bersama raja media Rupert Murdoch dan beberapa orang petinggi Serikat Jesuit dan seorang Kardinal Vatican semuanya bertemu untuk mendiskusikan keuangan film ini. (1)  Catatan: Penebalan dari saya.

Bukti bahwa Vatican dan Organisasi Illuminati adalah sama bisa baca di sini:

POPE BENEDICT XVI ADVOCATES THE NEW WORLD ORDER IN HIS CHRISTMAS, 2005, SERMON! Sedikit cutipan dari artikel di atas:  This new Pope actually used the term, “New World Order” in his speech, thus aligning himself and his global Catholic Church with other leaders of the Illuminati which are straining as much politically and/or economically as the Vatican is straining religiously to unite the world globally in these three spheres. Until this global unity is achieved, Antichrist cannot appear.

Ingat film Juno (2007), cerita tentang seorang gadis yang hamil diluar nikah dan memenangkan Academi Award untuk Best Original Screenplay dan beberapa nominasi Oscar?
Juno, lengkapnya Juno Lucina, adalah dewi  yang sangat terkenal  pada jaman kerajaan Romawi. Juno dapat disamakan dengan dewi Hera nya Yunani. Ia dipestakan pada tanggal 1 Maret, dikenal sebagai  perayaan Matronalia. Bulan Juni diambil dari namanya. Ia merupakan dewi kesuburan wanita dan pelindung wanita. (2)

Referensi:

  1. Diterjemahkan langsung dari sini.
  2. Pantheon.org.: Juno dan Ancienthistory.about.com: Juno Lucina

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog