Menemukan jaminan jawaban doa, kesakisan hidup Profesor Charles Finney


Elohim bukanlah manusia sehingga Dia berdusta; juga bukan seorang anak manusia sehingga Dia menyesal! Apakah setelah Dia berfirman dan Dia tidak melakukannya; dan setelah Dia berbicara maka Dia tidak menegakkannya? Bilangan 23:19

Prof. Charles Grandison Finney

Prof. Charles Grandison Finney

Pendahuluan: Dunia Penginjilan mengenal baik Charles Grandison Finney (1792-1875). Ia dikenal sebagai Bapa Rivivalisme Modern. Ia seorang mahasiswa hukum yang dipanggil Elohim menjadi Pengkotbah yang penuh kuasa, bapa kebangunan rohani modern, professor Theologi, tokoh reformasi kemasyarakatan (pendidikan bagi wanita, dan orang kulit hitam serta pembela anti-perbudakan), dan seorang president dan dosen dari sebuah kampus. Ia memiliki cukup pengetahuan dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Kehidupan dan kotbahnya menjangkau semua tingkat sosial masyarakat.

Artikel ini menceritakan bagaimana pemuda Charles dari seorang mahasiswa yang sekuler dan rasional, menjadi seorang yang sangat yakin bahwa Elohim – yang adalah Roh (tidak kelihatan) – adalah eksis, dan terpenting dari semuanya, bagi para pembaca, ialah dia telah menemukan kunci rahasia untuk jaminan bagi jawaban doa-doa umat-Nya.
Kesaksian perjalan hidup masa muda Charles Finney ini bagus untuk siapapun Anda yang serius mencari Kebenaran sejati:
Bagus bagi orang Kristen, yang masih bergelut dengan doa-doa yang belum terjawab,
Bagus bagi orang Muslim, yang rajin berdoa 5 kali sehati, namun belum memiliki jawaban dari permohonan Anda.
Bagus bagi orang Atheis, yang masih tetap mempertanyakan “benarkah Elohim itu eksis, dan berkuasa atas semua ciptaan-Nya?”
Bagus bagi orang Buddha maupun Hindu, yang merindukan kehidupan rohani – mengalami jamahan kasih dan kuasa supernatural dari Elohim yang hidup.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kesaksian Professor Faouzi (David) Arzouni ex-Muslim Sinegal menjadi pengikut Yeshua Ha Mashiah


Kesaksian ex-Muslim Professor Faouzi (David) Arzouni Professor David Arzouni, dikenal sebagai Faouzi (nama lamanya), lahir dan besar di Dakar, Sinegal dari keluarga Islam Sunni, ia sendiri berlatar belakang Islam Shia. Melalui pelayanan dari Missionari Don Corbin dan Pendeta John Hall, ia diperkenalkan kepada Yeshua Ha Mashiah. David dan Linda, isterinya, telah bertugas sebagai missionari di Afrika Barat, 16 tahun di Ivory Coast dan 21 tahun di di negara Islam Mali, di kedua tempat ini mereka bertugas sebagai pembuka jalan. Di Mali, ia mulai dari dua orang jemaat sekarang telah mencapai 70 gereja lokal. Kebahagiannya bertambah lagi sebab saat ini 3 saudara laki dan 2 perempuannya telah menjadi pengikut Yeshua juga dan bahkan kemudian ayahnya sendiri yang ingin membunuhnya juga telah menjadi satu iman dengan dirinya.
David lulusan sekolah theologia Bethany Bible College di Santa Cruz, California Amerika Serikat. Situsnya bernama http://www.arzouni.com/

Catatan dari Moderator Senjata Rohani: kesaksian tulisan pribadi Professor Faouzi di bawah ini berasal dari dua kesaksian videonya; David Arzouni’s Testimony  dan Faouzi Arzouni tinggalkan agamanya untuk mengikut Isa Al-Masih
Video pertama tanpa disertai terjemahan text Indonesia, yang kedua ada. Video pertama ia bercerita banyak tentang masa kecilnya, bagaimana ia bergumul dengan masalah kehidupan, dan tidak menemukan jawaban di dalam agama yang ia tekuni.  Sekarang ia bisa mengatakan bahwa Adonai Yeshua bukanlah sekedar Mashiah (Yang Diurapi) lebih dari itu Dia adalah Juruselamat.
Untuk penyeragaman sebutan, maka kata dan ”Isa al-Masih” ditulis menjadi ”Yeshua Ha Mashiah” dan “Lord” ditulis “Adonai,” sedangkan ”Allah” ditulis menjadi ”Elohim,” kecuali pada ayat di Kuran kata Allah tidak dirubah. Elohim memberkati Anda. Salam, Anggur Baru.
Mazmur 14:1-2 ”Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Elohim.” Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik. YAHWEH memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Elohim.”
Latar belakang pribadi Professor David (Faouzi) Arzouni.
Kesulitan hidup sejak kecil dalam keluarga di negara asing, ditambah sikap penolakan yang ia terima dari penduduk setempat, membuat ia menjadi remaja yang tertekan dan menjadikan dia nakal yang membawa ia kemeja pengadilan dimana hakim mengukum dia dengan 6 tahun hukuman penjara. Di sel, ia menyesali pebuatannya dan berjanji dengan dirinya sendiri untuk menjadi seorang Muslim yang benar. Setelah keluar dari penjara dan kembali kepada keluarga (rumah ayahnya, kedua orang tuanya bercerai ketika Faouzi berumur 4 tahun) ia menepati janjinya – mendalami dan tekun di dalam ISLAM lebih daripada sebelumnya.
Ia memasuki sekolah tinggi di sebuah sekolah Katolik. Suatu hari di kamar mandi rumahnya ia bermain-main dengan air menbuat tanda salib dengan air meniru orang katolik, tanpa mengetahui bahwa ayahnya memperhatikan perbuatannya. Ia sungguh terkejut dengan reaksi keras ayahnya.
Ayahnya segera menangkap tangannya, lalu menggoncangkan badannya dengan keras, dan menaboknya seta mengutikinya. Ayahnya mengancam akan membunuhnya jika ia berbuat itu lagi.
Rasa ingin tahunya muncul tentang “apa itu ajaran Kristianiti,” temannya menasehati untuk pergi menjumpai seorang pendeta Libanon dari Kristen Marronaite di Dakar. Segera setelah pendeta ini tahu bahwa ia seorang Shia dari keluarga Sunni, pedeta ini dengan ketakutan mengusir dia dan minta jangan kembali lagi. Faouzi sungguh kecewa.
Lalu ia masuk ke gedung gereja Katolik dengan sembunyi-sembunyi, ia melihat banyak patung-patung, ketakutannya tentang ‘Kristianiti’ sebagai agama penyembah berhala meneguhkan apa yang ia pernah dengar. Dari semua kekecewaan perjalanan keagamaan tersebut ia mulai menjadi ”tidak percaya adanya Elohim.”
Suatu hari ia bertemu teman lamanya, yang ia pernah dengan telah menjadi Kristen. Faouzi menggerutu kepada temannya ini bahwa Elohim pribadi tidak perduli, temannya menjawab dengan sederhana bahwa sesungguhnya semua masalah dirinya itu adalah ”terpisahnya ia dengan Elohim oleh karena dosa-dosanya sendiri.”
Suatu hari ini bertemu seorang gadis, yang bertanya kepadanya ”Apakah kamu pernah membaca Alkitab?” Tertarik dengan gadis ini, ia menerima sebuah Alkitab dari gadis tersebut.
Suatu ketika, ia tertarik untuk membaca Alkitab tersebut. Secara sembarangan ia membukanya, terbuka pada kitab Mazmur pasal 14 dan mulai membaca: ”Orang bodoh berkata tidak ada Elohim …,” lalu membuka kitab lainnya – kembali dengan sembarangan terbuka pada kitab Roma bercerita hal yang meneguhkan dari pembacaan sebelumnya, “seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak, ….” Ia sungguh tertemplak dan menyadari dirinya yang kotor. Faouzi sejak itu rindu mencari lebih tahu tentang Kristianiti.
Dari sini ia mulai mencari seorang hamba YAHWEH yang bisa membimbingnya.
Bagaimana saya menjadi pengikut Yeshua Ha Mashiah?
Perjalananku pada intinya adalah perjalan dari agama ke perdamaian (reconciliation), dari agama ke penebusan (redemption)
Saya gambarkan perjalanan hidup saya, dalam proses menjadi pengikut Yeshua Ha Mashiah, sebagai perjalan dari ritual ke perdamaian. Dan ini sangat penting, karena saya dibesarkan dalam pedoman agama Islam. Saya tumbuh dan memeluk agama Islam dengan seluruh hatiku, sebaik yang bisa dilakukan sebagai seorang anak kecil di keluarga Muslim.

Saya lahir dan bertumbuh di Senegal, Afrika Barat, dari sebuah keluarga Libanon, beragama Shia Muslim dan kami mengikuti pedoman dalam Kuran dan Hadis-hadis sebaik mungkin. Keluarga kami sangat beragama dalam semua aspek. Jadi, mengapa saya butuh lebih dari yang kami telah miliki? Saya tidak pernah membutuhkan apa-apa. Sampai krisis kehidupan yang saya alami dan yang juga dialami semua orang, pada suatu waktu.
Membuat saya bertanya tentang beberapa hal terpenting dalam hidup:
Siapa saya?
Kenapa saya dilahirkan?
Apa artinya keberadaanku di dunia ini?
Mengapa ada masalah ini?
Mengapa kita mengalami pergumulan dalam hidup?
Itulah sifat alami dalam manusia.
Untuk bergumul mencari jawaban dan untuk mencari belas kasihan Adonai dan berkata, “Adonai, kenapa?” Adonai, kenapa aku? Apakah saya telah berbuat salah waktu kecil?” orang tuaku bercerai dan keluargaku berantakan. Kenapa kami mengalami pergumulan ketika sedang bertumbuh? Kenapa seorang dari latar belakangku membenci orang berkulit hitam?
Dan kenapa walaupun kami semua Muslim, kami semua tidak ada yang akur? [sama agama tapi lain aliran]. Saya mulai mengerti saat saya sangat muda bahwa walaupun dengan pembicaraan mulai kami tentang Allah dan agama dalam keluarga, semua itu tidak menutup pintu kesengsaraan dan kerusakan yang dibawa masuk oleh dosa ke keluarga kami dan kehidupan masa mudaku. Saya mengalami semua ini.
Lalu saya mulai berupaya untuk mereformasi hidupku karena saya mengira semua yang telah saya alami, semua hal buruk yang saya alami, terjadi karena saya bukanlah muslim yang baik. Saya pun mulai membentuk kembali (reform) hidup saya dengan bersikap lebih hati-hati, lebih membaca Kuran, mencoba mengikuti semua tradisi dan tentu melakukan segala ritual dan apapun yang diharuskan.
Tapi tahu tidak ada yang terjadi padaku? Semakin saya melakukan semua itu, semakin saya mencoba, semakin saya menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang salah. Apakah masalahnya ada di dalam hidup saya? Atau saya tidak melakukannya dengan benar? Lalu saya mulai memperhatikan orang-orang lain. Saya memperhatikan siapa saja yang mengaku Muslim, baik Muslim fundamentalis atau Muslim gagal. Dari satu ke yang lain. Saya lihat secara keseluruhan semua jenis Muslim yang mungkin ada, dan saya memperhatikan ada hal yang sama dalam hidup mereka dengan apa yang ada pada hidupku. Yaitu,
• bahwa tidak ada kepastian pengampunan dosa,
• bahwa tidak ada damai yang sejati walaupun kami selalu berbicara tentang kedamaian, dan
• bahwa sejujurnya dalam hati saya dan juga hati teman-temanku yang muslim waktu itu, walaupun kami mengucapkan 5x sehari dan ribuan kali disaat lain “Ar-Rahman Ar-Rahim,” kami tidak pernah benar-benar yakin kalau Allah ada di sisi kami. Kami tidak tahu apa yang dia telah tetapkan untuk kami. Kami tidak memiliki kepastian sama sekali.
Di menit 4:08  pada video ini, setelah ia berkata ”Ar-Rahman Ar-Rahim” di layat video muncul ayat Kuran 7:99:  ”maka apakah mereka merasa aman dari tipu daya (makr) Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari tipu daya (makr) Allah kecuali orang-orang yang merugi.” Terjemahan Pickhall untuk makr adalah ”scheme” (plot something harmful) ” … None deemth himself secure from Allah’s scheme save folk that perisih (tidak ada seorangpun yang dapat aman dari scheme-nya Allah untuk menyelamatkan mereka yang binasa.)
Dan dalam situasi ini, pergumulan untuk mengubah diri, membuat (saya merasa) kesepian, sendiri, dan terasa sangat sulit. Yang mana, tidak hanya saya saja yang gagal, tetapi semua Muslim yang saya kenal juga gagal.
Kami semua tahu bagaimana berpura-pura beragama dan berbicara secara fasih tentang masalah-masalah jika memang perlu. Namun, sebenarnya Elohim melihat hati kami. Dan Dia melihat hatiku dan saya lihat hatiku sendiri dan saya tahu bahwa saya tidak menemukan jawaban yang saya cari di dalam agama. Apa lagi selain, cara kehidupan? Apa lagi selain iman? Apa lagi perlu saya lakukan supaya saya bisa naik ke tingkatan selanjutnya, ke langkah berikutnya. Saya tidak tahu, kemana saya harus berpaling?

 

Pesan Yeshua Ha Mashiah
Apa yang Yeshua Ha Mashiah berikan dihadapan kita, bukanlah hanya sekumpulan peraturan atau hukum, perbuatan-perbuatan yang bisa dibawa supaya kita layak untuk dihargai dan berikan hadiah, seperti doa atau memberi zakat atau yang lainnya, Yeshua Ha Mashiah datang untuk mengajari kita bahwa yang kita butuhkan adalah suatu hubungan, bukan agama.
Dan hubungan tidak bisa terjadi antara Elohim dan kita, ketika kita belum memiliki pendamaian sejati antara kita dengan Elohim. Ini harus dimulai dengan adanya pendamaian di dalam hati. Ini yang saya dapat dari pesan Yeshua Ha Mashiah, yang seseorang ceritakan padaku.
Pertama kali orang itu berbicara kepadaku, saya marah sekali. Saya bilang, “Jangan pernah bicara soal itu lagi! (Kamu pikir) siapa kamu?” dan saat itulah saya belajar ada perbedaan besar antara mereka yang mengaku mengikuti Alkitab dan pangikut Yeshua Ha Mashiah yang sejati. Orang yang berbicara pada saya adalah pengikut Yeshua Ha Mashiah yang sejati.

Saya ingat pertama kalinya saya mendengar seseorang berkotbah tentang injil. Dan pria yang memberi kotbah tentang itu, saya tidak pernah lupakan. Bagaimana dia mengangkat buku itu, Alkitab, yang berisikan semua wahyu-wahyu suci dari Tuhan dari Taurat sampai Injil. Dan dia mulai mengatakan, “Elohim adalah yang memberi janji-janji dan menepati janji-janji-Nya. Dan Dia-lah yang menjamin bahwa kita bisa berpegang pada Firman-Nya.”

Itu adalah kata-kata yang menghiburku, karena dia mengatakan bahwa hal-hal yang Elohim katakan yang tidak mungkin sekedar main-main, yang sungguh-sungguh memberikan kepastian. Karena saya besar di suatu sistem yang di dalamnya saya tidak pernah yakin kalau Elohim benar-benar ada di sisiku. Saya diajari bahwa Allah lebih dekat kepadaku dari pada urat leherku tetapi setelah aku membaca Kuran untuk membaca ayat tersebut ternyata ini bukanlah berbicara soal kedekatan yang penuh kasih lebih lemah lembut kepadaku tetapi suatu peringatan kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak taat. Jadi saya berada dalam ketakutan bukan dalam kedamaian.

Hari itu, di antara janji-janji yang saya dengar, salah satunya yang diberikan kepada kita, di dalam kitab Kisah Para Rasul fasal ke 4 yang berbunyi: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12) Dialah satu-satunya yang bisa memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan, korban yang Elohim telah siapkan. Keyakinan itu menusuk hatiku. Itu bukan sesuatu yang saya cari. Saya tidak berpikir ke sana. Dan terpujilah YAHWEH! Ini bukanlah suatu ajakan untuk pindah agama. Tidak, ini bukan soal itu.
Ini bukan soal agama, ini soal pendamaian (reconciliation) , inilah pesan dari Injil, (artinya: Berita Suka cita). Inilah yang dibawa Yeshua Ha Mashiah: Pendamaian.
Jadi saat ini, kepada siapa saja yang mendengarkan, saya ingin bersaksi. Bahwa sungguh Injil itu Benar, “….(mengutip sebuah pernyataan doktrin Kristen dalam bahasa Arab)…” yang artinya “Tidak ada ilah lain kecuali Elohim, dan tidak ada perantara lain antara manusia dan Elohim kecuali Yeshua Ha Mashiah, Anak Manusia (The Man).”
Dan itulah yang saya inginkan pastikan pada setiap pendengar, bahwa jika dengan iman, kamu menerima apa yang diberikan oleh Injil, kamu menemukan solusi hidup. Kehidupanku berubah karena kebenaran itu.
Apa yang tidak bisa ku temukan dalam agama, tidak jadi masalah apapun Anda menyebut agama tersebut, bisa agama apa saja, apa yang tidak bisa ku temukan dalam agama, saya temukan perdamaian lewat penebusan dosa dalam nama Yeshua Ha Mashiah, saya mendapat pendamaian dengan Elohim yang mengubah hatiku dan hal itu memberikan damai sejati. Dan itu kenapa saya mau mengikuti Yeshua Ha Mashiah dan kenapa saya terus mengikut Yeshua Ha Mashiah, dan kenapa saya selalu memproklamasikan kepada siapa pun, marilah berdamai dengan Elohim dalam nama Yeshua Ha Mashiah dan menjadi pengikut-Nya.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Kesaksian Walid Shoebat (Ex-terroris PLO); alasan meninggalkan Islam dan masuk Kristen


Walid Shoebat Dari Benci kepada KasihText kesaksian disalin ulang dari Sahabat Gembala blogsport.com: Kesaksian Dan Kisah Nyata Mantan Terroris Dan Militan Islam PLO Palestina Walid Shoebat Masuk Kristen: “Islam Menghasilkan Kekerasan.” Komentar dan penekanan kalimat silahkan mampir ke sumber aslinya. Huruf tebal umumnya dari sumber aslinya. Terima kasih.

part 2

[Kata Pengantar]
“Saya teringat pada satu kesempatan di Betlehem ketika para penonton yang penuh sesak di sebuah bioskop bertepuk-tangan dengan sukacita saat menonton film 21 Hari di Munich Saat kami melihat orang-orang Palestina … membunuh atlet-atlet Israel, kami…berteriak, ‘Allahu Akbar!’ Sebuah slogan sukacita.”
Salah-satu kekuatan yang paling dahsyat di dunia adalah kesaksian yang mengubah hidup. Sebagaimana Parvin dan Homa Darabi, Walid Shoebat juga mengalami jahatnya terorisme karena ia pernah menjalaninya – pada kenyataannya, ia mempraktekkannya. Sewaktu remaja, ia membom sebuah bank di Tanah Suci dan turut serta memukuli seorang tentara Israel. Ketika istrinya yang beragama Katolik menantangnya untuk mempelajari Alkitab, hatinya yang keras kemudian menjadi lembut saat ia belajar tentang anugerah, rekonsiliasi, dan kasih yang diberikan melalui pengorbanan Yeshua Ha Mashiah. Sekarang Walid menyerukan perlunya toleransi beragama dan kebebasan pribadi. Dan ia berusaha keras, berjalan dari seorang terroris menjadi seorang yang anti terroris.
Kisah Walid Shoebat dengan tajam menunjukkan pada kita apa yang akan terjadi di lingkungan kita jika kita tidak menghentikan terorisme Islam. Ia meninggalkan Islam dengan alasan yang jelas: Islam menghasilkan kekerasan. Ia takut jika kita yang hidup di dunia Barat dan negara-negara non-Muslim lainnya tidak bersatu sekarang, kita akan menghadapi kekerasan Islam yang lebih dahsyat di kemudian hari.
Saat itu terjadi, itu tidak terjadi di suatu tempat di seberang lautan – itu akan terjadi di dalam komunitas kita sendiri

[Keluarga dan masa kecil]
Mengapa Saya Meninggalkan Islam? Saya lahir dan dibesarkan di Beit Sahour, Betlehem [Beith Leḥem artinya Rumah Roti], di Tepi Barat, dalam sebuah keluarga berada. Kakek dari pihak ayah saya adalah seorang mukhtar, atau kepala suku, di desa itu. Ia adalah sahabat dari Haji Ameen Al-Husseini, Mufti Agung Yerusalem dan sahabat dekat Adolf Hitler. Kakek dari pihak ibu saya, FW Georgeson, di sisi lain, adalah sahabat dekat Winston Churchill, dan pendukung keras terbentuknya negara Israel, walau saya tidak terlalu menyadari akan hal ini sampai bertahun-tahun kemudian dalam hidup saya. Saya dilahirkan pada salah satu hari raya penting Islam, yaitu hari kelahiran Nabi Muhammad Ini adalah suatu kehormatan besar untuk ayah saya. Untuk merayakan hari itu, ia menamai saya Walid, yang berasal dari kata bahasa Arab mauled, yang artinya “kelahiran.” Itu adalah cara ayah saya untuk mengingat kenyataan bahwa putranya dilahirkan pada hari yang sama dengan kelahiran nabi terakhir dan terbesar dari semua nabi.

Ayah saya adalah seorang Muslim Palestina yang mengajar bahasa Inggris dan studi Islam di Tanah Suci. Ibu saya adalah seorang Amerika yang menikahi ayah saya pada tahun 1956 ketika ayah saya sedang studi di Amerika. Karena mereka takut akan pengaruh dari gaya hidup Amerika terhadap anak-anak mereka, saat ibu saya sedang mengandung saya, orang-tua saya pindah ke Betlehem, yang pada waktu itu adalah bagian dari Yordania Itu terjadi pada tahun 1960. Tak lama setelah orang-tua saya tiba di Betlehem, saya dilahirkan. Ketika ayah saya berganti pekerjaan, kami pindah ke Arab Saudi dan kemudian kembali ke Tanah Suci – kali ini ke dataran terendah di muka bumi: Yerikho. Saya dibesarkan dan belajar bagaimana membenci namun diselamatkan melalui teladan mengasihi yang ditunjukkan oleh ibu saya yang adalah orang Amerika, yang paham soal belas kasih, keadilan, dan kebebasan.

Saya tidak pernah melupakan lagu pertama yang saya pelajari di sekolah Judulnya adalah: “Orang-orang Arab Kekasih Kami dan Orang-orang Yahudi Anjing-anjing Kami.” Waktu itu saya baru berumur 7 tahun Saya ingat waktu itu saya bertanya-tanya siapakah orang Yahudi itu, namun bersama dengan teman-teman sekelas saya, saya mengulangi kata-kata itu tanpa benar-benar memahami apa arti yang sebenarnya.

Saya dibesarkan di Tanah Suci, saya mengalami beberapa pertempuran antara Arab dan Yahudi. Pertempuran pertama, ketika kami masih tinggal di Yerikho, adalah Perang Enam Hari, ketika orang Yahudi menaklukkan Yerusalem tua dan sisa “Palestina.” Sulit sekali menggambarkan betapa hal ini sangat mengecewakan dan mempermalukan orang Arab dan kaum Muslim di seluruh dunia. [Dokumentasi “Six Days in June” membuktikan negara-negara Arab termakan gossip Negara Rusia – bisnis senjata api].

Konsul Amerika di Yerusalem datang ke desa kami tidak lama sebelum perang itu terjadi untuk mengevakuasi semua orang Amerika di wilayah itu. Oleh karena ibu saya adalah orang Amerika, mereka menawarkan bantuan kepada kami, tapi ayah saya menolak bantuan apapun dari mereka, karena ia mencintai negerinya. Saya masih ingat banyak hal selama perang itu – suara ledakan bom yang berlangsung berhari-hari dan bermalam-malam selama 6 hari, penjarahan toko-toko dan rumah-rumah oleh orang-orang Arab di Yerikho, orang-orang mengungsi menyeberangi Sungai Yordan karena takut terhadap orang Israel.

Perang itu dinamai demikian (Perang 6 Hari) karena hanya berlangsung dalam 6 hari. Orang Israel memperoleh kemenangan atas pasukan multi-nasional Arab yang menyerang dari banyak front. Hanya pada hari ke-7 peperangan ini, Rabbi Shalom Goren, ketua rohaniwan pasukan Pertahanan Israel, mengeluarkan pernyataan yang bergema dishofar, mengumumkan kontrol Yahudi atas Tembok Barat dan kota tua Yerusalem. Banyak orang Yahudi menghubungkan peristiwa ini paralel dengan kejadian yang dicatat dalam Alkitab ketika Yosua dan bangsa Israel menaklukkan Yerikho. Yosua dan orang Israel mengelilingi tembok Yerikho selama 6 hari, dan pada hari yang ke-7, mereka mengelilingi tembok itu 7 kali. Para imam membunyikan shofar bersamaan dengan orang-orang Israel berteriak dengan satu suara. Tembok pun roboh dan orang Israel menguasai kota itu.

Seusai perang, bagi ayah saya di Yerikho, seakan-akan tembok itu telah roboh langsung menimpanya. Selama perang, ia duduk lengket dengan radio mendengarkan stasiun radio Yordan. Ia selalu berkata bahwa orang-orang Arab akan memenangkan perang itu – tapi ia mendengarkan stasiun radio yang salah. Stasiun Radio Israel mengabarkan kebenaran mengenai kemenangan telak mereka. Namun ayah saya memilih untuk mempercayai orang Arab yang mengklaim bahwa orang-orang Israel – selalu – berbohong, mengumumkan propaganda palsu Banyak diantara kita sekarang yang tentunya masih ingat menteri informasi Saddam, yang dikenal dengan “Baghdad Bob”, dan semua klaim liar dan laporan palsu yang diteriakkannya beberapa hari setelah kejatuhan Baghdad? Dalam dunia Islam, nampaknya ada hal-hal yang tidak pernah berubah.

Kemudian, pindah kembali ke Betlehem, dan ayah saya memasukkan kami ke sebuah sekolah Anglikan-Lutheran agar dapat menguasai pelajaran-pelajaran bahasa Inggris Saudara saya laki-laki dan perempuan, dan saya sendiri adalah satu-satunya orang Muslim di sekolah itu. Kami bertiga dibenci Terutama bukan karena kami orang Muslim, tetapi karena kami setengah Amerika Walaupun itu adalah sekolah Kristen, sekolah itu masih memiliki jejak kekristenan yang berwarna Islam yang mempengaruhi banyak orang Kristen Palestina hingga saat ini Agar dapat diterima – dan kadangkala hanya supaya bisa tetap hidup – banyak orang Kristen di negara-negara yang didominasi Islam mengadopsi sikap benci yang dimiliki orang Muslim di sekeliling mereka terhadap Israel, Amerika dan dunia Barat. Karena kami separoh Amerika, guru-guru seringkali memukuli kami sementara murid-murid Kristen menertawakan hal itu

Akhirnya, ayah saya memindahkan saya ke sekolah pemerintah dimana saya mulai bertumbuh kuat dalam Islam Saya diajari bahwa suatu hari penggenapan sebuah nubuat kuno oleh Nabi Muhammad akan terjadi Nubuat ini menceritakan suatu peperangan dimana Tanah Suci akan kembali ditaklukkan Islam dan eliminasi orang Yahudi akan terjadi dalam sebuah pembantaian massal Nubuat ini ditemukan dalam banyak buku suci tradisi Islam yang dikenal dengan Sahih Hadith. Tradisi ini berbunyi sebagai berikut, dan merupakan pola pikir semua pengikut Islam radikal: “[Muhammad berkata:] Saat terakhir tidak akan datang kecuali orang Muslim memerangi orang Yahudi dan orang Muslim akan membunuh mereka hingga orang Yahudi menyembunyikan diri di balik batu atau pohon dan berkata: Muslim, atau hamba Allah, ada orang Yahudi di belakang saya; datang dan bunuhlah dia; tetapi pohon Gharqad tidak akan berkata, karena itu adalah pohon orang Yahudi” (Sahih Muslim Buku 041, Nomor 6985). Jika ditanya dimana pembantaian itu akan dilaksanakan, tradisi mengatakan bahwa itu akan terjadi di “Yerusalem dan daerah sekelilingnya.”

Selama masa remaja saya, seperti ayah, saya selalu menyesuaikan diri dengan Islam dan apa saja yang diajarkan guru-guru Muslim kepada kami. Saya, seperti halnya teman-teman sekelas saya pada umumnya, sangat terinspirasi oleh visi Muhammad yang gelap dan penuh darah. Saya menyerahkan hidup saya untuk jihad, atau perang suci, untuk memenuhi penggenapan nubuat ini Saya ingin menjadi bagian dari tercapainya rencana Muhammad, ketika Islam akan memperoleh kemenangan terakhir atas orang Yahudi dan akhirnya – tanpa halangan lagi – memerintah dunia Ini adalah ideologi para mentor saya, dan ketika saya telah meninggalkan paham fanatik ini, jutaan orang di Timur Tengah masih mempercayainya, dan mereka masih berjuang untuk menjadikannya sebuah realita.

Selama masa remaja saya, sering ada kerusuhan di sekolah menentang apa yang kami sebut sebagai pendudukan Israel Sedapat-dapatnya saya berperan sebagai penghasut dan penggerak Saya bersumpah untuk memerangi musuh Yahudi, percaya bahwa dengan melakukannya saya sedang melakukan kehendak Elohim di atas bumi Saya tetap setia pada sumpah saya saat saya memerangi tentara Israel dalam setiap kerusuhan Saya menggunakan berbagai alat yang ada untuk menghasilkan kerusakan dan sakit yang sebesar-besarnya. Saya berunjuk rasa di sekolah, di jalanan, dan bahkan di Temple Mount di Yerusalem Selama sekolah menengah, saya adalah pemimpin aktivis yang memperjuangkan Islam. Saya akan mempersiapkan pidato-pidato, slogan-slogan, dan menulis grafiti anti Israel sebagai usaha untuk memprovokasi murid-murid lain untuk melempari tentara-tentara Israel yang bersenjata dengan batu.

Gema bergemuruh teriakan-teriakan kami masih jelas dalam ingatan saya:
Tidak ada damai atau negosiasi dengan musuh!
Darah dan jiwa kami kurbankan untuk Arafat!
Darah dan jiwa kami kurbankan untuk Palestina!
Matilah Zionis!

Impian saya adalah untuk mati sebagai sahid, seorang martir untuk Islam Pada saat berunjuk rasa saya akan membuka baju saya berharap untuk ditembak, tetapi karena orang Israel tidak pernah menembaki tubuh, saya tidak pernah berhasil Ketika gambar-gambar sekolah diambil, saya dengan sengaja berpose dengan wajah yang cemberut mengantisipasi bahwa pada koran berikut wajah sayalah yang akan dimuat sebagai martir berikutnya Banyak kali saya hampir terbunuh waktu unjuk rasa siswa dan kerusuhan dengan tentara Israel Jantung saya berdebam; tak ada yang dapat menyingkirkan keinginan saya –kebencian dan kemarahan saya – selain dari mujizat Saya adalah salah seorang dari orang-orang muda yang mungkin anda lihat di CNN melempar batu dan bom molotov pada hari-hari Intifada atau “kebangkitan.”
Pada waktu itu, saya akan membenci label itu; tapi sebenarnya saya adalah seorang terroris muda. Pencucian otak dengan paham Islam-Nazi oleh para guru dan imam – dalam keseluruhan budaya saya – mencapai pengaruh yang dicita-citakannya.

Apa yang saya ketahui sekarang adalah bahwa saya tidak hanya menterror orang lain, tetapi dalam banyak hal, saya sedang menterror diri saya sendiri dengan apa yang saya percayai. Perjuangan utama saya adalah untuk mendapatkan nilai yang cukup – untuk membangun catatan terror yang hebat – agar disukai Allah Saya hidup dengan takut akan penghakiman dan neraka dan berpikir bahwa hanya dengan bersikap jahat seperti itu saya mempunyai kesempatan untuk masuk janna (surga, atau nirwana).

“Keselamatan melalui perbuatan baik diri sendiri  adalah salah satu ciri khas sebuah agama, yang tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali kepuasan palsu dan fana” – Anggur Baru.

Saya tidak pernah yakin bahwa semua “perbuatan baik” saya dapat melebihi perbuatan-perbuatan jahat saya jika ditimbang pada Hari Penghakiman.
Saya tidak hanya digerakkan oleh kemarahan dan kebencian, tetapi juga oleh rasa tidak aman dan ketakutan secara spiritual. Saya percaya pada apa yang telah diajarkan pada saya: cara yang paling pasti untuk meredakan kemarahan Allah terhadap dosa-dosa saya adalah dengan mati memerangi orang Yahudi. Mungkin, jika saya berhasil, saya akan diberi pahala tempat khusus di Surga dimana wanita-wanita cantik bermata besar akan memenuhi hasrat saya yang terdalam.

Sulit untuk menggambarkan sampai pada tahap seperti apa pencucian otak yang dialami orang seperti saya, yang dibesarkan di bawah sistem pendidikan Palestina Semua pihak berotoritas menyuarakan pesan yang sama: pesan Islam –jihad atau kebencian terhadap orang Yahudi – dan hal-hal lain yang seharusnya tidak berkuasa atas pikiran orang muda.

Saya teringat satu kejadian di Sekolah Menengah Dar-Jaser di Betlehem saat sedang studi tentang Islam, ketika salah seorang teman kelas saya bertanya kepada guru apakah seorang Muslim diijinkan memperkosa wanita Yahudi setelah mengalahkan mereka. Jawabannya adalah, ”Wanita yang ditangkap dalam pertempuran tidak mempunyai pilihan dalam hal ini, mereka adalah gundik-gundik dan mereka harus menaati tuannya. Berhubungan seks dengan budak tawanan bukanlah “sebuah pilihan bagi para budak.”
Ini bukanlah pendapat guru itu semata-mata, tetapi jelas sekali diajarkan di dalam Qur’an: “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.” Surah 4:24. [Mungkin filosofi ini dapat dibenarkan dalam dunia politik dan perang, namun dalam dunia moral TIDAK dapat dibenarkan sama sekali; berzinah (bersetubuh dengan bukan isteri sendiri) adalah berzinah, Alkitab berkata!].

Dan juga dikatakan dalam Qur’an: “Hai Nabi, sesungguhnya kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang Mukmin.” Surah 33:50.

Kami tidak mempermasalahkan soal Muhammad mengambil keuntungan dari hak istimewa ini saat ia menikahi sekitar 14 istri dan mempunyai beberapa budak wanita yang dikumpulkannya sebagai rampasan beberapa perang yang dimenangkannya. Kami tidak benar-benar tahu berapa banyak istri yang dimilikinya dan pertanyaan itu senantiasa merupakan hal yang kami perdebatkan. Salah seorang dari istri-istrinya diambil dari anak angkatnya sendiri, yaitu Zayd Setelah Zayd menikahi wanita itu, Muhammad tertarik padanya Zayd memberikannya kepada Muhammad, tetapi Muhammad tidak menerima pemberian Zayd itu hingga turunlah wahyu dari Allah Istri-istri Muhammad yang lainnya adalah para tawanan Yahudi yang dipaksa menjadi budak setelah Muhammad memenggal kepala para suami dan keluarga mereka Inilah hal-hal yang kami pelajari dalam studi kami mengenai Islam di sekolah menengah. Inilah orang yang harus kami teladani dalam segala hal. Inilah nabi kami, dan dari dia dan perkataannyalah kami belajar untuk membenci orang Yahudi.

Saya teringat pada satu kesempatan di Betlehem ketika para penonton yang penuh sesak di sebuah bioskop bertepuk tangan dengan sukacita saat mereka menyaksikan film 21 Hari di Munich Saat kami menyaksikan orang-orang Palestina melempar granat ke dalam helikopter dan membunuh para atlet Israel, kami semua – ratusan penonton – berteriak, “Allahu akbar!” sebuah slogan sukacita.

Dalam suatu usaha untuk mengubah hati orang Palestina, stasiun televisi Israel menayangkan film dokumentasi mengenai Holocaust. Saya duduk dan menonton, menyoraki orang Jerman sambil makan pop corn. Hati saya begitu keras, mustahil bagi saya untuk mengubah sikap saya terhadap orang Yahudi, kecuali melalui “pencangkokan hati.”

Oleh karena kemurahan Elohim, saya memiliki sesuatu yang hanya dimiliki oleh sedikit dari teman-teman sekelas saya. Saya mempunyai seorang ibu yang berbelas kasih dan memiliki suara yang lembut – dengan sabar berusaha menggapai saya di tengah-tengah hiruk pikuk suara kebencian yang menulikan di sekitar saya. Ia berusaha mengajari saya di rumah tentang apa yang disebutnya dengan “rencana yang lebih baik.” Namun demikian, pada waktu itu apa yang diajarkannya hanya berdampak sedikit pada saya, karena tekad saya sudah teguh – saya akan hidup atau mati memerangi orang Yahudi. Tetapi seorang ibu tidak pernah menyerah.

Saya tidak menyadarinya waktu itu, tetapi ibu saya telah dipengaruhi oleh sepasang misionaris Amerika. Ia bahkan telah dengan diam-diam meminta mereka untuk membaptisnya. Namun, ketika ia menolak untuk dibaptis di kolam yang penuh dengan ganggang hijau, pendeta misionaris itu harus meminta YMCA di Yerusalem untuk mengosongkan kolam yang dikhususkan untuk pria, dan kemudian ibu saya dibaptis disana. Tak seorang pun anggota keluarga kami mengetahuinya.

Seringkali ibu mengajak saya mengunjungi berbagai museum di Israel. Ini berdampak positif pada saya dan saya jatuh cinta pada arkeologi. Saya terpesona pada arkeologi. Dalam banyak argumentasi saya dengan ibu, secara langsung saya katakan padanya bahwa orang Yahudi dan orang Kristen telah berubah dan memalsukan Alkitab. Ia menanggapinya dengan membawa saya ke Museum Gulungan Kitab di Yerusalem dimana ibu menunjukkan pada saya gulungan kuno kitab Yesaya – masih utuh. Ibu saya berhasil menyampaikan argumennya tanpa berkata-kata. Walaupun ibu berusaha mencapai saya dengan sabar dan lembut, saya tidak tergoyahkan. Saya akan menyiksanya dengan hinaan. Saya menyebutnya seorang “kafir” [Mat 5:22] yang mengklaim bahwa Yeshua adalah Anak Elohim dan saya menyebut ibu “seorang penjajah terkutuk Amerika.” Saya menunjukkan padanya gambar-gambar di surat kabar tentang semua remaja Palestina yang telah menjadi “martir” sebagai akibat dari perselisihan dengan tentara Israel dan saya menuntut ibu untuk memberikan jawaban. Saya membencinya dan meminta ayah untuk menceraikannya dan menikahi seorang wanita Muslim yang baik.

Di samping semua hal ini, ibulah – ketika saya dijebloskan ke Penjara Muscovite di Yerusalem – yang pergi ke konsulat Amerika di Yerusalem dan berusaha untuk mengeluarkan saya. Penjara Muscovite dulunya adalah kamp Rusia yang digunakan sebagai penjara pusat di Yerusalem bagi mereka yang kepergok menghasut orang untuk melakukan kekerasan terhadap Israel. Ibuku yang kekasih sangat kuatir akan arah hidup yang saya ambil sehingga rambutnya mulai rontok. Kekuatirannya bukannya tanpa alasan. Selama saya di penjara saya menjadi anggota kelompok terror Fatah milik Yasser Arafat. Tak lama kemudian, saya direkrut oleh seorang pembuat bom yang sangat terkenal dari Yerusalem yang bernama Mahmoud Al-Mughrabi.

Sudah tiba saatnya bagi saya untuk melakukan yang lebih besar daripada sekadar protes dan membuat kerusuhan Al-Mughrabi dan saya berencana untuk bertemu di Jalan Bab-El-Wad di Klub Bela Diri Judo-Star yang dikelola ayahnya di dekat Temple Mount di Yerusalem Ia memberi saya bahan peledak yang rumit yang telah dirakitnya sendiri. Saya harus menggunakan bom – bahan peledak yang disembunyikan dalam seketul roti – untuk meledakkan cabang Bank Leumi di Betlehem. Mahmoud menolong saya menyelundupkan bom itu, seperti halnya Wakf Muslim – polisi agama di Temple Mount. Dari Temple Mount, saya berjalan keluar menuju podium dengan bahan peledak dan pengatur waktunya di tangan saya. Kami berjalan di sepanjang Dinding Ratapan dan menghindari semua titik pemeriksaan. Dari sana, saya berjalan ke stasiun bis dan naik bis ke Betlehem Saya sudah sangat siap untuk menyerahkan hidup saya jika memang harus demikian. Saya berdiri di depan bank itu dan tangan saya sudah benar-benar siap untuk meledakkan bom di pintu depan, ketika saya melihat beberapa anak Palestina berjalan di dekat bank.

Pada saat terakhir, saya malah melemparkan bom itu ke atap bank. Dan saya berlari. Ketika saya sampai di Church of the Nativity (gereja yang dibangun di tempat Yeshua dilahirkan-Red; [Ini hanya keyakinan tradisi agama Katolik, tepatnya ini adalah kuil Tamus]), saya mendengar ledakan. Saya sangat ketakutan dan sangat depresi sehingga saya tidak dapat tidur berhari-hari. Saya hanyalah seorang remaja berusia 16 tahun. Saya bertanya-tanya apakah saya telah membunuh orang hari itu. Itulah kali pertama saya mengalami bagaimana rasanya memiliki tangan yang berlumuran darah. Saya tidak menikmati apa yang telah saya perbuat, tetapi saya merasa harus melakukannya karena itu adalah tugas saya.

Kisah yang akan saya ceritakan pada anda berikut ini juga merupakan pergumulan. Itulah kali pertama saya berusaha untuk membunuh seorang Yahudi. Seperti jutaan belalang, batu-batu beterbangan dimana-mana saat kami bertikai dengan tentara Israel. Sekelompok orang dari pihak kami telah menyalakan api dengan cara membakar ban untuk digunakan sebagai blokade Seorang tentara terluka kena lemparan batu. Ia mengejar anak yang telah melemparinya. Namun kami berhasil menangkap tentara itu. Bagaikan segerombolan binatang liar, kami menyerangnya dengan apa saja yang ada di tangan kami. Saya memegang pentungan dan saya menggunakan pentungan itu untuk memukuli kepalanya sampai pentungan itu patah. Seorang remaja lain memegang tongkat dengan paku-paku yang mencuat keluar. Ia terus memukuli kepala tentara yang masih muda itu hingga ia berlumuran darah. Kami hampir saja membunuhnya. Ajaibnya, seakan-akan dengan didorong ledakan adrenalin yang terakhir, dia lari sekencangnya menyeberangi blokade ban-ban berapi dan berhasil lolos ke seberang dimana para tentara Israel menggotong dan menyelamatkannya. Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan kekuatan itu. [Lihat: Mujizat-mujizat atas Israel abad-modern]

Tapi sekarang saya merasa senang karena ia berhasil melarikan diri. Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, sulit sekali bagi saya mengekspresikan bagaimana saya sangat menyesal dan pedih jika mengingat bahwa saya pernah melakukan hal-hal seperti itu. Sekarang saya bukan orang yang sama seperti waktu itu.

[Kuliah ke Amerika, jihad bawah tanah di USA, ditantang untuk membuktikan ‘Alkitab telah dipalsukan’]
Setelah saya menyelesaikan sekolah menengah atas, orang-tua saya mengirim saya ke Amerika untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Saya masuk di sekolah yang kemudian dikenal dengan Loop College, yang terletak di jantung kota Chicago Ketika saya tiba disana, saya langsung terlibat dengan banyak acara sosial politik yang anti Israel. Saya masih benar-benar percaya bahwa akan datang harinya dimana seluruh dunia akan tunduk kepada Islam dan kemudian dunia akan menyadari betapa dunia sangat berhutang kepada orang-orang Palestina yang telah mengalami banyak kehilangan oleh karena mereka adalah barisan terdepan dalam perang Islam melawan Israel.

Loop College dipenuhi oleh berbagai organisasi Islam Ketika saya berjalan ke kantin, rasanya seperti masuk ke sebuah kafe Arab di Timur tengah. Berbagai kelompok Islam beroperasi di luar jam sekolah pada waktu itu, tiap kelompok bersaing untuk merekrut siswa lain. Dengan segera saya mengabdikan tenaga saya untuk melayani sebagai seorang aktifis PLO – Organisasi Pembebasan Palestina. Secara resmi saya harus bekerja sebagai penerjemah dan konselor bagi siswa-siswa Arab melalui sebuah program Amerika yang disebut CETA (Comprehensive Employment and Training Act) dimana saya dibayar dengan bantuan dari pemerintah Amerika Serikat. Namun, sebenarnya, apa yang saya lakukan, meliputi menerjemahkan iklan-iklan untuk acara-acara yang bertujuan memenangkan simpati orang Amerika atas perjuangan Palestina.

Kenyataannya, “memenangkan simpati” adalah ekspresi yang palsu. Kami berusaha untuk mencuci otak orang-orang Amerika – semua yang kami pandang sangat mudah tertipu. Dalam bahasa Arab, iklan-iklan untuk acara-acara semacam itu dengan terang-terang menggunakan jihadist, sebuah deskripsi anti semitis seperti: “Akan ada sungai darah…Datang dan dukunglah kami untuk mengirim siswa-siswa ke Selatan Libanon untuk memerangi orang Israel…” Di lain pihak, dalam versi bahasa Inggris, kami akan menggunakan deskripsi yang halus dan tidak merusak, seperti: “pesta budaya Timur tengah, datanglah dan bergabung dengan kami, kami akan menyajikan domba gratis dan baklava…” Waktu itu tahun 1970. [Lihat: Orang Islam boleh berbohong demi membela Allah?]

Kemudian terjadilah  peristiwa Septembar Hitam. September Hitam adalah bulan yang dikenal di seluruh Timur Tengah sebagai saat ketika Raja Hussein dari Yordania bergerak menggagalkan sebuah usaha PLO di Yordania meruntuhkan kekuasaannya sebagai raja. Banyak orang Palestina terbunuh dalam konflik yang berlangsung hampir setahun lamanya itu hingga bulan Juli 1971. Hasil akhir dari semua ini adalah pengusiran PLO dan ribuan orang Palestina dari Yordania masuk ke Lebanon.

Tentu saja, konflik itu berkembang dan mempengaruhi berbagai organisasi siswa Arab di Loop College. Saya sangat kecewa dan frustrasi menyaksikan hal ini, karena saya menyadari bahwa tanpa persatuan, tujuan jihad di Amerika tidak akan berhasil. Pada saat itulah saya bergabung dengan Al-Ikhwan – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood).

Persaudaraan Muslim adalah organisasi yang membawahi sejumlah organisasi teroris lainnya di seluruh dunia. [Penebalan dan garis bawah dari sumber aslinya; Editor]. Saya tidak sendirian saat bergabung dengan Persaudaraan ini; ada ratusan siswa Muslim lain dari seluruh penjuru Amerika yang juga bergabung ketika itu. Saya percaya bahwa bekerja sebagai seorang aktifis untuk Persaudaraan Muslim adalah cara yang terbaik untuk membawa kesatuan diantara orang Muslim; bukan Muslim Palestina atau Muslim Yordania, melainkan satu ummat Muslim – satu komunitas Muslim universal – di bawah satu payung Islam. Hingga akhirnya, seorang sheikh Yordania bernama Jamal Said datang ke Amerika untuk merekrut siswa-siswa. Pertemuan perekrutan itu diadakan di gudang bawah tanah atau dengan menyewa kamar hotel. Para siswa Muslim berkumpul dari seluruh penjuru Amerika untuk menghadiri pertemuan itu dan mendengarkan Sheikh Jamal Said Jamal memiliki status dan reputasi yang legendaris. Dia adalah sahabat Abdullah Azzam, yang terkenal di seluruh Timur tengah sebagai mentor dari Osama Bin Laden.

Orang seringkali bertanya pada saya apakah menurut saya ada kelompok-kelompok sel teroris yang beroperasi di Amerika. Tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok itu memang ada. Sementara banyak mahasiswa Amerika di tahun 70-an bereksperimen dengan narkoba, memprotes pemerintah mereka, dan berpartisipasi dalam melahirkan gerakan “anak bunga”, mereka tidak memperkirakan adanya revolusi bawah tanah lainnya yang dilahirkan oleh para siswa Muslim radikal di seluruh negeri itu. Di dalam Islam, diajarkan bahwa jika seorang Muslim memasuki sebuah negara untuk menaklukkannya bagi Allah, ada beberapa tahapan sebelum mencapai “invasi” itu jika anda menginginkannya. Itu adalah tahap-tahap awal dari gerakan paling subversif yang akan dialami oleh negara itu. Itulah kelahiran gerakan jihadis di Amerika.

Akhirnya saya pindah ke California, dimana saya bertemu dengan istri saya, seorang Katolik dari Meksiko. Saya ingin mentobatkannya kepada Islam. Saya mengatakan padanya bahwa orang Yahudi telah memalsukan Alkitab dan ia meminta saya untuk menunjukkan beberapa contoh pemalsuan itu. Ia menantang saya: ia menantang saya untuk mempelajari Alkitab itu sendiri supaya saya sendiri melihat apakah semua yang telah diajarkan kepada saya mengenai Alkitab dan orang Yahudi itu benar atau tidak. Itu membuat saya memulai sebuah perjalanan yang mengubah hidup saya secara radikal.

[Menyelidiki Alkitab]
Pada saat itu saya harus pergi membeli Alkitab dan saya mulai membacanya dan ada banyak sekali kata “Israel” di dalamnya. Kata yang paling saya benci itu ada dimana-mana di dalam kitab itu. Saya berpikir, bagaimana ini harus dijelaskan? Saya mulai berpikir bahwa orang-orang Yahudi sesungguhnya tidak menyakiti kami tetapi kami membenci mereka dan menuduh mereka melakukan hal-hal yang mengerikan ini.

Ini adalah sebuah perjalanan, yang dalam beberapa waktu lamanya hingga saya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya, lebih merupakan sebuah obsesi. Saya begadang sampai larut malam dan membaca dengan tekun kitab suci orang Yahudi dan Kristen ini. Saya membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saya mempelajari sejarah Yahudi. Saya berdoa dan menggumuli hal-hal yang saya temukan. Banyak hal dalam kepercayaan saya yang membentuk dasar-dasar cara berpikir saya yang Islami mulai bertumbangan. Karena dikonfrontasi dengan konflik yang jelas terlihat antara cara saya memandang dunia ini dan agama saya semenjak remaja dan kebenaran Alkitab yang menusuk, lalu saya berdoa mohon bimbingan Elohim. Pada pertengahan tahun 1990, saya pergi ke reuni keluarga di selatan California, disana terjadi pertengkaran setelah saya membela tokoh Alkitab Rahel, yang disebut oleh paman saya sebagai “pelacur Yahudi.”

“Kamu layak dimusuhi,” kata paman saya, dan mereka melemparkan saya keluar dari rumah. Saya sadar mereka tidak tahu apa-apa soal sejarah; apa yang mereka ketahui hanyalah propaganda yang dulu selalu diajarkan pada saya.

Pertobatan saya membawa saya untuk meninggalkan kekerasan dan menjadi orang Kristen, tetapi untuk itu ada harga yang harus saya bayar: keluarga saya tidak mau mengakui saya lagi dan saudara saya sendiri mengancam akan membunuh saya karena telah meninggalkan Islam. Sekarang saya berharap bahwa dengan mengatakan kebenaran saya akan membuka mata orang banyak.

Sekarang, saya adalah pendiri Yayasan Walid Shoebat. Misi hidup saya dan cita-cita saya adalah membawa kebenaran tentang orang Yahudi dan Israel ke seluruh dunia, sambil mengijinkan Ha Mashiah untuk menyembuhkan jiwa saya melalui pertobatan dan mengupayakan rekonsiliasi Saya telah berketetapan untuk dengan tidak berlelah berbicara tentang Israel kepada ratusan ribu orang di dunia. Saya bersyukur kepada Elohim karena Ia memberikan saya kesempatan untuk meminta pengampunan dan berekonsiliasi dengan orang Yahudi dimana pun di seluruh penjuru dunia. Kepada siapa pun yang mau mendengarkan, saya akan menceritakan kisah saya Sebagai tambahan, walau ada banyak ancaman terhadap hidup saya – termasuk imbalan 10 juta Dollar untuk menangkap dan membunuh saya – saya terus berbicara menentang kebohongan-kebohongan Islam-Nazi yang dulu mengindoktrinasi saya. Jika mereka menangkap saya, saya akan terus bersuara.

Ya, hari ini saya mengatakan pada dunia, Saya mengasihi orang Yahudi! Dan saya sangat percaya bahwa orang Yahudi adalah umat pilihan Elohim yang bertujuan untuk memberi terang kepada orang-orang Arab dan juga seluruh dunia – jika mereka mengijinkan orang Yahudi menerangi mereka.

Mengetahui kebenaran ini telah mengubah cara berpikir saya dari menjadi seorang pengikut Muhammad dan yang mengidolakan Adolf Hitler menjadi seorang yang percaya kepada Yeshua Ha Mashiah, dari mempercayai kebohongan menjadi mengenal kebenaran, dari sakit secara spiritual menjadi dipulihkan, dari hidup dalam gelap menjadi melihat terang, dari terkutuk menjadi diselamatkan, dari keraguan kepada iman, dari benci menjadi kasih, dari perbuatan-perbuatan jahat kepada anugerah Elohim di dalam Ha Mashiah

Inilah saya hari ini Terpujilah YAHWEH! Saya berharap dengan membaca kesaksian saya dan yang lainnya dalam buku ini anda mulai menyadari bahwa ada peperangan antara yang baik dan yang jahat, dan antara damai dengan terorisme, perselisihan antara kebebasan dan neo-fasisme Sebagaimana yang saya katakan saya berbicara di Universitas Columbia: Hari ini saya berjuang untuk hak semua orang; saya berjuang untuk orang kulit hitam agar dibebaskan dari perbudakan, bagi orang Muslim agar bebas untuk bertobat kepada kekristenan, bagi orang-orang Yahudi yang menolak untuk menjadi Kristen, dan bagi orang-orang atheis untuk mendapatkan haknya menjadi orang atheis Dan saya akan mati untuk hak kebebasan berbicara bagi semua orang di Amerika Serikat. Walid Shoebat, Pendiri Yayasan Walid Shoebat

Buku kesaksian Walid: Mengapa Saya Meninggalkan Jihad dan Mengapa Kami Ingin Membunuh Anda

Bacaan berkait:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Kesaksian Ali Pektash dijamah Yeshua di Mekka saat ibadah Haji


“Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. (Yesaya 65:1)

Pendeta Ali Pektash Ali Pektash adalah pria Kurdi-Turki yang di besarkan dari sebuah keluarga Muslim. Putus asa dengan hidupnya yang terikat minuman keras, ia dianjurkan oleh pemilik kedai minum untuk kerja di Arab Saudi. Di Mekka, saat ia menunaikan ibadah Haji, Adonai Yeshua menampakkan diri-Nya melalui mimpi, menjamah Ali dan menjadikan Ali manusia yang baru.

Kesaksian Ali ini adalah satu dari lima video kesaksian  dari DVD More Then Dreams. (klik pada link untuk melihat online. tersedia dalam subtitle Inggris, Arab dan Perancis). Di dalamnya ada 5 kesaksian dari 5 negara berbeda, satu  dari Indonesia  wanita bernama “Dini.”

Latar belakang kehidupan Ali. Ali bertumbuh dalam sebuah keluarga Muslim nominal. Ia adalah anak tertua dari sembilan anak, tetapi ia tidak memiliki banyak memori yang indah dari bagian keluarga yang besar tersebut. Mereka sering menggodai dia dan berkata bahwa ia nampak berbeda dari setiap orang lainnya di dalam keluarga. Bahkan ibunya sendiri membenci dia dan merupakan anak yang paling terbelakan mendapat kasih ibunya. Ia selalu merasa ditolak oleh keluarganya sendiri dan menangis banyak sekali di masa kanak-kanaknya.
Selama empat bulan setiap tahun Ali bekerja sebagai gembala ternak. Tugas ini dimulai sejak ia berusia delapan bulan dan berlanjut sampai usianya mencapai 18 tahun. Dia membawa domba-domba ke gunung-gunung dan di sana ia menghabiskan waktunya sendirian, menikmati keindahan alam: bunga-bunga, batu-batu, buah-buahan. Ia tidak tahu bagaimana sembayang, tidak juga tahu isi Kuran, namun ia tahu bahwa bahwa ada suatu Pribadi yang mulia yang telah menciptakan keindahan alam tersebut. Di gunung tersebut ia sering kali berbicara kepada Pribadi yang tidak terlihat tersebut, ”Betapa indahnya ciptaan-ciptaan-Mu,” atau membuat pertanyaan, ”Darimanakah datangnya rasa manis pada buah appel?”
Ketika ia mencapai usia 20 tahun, ia mulai meminum minuman beralkohol. Mencapai usianya yang ke 25 ia telah menjadi pemabuk, kecanduan alkohol. Ia bekerja sebagai mandor bangunan pada sebuah perusahaan konstruksi bangunan. Sering kali ia telah mulai minum itu sebelum pukul sembilan pagi. Ketiak ia tiba di rumah, isterinya sering bertanya kepadanya apakah ia telah minum. Ini membuat dia marah sehingga ia memukuli isterinya setiap hari. Anak-anak Ali menyaksikan peristiwa tersebut dan mereka takut pulang ke rumah ketika jam sekolah selesai, jadi mereka sering pergi ke rumah teman mereka sampai mereka tahu bahwa ayah mereka telah tidur. Ia ingin berhenti mabuk dan merasa tidak enak memukuli Zehra, istrinya dan anak-anaknya, namun ia tidak mampu melepaskan ikatan alkohol yang menyebabkan pemukulan atas keluarganya sendiri.
Sebagaimana biasa kebiasaan Ali, pulang kerja dan mampir di kedai minum untuk mabuk. Pada suatu peristiwa, setelah uangnya di sakunya habis terkuras untuk botol-botol bir, dan para pengunjung sudah meninggalkan kedai, namun Ali masih duduk di kursinya dan masih ingin munum lagi.
Pemilik kedai terpaksa menghampirinya untuk mengusir Ali, sebab kedai akan segera ditutup. Sudah larut malam.
”Saya tidak bisa pulang ke rumah,” Ali yang mabuk ini berkata, ”ketika saya pulang, maka saya memukul isteri saya dengan sangat keras. … bahkan saya tidak ingat namaku sendiri.”
”Seharunya kamu pergi ke Arab Saudi,” pemilik kedai menasehati Ali, ”alkohol terlarang di sana, maka kamu akan berhenti minum. Di Arab Saudi mereka perlu pekerja-pekerja kontruksi dan gajinya bagus.”
”Allah … akan menolong saya,” Ali meresponi. Itu merupakan suatu ide yang baik pikirnya. Jadi ia pergi ke Saudi dan mencari pekerjaan.
Namun malam pertama ia tiba di Saudi, ia mencari dimana bisa mendapatkan bir. Terkejut dengan dirinya sendiri, ternyata bir juga dijual di Arab Saudi, jadi ia mulai minum lagi. Setiba di Mekka, dengan bangga ia menelpon isterinya, yang sangat terkejut sebab Ali tidak bercerita tentang kepergiannya ke Saudi.
Pada percakapan jarak jauh tersebut Ali berkata dengan optimis, ”Saya tepatnya ada di Mekka, dan ya hanya sekali-sekali minum bir. Tahun depan saya berharap akan menunaikan ibadah haji. Ini kabar baik, bukan kah begitu?” Dari saat ini dan seterunya saya akan menjadi seorang Muslim yang taat, Zehra.” Saya akan menjadi seorang ayah yang baik, saya tidak akan lagi meminum bir. Saya akan tetap mengirim uang bagi mu, ok?

Setahun berikutnya ia pergi Haji dengan rombongan dari Turki, dan teman lamanya, Ero, juga ikut dan mereka satu tenda bersama beberapa orang lain. ”Tiba di Mekka, saya mengelilingi Ka’aba dan melakukan sembayang malam, malam itu adalah sembayang pertama sepanjang hidupku.” Ali cerita.
Tiba di perkemahan, mereka bercakap-cakap di depan tenda mereka; esok pagi adalah perjanan ke Medina untuk melanjutkan ibadah haji. Di depan tenda aku berkata kepada teman-temanku, ”Dari mulai sekarang, saya akan meninggalkan masalah-masalah ku kebelakangku. Saya ingin keluar dari minuman dan hidup damai dengan isteriku dan anak-anakku.” Ero menjawab dengan haru, ”Kami senang kamu ada di sini, Ali. Mudah-mudahan Allah menjawab semua doa-doamu.” Lalu teman-temannya masuk ke tenda untuk tidur malam, sementara Ali berbaring di luar dengan beralas karpet kecil dan mata memangdang ke langit, merenungkan dan berdoa di dalam hatinya, ”Bagaimana saya bisa menjangkau Engkau, Elohim? Saya tidak tahu melakukannya. Saya berdoa kepada Mu dengan segenap hatiku, saya ingin Engkau menyatakan diri-Mu sendiri kepadaku. Selamatkanlah saya dari ikatan alkohol ini. Saya ingin Engkau menyelamatkan saya.” Dan Ali jatuh terlelap.
Malam itu Ali mendapatkan mimpi. Dalam mimpi tersebut Yeshua memegang tangan Ali dan berkata, ”Kamu adalah milik-Ku!” Aku mengambil mu untuk ada bersama Ku.”
Sambil tangan-Nya menyentuh dahi Ali, Yeshua berkata lagi, ”Pergilah dari sini, kamu adalah miliki Ku.”
Ali terbangun dari mimpinya, ia dipenuhi sukacita dan merasa seperti sedang melayang, sehingga ia menyentuh karpet tempat alas tidurnya untuk memastikan bahwa ia masih tetap di bumi. Segera ia masuk ke tenda membangunkan Ero, temannya lamanya yang ia telah kenal selama 15 tahun, untuk menceritakan mimpinya.
”Saya telah melihat Yeshua! Saya telah melihat Yeshua dalam mimpiku, Ia ada di sampingku!” Ero yang sedang tidur lelap terbangun dan dengan nada tidak acuh dan sedikit kesal ia berkata, ”Apa yang sedang kamu bicarakan?” Sementara mereka berdua berbicara, Ali kembali mendengar suara Yeshua, dan berkata kepada temannya ”kamu dengan suara itu?” Ero tidak mendengar apa-apa, dan menjawab, ”Kamu telah makan terlalu banyak semalam dan telah bermimpi buruk.”
”Tidak, Tidak. Itu adalah mimpi yang inda,” Ali coba menerangkan.
Lalu Ali kembali tidur, dengan tujuan jika mungkin ia bisa menyambung mimpinya. Sekali ini ia tidur sisi rekan-rekannya di dalam tenda.
Segera ia kembali mendengar suara Yeshua berkata, ”Ali, kamu milik Ku. Kamu tidak akan melakukan ziarah ini. Tinggalkan tempat ini.”
Saya terus menerus mendengarkan suara yang berkata ”Tinggalkan tempat ini” dan suara ini sungguh mengganggu ku. Lalu aku keluar dari tenda dan mencoba tidur di mobilku.”
Paginya teman-teman setenda Ali menemukan ia tertidur di mobil dan membangunkannya dan mengajak ia berangkat ke Medina. ”Saya akan menyusul kalian,” Ali berkata.
Ketika ia menghidupkan mesin mobilnya untuk melanjutkan ziarah, aneh mesin tidak bisa hidup, padahal mobil itu baru berusia satu bulan. Lalu, suara itu terdengar kembali, ”Kamu tidak akan pergi pada ziarah ini. Kamu adalah milik Ku!
Lalu Ali pulang ke apartemennya. Keajaiban lainnya terjadi, di cermin ia melihat bahwa separuh dari bulu dadanya telah menjadi putih. Ali mencoba membersihkannya, ia pikir itu adalah debu atau sesuaitu, namun warna putih tersebut tidak lenyap. Tiba-tiba suatu suara berbicara kepadanya, ”Kamu akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada ini.”
”Pada saat itu ketakutan besar melandaku, suatu ketakutan yang aneh bercampur dengan sukacita. Saya merasakan bahwa Elohim besertaku dan akan menolong ku.”
Lalu ia pergi berlutut di sebelah tempat tidurnya untuk berdoa, ia tidak tahu apa yang ia harus katakan. Dengan kedua tangan yang terangkat tinggi saya hanya berkata, ’Baik, Adonai, apapun yang Engkau kehendaki dari ku dari saat ini dan seterunya, saya akan melakukannya.’”
Malam itu saya mendengar suara itu kembali mengatakan pada ku untuk kembali pulang ke Turki secepatnya.
Tiga hari kemudian, ia berada pada pesta ”Welcome Home” di rumahnya di Turki. ”Semua tetanggaku telah berkumpul di rumahku. Saya sungguh berbahagia,” Ali bercerita, ”Mereka tahu bahwa saya pernah memukuli isteri dan anak-anakku, tetapi mereka tetap suka kepada ku.
Kembali ia mendengar suara, ”berdirilah dan katakan pada setiap mereka bahwa kamu sekarang adalah seorang Kristen.” Ia mentaati suara tersebut, dan berdiri dan bercerita kepada semua hadirin.
”Sementara saya ada di Arab Saudi, saya telah melihat Yeshua di dalam suatu mimpi. Yeshua menjamah saya. Saya ingin kalian semua mengetahui bahwa saya telah menjadi seorang Kristen. Saya sekarang adalah seorang Kristen.”
Pengakuannya yang singkat tetapi langsung tersebut disambut olokan tertawa para tetangganya, pria dan wanita. Lalu suasana menjadi sunyi, pelan-pelan, satu-per-satu mereka meninggalkan rumahnya.
Setelah anak-anak pergi tidur, Zehra, menghampiri suaminya yang masih tetap duduk di tempat yang sama pada saat pesta, ia duduk di samping suaminya.
”Zehra, saya benar-benar telah menjadi Kristen,” Ali berkata
”Tetapi bagaimana? Bagaimana seorang menjadi seorang Kristen di Arab Saudi? Zehra bertanya
“Sementara berada di sana, Yeshua telah datang kepada ku dalam suatu mimpi dan menjamahku. Saya merasa perubahan dalam hatiku, Dia telah memberi ku sukacita yang luar biasa. Dia berkata bahwa saya adalah milik-Nya. Saya telah jatuh hati kepada Dia.”
Lalu Ali meminta maaf kepada isterinya dan berjanji tidak akan memukulnya lagi dan berkata: ”Adonai telah mengampuni saya. Akankah kamu …. Kamu juga … mengampuni ku?” Lalu Ali menangis.
”Saya mengampuni, Ali. Mengapa kamu menangis? Apa yang salah?” Zehra bertanya
”Zehra, sekarang … sekarang saya seorang Kristen, tetapi kamu tidak. Jadi, apa yang kita akan lakukan?”
“Tidak masalah, jika kamu telah menjadi Kristen, saya akan juga,” Zehra menjawab pasti.
”Malam itu, rumah kami penuh dengan damai. Namun kami tidak tahu satu orang Kristen pun. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan,” Ali mengingat kejadian tersebut.
Ali lalu kembali mencari pekerjaan, dan mendapatkannya. Ali menyaksikan kepada rekan kerjanya bagaimana Adonai telah merubah hidupnya. Ia dipecat.
Ia pindah ke Istambul, dan dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Dua tahun setelah perjumpaan dengan Yeshua, ia tetap belum bertemu satu orang Kristen pun, dan belum memiliki Alkitab ditambah kerinduan akan keluarganya telah menyebabkan ia tertekan dan mulai kembali minum minuman keras.
Suara di hatinya berseru, ”Kembalilah ke rumahmu.” Di kotanya ia mendapat pekerjaan. Pada suatu hari ia menemukan siaran radio Kristen tanpa sengaja, bernama Dipanggil untuk Damai (Call to Peace) berbahasa Turki. Suara di radio itu berkata, ”Yeshua telah mati, bangkit dari kematian setelah tiga hari dan sekarang duduk di sisi kanan Bapa.” Itulah berita Kristen pertama yang ia pernah dengan sejak pertemuannya dengan Yeshua di Mekka. Ia segera memanggil isterinya untuk juga mendengarkan. Dan mengirim surat kepada stasiun radio Kristen tersebut untuk minta Alkitab Perjanjian Baru.
Sepuluh hari kemudian ia menerima Alkitab Perjanjian Baru. Ia juga menerima bahan-bahan Pelajaran Alkitab dari sumber yang sama. Ali berusia 38 tahun ketika ia menerima Alkitab tersebut, ”itu mungkin saat terbahagia dalam kehidupanku,” Ali mengenang.
”Saya membaca seluruh Perjanjian Baru tanpa tidur. Kehidupanku mulai berubah. Orang-orang juga dapat melihat perubahan dalam hidupku,” Ali berkata.
Dan suami-isteri ini semakin aktif bersaksi kepada orang lain dan mengundang setiap tetangga untuk datang kerumah mereka mempelajari Alkitab.
Setelah Ali dan Zehra menyelesaikan kursus-kursus Alkitab melalui korespondensi, mereka sekeluarga pindah ke Istanbul untuk menghadiri sekolah Alkitab.
Sekarang Ali Pektash adalah seorang pendeta di Turki, ia rajin membuka jemaat-jemaat baru di Turki seperti rasul Paulus.
Ali terus memberitakan iman Kristennya secara terbuka dan tanpa malu. Alkohol tidak lagi menguasai hidupnya, dan ia mengasihi isterinya. Sungguh Ali Pektash telah menjadi suatu ”ciptaan baru di dalam Yeshua Ha Mashiah.”

Bulan Mei tahun 2014, Ali dengan rombongannya berkunjung ke kota Yerusalem untuk suatu konferensi orang-orang yang beriman kepada Adonai Yeshua. ”Konferensi At the Crossroads” ini khusus diadakan untuk orang-orang Timur Tengah yang bertujuan mencari strategi Elohim bagi Timur Tengah di tengah-tengah masa gejolak politik dan sekaligus menolong mempersatukan kembali putra-putra Abraham (keturunan dari Ishak dan Ismael dan Israel/Yakub dan Esau). Orang-orang Percaya dari Israel, Mesir, Assur beribadah bersama di Yerusalem
Pada konferensi ini, hadir orang-orang Percaya dari latar belakang kebangsaan, seperti Mesir, Irak, Iran, Cyprus dan Yordan, Turki, Armenia, juga orang Israel yang tinggal di luar Israel. Pendeta Ali Pektash adalah salah satu pembicara pada konferensi tersebut. Baca: Petkash: Petkash: “Kita memiliki pelayanan yang sangat penting – memperdamaikan Dunia.”
Visi dari Konferensi ini di dasari pada nubuatan nabi Yesaya 19:23-25Pada waktu itu akan ada jalan raya dari Mesir ke Asyur, sehingga orang Asyur dapat masuk ke Mesir dan orang Mesir ke Asyur, dan Mesir akan beribadah bersama-sama Asyur. Pada waktu itu Israel akan menjadi yang ketiga di samping Mesir dan di samping Asyur, suatu berkat di atas bumi, yang diberkati oleh TUHAN semesta alam dengan berfirman: “Diberkatilah Mesir, umat-Ku, dan Asyur, buatan tangan-Ku, dan Israel, milik pusaka-Ku.”
Seluruh isi pasal 19 pada nubuatan nabi Yesaya ini tepatnya adalah untuk negara Mesir, diawali dengan kalimat: “Ucapan terhadap Mesir. Lihat, YAHWEH mengendarai awan yang cepat dan datang ke Mesir, maka berhala-berhala Mesir gemetar di hadapan-Nya, dan hati orang Mesir, merana hancur dalam diri mereka.” (ayat 1). Kericuhan berdarah pada peristiwa Arab Spring di Mesir menurunkan President Mubarak dan juga Morsi terjadi telah dipercayai oleh orang-orang Kristen Mesir sebagai penggenapan nubuatan nabi Yesaya. YAHWEH membersihan Mesir dari berhala-berhala dan membawa bangsa Mesir berbalik dan beribadah kepada Dia saja.

Ayat 23 sampai 25 adalah nubuatan yang bersifat janji bahwa Dia akan membuat “Jalan Raya penghubung antara Mesir dengan Asyur.” Bangsa Asyur kono hidup di sekitar Irak utara, Iran, Armenia, Turki Timur saat ini, itu adalah Pengungan Kurdistan, yang di huni oleh bangsa Kurdi saat ini. Pendeta Ali Pektash bukan saja tinggal di Asyur (Turki Timur), lebih dari itu ia orang Kurdi.
Siapakah yang bisa percaya nubuatan ini jika itu dibaca 70 tahun yang lalu? 70 tahun yang lalu negara Israel masih belum bangun sejak diruntuhkan oleh Kerajaan Romawi di bawah Jendral Titus di tahun 70 AD. Israel baru lahir kembali tahun 1948 dan indentitas bangsa Kurdi baru muncul tahun 1988 ketika President Saddam Hussein bom-bom beracun ke desa-desa suku Kurdi yang menewaskan 4000-5000 hampir semuanya adalah rakyat sipil Kurdi. Sekarang bangsa Kurdi diambang ke merdekaan. Yesaya melayani sebagai nabi dari 740-681 BC.   ALKITAB memiliki lebih dari 800 nubuatan, 80%nya telah tergenapi! ALKITAB adalah sungguh Kitab Suci yang diwahyukan dari Sorga!!

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Kesaksian Amani Mostafa, ex-Muslim Mesir, pejuang HAM


Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Elohim lebih dahulu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:18-19)

Terlahir darAmani Mustafa ex-Muslim Mesir yang menjadi Penginjili keluarga Islam di Mesir, Amani telah diajar untuk jangan pernah mempertanyakan ajaran Islam, namun neneknya adalah seorang ahli hukum dan ibunya juga seorang rationalist.
Pada usia 13 tahun kehidupan Amani dan keluarganya berubah secara drastis ketika ibunya mengumumkan bahwa ia telah berpindah ke Kristianiti setelah kuasa YAHWEH menjamah hidupnya secara ajaib – tubuh dan roh ibunya disembuhkan! Ibunya menjadi penuh damai, teguh namun penuh kasih. Sebelumnya ibunya frustasi mencari kebahagian batin, yang berujung pada jeratan minuman beralkohol.
Ibunya menjadi begitu aktif memberitakan imannya yang baru ini kepada siapapan. Amani bercerita tentang hari-hari pertama ibunya menjadi Kristen: ”ibuku pergi ke seorang pendeta Koptik untuk minta nasehat bagaimana caranya memberitakan Injil kepada orang Muslim, ia pulang ke rumah dengan setumpuk buku dan salib besar tergantung di lehernya.”
Neneknya memanggil imam Islam ke rumahnya, dan imam ini memberi waktu 3 bulan untuk ibunya ’bertobat’ kembali ke Islam atau dihukum sesuai dengan Hukum Syariah, yakni hukuman mati.
Pada kesaksiannya Amani berkata bahwa hukum Shariah di Mesir bukanlah hukum negara tetapi ”hukum jalanan” (Indonesia: ”main hakim sendiri” – masyarakat memukuli maling ayam sampai mati, misalnya). Di Mesir, Amani berkata, polisi agama atau orang tertentu (sanak-famili) biasa menciduk orang murtad dari Islam dan lenyap tidak terlihat kembali. Jadi Amani mencoba mengingatkan ibunya akan bahaya tersebut dan berusaha menyelamatkan ibunya, namun ibunya menjawab dengan tegas “Tidak, sekali saya hidup dalam Mashiah saya akan tetap dalam Mashiah!” Keputusan ibunya ini sungguh menggoncang hati Amani.
Di Mesir, orang Islam telah diajar bahwa Alktiab telah dikorupsi, Amani berkata, jadi ia berkeputusan untuk menyelidiki Alkitab untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan tersebut kepada ibunya.
“Saya lalu menggambil Alkitab dan pergi ke kamar mandi dan mengunci diri saya sendiri selama satu jam.” Ia membuka Kitab Suci tersebut dan terbuka pada Kitab Injil Yohanes, Elohim mulai berbicara ke pada hatinya. ”Hal pertama yang mengejutkan saya adalah, saya menyukainya, saya dapat mengerti isinya!” Dari sini saya mulai mengerti mengapa ibuku begitu tertarik dengan pribadi Yeshua. Melalui cerita ”Wanita Samaria” [Yohanes 4] saya mengerti mengapa ibuku tidak bisa tutup mulut tentang Yeshua. Amani lalu menerima Yeshua sebagai Master dan Juruselamatnya.
Waktu-waktu yang keras segera datang ke dalam kehidupan Amani yang masih remaja ini. Karena ancaman para Muslim, ibunya terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya, Mesir, meninggalkan segala sesuatu untuk mencari perlindungan di Amerika Serikat.
Ketika ayahnya mengetahui bahwa Amani telah meninggalkan Islam, ayahnya mengadilinya, ”Ia berkata,” Amani bercerita, ”saya memiliki pertanyaan langsung untuk kamu. Pilih Islam atau Mashiah?” Ketika saya hampir luluh, saya menjawab, ”Mashiah,” pada titik ini dia berdiri dan memukul saya.”
”Dia sungguh mengancam dan berkata bahwa ia akan mengikat saya pada mobilnya dan menjadikan saya sebuah contoh (bagi masyarakat) di kota.”
Teman-teman Kristen Aminah yang suka pergi ibadah dengan dirinya, mulai mengalami aniaya dari ayahnya bahkan sampai dipenjarakan.
Amani kemudian melarikan diri dan bersembunyi beberapa tahun lamanya. Lalu ayahnya memakai cara lain, menikahkan Amani secara paksa kepada seorang pemuda Muslim. Suaminya mengijinkan dia mempraktekkan imannya secara sembunyi-sembunyi, tetapi sikap suaminya berubah setelah Joe, anak kedua lahir. Amani tidak lagi diinjikan berkunjung ke gereja. Sepulang dari rumah bersalin, suaminya mulai melarang dia untuk tidak lagi beribicara tentang Yeshua dan Alkitab serta tidak boleh lagi pergi ke gereja.  Amani Mustafa produser TV Kristen The Muslim Woman
Ketika Joe mencapai umum 4 tahun, suami Amani semakin menuntut dia untuk hidup dibawah aturan Islam, suaminya memaksa ia membacakan Kuran bagi anak-anak mereka, Yoshua dan Joe. ”Saya merasa bahwa saya sedang memberi makan racun kepada anak-anakku. Itu adalah hal yang paling sulit bahwa sementara mengenal kebenaran namun tidak mampu mengatakannya,” Amani menuturkan masa lalunya.
Joe menjadi tidak stabil, dan sakit-sakitan. Amani merasakan bebannya terlalu berat, tidak ada yang bisa diminta tolong – suaminya telah memutuskan hubungan Amani dengan teman-teman Kristennya, keluarga kandungnya di Mesir tidak perduli, satu-satunya yang bisa diharapkan adalah ibunya, namun hidup jauh di Amerika.
Di tengah kesulitannya tersebut Amani hanya bisa menjerit kepada Yeshua, ”Tolonglah kami!,” ia menjerit.

Yeshua memakai ibunya!, ibunya menghubungi suami Amani mencoba memberi jalan keluar ”kalian sekeluarga pindah saja ke Amerika, saya akan menolong untuk mengurusnya,” ibunya berjanji.
Mujizat terjadi. Suaminya setuju, ia mengijinkan Amani dan kedua anaknya, pindah ke Amerika Serikat dengan suatu janji bahwa suaminya akan segera menyusul.
Sementara menunggu kapal terbang untuk take off, Amani diliputi ketakutan, sewaktu-waktu tentara agama masuk dan menangkap mereka bertiga. Ketika semua lampu kapal dimatikan dan pesawat mulai mengudara ia merasakan suatu kebebasan dan suatu beban terlepas dari dirinya. Segera setelah pesawat terbang meninggalkan udara Mesir, ”hal pertama yang saya lakukan adalah mencabut kerudungku,” Amina berkata, ”yang membuat putraku terperanjat dan sambil melihat kepadaku ia berkata, ’Ibu, kamu sedang pergi ke Neraka dan saya menjawab, ’Putraku, kita baru saja meninggalkannya!’”
Di Amerika Serikat.
Setiba di AS, Amani kembali mendedikasikan dirinya kepada Yeshua ha Mashiah sehingga badai aniaya dari suaminya melalui orang-orang Islam di AS menerpa hidupnya. Lalu ketika Amani bercerita kepada suaminya bahwa ia ingin bercerai, suaminya marah besar dan menuntut kedua anak mereka untuk dikembalikan ke Mesir dan ke Islam, dan mengancam Amani bahwa ia akanlah ”membayar harganya” untuk keputusan tersebut. Amani Mostafa di Program The Islamic Dilemma
”Dia (suaminya) mengirim saudaranya mengawasi kami, telpon saya dan ibuku disadap. Ada orang-orang yang mengawas-awasi kami.” Sehinga memaksa mereka pindah ke negara bagian lainnya.
10 tahun lamanya ia bersembunyi, namun Peristiwa 11 September 2001 membuat ia terbangun dari ketakutan terbunuh oleh para pengejarnya dan rasa belas kasihan atas diri sendirinya. Roh YAHWEH menaruh beban pada hatinya untuk menolong para wanita Muslim yang juga memiliki masalah yang sama yang ia telah alami. Tahun 2003 ia mulai bergabung dengan Pelayanan TV Kristen Al Hayat menjangkau wanita Muslim yang berbahasa Arab di Timur Tengah.
Pelayanan Amani Mostafa saat ini.
Amani adalah tuan rumah dari pertunjukkan TV berbahasa Arab ”Wanita Muslim” (The Muslim Woman) di saluran Al Hayat. Amani dan teman-teman studionya – semuanya adalah juga berasal dari latar belakang Islam – berbicara tentang pengalaman mereka dengan agama Islam dan bagaimana keluar dari hukum Sharia. Program mereka dipancarkan ke seluruh Timur Tengah. Ia juga direktur dari Pelayanan Wanita untuk Keymedia-MN (the Women’s Ministry for Keymedia-MN), suatu yayasan yang secara berani meng-expose penipuan-penipuan Islam dan menjangkau para Muslim di seluruh dunia dengan Injil Yeshua ha Mashiah.
“Ada banyak wanita hidup di bawah suami-suami Muslim atau ayah-ayah Muslim atau keluarga-keluarga Muslim seperti yang pernah saya telah alami. Saat ini ada begitu banyak wanita yang perlu untuk mengetahui dan mendengar tentang kebebasan dari Mashiah seperti yang pernah saya alami.”

“Musuh kita bukanlah para Mulism tetapi Hukum Islam. Islam melihat para Muslim sebagai sebuah kelompok, bukan sebagai pribadi. Jadi kita harus mengajar para Muslim bahwa mereka memiliki nilai-nilai pribadi di mata Elohim, namun kita haruslah juga tidak mengijinkan mereka merubah hukum-hukum kita (Amerika),” kata Amani memberi nasehat kepada para pendengarnya di Amerika.

Program TV-nya telah mendapat sambutan yang luar biasa di Timur Tengah; dari yang meminta Alkitab sampai siap dibaptis dan bergabung dengan gereja-gereja lokal, Amani bercerita.
Saat ini (Oktober 2013), pelayanan Amani Mostafa menjangkau 85% wilayah dunia, termasuk Amerika Utara. Delapan tahun terakhir ini mereka telah mendapat jutaan respont dari siaran mereka melalui SMS, email, situs mereka, telpon dan jaringan media sosial.
Secara global, pertunjukkan TV-nya menjangkau 300 juta rumah dengan 50 juta penonton untuk setiap pertunjukan langsungnya.
Dari September 2012 sampai September 2013 telah ada lima juta (5.000.000) kontak pirsawan.
Saat ini Amani telah bersuamikan seorang Kristen Amerika dan memiliki seorang putri, Mary. Yoshua telah lulus dari sekolah Alkitab dan menjadi seorang pendeta, sedangkan Joe juga aktif dalam pelayanan rohani.
”Saya yakin bahwa setiap pengalaman yang telah saya alami melalui kehidupan saya adalah untuk kemulian Dia, untuk dipakai bagi kemulian-Nya,” Amani berkata. ”Anda lihat, bahwa kita memiliki pilihan. Entah kita duduk dan mengepel susu yang tertumpah, atau kita kita pakai kesulitan dan keburukan pengalaman-pengalaman tersebut untuk kemulian-Nya dan saya memilih untuk memulikan Nama Elohim.” Amani berkata.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Kesaksian Tass Saada, ex-terrorist PLO dirubahkan hidupnya oleh Yeshua


Tass Saada dan buku kesaksiannya Ini adalah kesaksian seorang pejuang Palestina, penembak jitu Fatah yang dilatih untuk membunuh orang-orang Yahudi, dan sekarang menjadi pemberita Injil dan perdamaian antara Arab dan Israel oleh karena kesaksian hidup Charlie Sharpe.
Tass, lengkapnya Taysir Abu Saada, telah berkeliling dunia bersaksi tentang perubahan hidupnya dan mengajar apa sesungguhnya akar dari konflik Timur Tengah dan bagaimana jalan keluar yang terbaik. Artikel di bawah ini diterjemahkan dari JewishRoot.net yang sumber aslinya sebagian besar diambil dari kesaksian Taas di Jemaat Tiferet di Tel Aviv.
Di depan para hadirin yang terdiri dari para Kristen Yahudi Arab dan Kristen Arab di Tel Aviv, Saudara Taas membuka kesaksiannya dengan meminta maaf terlebih dahulu kepada mereka semua atas nama orang-orang Muslim Palestina, “Pertama dari semuanya saya memohon maaf dari orang-orang Yahudi dari semua hal yang saya telah lakukan melawan kalian pada masa lampauketika saya adalah bagian dari Fatah dan melayani Yasser Arafat. Saya juga memohon maaf dari para saudara-saudariku orang Arab sebab ketika saya tidak memerangi orang-orang Yahudi saya telah mencari orang-orang Kristen di Yordania dengan tujuan menghancurkan rumah-rumah mereka dan membunuhi mereka. Saya sungguh memohon maaf dari kalian semua.”

Tass, bersama Dean Merrill, telah menulis kesaksiannya yang lengkap dalam sebuah buku berjudul Once an Arafat Man: The True Story of How a PLO Sniper Found a New Life

[Dijual ke orang Yahudi, bergabung ke Fatah]
Saya dilahirkan di Gaza. Orang tua saya aslinya dari Jaffa, Sebelum perang pada tahun 1948 [satu hari setelah Israel merdeka, Israel diserbu oleh negara-negara tetangganya], orangtuaku, seperti sisa keluarga Arab di Israel, mendengar panggilan dari bangsa-bangsa Arab untuk sementara waktu meninggalkan Israel selama perang; dan mereka mentaatinya, meninggalkan rumah mereka. Orang tua saya melarikan diri ke Gaza, dengan pikiran mereka bisa kembali lagi nanti. Tetapi seperti kita ketahui, orang Arab yang kalah perang dan orangtua saya tinggal di Gaza.
Segera setelah saya lahir kami berimigrasi ke Arab Saudi dan saya dibesarkan sebagai imigran Palestina yang telah meninggalkan negaranya. Orang-orang Saudi sering melecehkan kita, menuduh kami menjual tanah kami kepada orang Yahudi dan kemudian datang untuk tinggal di tanah mereka. Jadi saya dibesarkan di Arab Saudi dengan banyak kebencian terhadap orang-orang Yahudi – mereka telah menyebabkan saya untuk berimigransi dan kehilangan tanah milik kami. Saya berharap bahwa jika seandainya saat itu saya telah mengenal firman Elohim, maka saya akanlah mengetahui kebenaran bahwa bukanlah orang-orang Yahudi yang menyebabkan saya telah menjadi seorang imigran, tapi  para Muslim dan sistem Islamnya.

Ketika saya berusia sepuluh, orang tua saya memutuskan untuk pindah ke Qatar. Setelah Perang Enam Hari, saya merasa seolah-olah saya sedang mengalami gangguan saraf dan kebencian saya terus tumbuh dan tumbuh. Saya saat itu tidak mengerti bagaimaPerang Enam Hari Israel diserbu dari berbagai penjuruna kami bisa kalah begitu banyak peperangan melawan Israel; kami yang lebih besar daripada Israel dalam jumlah penduduk dan ukuran; Kami memiliki lebih banyak peralatan perang – semua yang kami miliki adalah lebih daripada yang mereka miliki; namun kami kalah perang melawan Israel. Saya berpikir saat itu bahwa sekali lagi para pemimpin kami menjual kami kepada orang Yahudi. Karena itu saya memutuskan untuk pergi dan memperjuangkan tanah kami, yang saya dahulu percaya itu adalah milik kami. Saya pergi ke ayahku dan meminta izin untuk saya boleh bergabung ke Fatah. Dia berkata, “Putra (ku), apa yang kamu sedang bicarakan? Kamu harus melanjutkan studimu dan mendapatkan pendidikan. Tinggalkan pikiran-pikiran itu sendirian!”

Namun saya tidak mendengarkannya. Saya menandatangani fomulis aplikasi atas namanya dan meninggalkan Qatar pergi ke Syria, dan di sana saya bergabung dengan gerakan Fatah, yang membuat saya pindah ke Jordan. Saya berlatih keras dan terlibat dalam banyak kegiatan dan tindakan, tetapi orangtuaku tidak berdim diri atas diriku. Mereka terus mencari saya, dan akhirnya pada tahun 1970 mereka menemukan saya melalui beberapa teman. Ayah saya meminta saya untuk kembali ke Qatar sehingga ibu saya akan mengetahui bahwa saya masih hidup; dan kemudian, ia mengatakan bahwa mereka akan membiarkan saya kembali ke Jordan. Saya setuju untuk rencana ini dan pergi mengunjungi mereka.

Ketika saya memasuki Qatar ayah saya mengambil paspor saya dan mengatakan kepada saya bahwa saya tidaklah akan kembali ke manapun kecuali sekolah. Saya sangat kecewa dan marah tapi aku tetap mendengarkan ayahku dan kembali ke sekolah. Di sana saya tidak bahagia sama sekali dan hati saya dipenuhi dengan kemarahan. Saya membenci seluruh dunia dan terus menerus membuat banyak kesulitan di sekolah.

Suatu kali saya marah pada guruku dan sehingga dengan pisau saya mengejar dia tetapi siswa lainnya menahan saya, itu membuat saya secara serius menyakiti diPejuang Fatahriku sendiri dengan pisau tersebut. Mereka membawa saya ke rumah sakit dan mereka menyelamatkan saya.
Kemudian saya melihat guru itu datang tempat parkir mobil. Saya mendekatinya dan menembaknya. Saya pikir saya telah membunuhnya dan begitu terkejut ketika saya menemukan dia masih hidup. Saya mengatakan kepadanya, “Anda masih hidup?” dan dia menjawab, “Terima kasih Elohim!” Itu pastinya tangan Elohim yang membelokkan peluruku, karena saya telah dilatih sebagai penembak jitu dan tidak meleset dari target apapun. Sekarang saya berterima kasih kepada Dia bahwa tembakan itu tidak mengenai target. Setelah kejadian itu diputuskan untuk mengusir saya dari sekolah dan dari Qatar.

Ayah saya memberikan dua pilihan – saya boleh pergi ke Inggris atau ke Mesir. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak ingin pergi kedua negara itu, namun ke Amerika Serikat. Dia mengatakan bahwa itu adalah negara setan besar, tetapi saya tidak mengubah pikiranku. Mengapa saya memutuskan untuk pergi aku masih tidak tahu, karena kemudian AS dan Israel adalah bagi saya hal yang sama – musuh. Tapi saya tetap ingin pergi.

[Memburu kewarganegaraan Amerika Serikat, tertangkap oleh Charlie Sharpe]
Setelah beberapa bulan dan banyak masalah yang saya perbuat kepada orang tuaku, akhirnya ayah berkata saya bisa pergi kemanapun asalkan itu jauh dari mereka. Jadi dalam Februari 1974 aku pergi ke Amerika. Aku tinggal bersama seorang teman untuk sementara dan kemudian pindah ke Kansas City. Saya perhatikan bahwa Amerika tidak melakukan diskriminasi terhadap saya dengan cara apapun. Sebagai Palestina itu membuat saya senang bahwa mereka tidak melihat saya sebagai seorang imigran atau seorang pengungsi. Saya bertanya teman-teman saya apa cara terbaik untuk tinggal di Amerika, yang dijawab oleh mereka menikahi orang Amerika. Jadi saya memutuskan untuk mencari seorang gadis Amerika. Tujuan saya adalah untuk menikahi seorang Amerika hanya untuk mendapatkan kewarganegaraan dan kemudian menceraikannya. Tapi terima kasih Elohim bahwa Dia telah memiliki rencana yang lebih baik untuk saya daripada yang saya miliki untuk diriku sendiri  dan sampai hari ini wanita Amerika ini tetap isrtiku!

Selama 19 tahun berlalu sebelum saya menerima Yeshua sebagai Mashiah (Juruselamat) saya, isteriku terus menerus memberitahu saya bahwa dia mencintai saya, dan saya hanya mengatakan kepadanya, “Terima kasih.” Saya saat itu tidak pernah merasa cinta terhadap dia, tetapi ketika Yeshua memasuki hatiku, pada minggu yang sama saat saya duduk di ruang tamu dan melihat istri saya tiba-tiba saya merasa api cinta dalam hatiku terhadap dia dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya mencintainya! Dia berasal dari Irlandia, jadi dia hanya menatapku dan bertanya apa yang saya inginkan dari dia! Saya bersyukur kepada Elohim bahwa Dia telah mengubah sikap saya terhadap istriku.

Ketika menikahinya, ayahku berhenti mengirim saya uang. Dia mengatakan kepada saya bahwa jika saya ingin menikahi seorang gadis Amerika saya sendiri harus bertanggung jawab atas wanita itu, jadi saya pergi untuk mencari pekerjaan. Saya mendapat pekerjaan di sebuah restoran Perancis sebagai pencuci piring. Dan kemudian menjadi waiter (pelayanan meja di restoran). Pada hari pertama sebagai waiter  itu menakutkan sebab saya belum pernah berhubungan langsung dengan orang-orang. Saya pergi ke meja pertama dan di sana duduk seorang pria bernama Charlie duduk disampingnya seorang wanita yang sangat cantik dan ia sibuk berbicara dengan wanita tersebut.
Ketika saya mengambil piring-piring bekas mereka kedua tanganku gemetar. Charlie melihat kepadaku dan berterima kasih. Saya terkejut dengan ucapan terima kasih orang kaya ini yang berdiri menunggu dia makan. Bagi kami di Timur Tengah hal itu suatu yang aneh. Saya memutuskan untuk menunggu dia setiap kali ia datang ke restoran dan saya selalu memberi pelayanan yang terbaik kepadanya. Perlahan-lahan saya dipromosikan dan suatu hari saya menjadi meneger ruang restoran dan hubungan saya dengan Charlie terus bertumbuh.

Selama 19 tahun saya bekerja di beberapa tempat lain, tetapi saya tetap kembali ke tempat ini. Saya telah sukses dalam bisnis restoran dan hotel. Pada tahun 1991, saya kembali ke restoran itu dengan tujuan untuk membelinya. Pada saat Taysir Tass Abu-Saada sedang bersaksiitu YAHWEH benar-benar mulai untuk berurusan dengan saya, meskipun saya tidak tahu pada saat itu.
Saya menandatangani kontrak dimana dalam dua tahun saya akan mengambil alih restoran. Charlie tahu bahwa saya akan menjadi pemilik restoran dan ia tahu bahwa saya akan membeli sebuah bangunan baru untuk memindahkan restoran tersebut, jadi dia mulai untuk membantu saya.

Pada bulan Februari, ia datang kepadaku dan bercerita tentang sebuah bangunan indah yang saya perlu untuk melihatnya. Saya bertanya kepadanya rincian bangunan itu, ternyata itu tempat yang saya telah kunjungi tiga hari sebelumnya. Bangunan ini bekas ruang penguburan. Sebagai seorang Muslim, saya tahu bahwa setiap tempat yang berurusan dengan orang mati diyakini berisi dengan setan dan roh-roh jahat. Ketika saya pergi saya merasa sangat takut.
Ketika Charlie bercerita tentang bangunan saya mengatakan kepadanya bahwa saya sudah melihatnya dan bercerita bahwa saat saya masuk saya merasa begitu ada banyak setan. Dia tertawa dan kemudian memandangku dan bertanya: “Tass, apakah kamu tahu mengapa kau begitu takut?” Saya berkata ”saya tidak takut.” Dia kemudian mengatakan kepada saya itu disebabkan oleh karena saya tidak memiliki takut akan Elohim. Saya sangat terkejut dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak mengerti apa yang ia katakan. Saya seorang Muslim dan saya takut akan Elohim (Allahnya Muhammad). Tapi dia mengatakan kepada saya bahwa jika saya benar-benar takut akan Elohim (Allah sementa alam) maka saya tidak akan takut akan iblis-iblis. Dia mengatakan kepada saya bahwa ia memiliki hubungan dengan Elohim YAHWEH (the Lord God). Aku hanya mentertawakan dia, tetapi gagasan tentang sebuah “hubungan dengan Elohim” tidaklah meninggalkan saya dan selama tiga minggu saya tidak mampu mengeluarkan hal itu dari kepala saya. Setiap hari berlalu, gagasan tentang hubungan dengan Elohim hanyalah semakin bertambah kuat.

Pada 13 Maret 1993 Charlie datang ke restoranku untuk makan. Saya menghampirnya, berlutut pada kakiku dan memohon kepadanya untuk memberitahukan saya tentang hubungan khusus tersebut. Ia segera memerintahkan saya berdiri, dan berkata, “para tamu akan berpikir kamu gila.” dan ia berkata kami harus menunggu sampai kami berdua saja!

Satu hari kemudian, 14 Maret, saya menelepon Charlie dan ia mengundang saya ke rumahnya. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya sedang diserang kepanikan dan saya takut untuk mungkin akan menyakiti sesuatu atau seseorang dalam perjalananku, jadi ia datang menjemput saya dengan mobilnya ke rumahnya. Di jalan dia terus berbicara tentang keajaiban yang terjadi padanya dan terus menerus berkata “Haleluya” dan “Pujilah YAHWEH.”
Saya berpikir bahwa sekarang ia benar-benar telah kehilangan pikirannya. Setiba di rumahnya dia berkata, “Tass, jika kamu ingin mengalami ketenangan pikiran seperti yang saya miliki, kamu harus mengasihi orang-orang Yahudi!” Saya benar-benar membeku (kaku tidak bisa bergerak) dan bertanya kepadanya bagaimana dapat ia berpikir tentang hal itu: “mengasihi orang-orang Yahudi? Ia tahu bahwa saya membenci mereka; dan bagi saya, dan bagi kebanyakkan orang Arab, “seorang Yahudi yang baik adalah seorang Yahudi yang mati.” Saya minta maaf mengatakan hal-hal ini kepada kalian, tetapi begitulah (saya) saat itu. Ia berkata kepada saya untuk tenang dan datang duduk. Jadi saya bertanya lagi; “Apakah hubungan khusus itu yang Anda miliki?” Ia bertanya apa yang saya ketahui tentang Yeshua Ha Mashiah. Saya mengatakan kepadanya bahwa Dia adalah seorang nabi yang kami sebagai para Muslim percaya. Charlie mengatakan kepada saya bahwa ia bukanlah sekedar seorang nabi, Dia adalah Putra Elohim dan Elohim itu sendiri.

Saya katakan kepadanya, “Itu cukup!the Holy Bible Apakah Anda pikir saya gila? Pertama Anda katakan bahwa saya tidak memiliki takut akan Elohim dan sekarang saya harus mengasihi orang-orang Yahudi dan sekarang Anda memberitahu saya bahwa Yeshua adalah Putra Elohim dan bahwa Dia adalah Elohim!” Saya benar-benar ingin pergi. Charlie mengatakan kepada saya untuk duduk dan bersabar sebentar. Ia mengambil Alkitabnya dan meletakkannya di antara kami. Ketika ia menaruh Alkitab tersebut disebelah saya, saya mulai gemetar dan bergerak mundur. Ia bertanya “mengapa?” Saya katakan bahwa saya tidak dapat menyentuh kitab tersebut. Ia bertanya kembali “mengapa?” Saya katakan sebab itu adalah Firman Elohim dan Nama-Nya ada tertulis disitu. “Jadi kamu percaya bahwa kitab ini adalah Firman Elohim?” ia berkata. “Ya!”  jawabku, saya tidak tahu mengapa saya jawab demikian sebab sebagai seorang Muslim kami tidak mempercayai Kitab-kitab Suci tersebut. Lalu ia berkata, jika saya percaya kitab-kitab suci tersebut maka ia ingin membaca beberapa ayat untuk saya. Ia membacakan kepadaku Injil Yohanes pasal 1, “Pada awalnya adalah Firman, dan Firman itu ada bersama Elohim, dan Firman itu adalah Elohim. …”  dan saya mulai bergetar dan menjadi pucat. Saya temukan bahwa saya sedang berlutut pada dengkulku dengan kedua tangan terangkat ke atas meminta Yeshua menjadi YAHWEHku dan Rajaku.

[Yeshua memulihkan Tass lebih dari yang ia duga]
Tidak ada seorang pun dapat mengatakan kepada saya bahwa Alkitab ini adalah sesuatu yang mati, itu hidup! Firman yang Hidup ini telah menunjukkan saya siapakah Yeshua Ha Mashiah adalah.
Saya melihat kepada Charlie bahwa ia juga gemetar, dan bertanya kepadanya “apa yang terjadi?” Ia berkata bahwa ia sungguh takut sebab saya terguncang sangat begitu kerasnya, ia belum pernah melihat hal itu sebelumnya dan bercerita, ketika ia sedang membaca ayat-ayat tersebut saya mulai berguncang dan mulai berlutut lalu berbicara dan berdoa. Saya katakan kepadanya bahwa saya telah melihat Terang dan Dia berkata kepada saya bahwa Dia adalah Kehidupan, Jalan dan Kebenaran, Dia adalah Yeshua!
Saya berkata kepada Charlie “Nah, alasan saya merasa seperti saya rasakan dalam hatiku dikarenakan Dia adalah Putra Elohim, kemudian saya telah menghendaki Dia menjadi YAHWEH dan Juruselamatku.”

Hari berikutnya Tass merasa beban yang tidak biasa untuk berdoa — satu hal yang ia belum pernah mengalami sebelumnya. “Orang-orang pertama yang datang di hati saya untuk didoakan adalah orang-orang Yahudi tersebut,” katanya.  “Saya berdoa, ‘Oh, Elohim berkati umat-Mu Israel.  Elohim kumpulkan mereka ke Tanah Perjanjian.'”

Juga keesokan paginya, Tass tidak sabar untuk memberitahu putranya yang beruisa 18 tahun, Benali, yang sedang mencukur saat itu. “Kemarin, saya menerima Yeshua sebagai YAHWEH dan Juruselamatku.” “Oh, ayah!” Benali berseru dan mulai menangis, memeluk ayahnya, dan krim cukur tersebar diseluruh wajah mereka berdua. “Tunggu sebentar!,” kata Tass. “Mengapa kamu begitu senang terhadap saya?” ia bertanya, sebab pikirnya putranya adalah seorang Muslim. “Ayah, saya telah juga menerima Ha Mashiah tiga bulan yang lalu dan saya tidak memberitahu siapa pun,” katanya.
Benali kemudian menjelaskan kepada ayahnya bagaimana ia berkonsultasi  kepada pendetanya apa yang ia harus lakukan, mengetahui bahwa ayahnya akan “membunuh saya ketika dia tahu.” Pendeta mengatakan kepadanya, “Kembali ke rumah ayahmu dan kasihilah ayahmu lebih lagi.” Kemudian pendeta ini membuat sebuah pertemuan khusus di gereja dan meminta dilakukannya sebuah rantai doa 24 jam sehari dibuat untuk keluarga Benali. “Itulah tiga bulan sebelum saya diselamatkan,” kata Tass.

Sejak saat itu, istri Tass dan anak-anaknya menjadi orang-orang Kristen, dan mereka mendirikan dua organisasi, Hope for Ishmael (Harapan bagi Ismael), sebuah pelayanan penginjilan dan Seeds of Hope (Benih-benih Pengharapan), sebuah organisasi kemanusiaan yang beroperasi di Timur Tengah.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Demokrat Atheis Fox News Kirsten Powers: ”Saya telah bertemu Yeshua!”


Kirsten Powers, seorang jurnalis dari kantor berita Fox News dan bekerja untuk partai Demokrat Amerika Serikat, bersaksi bagaimana ia seorang yang alergi dengan hal-hal yang berbau “Kristen” namun sekarang memeluknya dengan gembira bahkan ia terang-terangan menyatakan dirinya “Kristen lahir baru” dan menjadi pengikut Yeshua.

Joe Kovacs, seorangYahudi Kristen menulis kesaksian Kirsten, berikut ini bagian besar laporannya. Joe adalah penulis dari buku “Shocked by the Bible: The Most Astonishing Facts You’ve Never Been Told” dan, “The Divine Secret: The Awesome and Untold Truth About Your Phenomenal Destiny.”

Kirsten Powers wanita yang cerdas, cantik, komentator Demokrat pada Fox News, yang adalah seorang atheis hampir dalam seluruh kehidupannya sampai akhirnya dia berkata bahwa dia telah mengalami pertemuan pribadi dengan Yeshua.

Latar belakang Kirsten Kirsten Powers
Kirsten telah bertumbuh di Gereja Episcopal di Alaska, namun mengakui bahwa imannya saat itu “dangkal” dan “tipis.” Tetapi ketika ia memasuki perguran tinggi, kenyataan kehadiran Elohim telah lenyap dari dirinya khususnya ketika ayahnya sendiri mulai luntur imannya.
“Mulai awal usia dua puluh dan seterunya, saya terombang-ambing antara atheism (tidak percaya adanya Elohim) dan agnosticism (keyakinan yang sama sekali menolak adanya kebenaran yang mutlak), tidak pernah datang mendekat untuk berpikir bahwa Elohim dapatlah ada nyata.”

Setelah lulus dari bangku kuliah, Powers bekerja dengan team Clinton (politikus) dari tahun 1992 sampai 1988, menyadari politik-politik Demokrat “adalah agama kami, untuk sebuah batas tertentu.”

“Semua teman saya adalah sekuler, liberal,” ia bercerita kepada Radio Focus on the Family. “Jadi, saya sungguh pergi semakin masuk ke dalam sebuah dunia sekuler secara luar biasa. Sekarang semua teman saya pada dasarnya adalah orang-orang atheist, atau jika mereka ada memiliki sejenis hal yang bersifat rohani, mereka sangatlah tidak bersahabat terhadap keagamaan, khususnya Kristianiti. Jadi saya saat itu sungguh tidak ada ketertarikan sama sekali tentang itu.” [Anda lihat betapa media Barat telah berhasil menipu banyak orang dengan memutar balik citra Kristianiti – ajaran Yeshua, Anak Manusia yang tanpa noda dan dosa dan ajarannya sangat mulia]

”Jadi ketika saya mulai pacaran dengan seorang pria yang percaya Yeshua,” ia menulis, ”saya tidak mencari Elohim. Jelasnya, seminggu sebelum saya bertemu pria ini, seorang teman saya bertanya pada ku jika memiliki hal tertentu untuk pacaran. Respon saya : ’Siapa saja asal ia tidak beragama.’”

Bulan-bulan pertama dalam masa pacaran mereka, pacar prianya bertanya pada Kirsten, “Apakah kamu percaya Yeshua adalah Juruselamatmu?”
“Perutku tenggelam. Saya mulai panic,” ia mengingat, “Oh tidak, pikiran pertamaku. Pria ini gila.”
Ketika Kirsten respond bernada negative, maka pacar prianya mulai bertanya, ”Apakah kamu berpikir kamu dapatlah pernah mempercayai itu?” Pria ini mungkin berkehendak menikahi Kirsten, namun menandaskan bahwa ia tidaklah dapat menjalin hubungan dengan seorang yang bukan Kristen.
Kirsten menjawab dengan jujur, “Saya berkata, saya tidak ingin menyesatkan pacarnya – saya tidak akan pernah percaya kepada Yeshua,” ia bercerita. Lalu pria ini berkata perkataan ‘magic’ kepada wanita liberal ini: ‘Apakah kamu pikir kamu dapat tetap berpkiran terbuka tentang hal itu?’ Well, tentu saja. ‘saya orang yang sangat berpikiran terbuka!  Meskipun saya saat itu tidak sama sekali berpikiran terbuka.’”
“Jika ada satu hal yang saya benar-benar aman, itu adalah bahwa saya tidak akan pernah mematuhi agama apapun – terutama kepada Kristen Injili, yang saya pernah mengadakan penghinaan khususnya,” ia menulis di Chritianity Today.
Bagaimanapun ia memutuskan untuk sekali saja berkunjung ke gereja pacarnya.

Mulai melihat terang
Saat Kirsten pertama kalinya berkunjung ke gereja, ia menjadi tertarik dengan kotbah pendetanya. “Pendeta ini menerangkan pesannya dengan pengetahuan yang dalam, berpindah dari seni, sejarah dan filsafat. Saya memutuskan untuk kembali mendengarnya kembali. Segera, mendengarkan pendeta Keller berkotbah menjadi inpirasi dari minggu saya.” – namun satu hal yang Kirsten tidak suka: pendeta ini selalu menutup kotbahnya dengan mengaitkan semua hal tersebut dengan Yeshua, Kirsten berkata, ”Untuk bulan-bulan pertama, saya merasa frustasi: Mengapa ia harus menghancurkan percakapan yang bagus sempurna dengan Yeshua nonsense ini?”

Minggu ke minggu, pendeta Keller membicarakan suatu perkara tentang Kristianiti dan perkara melawan atheism dan agnosticism. Itu menantang Kirsten Powers untuk mulai membaca Alkitab dan pacar prianya berdoa dengan dia untuk Elohim menyatakan Diri-Nya sendiri kepada jurnalis tersebut.

Setelah sekitar delapan bulan mendengarkan Keller, journalist ini menyimpulkan “bukti memberatkan pada sisi Kristianiti. Namun saya belum merasakan hubungan dengan Elohim, dan seriusnya, saya tidak bermasalah dengan hal itu. Saya saat itu masih tetap berpikir bahwa orang-orang yang berbicara tentang mendengarkan suara dari Elohim atau mengalami Elohim adalah delusi atau berbohong.”

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. (Yoh 10:27-28)

Yeshua menampakkan diri-Nya kepada Kirsten melalui mimpi
Pada kondisi jiwa seperti di atas ia pergi ke Taiwan, tujuh tahun lalu. Kirsten bertemu dengan Penciptanya. tahun 2006 di Taiwan, Kirsten Powers berkata, “Saya terbangun dalam perasaan seperti dalam persinpangan antara sebuah mimpi dan kenyataan. Yeshua datang kepada ku dan berkata, ‘Inilah Aku (Here I am).’”

Ia bercerita kepada majalah Christianity Today, “Itu terasa sungguh nyata. Saya tidak tahu harus berbuat apa,” Kirsten bercerita, “saya telpon pacar saya, namun sebelum saya punya waktu untuk menjelaskan padanya tentang hal itu, ia bercerita pada ku bahwa ia telah berdoa satu malam sebelumnya dan merasa kami seharusnya putus hubungan. Jadi kami lakukan. Jujurnya, sementara saya kecewa, saya lebih trauma oleh kunjungan Yeshua kepada ku.”

“Saya telah mencoba untuk menghapus pengalaman tersebut sebagai synapses (pembuahan dua jenis sel tubuh) yang salah tembak, tetapi saya tidak dapat menguncangkannya. Ketika saya kembali ke New York beberapa hari kemudian, saya terhilang, Saya tiba-tiba merasakan Elohim ada diman-mana dan itu sungguh mengerikan. Lebih penting, itu tidak diundang. Itu terasa seperti suatu invasi. Saya mulai takut saya menjadi gila.” Kirsten Powers berdiri

Dalam sebuah wawancara TV di Saluran Fox News dengan Howard Kurtz, “REPORTER’S RELIGIOUS AWAKENING; Becoming a Devout Evangelical Christian,” Kirsten berkata, “Dan saya telah memiliki pengalaman ini dimana saya telah mendapat mimpi layaknya mengakhiri duniaku sedikit, bahwa saya, pada mulanya, hanya berpikir itu hanyalah mimpi, sebab saya sebelumnya sungguh tidak percaya hal-hal seperti itu. Dan mungkin itu hanyalah sebuah mimpi, saya tidak tahu, namun itu menaruh saya pada jalan-jalan setapak pencarian untuk belajar tentang itu. Saya berakhir di dalam pelajaran Alkitab dan sisanya adalah semacam sejarah.” Puluhan kesaksian orang-orang Muslim berjumpa Yeshua di Muslim Journe To Hope.com

Itu mengambil sekitar dua tahun untuk Kirsten dapat menerima apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia menghadiri pelajaran Alkitab yang dipimpin oleh Kathy Keller.

Ia teringat ketika pertama kalinya berjalan masuk ke pertemuan tersebut, perutnya terasa terikat oleh sebuah tali. ”Dalam pikiran saya, hanyalah orang-orang aneh dan fanatik yang pergi ke pelajaran-pelajaran Alkitab,” ia menulis. ”Saya tidak ingat apa yang dikatakan hari itu. Namun semua yang saya tahu ketika saya meninggalkan tempat itu, segala sesuatu telah berubah. Saya tidak akan pernah lupa berdiri diluar apartment the Upper East Side itu dan berkata kepada diriku sendiri, ’Itu benar. Itu benar semuanya.’ Dunia terlihat berbeda seluruhnya, seperti sebuah kerudung telah diangkat keluar. Saya tidak memiliki satu iota keraguan. Saya dipenuhi dengan kesukaan yang tidak dapat diterangkan.”

“Ketakutan masa depan (dunia karir) menjadi seorang Kristen yang sungguhan merayap mundur hampir tiba-tiba. Beberapa bulan saya telah menghabiskan waktu melakukan yang terbaik saya bisa untuk bergumul keluar dari Elohim. Tidak ada artinya. Kesetiap tempat saya berpaling, disana Dia berada. Pelan-pelan ketakutan berkurang dan sukacita bertambah. Suara Aungan Sorga telah mengejar saya dan menangkap saya – entah saya suka itu atau tidak.”

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. … Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. … Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. …
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. … mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Mazmur Daud 139:1-16

Hidup di New York, dimana uang dan material adalah Mamon dan kebebasan hidup adalah  Beetzebul dan worldview tentang kehidupan jauh dari nilai-nilai moral Alkitab, Kirsten menghadapi banyak tantangan, banyak dari mereka mempertanyakan keputusan sebagai pengikut Yeshua, ia gambarkan hal dengan ”Itu tidak seperti hidup di Selatan (Amerika Serikat) atau ditempat lain dimana setiap orang Kristen. Saya hidup di sebuah dunia dimana tidak seorangpun orang percaya. Jika saya mendapati satu dollar untuk setipa kali seseorang berkata, ’Saya tidak mengerti: bagaimana kamu dapat ada seorang Demokrat dan ada sebagai seorang Kristen?’ Saya tentunya sudah jadi seorang millioner.” Kirsten bercerita sambil tersenyum.

Komentar saya: Orang Kristen perlu berdoa lebih banyak agar lebih banyak lagi jurnalis mengenal Adonai Yeshua Ha Mashiah!! Kirsten memerlukan dukungan doa orang-orang percaya di dalam menghadapi tantangan di dunia sekitar dia hidup. Iblis sering kali menipu orang percaya dengan lebel-lebel palsu, fakta sesungguhnya ialah Yeshua adalah seorang yang ‘Murni Demokrat’- Dia bergaul dengan Zakeus (pemungut cukai), satu dari murid setian-Nya adalah Maria Magdalena (pelacur yang tertangkap basah, dan diselamatkan). Bedanya Yeshua tidak kompromi dengan dosa seperti kebanyakan para Demokrat Amerika! Label palsu Iblis lainnya ialah ”bagaimana kamu bisa jadi seorang Scientist dan tetap seorang Kristen?” atau ”seorang Filsafat dan tetap seorang Kristen?” Fakta bertumpuk menunjukkan bahwa banyak penemuan teknologi yang kita sekarang pakai ditemukan oleh orang-orang Kristen seperti Sir Isaac Newton (ahli matematika dan penemu telescope); professor filsafat abad 20 dari universitas terkenal (seperti CS Lewis, Derek Prince) adalah para Kristen sejati. Tokoh Gereja Barat yang merubah paganism dan barbarian di Eropa menjadi benua ‘Demokrasi’ dan Pembela HAM adalah ahli Alkitab Perjanjian Lama, bernama Saulus orang Tarsus. Para pemenang hadiah Nobel di dunia ilmu pengetahuan adalah mayoritas jatuh ketangan orang-orang Israel yang disebut oleh Muhammad sebagai ”orang-orang Alkitab” (The People of The Book). Kita harus bangga menjadi pengikut-pengikut Yeshua Ha Mashiah sebab kita adalah ”Garam dan Terang Dunia” lebih lagi kita disebut ”the children of The Most High,” seperti Yeshua berkata kepada para pengikut-Nya: Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Elohim Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Luk 6:35-36)

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog