Iran: Pendeta Youcef Nadarkhani tetap terancam hukuman mati


Gembala dari sebuah jemaat di kota Rasht, Iran, yang berjumlah sekitar 400 jiwa, dipenjarakan dan ia terancam hukuman mati. Pemerintah Iran mengatakan Youcef Nadarkhani berpindah dari Islam ke Kristen pada usia 19 tahun, oleh sebab itu pada pengadilan kriminal (Islam) tertanggal 22 September 2010 pendeta Youcef Nadarkhani dinyatakan  melanggar hukum pemurtadan.

”Saya bukan seorang murtad…. saat berusia 19 tahun saya tidak beragama,” Youcef menyatakan. Ia menyatakan bahwa introgatornya memaksa dia untuk menandatangani sebuah pernyataan pengakuan ’meninggalkan agama Islam ke Kristen’ dan dikatakan kepadanya bahwa ’seorang yang lahir dari orang tua Islam, dan tidak menerima agama apapun di luar Islam sebelum mencapai usia dewasa secara agama Islam [usia 15 untuk pria], adalah secara otomatis seorang Islam.’ [Hukum Islam tidak tertulis lainnya menyatakan sebelum usia dewasa, anak-anak secara otomatis mengikuti agama orang tuanya. ”Agama Islam adalah warisan, bukan pilihan pribadi,” sorang ex-Islam Iran lainnya berkata]. Pendeta Iran lainnya yang menghadapi tuduhan serupa adalah Pendeta Behrouz Sadegh-Khanjani (ditahan sejak 6 Juni 2010 secara ilegal).

Aaron Rhodes, jurubicara dari the International Campaign for Human Rights in Iran (ICHRI) menyatakan hukuman mati pemerintah atas pendeta Youcef sebagai pernyataan illegal (tidak berdasarkan hukum Iran), “Itu adalah nilai yang rendah dari segala system pengadilan untuk menghukum mati seorang diluar batas framwork legalnya. Menghukum mati seorang berdasar pada agama yang mereka pilih untuk melakukannya atau tidak adalah bentuk serius diskriminasi dan agama dan tidak menghargai kebebasan nurani dan iman.”

Menurut ahli-ahli keagamaan Iran, murtad (tindakan seorang meninggalkan agama) bukanlah sebuah tindakan kejahatan atau tindakan kriminal menurut Hukum Pemerintah Iran.  Aaron menyatakan bahwa keputusan pengadilan tersebut didasari dari hukum Islam semata (Pengadilan Islam Revolusi Iran, dimana dan oleh siapa Youcef diadili) sebab hukum murtad tidak terdapat di hukum negara Iran.

Firouz Sadegh-Khanjani, saudara laki-laki pendeta Behrouz, perlakuan pemerintah Islam Iran atas kedua pendeta tersebut adalah bagian penganiayaan yang sedang trend melawan orang-orang Kristen di Iran. Menurut Firouz, mereka tidak pernah menjadi orang Islam, sebab kedua orang tua mereka Kristen. Ibu mereka Kristen (asal Kongo) dan ayah mereka berpindah ke Kristen sebelum mereka lahir.

September 2011, diadili kembali. Mohammad A. Dadkhah, pembela hukum dari pendeta Youcef bercerita bagaimana clientnya dipaksa berkali-kali untuk bertobat, ”Hakim terus menerus meminta client saya untuk berkata, ’Saya telah meninggalkan Kristianiti dan saya mengakui Islam sebagai (agama yang) lebih tinggi dari semua agama lainnya,’ dan dia (Youcef) selalu mengatakan ’Saya tidak akan mengatakan itu,’” Dadkhah bercerita. Pembela ini juga berkata bahwa ia sendiri diperintahkan tidak boleh memakai dasi (haram?), atau tidak boleh masuk ke ruang pengadilan, namun ia tetap pakai.  Berita hukuman mati atas pendeta Nadarkhani menjalar ke dunia internasional. Petisi-petisi dan kritik menggunung atas kebijakan pemerintah Iran.

Pengadilan Islam Iran tahu bahwa mereka tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan ditambah sorotan luar negeri, maka mereka mencari alasan lain untuk menghukum mati pendeta ini. Deputi Keamanan propinsi Gilan kemudian mengganti tuduhannya (termuat pada Kantor Berita Farsi; koran pendukung pemerintah Islam Iran tertanggal 30 September) dengan tuduhan ”pemerkosaan” dan ”pemerasan.” Pembela hukum terkejut dengan tuduhan baru ini sebab selama ini dan bahkan seminggu sebelum tuduhan baru ini muncul di koran, di pengadilan mereka tetap mempermasalahkan kasus ”pemurtadan pendeta tersebut.”

Maret 2012, tuduhan berubah kembali. Melalui campur tangan beberapa negara, seperti Norwegia, USA, Australia, Jerman dan belakangan ini Brazila,  akhirnya secara resmi Pemerintah Islam Iran mengakui bahwa pendeta Youcef Nadarkhani tidak terlibat di dalam pelanggaran criminal (perkosaan dan pemerasan) seperti yang mereka tuduhkan kepada Youcef di bulan September 2011, namun hanya melanggar hukum murtad Islam.

Farsi Chritian News Network (FCNN) melaporkan bahwa sebelum hari Natal 2011, pemerintah menahan orang-orang Kristen Protestant di Teheran dan enam kota lainnya. Mereka diijinkan pulang namun diancam. Natal tahun sebelumnya, Desember 2010, lebih dari 100 Kristen Protestant yang aktif di gereja-gereja rumah telah ditahan dan sebagian besar dilepaskan  kembali.

Komentar: Kira-kira dua minggu lalu saya berbincang-bincang dengan seorang ibu, imigran asal Iran, tentang pemerintah Islam Iran. Saya telah mengenal keluarga ibu ini lebih dari 3 tahun, kami saling berkunjung dan sering berbicara tentang sejarah: raja Darius dan Daniel (dan orang Yahudi lainnya yang pernah hidup di Persia (Iran sekarang). Ibu ini berkata, bahwa banyak orang sering salah mengerti tentang bangsa Iran, khususnya orang Barat yang ia temui salah mengerti. Bercerita tentang bangsa Iran, “Kami bukan orang Arab, bahkan kami tidak mengerti bahasa Arab, hanya sedikit orang Iran yang mengerti bahasa Arab,” katanya dengan nada protes yang disertai senyum. “Kami bukan orang Islam, kami memiliki agama sendiri [Zoroastrianism],” katanya dengan nada pasti. Kekesalannya atas apa yang terjadi di Iran sejak Revolusi Islam Iran nampak tercurahkan pada saat ia bercerita. “Jadi kamu lebih senang dipanggil ‘orang Persia’ atau ‘orang Iran?’” saya memotong ceritanya. “Tentu, orang Persia!,” ia menjawab dengan pasti sekali lagi dengan disertai senyum. Perkataan Ali Sina (pendiri Faith Freedom Internasional) dapat dipercaya ketika ia berkata bahwa lebih dari 60 % orang Islam bukanlah orang Islam. Kesimpulan bahwa propaganda Islam untuk masyarakat internasional bahwa Iran adalah negara Islam yang berpengaruh kuat telah berhasil dengan baik. Orang Kristen perlu berdoa bagi saudara-saudari mereka yang tinggal di Iran untuk mereka tetap kuat di dalam imam dan pengharapan mereka kepada Adonai Yeshua Ha Mashiah, berdoalah kiranya melalui waktu-waktu yang sulit ini lebih banyak lagi bangsa Persia mengenal akan YAHWEH, Elohim Yang Hidup, dan Putra-Nya, Yeshua Ha Mashiah (Yes 11:9-10 dan Roma 15:22).

Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara. (Ef 6:18-20)

Bacaan dan video berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

 

Iklan

Bom bunuh diri di Gereja Bethel Solo dikutuki President dan para pemimpin agama


Hari Minggu 25 September bom bunuh diri meledak di dalam gedung Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) menelan korban jiwa jemaatnya satu tewas, dan 14 luka-luka. Pembom bunuh diri, seorang pemuda, meledakkan bom yang melekat di perutnya ketika jemaat gereja baru saja selesai melakukan ibadah Minggu paginya dan bersiap keluar gedung.

Wajah pelaku bom bunuh diri ini masih dapat dikenali dengan baik, namun dada kebawah hancur, isi perutnya keluar, bukan warga setempat, pendeta setempat berujar. Material tambahan dari isi bom adalah mur, batu dan paku payung (dipakai untuk menambah daya bunuh para korbannya).

Dikutuki para pemimpin. Menteri Agama, Suryadharma Ali, pada hari yang sama di hadapan peserta halalbihalal dan pelantikan pengurus baru PPP menyatakan, “Tindakan kekerasan semacam itu sangat tidak terpuji. Ditentang oleh siapa pun dan oleh agama apa pun.” Beliau menambahkan, “Kami berharap polisi mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya, dan adili pelakunya.” Menurutnya aksi menebar teror dan ketakutan kepada masyarakat tidak akan mencapai apa yang para terrorist cita-citakan.

Ketua PWNU Jawa Tengah, M. Adnan, menilai aksi bom bunuh diri bukanlah jihad. “Aparat harus melakukan tindakan preventif. Jangan hanya bertindak setelah ada kejadian semacam ini, segera tindak jika ada kelompok masyarakat yang berkeinginan melakukan teror atas nama agama,” katanya.

Bahkan  President Indonesia, SBY, didampingi Wapres dan Menko Polhukam, berkata, ”Atas nama negara, saya mengutuk keras atas aksi terorisme, kejahatan luar biasa yang bersifat tanpa pandang bulu, ini yang terjadi di negeri kita. Saya instruksikan agar investigasi lanjutan segera dilakukan secara intensif untuk membongkar habis jaringan pelaku pemboman. Termasuk dana, termasuk pemimpin dan penggerak aksi terorisme.” 

Pengamat Intelijen Wawan H. Purwanto menyatakan bahwa pihaknya telah mengetahui gerakan para terrorist tersebut sejak 14 Agustus 2011. Beliau juga telah menemukan kantong-kantong terrorist di Indonesia. “Di Poso masih ada puluhan, di Plumpang masih ada dua DPO, di Palembang lima orang, Aceh ada 19 orang, Jawa Tengah 12 orang, Jawa Timur 10 orang, dan Cirebon lima orang,” katanya.

Bom bunuh diri juga pernah terjadi di GPIB Koinonia Jatinegara dan di sebuah gereja di lingkungan Lapangan Udara TNI Halim Perdanakusuma.

Ada dugaan bawah pelaku bom bunuh diri Di Solo ini memiliki jaringan yang sama dengan bom bunuh diri di mesjid  komplek Mapolresta Cirebon 6 bulan yang lalu, yang meledak saat shalat Jumat.

Bacaan berkait:

Referensi:

 

Daftar Negara Penganiaya Kristen January 2011


Opend Doors telah mengeluarkan World Watch List 2011, atau Daftar Negara Penganiaya Kristen (DNPK) Januari 2011. Data ini adalah hasil laporan penganiayaan yang dikumpulkan dari November 2009 sampai 31 Oktober 2010. Bulan November dan Desember 2010 tidak termasuk.

DNPK adalah sebuah ranking 50 negara dimana penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dari semua denominasi adalah yang terburuk…. Fokusnya ialah pada penganiayaan terhadap kepercayaan, bukan penganiayaan karena politik, ekonomi, sosial, etnis atau alasan-alasan yang kebetulan. Klik pada gambar untuk melihat isi beritanya.

Pertanyaan yang diberikan diantaranya:

  • Apakah negara memiliki hukum yang menyediakan kebebasan-kebebasan beragama?
  • Apakah legal untuk menjadi orang Kristen?
  • Apakah orang Kristen dibunuh / dipenjarakan karena iman mereka?
  • Apakah tulisan-tulisan Kristen dilarang beredar?
  • Apakah tempat-tempat pertemuan Kristen (gereja, rumah) diserang untuk alasan-alasan keagamaan?

Pengelompokan tingkat aniaya:
1: aniaya berat; 2-10: Tekanan; 11-28: pembatasan berat; 29-49: pembatasan tertentu; 50: masalah-masalah.

Rangking dan nama negara:
1. Korea Utara. (Komunis). Orang Kristen tetap dalam tekanan yang berat. Ratusan ditangkap, berapa diantaranya dibunuh dan sebagian dikirim ke Kamp kerja paksa. Mereka juga dijadikan ”kelinci percobaan” untuk laboratorium senjata kimia pemerintah. 2 dari 10 rumah mereka direbut atau dihancurkan.

2. Iran. Penangkapan terus berlanjut. Aktifitas ke Kristenan ditekan dan diawasi oleh masyarakat Islam dan para penguasa. Namun gereja-gereja orang Iran asli bertumbuh, sedikitnya mereka ada 450 ribu. Alkitab bahasa Persia sangat diperlukan saat ini.

3. Afganistan. Naik dari ke 6 tahun lalu. Kristen lokal dan NGO Kristen tetap ditekan oleh Taliban. Beberapa dari pekerja sosial tersebut juga dibunuh.

4. Saudi Arabia. Aniaya tetap tinggi seperti tahun lalu, namun karena tekanan meningkat di Afganistan, maka Saudi turun dari 3 ke rangking 4.

5. Somalia. Kondisi Kristen semakin buruk di Somalia selatan yang dikuasai oleh islam radikal al-Sahbaab. 8 menjadi martir, sebagian melarikan diri dari negara.

6. Maldives. Tekanan yang sistematis datang dari pemerintah melalui hukum Islamnya.

7. Yemen. Hukum Sharia tetap mengontrol orang Kristen, dan para Islam yang berpindah agama akan dihukum mati jika ketahuan.

8. Irak. Serangan bom pada bus-bus sekolah Kristen dan gereja membuat Irak naik dari 17 ke rangking 8. Pada periode laporan ini sedikitnya 90 Kristen terbunuh. 334 ribu meninggalkan Irak

9. Uzbekistan. Pemenjaraan dan denda serta penyitaan gedung gereja. Propaganda anti-Kristen di media pemerintah  tetap berlangsung.

10. Laos (Komunis). 25 Kristen terbunuh dan 20 ditangkap tanpa pengadilan. Aniaya fisik dan jiwa terus berlangsung. Ribuan telah meninggal negara. Ajaibnya, Kekristenan bertumbuh baik.

Yeshua berkata: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:10-12)

11. Pakistan
12. Eritrea
13. Mauritania
14. Bhutan
15. Turkmenistan
16. China
17. Qatar
18. Vietnam
19. Mesir
20 Chechnya

Indonesia menduduki ranking ke 48, dan Malaysia bersama Russia pada rangking ke 50. Hukum Islam semakin menjalar ke Malaysia Timur. 9 gedung gereja telah dirusak pada bulan Januari 2009. Russia: 10 ditangkap dan tiga pemimpin Krisen dibunuh. Alasan pembunuhan mereka “terlalu aktif” bekerja diantara para murtad Islam.

Tentang aniaya Islam kepada Kristen di Indonesia Anda bisa lihat disini:  Islam dalam berita Nasional.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog.

Daftar Negara Penganiaya Kristen 2010


Organisasi Open Doors telah mengeluarkan laporan World Watch List 2010. Open Doors adalah organisasi internasional yang bergerak di bidang kemanusia menolong kelompok-kelompok yang memerlukan bantuan.

Tentang Daftar Negara Penganiaya Kristen / The World Watch List (WWL). DNPK adalah sebuah ranking 50 negara dimana penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dari semua denominasi adalah yang terburuk…. Fokusnya ialah pada penganiayaan terhadap kepercayaan, bukan penganiayaan karena politik, ekonomi, sosial, etnis atau alasan-alasan yang kebetulan.

Pertanyaan yang diberikan diantaranya:

  • Apakah negara memiliki hukum yang menyediakan kebebasan-kebebasan beragama?
  • Apakah legal untuk menjadi orang Kristen?
  • Apakah orang Kristen dibunuh / dipenjarakan karena iman mereka?
  • Apakah tulisan-tulisan Kristen dilarang beredar?
  • Apakah tempat-tempat pertemuan Kristen (gereja, rumah) diserang untuk alasan-alasan keagamaan?

Pengelompokan tingkat aniaya:

1: aniaya berat; 2-10: Tekanan; 11-28: pembatasan berat; 29-49: pembatasan tertentu; 50: masalah-masalah.

1Korea Utara. Faham Negara (FN): Sosial Komunis.
Setiap kegiatan keagamaan dianggap ancaman bagi Negara. orang –orang Kristen disiksa dan dipergunakan sebagai kelinci percobaan untuk senjata biologi dan kimia.

2. Iran. FN: Islam.
Hukuman mati tahun 2009 berkurang, namun penangkapan dan siksaan serta pengawasan ketat yang telah dibebaskan sangat ketat. Hukuman mati jika pindah dari Islam.

3. Arab Saudi. FN: Islam.
Dalam kerajaan Wahabi ini agama Islam [Sunni] saja yang harus dianut. Negara jalan berdadarkan hukum Sharia. Tidak ada hak resmi untuk kebebasan beragama. Hukuman mati untuk bangsanya yang keluar dari Islam.

4.  Somalia. FN: Islam, menerapkan hukum Sharia.
Pemerintah dan kelompok Islam radikal terus berperang [lebih dari 20 tahun]. Gerak orang Kristen  (umunya mereka di selatan Somali) dimonitor oleh pemerintah dan Islam radikal, 11 orang Kristen terbunuh oleh karena iman mereka, dianiaya dengan berat. Sebagian dari mereka telah meninggalkan tanah airnya sendiri karena tekanan yang berat ini, sebagian hidup di kamp-kamp pengungsian di negara tetangga.

5. Maldives. FN: Islam.
Semua penduduknya harus Muslim. Praktek agama lain terlarang di bawah hukum pemerintah.

6. Afganistan. FN: Islam.
Menjadi seorang Kristen di sini tetap sangat sulit. Kristen menghadapi diskriminasi di sekolah, pekerjaan dan kantor pemerintah. Taliban mengancam tidak hanya orang lokal tetapi juga para pekerja yayasan sosial. Di ’bawah tanah’ Kekristenan terus bertumbuh.

7.  Yemen. FN: Konstitusi negara menjamin kebebasan beragama, tetapi juga menyatakan Islam sebagai faham negara dan Sharia sebagai sumber dari semua legislasi. Keluar dari Islam terancam hukuman mati jika ia diketahui. Juni lalu 9 pekerja yayasan kesehatan Kristen diculik, beberapa hari kemudian 3 mayat mereka ditemukan dalam kondisi yang mengerikan, sisa dari yang terculik belum diketahui nasibnya.

8. Mauritania. FN: Islam.
Konstitusi mengenali Islam sebagai agama penduduknya dan negara. Seorang pekerja sosial Kristen terbunuh di bulan Juni 2009, Julinya 35 orang Kristen lokalnya ditangkap dan disiksa. Pada bulan Agustus pemerintah kembali menangkap 150 orang Kristen Sub-Sahara ketika mengadakan ibadah mereka. Mencetak dan menyebarkan literatur yang bukan Islam dilarang.

9.  Laos. FN:
Sikap pemerintah terhadap orang Kristen sangat negatif dan keras. Terus-menerus orang Kristen di tangkap, banyak di antara mereka mengalami aniaya fisik dan mental untuk menolak kepercayaan Kristennya. Bagaimanapun juga laporan mengatakan bahwa Kekristenan berkembang ada sekitar 200 ribu orang percaya, kebanyakan dari kelompok  minoritas Laos.

10. Uzbekistan. FN: Islam.
Program-pragam media dan tindakan pemerintah semakin anti-Protestant. Polisi menangkap dan mendenda banyak orang Kristen. Sanak keluarga memakai penyalah gunaan fisik untuk memurtadkan Kristen masuk Islam. Pemerintah bertanggung jawab di dalam memupuk rasa benci diantara rakyatnya, dalam hal ini membenci orang-orang Kristen.

Delapan dari sepuluh negara penganiaya terburuk terhadap orang-orang yang percaya Alkitab adalah negara-negara yang sedikitnya menerapkan hukum Sharia.

11. Eritrea
12. Bhutan
13. China
14. Pakistan
15. Turkmenistan
16. Comoros
17. Irak
18. Qatar
19. Chechnya
20. Mesir

Lainnya:29. Brunai; 46.  Daerah kekuasaan Palestina (Gaza & West Bank) dan kedua terakhir terburuk (48) ialah negara Indonesia.

Negara-negara di mana situasi telah bertambah baik: Tersusun sebagai berikut, diambil dari posisi yang terburuk: Arab Saudi, Algeria, India, Kuba, Yordan, Sri Langka dan Indonesia.

Negara Indonesia semakin memperbaiki dirinya. Open Doors dalam laporannya kali ini (Januari LWW 2010) menulis sbb.: Selama periode pelaporan kami tidak menemukan informasi bahwa ada seorang Kristen di Indonesia ditahan dan /atau diculik. Lebih sedikit orang-orang Kristen secara fisik di lecehkan dibanding periode sebelumnya. Jumlah gereja yang dipaksa tutup kurang dibanding sebelumnya. Masalah mayor di dalam periode laporan hanyalah masalah murid-murid SETIA di Jakarta, yang dipaksa keluar dari kampus Kristen mereka.

Referensi:

Bacaan berkait:

Daftar Negara Penganiaya Kristen 2009

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog