Serangan atas Charlie Habdo awal berakhirnya simpati Barat atas Islam? Updated 12/1


Karikatur Islam terrorists menentang Charlie Habdo Apakah ini, senjata kecil yang melukai kita begitu benyakTanggl 7 Januari Eropa dikejutkan dengan serangan dua pria Islam (Kouachi bersaudara) bersenjata api otomatis pada kantor majalah karikatur Charlie Habdo di Paris, Perancis, menewaskan 12 orang dan 11 luka-luka. Kamisnya Coulibaly, pemuda Islam Sinegal menembak mati polisi wanita, Jumatnya Coulibaly, yang ada hubungan dengan tokoh penyerang Charlie, memasuki supermarket Yahudi menyandera 16 orang, dan membunuh 4 orang. Hanya dalam dua hari orang Perancis asli, pihak kepolisian dan anti-Semit diterror oleh orang-orang Islam berwarganegaraan Perancis keturunan Afrika Utara. Kakak-beradik Kouachi keduanya lahir di Perancis. Orang ketiga dari aksi terror hari Rabu (supir?) menyerahkan diri ke polisi setelah namanya termuat di media sosial, rekan  Amedy, wanita Arab, masih buron, diduga telah melarikan diri ke Syria via Turki.
Amedy Coulibaly pada aksinya tersebut mengakui telah berkordinasi dengan Saida dan Cherif Kouachi, dan dengan bangga bercerita kepada penyiar TV (sebelum ia ditembak mati) bahwa ia telah membunuh 4 orang dan lebih banyak lagi jika polisi menyerang Kouachi. Polisi menemukan bendera Jihad hitam yang juga dipakai oleh Negara Islam Khalifah.

Apa reaksi Dunia Barat terhadapat serangan terror Islam di Paris ini? Di bawah ini adalah ringkasan respond pemimpin dan masyarakat Barat, komentar dapat di lihat pada link-link yang tersedia. Berikut ini sedikit gambaran reaksi Dunia Barat:
Beberapa hari sebelum peristiwa tragis atas Majalah Charlie Habdo, puluhan ribu masyarakat Jerman telah turun kejalan menentang Islamisasi di Jerman, gerakan mereka ini disebut gerakan “PEGIDAPatriotik Orang Eropa Menentang Islamisasi atas Barat (Patriotic Europeans Against the Islamization of the West).
Para anti-Islamist Perancis yang mengorganisasikan aksi unjuk rasa ini berkata kepada koran Perancis Je suis Charlie Saya adalah Charlie demo anti-Islam atas tewasnya para karikatur Charlie HebdoThe Local, “Itu adalah sebuah langkah awal” yang para expert Perancis nyatakan bahwa hal demikian tidak akan pernah berlangsung di Perancis. Nyatanya para expert tersebut salah besar, pada Rabu malam yang sama 7 Januari tersebut, segera setelah kejadian, diperkirakan 35.000 rakyat Paris turun kejalan unjuk rasa anti-Islam. Di seluruh Perancis aksi unjuk rasa ini kurang-lebih 100.000 orang.  Unjuk rasa menentang Islam garis keras juga terjadi di kota-kota Eropa lainnya, seperti di Brussels, Berlin, Madrid, Nice dan di London.
Spanduk dan slogan mereka di antaranya ”Je suis Charlie” (Saya adalah Charlie) dan “NOT AFRAID” (TIDAK TAKUT). Ini beberapa respond Cartoonists atas kejadian Rabu awal tahun ini: World’s cartoonists respond to the attack on ‘Charlie Hebdo’
Hari Saptu aksi untuk rasa di Paris menjadi sedikitnya 200.000 orang. Hari Minggu, mencapai lebih dari 3,5 juta orang; mereka berdatangan dari negara-negara tetangga dan juga para pemimpin negara turut serta di dalam rally aksi terror Islam tersebut. Ini suatu rally yang sangat bersejarah, seperti di Mesir, ketika lebih 2 juta rakyat Mesir rally menendang keluar President Morsi orang kuat organisasi Islam Muslim Brotherhood.
Penulis Perancis yang kontroversial, Michel Houllebecq akan segera menerbitkan bukunya yang terbaru ”Submission” suatu buku yang memproyeksikan bahwa Perancis di tahun 2022 akan berada di bawah seorang president Muslim, semua guru-guru sekolah harus pindak ke Islam. Menurut poll tahunan, di tahun 2013, 74% masyarakat Perancis percaya agama Islam ”adalah tidak cocok dengan nilai-nilai masyarakat Perancis.” Cesson, aktivist ”PEGIDA Perancis” percaya bahwa tidaklah mungkin ada keduanya sebagai orang Perancis dan Muslim sungguhan, ”Kedua budaya tidaklah sejalan. Kita memiliki nilai-nilai Republik, seperti kesetaraan antara pria dan wanita, kebebasan berpikir dan respek untuk opini-opini yang berbeda, itu tidaklah cocok dengan Kuran,” ia berkata.
Majalah Charlie Habdo, telah terkenal dengan “kebebasan berbicaranya” melalui karikatur mengejek ajaran nabi Muhammad. Beberapa contoh gambar bisa diliha di sini. ‘Charlie Hebdo,’ brazen champion of political incorrectness, loved poking fun at Islam dan di sini Paris shooting: World newspaper front pages on Charlie Hebdo attack, in pics. Alasan inilah Kouachi, yang dilatih oleh al-Qaida di Yamen, berseru “Pembalasan atas nabi Muhmmad!” dan setelah membunuh 12 “musuhnya” keduanya berteriak “ALLAHhu Akbar!”

Baca juga:

Inilah  respond para pemimpin dan tokoh di Barat:

Presiden Perancis François Hollande: “Tindakan barbariak tidak akan memadamkan kebebasan berita. Kita adalah sebuah negara yang bersatu yang akan bereaksi secara bersama.”
Salman Rushdie, ex-Muslim India dan bukunya The Satanic VersesSalman Rushdie, penulis buku “The Satanic Verses” (1988): “Saya berpihak dengan Charlie Hebdo, sebagaimana kita semua harus, untuk membela seni satire, yang telah selalu ada sebagai kekuatan untuk kebebasan dan melawan tirani, ketidak jujuran dan kebodohan.” Bukunya yang mengupas isi Kuran tersebut telah membuat ia di fatwa mati oleh Khomeini.
Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker: “Uni Eropa berdiri disebelah Perancis. Serangan brutal tersebut menentang nilai-nilai fundamental kita dan menentang kebebasan berekpresi, pillar dari demokrasi kita. Pertarungan menentang terrorism dalam segala bentuknya haruslah berlanjut teguh tanpa letih.” Aksi terror ini digambarkannya sebagai “Ini adalah tindakan yang tidak bisa ditolerir, suatu tindakan barbarism yang menantang kita semua sebagai manusia dan orang-orang Eropa.”

PM Britania Raya, David Cameron: “Pembunuhan-pembunuhan dAnti-Islam Pegida di Jerman dan Perancisi Paris adalah menjijikkan. Kami berdiri dipihak masyarakat Perancis di dalam memerangi melawan terror dan membela kebebasan berita.”

Pemerintah Russia atas nama President Putin: “Mengutuk dengan keras kejahatan yang bersikap sinis ini dan setuju kesiapan beliau untuk terus aktiv bekerja sama dalam bertarung melawan ancaman terrorisme.”

President USA, B.H. Obama: “Masyarakat Perancis telah bangkit berdiri untuk nilai-nilai universal yang generasi-generasi kita sebelumnya telah membela.” Tindakaan terror ketiga pemuda Islam tersebut dikatakannya sebagai “pengecut.”

Bacaan berkait:

Majalah Charlie Habdo mengkritik tidak hanya Islam, tetapi juga Yahudi dan Gereja Roma Katolik dan para politikus Perancis. Charlie Habdo, tidaklah sendiri di dalam mengerik agama Islam, Jyland-Posten, koran Denmark, telah menjadi terkenal di tahun 2006 dengan 12 karikatur dari “perlombaan karikatur Muhammad,” yang membuat masyarakat Islam sedunia menjadi marah. Pada kejadian Rabu kemarin, Jyland-Posten kembali membuat 12 karikatur tersebut sebagai “turut simpati.”
Dalam 10 tahun terakhir ini, beberapa kota di negara-negara Eropa telah mengalami serangan-serangan serupa di atas dari orang Islam yang tinggal dan lahir di Eropa:
24 Mai 2014, Empat orang terbunuh pada Musium Yahudi Brussels.
22 Mai 2013, Lee Rigby, seorang tentara Inggris yang sedang berada di jalan kaki lima ditabrak mobil yang dikendarai oleh dua pemuda Islam yang dipengaruhi oleh al-Qaida. Tentara ini kemudian ditusuk dengan pisau belati dan kemudian dicekek lehernya hingga mati.
Maret 2014, Pemuda Islam kelahiran Perancis asal Afrika Utara membunuh tiga murid SD Yahudi beserta ayahnya yang sedang berjalan, Muhammad Merah, nama pemuda ini, juga membunuh tiga tentara Perancis.
2 November 2011, Kantor-kantor majalah Charlie Hebdo di Paris di bom setelah majalah ini menerbitkan karikatur laki-laki seperti nabi Muhammad
27 Juli 2005, Empat pemuda Islam melakukan bom bunuh diri di dalam kereta bawah tanah dan bus, 52 penumpang tewas.
11 Maret 2004, Bom-bom diledakan pada jam sibuk pada stasiun kereta di Madrid yang menewaskan 191 jiwa. Yang menjadikan serangan terrorist Islam terburuk di Eropa.

Anti-Islam nampak di negpuluhan ribu pendukung Charlie Habdo demo NOT AFRAIDara-negara Barat sejak aksi-aksi terror dari kelompok Islam al-Qaida. Aksi terror kelompok-kelompok Islam bahkan telah membuat tokoh-tokoh Islam terpelajar telah meninggalkan Islam; Prof. Mark A. Gabriel (sejarawan Islam), Dr. Wafa Sultan, Amani Mostafa. Yang lebih mengejutkan adalah tidak sedikit para pejuang Islam Timur-Tengah yang meninggalkan Islam dan berpaling ke Kristianiti, seperti Afshin Javid, The Son of Hamas, Taas Saada, Walid Shoebat, Naeem Fazal, Nabeel Qureshi.

Catatan: Negara Perancis terkenal dengan kebebasan berpendapat, Napoleon adalah satu-satunya orang yang pernah menangkap paus dan menutup Gereja Roma Katolik, dan patung wanita Liberty yang ada di Amerika adalah hadiah dari pemerintah Perancis. Nampaknya mimpi yang bersifat nubuatan dari seorang nenek di Norwegia “Eropa akan membenci orang asing (Islam)” sedang menuju pada penggenapannya.

Bacaan berkait:

Referansi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Iklan

Pasangan Kristen di Pakistan tewas dibakar karena tuduhan PALSU membakar Kuran


Demo batalkan Hukum-hukum Penghujatan Agama Islam di PakistanAniaya dan pembunuhan kembali terjadi atas orang Kristen di negara Pakistan, negara dimana 97% dari 180 juta penduduknya adalah penganut agama Islam. Kristen dan Katolik di Karachiturun kejalan memprotes kejadian tersebut.
Sejak Jenderal Zia-ul-Haq membuat undang-undang penghujatan untuk membela agama Islam di tahun 1980an, kelompok-kelompok agama minoritas telah mengalami diskriminasi berat oleh pemerintah Pakistan maupun para orang Islam Sunni Pakistan.
Peristiwa main hakim sendiri anti-Kristen ini terjadi Kasur, profinsi Punjab Selasa pagi 4 November 2014. Shahzad Masih dan Shama Bibi (isteri dari Shahzad M. Immanuel) telah dibakar gerombolan orang Islam yang marah – karena terhasut.
Pagi dinihari (4/11/2014) Mesjid-mesjid di sekeliling lima desa telah memanggil orang-orang Islam untuk berkumpul – bukan untuk memanggil jemaatnya sembayang – untuk melakukan kekerasan kepada pasangan Kristen yang telah dituduh oleh bosnya Shahzad, pemilik pabrik pembuatan batu bata.
Berbondong-bondong orang Islam datang ke pabrik batu bata milik Yousaf Gujjar untuk ‘mendisiplinkan’ keluarga Immanuel ini. Massa menyiksa Shahzad dan isterinya yang sedang hamil, lalu melemparkan mereka hidup-hidup ke dalam dapur pembakaran batu bata yang sedang membara tersebut.

Martir Punjab Pakistan Shafqat Emmanuel dan Shugufta EmmanuelPasangan Kristen ini tewas. Laporan berkata, “Ketika pasanga Kristen itu sedang terbakar dan berseru-seru bahwa mereka tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan kepada mereka, jawaban para orang Islam tersebut adalah jeritan-jeritan yang tidak menolong sama sekali yakni “ALLAH hu akbar” “mampus untuk para penghujat” dan “bunuh para Kristen infidal.” Jeritan para Islam yang tidak terkendali ini telah membuat orang-orang Kristen di kelima desa tersebut segera meninggalkan rumah mereka untuk menyelamatkan jiwa mereka.
Perintah Muhammad kepada umatnya untuk “memukul para bukan-orang Islam dengan terror” nampak masih diterapkan oleh pengikutnya sampai saat ini dan mereka bangga karena memang cara ini bekerja baik. Baca ini: Prophet of Doom bab: Legacy of Terror dan
Jihad.
Orang-orang Islam di Barat berkata bahwa ”ISLAM adalah agama damai,” namun di mana orang Islam adalah mayoritas, apalagi memakai hukum Islam, disebut Hukum Sharia sebagai Hukum Negara (dikenal sebagai ”Negara Islam”) seperti Pakistan, Iran, Somali, Sudan contohnya maka tanpa diragukan bahwa kekerasan dan terror selalu menekan kelompok minoritas.
Bacaan berkait:

Islam Pakistan memakai Hukum Hujat untuk menganiayaya orang KristenDi Pakistan, banyak orang Kristen bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pembuat batu bata dan pekerjaan kasar lainnya. Diskriminasi terhadap kelompok minoritas begitu besar di Pakistan, khususnya terhadap orang Kristen – hanya karena mereka beriman kepada Yeshua. Banyak kejadian seorang Kristen meminjam uang kepada tuan mereka yang orang Islam tersebut, semakin lama bekerja bukan bertambah baik tetapi akan semakin terjerat yang berakhir pada perbudakan Islam abad 21.
Pembunuhan main hakim sendiri atas suami-isteri Emmanuel ini terjadi setelah delapan hari pengadilan di kota Lahor (terletak di utara kota Kasur) membuat keputusan hukuman mati atas pria Kristen lainnya atas tuduhan menghina nabi Islam, Muhammad, dalam suatu percakapan saat mabuk dengan teman Islamnya. Orang Kristen Pakistan lainnya yang masih dipenjara menanti hukuman mati adalah Asia Bibli atas tuduhan sejenis di November 2010.
Kasus ’penghujatan atas Islam’ pada keluarga Emmanuel yang sebenarnya: Shahzad karyawan pabrik batu bata, dan Shama Bibi, isterinya, karyawati di sebuah sekolah missionari setempat, mereka memiliki empat anak kecil Ambrose (13), Danish (10), Sarah (7), dan Amir (5).
Pasangan ini dituduh telah mengirim SMS (text message) yang menghujat pada 18 Juni 2013, menghina Anwar m. Goraya (president asosiasi Tehsil Bar) dan Malik M. Hussain (businessman). Pada SMS itu tertulis nama Shahzad. Polisi memaksa mereka untuk mengakui, dan menaham mereka termasuk 4 anak mereka. Polisi mendaftarkan pengaduan tersebut di bawah Seksi 295-B (menghina Kuran; perjara seumur hidup), 295-C (menghina nabi Muhammad; hukuman mati, dan 25-D (menggangu orang lain, maximum 3 tahun perjara). Di pengadilan Tertuduh menolak tuduhan tersebut dan tidak tahu menahu tentang hal itu. Penasehat Hukum dari tertuduh, Nadeem Hassan meminta bukti tuduhan dihadirkan di pengadilan, namun mereka tidak bisa membuktikan, dan juga tidak bisa menghadirkan bukti nyata lainnya yang bisa menyerang pasangan Kristen tersebut. Bagaimanapun – Pengadilan Pakistan memutuskan hukuman mati atas Shahzad dan Shama.

Bacaan berkait:

Kristen Pakistan demo anti-Hukum Hujat Islam yang disalah gunakanPenasehat Hukum dari tertuduh, Nadeem Hassan, bercerita bahwa pejabat-pejabat hukum dan penasehat hukum dari Lahore yang mewakili penuduh telah terus menerus menekan Hakim. Tuduhan mengirim SMS berisi penghujatan juga telah terjadi kepada banyak orang Kristen Pakistan dan kelompok minoritas lainnya seperti Islam Shia dan Ahmadiah. Morning Star News menulis.
Farooq Sulehria, peneliti dan aktivist politik: “Investigasi-investigasi akanlah membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan penghujatan melawan pasangan tersebut adalah palsu. Menurut laporan-laporan yang belum dikonfirmasikan, mereka telah ribut soal gaji dengan boss Muslim mereka pada pabrik dapur pembakaran batu bata. Segala sesuatu yang lainnya mengikuti setelah itu,” kata Farooq kepada media pemerintah Jerman terkenal Deutsche Welle (www.DW.de). Farooq adalah orang Pakistan yang tinggal di Inggris.
Imran N. Siddiqui, aktivist masyarakat di Islamabad: ”Undang-undang Penghujatan adalah doktrin buatan-manusia dan bukan wahyu sorgawi. Opini publik membawa banyak beban dan dapat mempengaruhi keputusan pengadilan. Kita harus menciptakan narasi alternatif untuk mengalahkan wacana ekstremis tersebut di negara ini. Ini adalah ujian bagi hak-hak minoritas di Pakistan.
Farrukh Harrison aktivist dari the Christian advocacy group World Vision in Progress  mengkomentari perkara ini di Morning Star News sebagai “sikap pengadilan yang melenceng,” ia berkata: Jemaat Kristen Pakistan protes atas pembunuhan Shehzad dan Shama
“Hakim telah menolak permintaan kami sehubungan bukti yang tidak memadai dari Penuduh
“Mengapa Shagufta (Shama Bibi) diberikan hukuman mati ketika polisi mengklaim bahwa suaminya yang telah berbuat kesalahan?
“Bukankah ini penghinaan keadilan bahwa pasangan miskin telah divonis untuk sebuah kejahatan yang tanpa motif?
“Pertanyaannya adalah motif apakah yang mungkin ada dari pasangan ini untuk melakukan kriminal tersebut pada tempat pertama. “Mereka tidak berpendidikan, orang-orang yang miskin, yang seluruh kehidupannya adalah dibatasi hanya kota mereka sendiri.”
Dr. Nazir S Bhatti, President of Pakistan Christian Congress, ”Ada kasus-kasus penghujatan terdaftar di lebih dari belasan kantor-kantor Polisi dimana pengadilan-pengadilan telah memerintahkan menahan seorang Muslim pemilik media, dan artis-artis Muslim dari sebuah saluran TV, tetapi tidak seorangpun berani menangkap mereka, namun pada tuduhan penghujatan yang palsu polisi menaruh orang-orang Kristen di balik teraris besi (memenjarai) dan para pengadilan menghadiahkan mereka hukuman-hukuman mati yang menunjukkan bahwa hukum-hukum penghujatan adalah hanyalah dijadikan hukum untuk mentargetkan para penganut agama minoritas di Pakistan.”

Diskriminasi agama di Pakistan bukanlah perkara baru, tetapi itu sudah bertumbuh secara pesat dalam beberapa tahun terakhir ini. DW menulis.

Bacaan berkait: (diambil dari Penjalabaja.wordpress.com)

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog