Bom bunuh diri di Gereja Bethel Solo dikutuki President dan para pemimpin agama


Hari Minggu 25 September bom bunuh diri meledak di dalam gedung Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) menelan korban jiwa jemaatnya satu tewas, dan 14 luka-luka. Pembom bunuh diri, seorang pemuda, meledakkan bom yang melekat di perutnya ketika jemaat gereja baru saja selesai melakukan ibadah Minggu paginya dan bersiap keluar gedung.

Wajah pelaku bom bunuh diri ini masih dapat dikenali dengan baik, namun dada kebawah hancur, isi perutnya keluar, bukan warga setempat, pendeta setempat berujar. Material tambahan dari isi bom adalah mur, batu dan paku payung (dipakai untuk menambah daya bunuh para korbannya).

Dikutuki para pemimpin. Menteri Agama, Suryadharma Ali, pada hari yang sama di hadapan peserta halalbihalal dan pelantikan pengurus baru PPP menyatakan, “Tindakan kekerasan semacam itu sangat tidak terpuji. Ditentang oleh siapa pun dan oleh agama apa pun.” Beliau menambahkan, “Kami berharap polisi mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya, dan adili pelakunya.” Menurutnya aksi menebar teror dan ketakutan kepada masyarakat tidak akan mencapai apa yang para terrorist cita-citakan.

Ketua PWNU Jawa Tengah, M. Adnan, menilai aksi bom bunuh diri bukanlah jihad. “Aparat harus melakukan tindakan preventif. Jangan hanya bertindak setelah ada kejadian semacam ini, segera tindak jika ada kelompok masyarakat yang berkeinginan melakukan teror atas nama agama,” katanya.

Bahkan  President Indonesia, SBY, didampingi Wapres dan Menko Polhukam, berkata, ”Atas nama negara, saya mengutuk keras atas aksi terorisme, kejahatan luar biasa yang bersifat tanpa pandang bulu, ini yang terjadi di negeri kita. Saya instruksikan agar investigasi lanjutan segera dilakukan secara intensif untuk membongkar habis jaringan pelaku pemboman. Termasuk dana, termasuk pemimpin dan penggerak aksi terorisme.” 

Pengamat Intelijen Wawan H. Purwanto menyatakan bahwa pihaknya telah mengetahui gerakan para terrorist tersebut sejak 14 Agustus 2011. Beliau juga telah menemukan kantong-kantong terrorist di Indonesia. “Di Poso masih ada puluhan, di Plumpang masih ada dua DPO, di Palembang lima orang, Aceh ada 19 orang, Jawa Tengah 12 orang, Jawa Timur 10 orang, dan Cirebon lima orang,” katanya.

Bom bunuh diri juga pernah terjadi di GPIB Koinonia Jatinegara dan di sebuah gereja di lingkungan Lapangan Udara TNI Halim Perdanakusuma.

Ada dugaan bawah pelaku bom bunuh diri Di Solo ini memiliki jaringan yang sama dengan bom bunuh diri di mesjid  komplek Mapolresta Cirebon 6 bulan yang lalu, yang meledak saat shalat Jumat.

Bacaan berkait:

Referensi:

 

Iklan

Indonesia: Fanatik Islam menguasai moral pemimpin bangsa?


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi setiap Anda yang merayakannya. Semoga sukacita dan damai Elohim (Allah) ada ditengah-tengah perayaan Anda.

Pendahuluan. Setiap 17 Agustus seluruh bangsa Indonesia membacakan idiologi kebangsaan Pancasila dengan rasa hormat dan bercampur bangga bahwa bangsa dan negara Indonesia memiliki prinsip moral berbangsa yang begitu baik.

Dari kelima sila di atas tercakup hubungan vertikal manusia dengan Penciptanya (sila pertama), dan hubungan horisontal manusia dengan sesamanya (sila kedua). Pada sila ketiga sampai kelima ialah mengikat semua suku-bangsa yang berada di dalam ‘naungan sayap garuda’ Pancasila, jelas di dalamnya ada jaminan keamanan dan kebebasan hidup dan berkarya dan tanggung jawab – “keadilan sosial” – dalam suatu wadah kepemimpinan yang sehat dan resmi (sila keempat). Jaminan dan tanggung jawab ini berlaku bagi seluruh pemimpin dan rakyat Indonesia.

Sejauh manakah idiologi Pancasila mengilhami kehidupan pemimpin dan bangsa Indonesia? Daftar laporan ini dipercayai  sangat mengganggu para penjunjung tinggi Pancasila dan HAM, suatu daftar laporan yang bagus untuk kita bercermin dan mengevaluasi kehidupan antar suku bangsa di Indonesia.

Penekanan tulisan ini berada pada sektor kehidupan beragama, inti dari pola pikir dan kehidupan bangsa Indonesia. Sektor agama di Indonesia mempengaruhi sektor-sektor penting lainnya, seperti keamanan dan ekonomi bangsa Indonesia, pada akhirnya akan mempengaruhi kesatuan negara Republik Indonesia.

Indonesia secara umum. Untuk mengerti tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, kita harus melihat bangsa Indonesia secara keseluruhan, melibatkan setiap suku dan bahasa mereka – dari Sabang sampai Marauke – sebab itulah Indonesia. Tidak menyertakan atau mengeluarkan satu suku dari kehidupan ideologi Pancasila, maka itu berarti membuang suatu wilayah (profinsi, pulau) dari kesatuan Indonesia. Bangsa Indonesia bukanlah hanya suku Jawa dan Sunda saja, tetapi melibatkan semua suku yang hidup dan berkebangsaan Indonesia, menurut suatu surfei Indonesia terdiri dari sedikitnya 781 suku bangsa (people groups). Kepercayaan mereka tentunya lebih dari lima kepercayaan besar (Islam, Kristen Protestant, Katolik, Budha dan Hindu) yang diakui oleh  pemerintah Indonesia. Inilah yang membuat Indonesia kaya dan unik di dalam tatanan kehidupan individu dan sosialnya, inilah ”Persatuan Indonesia!”

Kepemimpinan President Susilo Bambang Yudhoyono (dipanggil dengan sebutan “bapak SBY”). Beliau menjabat dari Oktober 2004 – sampai sekarang. Beliau seorang pemimpin yang berpendidikan tinggi, lulusan universitas di USA; Master of Management dan pendidikan militer.[1] Beliau juga menyandang gelar Dokter untuk bidang Ekonomi Perkebunan dari IPB.[2] Di tambah dengan pengalaman hidup di luar negeri serta fasih berbahasa Inggris, semua merupakan suatu bekal pendidikan yang sangat menunjang keberhasilan seorang pemimpin bangsa.

Laporan pelanggaran HAM. Dua puluh tahun terakhir ini radikal Islam Sunni semakin beringas dan cenderung sadis. Laporan internasional tentang pelanggaran HAM dari sektor agama di Indonesia tidaklah sepanas di Korea Utara atau di RRC atau di negara-negara Timur Tengah, seperti Mesir, Iran dan Pakistan, namun level pelanggaran HAM Indonesia tidaklah kecil, bahkan nampak semakin menggunung, dan yang lebih mengancam … mereka semakin terorganisasi!

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa agama resmi di Indonesia tidak hanya agama Islam namun juga Kristen Protestan (dengan segala denominasinya), Roma Katolik, Buddha (dengan segala cabangnya) dan Hindu. Di luar lima agama resmi ini, bangsa Indonesia juga menganut agama lainnya, seperti Animisme, Polytheism, Konghucu, Kebatinan. Selain itu terdapat juga ideologi moral Liberalisme, Komunisme, Konfusianisme. Orang Indonesia juga harus sadar bahwa agama Islam di Indonesia juga memiliki banyak cabang, tidak hanya Sunni, tetapi juga Shia, Sufi, Ahmadiah dan lain-lain. Pada kenyataannya, kelompok Islam Sunni Indonesia- yang adalah kelompok mayoritas – ingin menutup mata keberadaan kepercayaan bangsa Indonesia lainnya.

Peristiwa pengancaman, penutupan dan pergerusakan rumah-rumah ibadah dan Sekolah-sekolah Theologia (DOULOS, SETIA) yang disertai serangan fisik dan pembunuhan (termasuk para pengikut Islam Ahmadiah) atas bangsa Indonesia oleh Islam Sunni  di Indonesia semakin tidak  beradab (menurut standard universal Hak Asasi Manusia) dan merusak citra ideologi Pancasila dan bangsa Indonesia sendiri.

Lihat daftar-daftar hitam lembaran Islam Sunni Indonesia di sini:

Mengapa pemerintah Indonesia membiarkan kelompok-kelompok Islam radikal bertumbuh dan bahkan membiarkan mereka membangun kekuatan pasukkan jihadnya? Bukankah gerakan mafia terlarang di Indonesia? Anda bertanya: “Apa hubungannya dengan kelompok Jihad?” Saya menjawab: “Jihad adalah pemaksaan agama Islam kepada keyakinan lain melalui ancaman mental dan kekerasan fisik (dalam Islam metode ini disebut Dhimmitude); ini adalah tindakan terroris yang sama dengan cara mafia mengendalikan orang lain.” Cara ini adalah tindakan pelanggaran HAM Indonesia dan Internasional, sebab di dalam tindakan tersebut mengandung azas-azas Anarchism (anti ketertiban dan hukum negara dan pemberontakan kepada pemerintah negara yang resmi – yang telah terpilih berdasarkan SUARA TERBANYAK RAKYAT negara yang bersangkutan.

Dalam banyak masalah pelanggaran HAM radikal Sunni Indonesia yang berhubungan dengan kebebasan beragama di Indonesia, badan-badan Pemerintah Indonesia memiliki dua jenis respond klasik:

1. Mencoba menegagkan Pancasila, namun ketika diancam oleh kelompok Islam radikal, aparat Pemerintah berbalik haluan dari tugasnya dan hati-nuraninya, dan mereka menjadi ‘pembela’ para Islam radikal tersebut. RT, RW, Lurah dan aparat pemerintah yang mengenal baik warganya (non-Islam Sunni) dan warga tersebut berhubungan baik dengan masyarakat Islam, namun ketika kelompok Islam radikal memasuki wilayahnya mengancam mereka untuk menutup kegiatan non-Islam Sunni, maka para aparat pemerintah ini berubah menjadi penghianat nilai-nilai Pancasila.

2. Aparat pemerintah Indonesia secara terang-terangan memdukung kelompok Islam radikal. Mereka bukan saja memberi lampu hijau untuk gerakan anti Pancasila ini bertindak sesuka hati mereka, bahkan pemerintah turut bekerja sama dan melegalisasikan aksi kekerasan mereka; melalui menjadikan FPI sebagai kaki-tangan “badan keamanan masyarakat” dibawah payung badan keamanan negara Indonesia.

Dua factor ini yang menyebabkan merajalelanya tindakan kriminal agama di berbagai kota di Indonesia berjubahkan “membela Islam.” Andaikan para kriminal agama ini diadili, oleh karena dua factor di atas, maka hukuman yang diberikan oleh penegak hukum Indonesia kepada pelanggar Pancasila tersebut umumnya hukuman itu akan terlalu ringan,  contohnya pada kasus Juni 2011 ini:  satu tahun penjara untuk kejahatan memimpin masa untuk pembakaran dua gedung gereja dan merampok gedung gereja lainnya.

Sebaliknya jika yang bersalah adalah non-Sunni, maka hukumannya sangat berat hanya untuk pelangaran yang ringan, contoh pada tiga ibu guru Sekolah Minggu, ibu Rebekka, ibu Ratna dan ibu Eti. Mereka di penjarakan selama tiga tahun oleh karena mendidik dan mengasihi seorang anak perempuan (seijin ibunya sendiri yang beragama Islam berprofesi pelacur) dalam jalan Injil. Kehadiran para Islam radikal di pengadilan membuat Ibu dari gadis ini takut  dan ia terpaksa menarik kembali perkataannya sendiri tentang ijin tersebut. Para petugas pengadilan juga di dalam keputusan mereka terpengaruh oleh teror dari Islam radikal. Dalam kejadian ini, janganlah menyalahkan orang non-Islam jika mereka memiliki kesimpuan bahwa Islam adalah agama berfaham Anarchis.  Kejadian selama ketiga ibu ini dipenjara membuktikan bahwa Elohim Yang Adil dan Hidup menyertai mereka dan berpihak pada mereka.

’Gerakan Kemerdekaan Irian Jaya.’ Contoh telah masuknya nilai-niali jihad Islam kedalam badan militer Indonesia dapat dilihat pada film ini: The Killing of  Yawan Wayeni. Di Irian Jaya, Brimob memfilmkan seorang Kristen Serui bernama Yawen Wayeni, yang perutnya di bayonet tentara dan ususnya terlihat, di olok-olok iman Kristianinya. Film Brimob yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) ini bocor kemedia Internasional. Islamisasi di Irian Jaya nampak semakin tidak mengenal batas prikemanusia. Isteri dari Wayeni bercerita kepada  the Commission for Disappearances and Victims of Violence bahwa mereka mengikat tangan dan kaki batang pohon dan memaksa dia untuk meneriakan “Papua merdeka” sebelum memotong perutnya dengan bayonet.

The West Papua Report, pada laporan bulan Juni 2010 menulis TNI melalukan operasi “penyapuan” di wilayah Tingginambut dengan membakar rumah-rumah di tiga desa, dua orang dibunuh, seorang wanita diperkosa dan semua binatang piaraan dibunuh. Operasi siperti ini sering dilakukan oleh TNI di Irian Jaya, seperti telah dilakukan juga di Aceh sebelum Aceh memiliki hak otonominya.

Irian Barat bukanlah Aceh, dan Aceh bukanlah Irian Barat! Rakyat Irian Barat pada dasarnya tidak ingin keluar dari negara RI (Republik Indonesia), namun Islamisasi terencana, ketidak adilan dan ekplotasi kekayaan Irian Barat (yang mengalir hanya untuk pejabat Jakarta) telah menjadi beban yang berat bagi rakyat Irian yang terus menerus telah membuat rakyat Irian ingin merdeka.

Sejarah membuktikan, tindakan para TNI di Irian Jaya ini – mengancam penduduk asli melalui pengancaman dan pembunuhan yang disertai perusakan harta milik mereka – tidak akan menghasilkan kemenangan bagi ideologi Pancasila, tetapi sebaliknya kekalahan. Teror dan kekerasan (keduanya adalah akar dari ”jiwa diktatorship yang kehabisan kesabaran) adalah ”bensin pada api semangat juang ingin merdeka” bagi jiwa yang tertindas. President dan aparat harus menghentikan tindakan militer yang salah ini.

Evaluasi kepemimpinan lembaga-lembaga negara RI. Apakah semua ini bertanda bahwa kepemimpinan President SBY sudah dikuasai oleh kelompok Islam fanatik, sehingga beliau dan para pimpinan puncak tidak lagi mampu bertindak tegas kepada para peleceh ideologi Pancasila?

Pancasila adalah asas kebangsaan negara Indonesia, dan bukan hukum Islam. Pemerintah Indonesia seharusnyalah membela seluruh rakyat – tanpa terkecualian, termasuk suku dan pemeluk agama resmi minoritas – Indonesia dengan adil.

Ketidakadilan adalah awal dari kehancuran sebuah bangsa, pemerintah yang menutup mata atas kelompok minoritas yang teraniaya, bahwa membiarkan aparatnya turut berlaku anarkis,  maka tahtanya sendiri segera akan ditumbungkan – seperti yang terjadi di negara-negara Mesir, Tunisia, Libya dan Syria. Amsal Salomo berkata:  Orang yang menindas orang lemah untuk menguntungkan diri… hanya merugikan diri saja. (Ams 22:16)

Pemerintah Indonesia tidak perlu takut kepada kelompok radikal Sunni, – benar bahwa kelompok Sunni adalah mayoritas di Indonesia, namun Islam RADIKAL Sunni Indonesia sebenarnya minoritas, jauh minoritas dibanding dari kelompok Kristen Indonesia.

Setan selalu berteriak lebih keras, untuk menakut-nakuti lawanya, ia seperti singa tua ompong yang mengaum-ngaum. Jeritan adalah satu-satunya senjata Setan dan para pengikutnya.

Pemerintah negara perlu mengingat dan melakukan nasehat ini:

  • By the blessing of the upright the city is exalted: but it is overthrown by the mouth of the wicked. (Pro 11:11 KJV)
  • Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah benda yang indah bagi pandai emas. Sisihkanlah orang fasik dari hadapan raja, maka kokohlah takhtanya oleh kebenaran. (Ams 25:4-5)

Jika kebenaran dan keadilan ditegakkan, dan korupsi dan teror dibuang, maka pemimpin negara akan memiliki pemerintahan yang kuat. Banyaknya perbedaan agama tidaklah menjadi masalah apabila hukum dan peraturan yang adil (Pancasila di Indonesia) berjalan dengan baik, ini bisa dilihat di berbagai negara maju di Eropa Barat yang penduduknya adalah majemuk.

Orang Kristen bukanlah musuh Negara,
sebaliknya mereka adalah kawan setia Negara.

Kitab Suci Alkitab mengajar umat Kristen bagaimana bersikap kepada pemerintah:

  • Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya …Karena pemerintah adalah hamba Elohim (Allah) untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Elohim untuk membalaskan murka Elohim atas mereka yang berbuat jahat.” (Rom 13:1-4)
  • Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. (Tit 3:1) 
  • Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada YAHWEH (TUHAN), sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.  (Yer 29:7). Nasehat Elohim kepada umat-Nya melalui nabi Yeremiah, saat mereka ada dipembuangan, negara Babel (Irak saat ini), oleh karena mereka berontak kepada perintah-perintah-Nya (menyembah berhala dan melanggar kekudusan Hari Sabat-Nya, lihat Yehezkiel 23:36-49.

Kami orang Kristen berdiri membela kebijaksanaan pemerintah, membela Pancasila dan UUD 1945. Perintah Alkitab adalah perintah yang baik untuk Pemerintah, sebab itu dimanapun orang Kristen diberikan kesempatan untuk hidup bebas, maka komunitas dimana mereka berada kemakmuran dan keadilan akan hadir dengan sendirinya. Pemerintah perlu membaca buku yang bagus ini: “The Book That Transforms Nations.” Saya telah membacanya. Buku yang luar biasa bagus! Buku ini ditulis oleh seorang yang telah keliling dunia dan diundang oleh banyak pemimpin negara, termasuk raja Norwegia. Ini adalah sebuah buku dari hasil penelitian sejarah, Anda akan temukan rahasia bagaimana Korea Selatan, Norwegia, Nederlands dan banyak negara lainnya bisa sukses seperti sekarang ini.

Ragy William, salah satu dari pemberi komentar atas buku ini: FANTASTIC BOOK. “I give it 10 stars instead of 5. It gets more interesting in every page and every chapter. It talks about the effect of the Holy Bible if its instructions and teachings are followed by a whole nation. How can the nations be blessed by the Holy Bible. The Author have traveled all over the World and had written stories from many different places.”

Nasehat untuk para fanatik Islam Indonesia dan aparat pemerintah yang berhati dua. Apakah kalian ingin tahu apa akhir dari perjalanan kalian? Ketahuilah bahwa orang benar akan tetap ada selamanya, mereka tidak dapat dimusnahkan sekalipun dengan ancaman terroris, sebaliknya orang jahat akan hancur berantakan, seperti telah tertulis: Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. (Ams 24:16). Bertobatlah sebelum terlambat teman-temanku.

Jangalah lupakan sejarah 17 Agustus 1945, yang adalah akhir dari porak porandanya kesatuan dan martabat kebangsaan Indonesia yang begitu panjang (350 tahun + 3,5 tahun). Apakah para pemimpin bangsa dan rakyat Indonesia ingin kembali kepada kehacuran tersebut? Janganlah kita terjatuh pada lubang kehancuran yang sama sebagaimana telah terjadi pada negara-negara Afrika Utara, Somalia dan Syria pada tahun belakangan ini.

Mari kita amalkan Pancasila dan menyerukan kepada jiwa kita sendiri dan sesama bangsa Indonesia: “Sekali merdeka tetap merdeka!!”

Referensi:


[2] Susilo B. Yudhoyono by Wikipedia .org

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Nasib malang para TKW Indonesia di Arab Saudi


Pemukulan yang mengakibatkan cacat tubuh, perkosaan dan kematian bagi TKW Indonesia di luar negeri bukanlah hal baru. Namun peristiwa penganiayaan bulan November 2010 ini merupakan salah satu puncak kemarahan bangsa Indonesia.

Mayat Keken Nurjana (usia 36 tahun) ditemukan di tempat sampah di kota Abha, Arab Saudi pada Jumat tanggal 19 November. Lehernya terpotong, dan tubuhnya penuh dengan potongan-potongan yang mengerikan. Ia bekerja di Saudi sejak Juni 2009.

Berita kematian TKW Keken yang mengerikan ini adalah berita naas susulan dari peristiwa menyedihkan kedua dalam bulan yang sama bagi TKW Indonesia di Saudi, korban pertama, Suamiati Mustapa, tebongkar ketika ia di bawa ke RS swasta Medinah karena luka-luka aniaya dan mukanya penuh luka bahkan bibirnya terpotong. Laporan berkata ia tiba di Medinah tanggal 18 Juli 2010 dengan pernjanjian gaji 800 riyal Saudi.

Keken TKW asal Cianjur terbunuh tiga hari sebelum hari raya Idul Adha oleh majikannya sendiri, demikian berita menurut detikcom yang mereka terima dari Korwil PDI Perjuangan di Saudi.

Rendahnya orang Arab melihat bangsa Indonesia dapat dilihat pada aksi demontrasi di depan Kedubes Arab Saudi di Jakarta pada Senin (22/11/2010) yang mana seorang pria Arab memukul wanita yang berdemontrasi, di depan 200 polisi Indonesia yang berjaga-jaga saat itu. – Pertanyaan: apakah pria Arab ini telah diadili karena telah memukul wanita Indonesia di negara Indonesia?

Renungkan ini sejenak:

  • Mengapa peristiwa-peristiwa yang tidak berperikemanusiaan ini terus berlanjut pada TKW Indonesia, khususnya di Saudi Arabia?
  • Mengapa pejabat pemerintah Indonesia tidak banyak berusaha membela hak TKW di Saudi Arabia?
  • Apakah karena Saudi Arabia tempat lahirnya agama Islam, sehingga pemerintah dan pemimpin agama Islam Indonesia menutup mata dari masalah yang telah bertumpuk di depan mata mereka?
  • Kapankah pemimpin bangsa dan cendikiawan Islam Indonesia sadar bahwa para wanita Indonesia, termasuk TKW adalah bangsa kita sendiri dan mereka juga berhak mendapatkan pembelaan yang sama seperti para pria Indonesia?

Dokma agama menghasilkan apa yang agama tersebut ajarkan, jika dogmanya benar maka benarlah hasilnya, namun jika dokmanya salah maka akan salah juga hasilnya.

Apa yang Alkitab ajarkan tentang orang miskin?

  • Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. (Ams 14:31)
  • Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya. (Ams 28:6)

Takutlah akan YAHWEH, Pencipta manusia, maka Anda akan mendapat hikmat dan pengertian tentang banyak hal dalam kehidupan ini. (Ams 9:10)

Bincang-bincang dengan Tenaga Kerja Indonesia dari Arab Saudi. Berikut ini pengalaman pribadi saya berbincang-bincang dengan beberapa saudara dan saudari setanah air – para TKW dan TKP Indonesia di Saudi yang pulang ke Indonesia. Pada penerbangan pulang saya dari Paris ke  Jakarta dengan Saudi Airline, saya transit di Riyadh dan dari kota Riyadh berpindah ke pesawat yang lebih besar untuk ke Jakarta. Di Riyadh ini saya mendapat kehormatan terbang bersama-sama dengan lebih dari 250 TKW dan puluhan TKP (Pria) Indonesia.

Mereka berkata bahwa sebagian besar pulang karena kontrak kerja (dua tahun) habis, beberapa menghentikan kontrak kerja (melarikan diri?) karena tidak kuat, dan seorang pria (yang berbicara kepada saya) dapat libur kerja. Inilah apa yang mereka ceritakan kepada saya (ditulis inti kalimatnya saja)

“Senang kerja di Saudi? Dan pasti gajinya besar ya?” saya bertanya.

Kondisi kerja:
Gaji sih lumayan besar ya Pak, hanya kerjanya sangat berat, hampir tidak mengenal waktu, kapan mereka perlu kita harus siap.
Saya tidur hanya lima jam sehari selama dua tahun. Dari jam 12 malam dan bangun pukul lima pagi.
Mereka kasar dan sedikit-sedikit main pukul.

Lingkungan kerja:
Kami tidak bisa kemana-mana.
Bahkan kalau mau buang sampah saja harus ditemani majikan, (Saya tanya kenapa) ya sebab jika tidak diantar kita bisa diculik laki-laki. (Penculikan wanita sering terjadi di Saudi, pria bermobil menculik wanita dari jalanan dan membawanya ke tempat sepi, seperti gurun pasir dan diperkosa. Hal ini dikuatkan oleh pengakuan seorang pria Filipina yang bekerja selama lebih dari 8 tahun sebagai teknisi pesawat terbang di Saudi).
Keperluan pribadi seperti odol, sikat gigi atau pembalut wanita kita tidak bisa pergi beli sendiri, harus titip kepada majikan.
TKP: (ia nimbrung bicara) Lebih baik kerja di Cina (RRC), waktu dan perjanjian kerja di sana lebih dipatuhi oleh majikan. Sekalipun mereka bukan Muslim, tapi mereka lebih manusiawi dibanding orang Arab. (Ia menambahkan) bahwa tidak jarang dari TKW yang dikursuskan oleh majikan mereka (yang ini sepertinya di Taiwan).
Kenapa kalian tidak lapor kepada KBRI Saudi Arabia?, komentar saya pada keluhan mereka.
Orang KBRI tidak menolong kami (kata TKW dengan nada sedikit sewot)
Saya: KBRI ini ada untuk menolong setiap rakyat Indonesia dimana ia berada. Adalah tugas mereka untuk membela hak dan mengayomi kita di luar negeri.
TKP: Pak, KB Filipina jauh lebih baik kerjanya dari KBRI A.S. Jika ada rakyatnya yang di aniyaya atau haknya ditekan, pasti mereka segera bertindak, sehingga orang Saudi tidak berani macam-macam kepada TKW Filipina.

Banyak dari mereka ketika saya tanya ”ingin balik kerja ke Saudi lagi?” menjawab “tidak mau.”

Catatan: Jangan salah mengerti tulisan ini, saya sama sekali tidak mengeritik kepemimpinan bapa President SBY, saya sangat yakin Presiden akan menangani masalah TKW ini dengan sangat baik, pernyataan Presiden “masalah ini tidak dapat diterima” itu merupakan jaminan. Beliau pemimpin yang arif dan bijaksana. Banyak hal yang telah menjadi semakin baik di dalam pemerintahan President SBY. Artikel ini saya tujukan kepada pejabat-pejabat pemerintah (dalam dan luar negeri) yang berhubungan langsung dengan masalah TK Indonesia, dan juga para pemimpin agama Islam.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog