Gereja Roma Katolik telah berubah semakin Injili?


Paus Benedict XVI adalah Kardinal Joseph Ratzinger yang terpilih sebagai paus untuk Gereja Roma Katolik pada 19 April 2005. Ordo Benidictine adalah sebuah ordo dari aliran Roma Katolik  yang terkenal “ortodok” dalam arti fanatik atau fundamental terhadap doktrin Roma Katolik.

Paus Benedict XVI melarang pemakaian kondom (alat kontrasepsi, mengontrol kelahiran), seperti juga yang dianut secara keras oleh para pemimpin Islam sedunia) bahkan terhadap para suami atau pria yang menderita AIDS / HIV di Afrika. Pendapatnya ini telah membuat dunia modern marah dan mengatakan sebagai pikiran yang kolot.

Pada awal April 2012, Paus Benedict yang sama membuat pernyataan resmi yang keras kepada sejumlah pendeta Roma Katolik di Austria dan negara-negara lainnya yang memohon terjadinya reformasi di dalam Vatikan (pusat gereja Roma Katolik yang dipimpin oleh Paus).

Reformasi yang diharapkan terjadi oleh para pendeta Roma Katolik ini adalah mengijinkan para wanita untuk menjabat posisi pendeta atau pastor, dan mengijinkan pendeta Katolik untuk boleh menikah. Laporan berkata, lebih dari 400 pendeta Austria telah menandatangi petisi reformasi tersebut, diikuti juga oleh rekan-rekan mereka dari USA, Eropa (khususnya dari Belgia, Irlandia dan Slovakia). Hal ini disadari oleh ex-pendeta Roma, Richard Bennett, bahwa pelarangan menikah bagi para pendeta Roma Katolik adalah penyebab sex skandal dan  phedofile dikalangan mereka.

Paus (Joseph Ratzinger) meresponi mereka sebagai ”ketidak taatan” di dalam gereja Roma, mereka harus bertobat kepada ”radicalism of obedience” (ketaatan yang bersifat mutlak), dan menuduh mereka sebagai dikendalikan oleh ”own preferences and ideas” (pilihan-pilihan yang disukai oleh dan ide-ide diri sendiri). Paus menguatirkan reformasi ini akan memecah gereja Roma.

Pendeta Austria, Helmut Schüller, tokoh dibalik gerakkan  Preacheres’ Initiative (suatu reformasi para pendeta Gereja Roma Katolik), ia menyebut Vatikan sebagai sebuah ”absolut monarki”, berkata bahwa penolakan gereja untuk berubah dapatlah memimpin kepada perpecahan bagaimanapun juga.

Praktek penjualan kertas indulgensi (pengampunan dosa melalui bayar uang) hidup kembali.

Dr.  Martin Luhter, bapa reformasi gereja Eropa abad 16, adalah bekas-uskup gereja Roma Katolik yang menentang penjualan-penjualan kertas indulgensi (lihat pada film di menit 30:00 sampai 40:00), yang di jamannya sangat populer dimana gereja Roma mengajar bahwa setelah orang-orang berdosa mengaku dosanya, dan meninggikan bunda Maria, mereka akan tetap menghadapi hukuman siksaan setelah kematian, tempat ini disebut Purgatory, sebelum mereka dapat masuk sorga. Siksaan di Purgatory ini dapat dipersingkat jika keluarga mereka yang masih hidup membeli kertas-kertas indulgensi tersebut – sehingga pada jaman itu lahirlah suatu istilah ”kotak berbunyi (suara koin-koin jatuh), dosamu diampuni.” Dr. Martin Luther setelah membaca Alkitab, menentang banyak doktrin Roma Katolik, salah satunya ialah ajaran ”keselamatan melalui perbuatan baik,” ia menemukan bahwa ”keselamatan adalah melalui iman” (Roma 1:16-17; Ef 2:8-9).

Paus Yohanes Paulus II, pendahulu Joseph Ratzinger, menghidupkan kembali praktek indulgensi di tahun 2000 melalui para uskupnya. Namun praktek ini mencapai hit-nya di tangan Paus Benedict XVI.

Komentar:
Rasul Petrus mempunyai isteri, rasul Paulus menganjurkan untuk orang beriman menikah daripada mereka hangus karena tidak dapat menahan hawa napsu-sex (1 Kor 7:5-9). Menolak ajaran Alkitab, berakibat skandal sex pada para pendeta Roma meroket dan menjadi penyebab kebangkrutan banyak gereja Roma di Barat, jalan keluar yang diambil Vatikan adalah menceburkan diri kelumpur dosa yang lebih dalam; membohongi dan merampoki uang jemaat bahwa gereja Roma dapat menggampuni dosa melalui praktek indulgensi.

Apakah gereja Roma Katolik semakin injili di abad 21 ini? Di abad 16, sebagai balasan ’terima kasih’ kepada para Reformasi Gereja, Vatikan menghadiahkan ”Injil Barnabas,” Injil gnostik yang mengatakan bahwa Muhammad adalah Ha Mashiah (Mesias/ Al Masih) yg sekarang di anut oleh aliran Ahmadiah. Di abad 21 ini, Vatikan, melalui banyak pemimpin Barat, menghadiahkan dunia Kristen dengan ”Jalan Arab / Arab Spring” – meradikalkan group-group Islam di Timut Tengah dan ”Sex-skandal Gereja” di negara-negara Barat.

Kenyataanya ialah, Gereja Roma Katolik menju kearah semakin ortodok, kefaham sebelum jaman reformasi Gereja yang dicetuskan oleh Dr. Martin Luther. Puji syukur kepada Elohim, telah banyak orang Roma Katolik yang menyadari ke arah mana Vatikan sedang menuju.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog
Iklan

Rabbi tidak puas dengan perkataan Paus Benedict XVI


Pernyataan Paus Benedict XVI di Yad Vashem (Museum Holokos, di Yerusalem) pada Senin 11 Mai 2009 tentang peristiwa Holokos tidak memuaskan kata bekas Pemimpin Rabbi Israel Meir Lau – seorang anak dari korban Holokos yang selamat.

Bekas Rabbi ini berkata, “Itu suatu pernyataan yang manis”, mengkomentari pernyataan Paus, namun rabbi ini kecewa sebab Paus

  • Tidak menyinggung Nazi sebagai pelaku pembunuhan
  • Tidak sebuah katapun dari Paus secara pribadi berpartisipasi di dalam perasaan sakit dan sedih
  • Tidak menyebut 6 juta korban tapi hanya berjuta-juta, bahkan
  • Paus tidak meminta maaf atas peristiwa Holokos tersebut

Beberapa tahun belakangan ini, telah ditemukan bukti-bukti yang kuat tentang keterlibatan Vatikan (sebagai negara ) dan gereja Roma Katolik (sebagai institusi agama) dengan gerakan Nazi-Hitler. Paus Benedict XVI sendiri sewaktu muda adalah anggota tentara Nazi. Seorang bisop Katolik beberapa bulan yang lalu pada wawancaranya menyatakan keraguannya tentang jumlah korban Holokos. Tidaklah mengherankan bila rabbi ini kecewa dengan penyataan Paus Benedict yang adalah kepala dari semua gereja-gereja Katolik.

Seorang pengamat sejarah dan doktrin Roma Katolik di dalam pembuktiannya mengenai keterlibatan Roma Katolik dan Vatikan dengan rajim Nazi menulis sebagai berikut:  Joseph Ratzinger, yang sekarang adalah Paus Benedict XVI, ketika ia masih bertugas sebagai penasehat tingkat tinggi untuk Paus Yohanes Paulus II, menyatakan bahwa  “ … pengalaman yang sangat menyakitan dari Shoah (Holokos) adalah perbuatan kejahatan di dalan nama sebuah ideology anti-Kristen, … memukul secara kasar iman Kristen yang berakar pada Abraham di dalam orang Israel,” dikutip dari “Ucapan selamat untuk Kardinal Ratzinger menjadi Paus yang baru”

Pengamat ini melanjutkan cerita dari apa yang ia temukan, tulisnya

”Bukti menunjukkan bahwa:

  1. Hirarki gereja Katolik, bertindak di bawah perintah Vatikan [kekuasaan politik atau negara], telah berperan penting di dalam pembuatan Hitler diktator Jerman.
  2. Setelah itu, hirarki Katolik aktif di dalam  pergerakan-pergerakan Nazi diluar Jerman, contohnya di [negara-negara] Balkan.
  3. Meskipun pada Yad Vashem [Museum Holokos di Israel], di tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II menggambarkan Nazi sebagai ”sebuah ideologi yang tidak berke-elohiman”, Vatikan memerintahkan para Katolik Jerman untuk mengasihi, menghormati, mentaati dan melindungi para Nazi.

Dan beberapa penulis buku yang meneguhkan keterkaitan Vatikan dengan Nazi:

  • Hitler and the Vatican oleh Peter Godman
  • Hitler’s Pope oleh John Cornwelll
  • Hitlers Cross oleh Erwin W. Lutzer
  • The cost of discipleship oleh Dietrich Bonhoeffer
  • Bonhoeffer, oleh Eberhard Bethge

Bacaan berkait:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog