Kesaksian Walid Shoebat (Ex-terroris PLO); alasan meninggalkan Islam dan masuk Kristen


Walid Shoebat Dari Benci kepada KasihText kesaksian disalin ulang dari Sahabat Gembala blogsport.com: Kesaksian Dan Kisah Nyata Mantan Terroris Dan Militan Islam PLO Palestina Walid Shoebat Masuk Kristen: “Islam Menghasilkan Kekerasan.” Komentar dan penekanan kalimat silahkan mampir ke sumber aslinya. Huruf tebal umumnya dari sumber aslinya. Terima kasih.

part 2

[Kata Pengantar]
“Saya teringat pada satu kesempatan di Betlehem ketika para penonton yang penuh sesak di sebuah bioskop bertepuk-tangan dengan sukacita saat menonton film 21 Hari di Munich Saat kami melihat orang-orang Palestina … membunuh atlet-atlet Israel, kami…berteriak, ‘Allahu Akbar!’ Sebuah slogan sukacita.”
Salah-satu kekuatan yang paling dahsyat di dunia adalah kesaksian yang mengubah hidup. Sebagaimana Parvin dan Homa Darabi, Walid Shoebat juga mengalami jahatnya terorisme karena ia pernah menjalaninya – pada kenyataannya, ia mempraktekkannya. Sewaktu remaja, ia membom sebuah bank di Tanah Suci dan turut serta memukuli seorang tentara Israel. Ketika istrinya yang beragama Katolik menantangnya untuk mempelajari Alkitab, hatinya yang keras kemudian menjadi lembut saat ia belajar tentang anugerah, rekonsiliasi, dan kasih yang diberikan melalui pengorbanan Yeshua Ha Mashiah. Sekarang Walid menyerukan perlunya toleransi beragama dan kebebasan pribadi. Dan ia berusaha keras, berjalan dari seorang terroris menjadi seorang yang anti terroris.
Kisah Walid Shoebat dengan tajam menunjukkan pada kita apa yang akan terjadi di lingkungan kita jika kita tidak menghentikan terorisme Islam. Ia meninggalkan Islam dengan alasan yang jelas: Islam menghasilkan kekerasan. Ia takut jika kita yang hidup di dunia Barat dan negara-negara non-Muslim lainnya tidak bersatu sekarang, kita akan menghadapi kekerasan Islam yang lebih dahsyat di kemudian hari.
Saat itu terjadi, itu tidak terjadi di suatu tempat di seberang lautan – itu akan terjadi di dalam komunitas kita sendiri

[Keluarga dan masa kecil]
Mengapa Saya Meninggalkan Islam? Saya lahir dan dibesarkan di Beit Sahour, Betlehem [Beith Leḥem artinya Rumah Roti], di Tepi Barat, dalam sebuah keluarga berada. Kakek dari pihak ayah saya adalah seorang mukhtar, atau kepala suku, di desa itu. Ia adalah sahabat dari Haji Ameen Al-Husseini, Mufti Agung Yerusalem dan sahabat dekat Adolf Hitler. Kakek dari pihak ibu saya, FW Georgeson, di sisi lain, adalah sahabat dekat Winston Churchill, dan pendukung keras terbentuknya negara Israel, walau saya tidak terlalu menyadari akan hal ini sampai bertahun-tahun kemudian dalam hidup saya. Saya dilahirkan pada salah satu hari raya penting Islam, yaitu hari kelahiran Nabi Muhammad Ini adalah suatu kehormatan besar untuk ayah saya. Untuk merayakan hari itu, ia menamai saya Walid, yang berasal dari kata bahasa Arab mauled, yang artinya “kelahiran.” Itu adalah cara ayah saya untuk mengingat kenyataan bahwa putranya dilahirkan pada hari yang sama dengan kelahiran nabi terakhir dan terbesar dari semua nabi.

Ayah saya adalah seorang Muslim Palestina yang mengajar bahasa Inggris dan studi Islam di Tanah Suci. Ibu saya adalah seorang Amerika yang menikahi ayah saya pada tahun 1956 ketika ayah saya sedang studi di Amerika. Karena mereka takut akan pengaruh dari gaya hidup Amerika terhadap anak-anak mereka, saat ibu saya sedang mengandung saya, orang-tua saya pindah ke Betlehem, yang pada waktu itu adalah bagian dari Yordania Itu terjadi pada tahun 1960. Tak lama setelah orang-tua saya tiba di Betlehem, saya dilahirkan. Ketika ayah saya berganti pekerjaan, kami pindah ke Arab Saudi dan kemudian kembali ke Tanah Suci – kali ini ke dataran terendah di muka bumi: Yerikho. Saya dibesarkan dan belajar bagaimana membenci namun diselamatkan melalui teladan mengasihi yang ditunjukkan oleh ibu saya yang adalah orang Amerika, yang paham soal belas kasih, keadilan, dan kebebasan.

Saya tidak pernah melupakan lagu pertama yang saya pelajari di sekolah Judulnya adalah: “Orang-orang Arab Kekasih Kami dan Orang-orang Yahudi Anjing-anjing Kami.” Waktu itu saya baru berumur 7 tahun Saya ingat waktu itu saya bertanya-tanya siapakah orang Yahudi itu, namun bersama dengan teman-teman sekelas saya, saya mengulangi kata-kata itu tanpa benar-benar memahami apa arti yang sebenarnya.

Saya dibesarkan di Tanah Suci, saya mengalami beberapa pertempuran antara Arab dan Yahudi. Pertempuran pertama, ketika kami masih tinggal di Yerikho, adalah Perang Enam Hari, ketika orang Yahudi menaklukkan Yerusalem tua dan sisa “Palestina.” Sulit sekali menggambarkan betapa hal ini sangat mengecewakan dan mempermalukan orang Arab dan kaum Muslim di seluruh dunia. [Dokumentasi “Six Days in June” membuktikan negara-negara Arab termakan gossip Negara Rusia – bisnis senjata api].

Konsul Amerika di Yerusalem datang ke desa kami tidak lama sebelum perang itu terjadi untuk mengevakuasi semua orang Amerika di wilayah itu. Oleh karena ibu saya adalah orang Amerika, mereka menawarkan bantuan kepada kami, tapi ayah saya menolak bantuan apapun dari mereka, karena ia mencintai negerinya. Saya masih ingat banyak hal selama perang itu – suara ledakan bom yang berlangsung berhari-hari dan bermalam-malam selama 6 hari, penjarahan toko-toko dan rumah-rumah oleh orang-orang Arab di Yerikho, orang-orang mengungsi menyeberangi Sungai Yordan karena takut terhadap orang Israel.

Perang itu dinamai demikian (Perang 6 Hari) karena hanya berlangsung dalam 6 hari. Orang Israel memperoleh kemenangan atas pasukan multi-nasional Arab yang menyerang dari banyak front. Hanya pada hari ke-7 peperangan ini, Rabbi Shalom Goren, ketua rohaniwan pasukan Pertahanan Israel, mengeluarkan pernyataan yang bergema dishofar, mengumumkan kontrol Yahudi atas Tembok Barat dan kota tua Yerusalem. Banyak orang Yahudi menghubungkan peristiwa ini paralel dengan kejadian yang dicatat dalam Alkitab ketika Yosua dan bangsa Israel menaklukkan Yerikho. Yosua dan orang Israel mengelilingi tembok Yerikho selama 6 hari, dan pada hari yang ke-7, mereka mengelilingi tembok itu 7 kali. Para imam membunyikan shofar bersamaan dengan orang-orang Israel berteriak dengan satu suara. Tembok pun roboh dan orang Israel menguasai kota itu.

Seusai perang, bagi ayah saya di Yerikho, seakan-akan tembok itu telah roboh langsung menimpanya. Selama perang, ia duduk lengket dengan radio mendengarkan stasiun radio Yordan. Ia selalu berkata bahwa orang-orang Arab akan memenangkan perang itu – tapi ia mendengarkan stasiun radio yang salah. Stasiun Radio Israel mengabarkan kebenaran mengenai kemenangan telak mereka. Namun ayah saya memilih untuk mempercayai orang Arab yang mengklaim bahwa orang-orang Israel – selalu – berbohong, mengumumkan propaganda palsu Banyak diantara kita sekarang yang tentunya masih ingat menteri informasi Saddam, yang dikenal dengan “Baghdad Bob”, dan semua klaim liar dan laporan palsu yang diteriakkannya beberapa hari setelah kejatuhan Baghdad? Dalam dunia Islam, nampaknya ada hal-hal yang tidak pernah berubah.

Kemudian, pindah kembali ke Betlehem, dan ayah saya memasukkan kami ke sebuah sekolah Anglikan-Lutheran agar dapat menguasai pelajaran-pelajaran bahasa Inggris Saudara saya laki-laki dan perempuan, dan saya sendiri adalah satu-satunya orang Muslim di sekolah itu. Kami bertiga dibenci Terutama bukan karena kami orang Muslim, tetapi karena kami setengah Amerika Walaupun itu adalah sekolah Kristen, sekolah itu masih memiliki jejak kekristenan yang berwarna Islam yang mempengaruhi banyak orang Kristen Palestina hingga saat ini Agar dapat diterima – dan kadangkala hanya supaya bisa tetap hidup – banyak orang Kristen di negara-negara yang didominasi Islam mengadopsi sikap benci yang dimiliki orang Muslim di sekeliling mereka terhadap Israel, Amerika dan dunia Barat. Karena kami separoh Amerika, guru-guru seringkali memukuli kami sementara murid-murid Kristen menertawakan hal itu

Akhirnya, ayah saya memindahkan saya ke sekolah pemerintah dimana saya mulai bertumbuh kuat dalam Islam Saya diajari bahwa suatu hari penggenapan sebuah nubuat kuno oleh Nabi Muhammad akan terjadi Nubuat ini menceritakan suatu peperangan dimana Tanah Suci akan kembali ditaklukkan Islam dan eliminasi orang Yahudi akan terjadi dalam sebuah pembantaian massal Nubuat ini ditemukan dalam banyak buku suci tradisi Islam yang dikenal dengan Sahih Hadith. Tradisi ini berbunyi sebagai berikut, dan merupakan pola pikir semua pengikut Islam radikal: “[Muhammad berkata:] Saat terakhir tidak akan datang kecuali orang Muslim memerangi orang Yahudi dan orang Muslim akan membunuh mereka hingga orang Yahudi menyembunyikan diri di balik batu atau pohon dan berkata: Muslim, atau hamba Allah, ada orang Yahudi di belakang saya; datang dan bunuhlah dia; tetapi pohon Gharqad tidak akan berkata, karena itu adalah pohon orang Yahudi” (Sahih Muslim Buku 041, Nomor 6985). Jika ditanya dimana pembantaian itu akan dilaksanakan, tradisi mengatakan bahwa itu akan terjadi di “Yerusalem dan daerah sekelilingnya.”

Selama masa remaja saya, seperti ayah, saya selalu menyesuaikan diri dengan Islam dan apa saja yang diajarkan guru-guru Muslim kepada kami. Saya, seperti halnya teman-teman sekelas saya pada umumnya, sangat terinspirasi oleh visi Muhammad yang gelap dan penuh darah. Saya menyerahkan hidup saya untuk jihad, atau perang suci, untuk memenuhi penggenapan nubuat ini Saya ingin menjadi bagian dari tercapainya rencana Muhammad, ketika Islam akan memperoleh kemenangan terakhir atas orang Yahudi dan akhirnya – tanpa halangan lagi – memerintah dunia Ini adalah ideologi para mentor saya, dan ketika saya telah meninggalkan paham fanatik ini, jutaan orang di Timur Tengah masih mempercayainya, dan mereka masih berjuang untuk menjadikannya sebuah realita.

Selama masa remaja saya, sering ada kerusuhan di sekolah menentang apa yang kami sebut sebagai pendudukan Israel Sedapat-dapatnya saya berperan sebagai penghasut dan penggerak Saya bersumpah untuk memerangi musuh Yahudi, percaya bahwa dengan melakukannya saya sedang melakukan kehendak Elohim di atas bumi Saya tetap setia pada sumpah saya saat saya memerangi tentara Israel dalam setiap kerusuhan Saya menggunakan berbagai alat yang ada untuk menghasilkan kerusakan dan sakit yang sebesar-besarnya. Saya berunjuk rasa di sekolah, di jalanan, dan bahkan di Temple Mount di Yerusalem Selama sekolah menengah, saya adalah pemimpin aktivis yang memperjuangkan Islam. Saya akan mempersiapkan pidato-pidato, slogan-slogan, dan menulis grafiti anti Israel sebagai usaha untuk memprovokasi murid-murid lain untuk melempari tentara-tentara Israel yang bersenjata dengan batu.

Gema bergemuruh teriakan-teriakan kami masih jelas dalam ingatan saya:
Tidak ada damai atau negosiasi dengan musuh!
Darah dan jiwa kami kurbankan untuk Arafat!
Darah dan jiwa kami kurbankan untuk Palestina!
Matilah Zionis!

Impian saya adalah untuk mati sebagai sahid, seorang martir untuk Islam Pada saat berunjuk rasa saya akan membuka baju saya berharap untuk ditembak, tetapi karena orang Israel tidak pernah menembaki tubuh, saya tidak pernah berhasil Ketika gambar-gambar sekolah diambil, saya dengan sengaja berpose dengan wajah yang cemberut mengantisipasi bahwa pada koran berikut wajah sayalah yang akan dimuat sebagai martir berikutnya Banyak kali saya hampir terbunuh waktu unjuk rasa siswa dan kerusuhan dengan tentara Israel Jantung saya berdebam; tak ada yang dapat menyingkirkan keinginan saya –kebencian dan kemarahan saya – selain dari mujizat Saya adalah salah seorang dari orang-orang muda yang mungkin anda lihat di CNN melempar batu dan bom molotov pada hari-hari Intifada atau “kebangkitan.”
Pada waktu itu, saya akan membenci label itu; tapi sebenarnya saya adalah seorang terroris muda. Pencucian otak dengan paham Islam-Nazi oleh para guru dan imam – dalam keseluruhan budaya saya – mencapai pengaruh yang dicita-citakannya.

Apa yang saya ketahui sekarang adalah bahwa saya tidak hanya menterror orang lain, tetapi dalam banyak hal, saya sedang menterror diri saya sendiri dengan apa yang saya percayai. Perjuangan utama saya adalah untuk mendapatkan nilai yang cukup – untuk membangun catatan terror yang hebat – agar disukai Allah Saya hidup dengan takut akan penghakiman dan neraka dan berpikir bahwa hanya dengan bersikap jahat seperti itu saya mempunyai kesempatan untuk masuk janna (surga, atau nirwana).

“Keselamatan melalui perbuatan baik diri sendiri  adalah salah satu ciri khas sebuah agama, yang tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali kepuasan palsu dan fana” – Anggur Baru.

Saya tidak pernah yakin bahwa semua “perbuatan baik” saya dapat melebihi perbuatan-perbuatan jahat saya jika ditimbang pada Hari Penghakiman.
Saya tidak hanya digerakkan oleh kemarahan dan kebencian, tetapi juga oleh rasa tidak aman dan ketakutan secara spiritual. Saya percaya pada apa yang telah diajarkan pada saya: cara yang paling pasti untuk meredakan kemarahan Allah terhadap dosa-dosa saya adalah dengan mati memerangi orang Yahudi. Mungkin, jika saya berhasil, saya akan diberi pahala tempat khusus di Surga dimana wanita-wanita cantik bermata besar akan memenuhi hasrat saya yang terdalam.

Sulit untuk menggambarkan sampai pada tahap seperti apa pencucian otak yang dialami orang seperti saya, yang dibesarkan di bawah sistem pendidikan Palestina Semua pihak berotoritas menyuarakan pesan yang sama: pesan Islam –jihad atau kebencian terhadap orang Yahudi – dan hal-hal lain yang seharusnya tidak berkuasa atas pikiran orang muda.

Saya teringat satu kejadian di Sekolah Menengah Dar-Jaser di Betlehem saat sedang studi tentang Islam, ketika salah seorang teman kelas saya bertanya kepada guru apakah seorang Muslim diijinkan memperkosa wanita Yahudi setelah mengalahkan mereka. Jawabannya adalah, ”Wanita yang ditangkap dalam pertempuran tidak mempunyai pilihan dalam hal ini, mereka adalah gundik-gundik dan mereka harus menaati tuannya. Berhubungan seks dengan budak tawanan bukanlah “sebuah pilihan bagi para budak.”
Ini bukanlah pendapat guru itu semata-mata, tetapi jelas sekali diajarkan di dalam Qur’an: “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.” Surah 4:24. [Mungkin filosofi ini dapat dibenarkan dalam dunia politik dan perang, namun dalam dunia moral TIDAK dapat dibenarkan sama sekali; berzinah (bersetubuh dengan bukan isteri sendiri) adalah berzinah, Alkitab berkata!].

Dan juga dikatakan dalam Qur’an: “Hai Nabi, sesungguhnya kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang Mukmin.” Surah 33:50.

Kami tidak mempermasalahkan soal Muhammad mengambil keuntungan dari hak istimewa ini saat ia menikahi sekitar 14 istri dan mempunyai beberapa budak wanita yang dikumpulkannya sebagai rampasan beberapa perang yang dimenangkannya. Kami tidak benar-benar tahu berapa banyak istri yang dimilikinya dan pertanyaan itu senantiasa merupakan hal yang kami perdebatkan. Salah seorang dari istri-istrinya diambil dari anak angkatnya sendiri, yaitu Zayd Setelah Zayd menikahi wanita itu, Muhammad tertarik padanya Zayd memberikannya kepada Muhammad, tetapi Muhammad tidak menerima pemberian Zayd itu hingga turunlah wahyu dari Allah Istri-istri Muhammad yang lainnya adalah para tawanan Yahudi yang dipaksa menjadi budak setelah Muhammad memenggal kepala para suami dan keluarga mereka Inilah hal-hal yang kami pelajari dalam studi kami mengenai Islam di sekolah menengah. Inilah orang yang harus kami teladani dalam segala hal. Inilah nabi kami, dan dari dia dan perkataannyalah kami belajar untuk membenci orang Yahudi.

Saya teringat pada satu kesempatan di Betlehem ketika para penonton yang penuh sesak di sebuah bioskop bertepuk tangan dengan sukacita saat mereka menyaksikan film 21 Hari di Munich Saat kami menyaksikan orang-orang Palestina melempar granat ke dalam helikopter dan membunuh para atlet Israel, kami semua – ratusan penonton – berteriak, “Allahu akbar!” sebuah slogan sukacita.

Dalam suatu usaha untuk mengubah hati orang Palestina, stasiun televisi Israel menayangkan film dokumentasi mengenai Holocaust. Saya duduk dan menonton, menyoraki orang Jerman sambil makan pop corn. Hati saya begitu keras, mustahil bagi saya untuk mengubah sikap saya terhadap orang Yahudi, kecuali melalui “pencangkokan hati.”

Oleh karena kemurahan Elohim, saya memiliki sesuatu yang hanya dimiliki oleh sedikit dari teman-teman sekelas saya. Saya mempunyai seorang ibu yang berbelas kasih dan memiliki suara yang lembut – dengan sabar berusaha menggapai saya di tengah-tengah hiruk pikuk suara kebencian yang menulikan di sekitar saya. Ia berusaha mengajari saya di rumah tentang apa yang disebutnya dengan “rencana yang lebih baik.” Namun demikian, pada waktu itu apa yang diajarkannya hanya berdampak sedikit pada saya, karena tekad saya sudah teguh – saya akan hidup atau mati memerangi orang Yahudi. Tetapi seorang ibu tidak pernah menyerah.

Saya tidak menyadarinya waktu itu, tetapi ibu saya telah dipengaruhi oleh sepasang misionaris Amerika. Ia bahkan telah dengan diam-diam meminta mereka untuk membaptisnya. Namun, ketika ia menolak untuk dibaptis di kolam yang penuh dengan ganggang hijau, pendeta misionaris itu harus meminta YMCA di Yerusalem untuk mengosongkan kolam yang dikhususkan untuk pria, dan kemudian ibu saya dibaptis disana. Tak seorang pun anggota keluarga kami mengetahuinya.

Seringkali ibu mengajak saya mengunjungi berbagai museum di Israel. Ini berdampak positif pada saya dan saya jatuh cinta pada arkeologi. Saya terpesona pada arkeologi. Dalam banyak argumentasi saya dengan ibu, secara langsung saya katakan padanya bahwa orang Yahudi dan orang Kristen telah berubah dan memalsukan Alkitab. Ia menanggapinya dengan membawa saya ke Museum Gulungan Kitab di Yerusalem dimana ibu menunjukkan pada saya gulungan kuno kitab Yesaya – masih utuh. Ibu saya berhasil menyampaikan argumennya tanpa berkata-kata. Walaupun ibu berusaha mencapai saya dengan sabar dan lembut, saya tidak tergoyahkan. Saya akan menyiksanya dengan hinaan. Saya menyebutnya seorang “kafir” [Mat 5:22] yang mengklaim bahwa Yeshua adalah Anak Elohim dan saya menyebut ibu “seorang penjajah terkutuk Amerika.” Saya menunjukkan padanya gambar-gambar di surat kabar tentang semua remaja Palestina yang telah menjadi “martir” sebagai akibat dari perselisihan dengan tentara Israel dan saya menuntut ibu untuk memberikan jawaban. Saya membencinya dan meminta ayah untuk menceraikannya dan menikahi seorang wanita Muslim yang baik.

Di samping semua hal ini, ibulah – ketika saya dijebloskan ke Penjara Muscovite di Yerusalem – yang pergi ke konsulat Amerika di Yerusalem dan berusaha untuk mengeluarkan saya. Penjara Muscovite dulunya adalah kamp Rusia yang digunakan sebagai penjara pusat di Yerusalem bagi mereka yang kepergok menghasut orang untuk melakukan kekerasan terhadap Israel. Ibuku yang kekasih sangat kuatir akan arah hidup yang saya ambil sehingga rambutnya mulai rontok. Kekuatirannya bukannya tanpa alasan. Selama saya di penjara saya menjadi anggota kelompok terror Fatah milik Yasser Arafat. Tak lama kemudian, saya direkrut oleh seorang pembuat bom yang sangat terkenal dari Yerusalem yang bernama Mahmoud Al-Mughrabi.

Sudah tiba saatnya bagi saya untuk melakukan yang lebih besar daripada sekadar protes dan membuat kerusuhan Al-Mughrabi dan saya berencana untuk bertemu di Jalan Bab-El-Wad di Klub Bela Diri Judo-Star yang dikelola ayahnya di dekat Temple Mount di Yerusalem Ia memberi saya bahan peledak yang rumit yang telah dirakitnya sendiri. Saya harus menggunakan bom – bahan peledak yang disembunyikan dalam seketul roti – untuk meledakkan cabang Bank Leumi di Betlehem. Mahmoud menolong saya menyelundupkan bom itu, seperti halnya Wakf Muslim – polisi agama di Temple Mount. Dari Temple Mount, saya berjalan keluar menuju podium dengan bahan peledak dan pengatur waktunya di tangan saya. Kami berjalan di sepanjang Dinding Ratapan dan menghindari semua titik pemeriksaan. Dari sana, saya berjalan ke stasiun bis dan naik bis ke Betlehem Saya sudah sangat siap untuk menyerahkan hidup saya jika memang harus demikian. Saya berdiri di depan bank itu dan tangan saya sudah benar-benar siap untuk meledakkan bom di pintu depan, ketika saya melihat beberapa anak Palestina berjalan di dekat bank.

Pada saat terakhir, saya malah melemparkan bom itu ke atap bank. Dan saya berlari. Ketika saya sampai di Church of the Nativity (gereja yang dibangun di tempat Yeshua dilahirkan-Red; [Ini hanya keyakinan tradisi agama Katolik, tepatnya ini adalah kuil Tamus]), saya mendengar ledakan. Saya sangat ketakutan dan sangat depresi sehingga saya tidak dapat tidur berhari-hari. Saya hanyalah seorang remaja berusia 16 tahun. Saya bertanya-tanya apakah saya telah membunuh orang hari itu. Itulah kali pertama saya mengalami bagaimana rasanya memiliki tangan yang berlumuran darah. Saya tidak menikmati apa yang telah saya perbuat, tetapi saya merasa harus melakukannya karena itu adalah tugas saya.

Kisah yang akan saya ceritakan pada anda berikut ini juga merupakan pergumulan. Itulah kali pertama saya berusaha untuk membunuh seorang Yahudi. Seperti jutaan belalang, batu-batu beterbangan dimana-mana saat kami bertikai dengan tentara Israel. Sekelompok orang dari pihak kami telah menyalakan api dengan cara membakar ban untuk digunakan sebagai blokade Seorang tentara terluka kena lemparan batu. Ia mengejar anak yang telah melemparinya. Namun kami berhasil menangkap tentara itu. Bagaikan segerombolan binatang liar, kami menyerangnya dengan apa saja yang ada di tangan kami. Saya memegang pentungan dan saya menggunakan pentungan itu untuk memukuli kepalanya sampai pentungan itu patah. Seorang remaja lain memegang tongkat dengan paku-paku yang mencuat keluar. Ia terus memukuli kepala tentara yang masih muda itu hingga ia berlumuran darah. Kami hampir saja membunuhnya. Ajaibnya, seakan-akan dengan didorong ledakan adrenalin yang terakhir, dia lari sekencangnya menyeberangi blokade ban-ban berapi dan berhasil lolos ke seberang dimana para tentara Israel menggotong dan menyelamatkannya. Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan kekuatan itu. [Lihat: Mujizat-mujizat atas Israel abad-modern]

Tapi sekarang saya merasa senang karena ia berhasil melarikan diri. Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, sulit sekali bagi saya mengekspresikan bagaimana saya sangat menyesal dan pedih jika mengingat bahwa saya pernah melakukan hal-hal seperti itu. Sekarang saya bukan orang yang sama seperti waktu itu.

[Kuliah ke Amerika, jihad bawah tanah di USA, ditantang untuk membuktikan ‘Alkitab telah dipalsukan’]
Setelah saya menyelesaikan sekolah menengah atas, orang-tua saya mengirim saya ke Amerika untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Saya masuk di sekolah yang kemudian dikenal dengan Loop College, yang terletak di jantung kota Chicago Ketika saya tiba disana, saya langsung terlibat dengan banyak acara sosial politik yang anti Israel. Saya masih benar-benar percaya bahwa akan datang harinya dimana seluruh dunia akan tunduk kepada Islam dan kemudian dunia akan menyadari betapa dunia sangat berhutang kepada orang-orang Palestina yang telah mengalami banyak kehilangan oleh karena mereka adalah barisan terdepan dalam perang Islam melawan Israel.

Loop College dipenuhi oleh berbagai organisasi Islam Ketika saya berjalan ke kantin, rasanya seperti masuk ke sebuah kafe Arab di Timur tengah. Berbagai kelompok Islam beroperasi di luar jam sekolah pada waktu itu, tiap kelompok bersaing untuk merekrut siswa lain. Dengan segera saya mengabdikan tenaga saya untuk melayani sebagai seorang aktifis PLO – Organisasi Pembebasan Palestina. Secara resmi saya harus bekerja sebagai penerjemah dan konselor bagi siswa-siswa Arab melalui sebuah program Amerika yang disebut CETA (Comprehensive Employment and Training Act) dimana saya dibayar dengan bantuan dari pemerintah Amerika Serikat. Namun, sebenarnya, apa yang saya lakukan, meliputi menerjemahkan iklan-iklan untuk acara-acara yang bertujuan memenangkan simpati orang Amerika atas perjuangan Palestina.

Kenyataannya, “memenangkan simpati” adalah ekspresi yang palsu. Kami berusaha untuk mencuci otak orang-orang Amerika – semua yang kami pandang sangat mudah tertipu. Dalam bahasa Arab, iklan-iklan untuk acara-acara semacam itu dengan terang-terang menggunakan jihadist, sebuah deskripsi anti semitis seperti: “Akan ada sungai darah…Datang dan dukunglah kami untuk mengirim siswa-siswa ke Selatan Libanon untuk memerangi orang Israel…” Di lain pihak, dalam versi bahasa Inggris, kami akan menggunakan deskripsi yang halus dan tidak merusak, seperti: “pesta budaya Timur tengah, datanglah dan bergabung dengan kami, kami akan menyajikan domba gratis dan baklava…” Waktu itu tahun 1970. [Lihat: Orang Islam boleh berbohong demi membela Allah?]

Kemudian terjadilah  peristiwa Septembar Hitam. September Hitam adalah bulan yang dikenal di seluruh Timur Tengah sebagai saat ketika Raja Hussein dari Yordania bergerak menggagalkan sebuah usaha PLO di Yordania meruntuhkan kekuasaannya sebagai raja. Banyak orang Palestina terbunuh dalam konflik yang berlangsung hampir setahun lamanya itu hingga bulan Juli 1971. Hasil akhir dari semua ini adalah pengusiran PLO dan ribuan orang Palestina dari Yordania masuk ke Lebanon.

Tentu saja, konflik itu berkembang dan mempengaruhi berbagai organisasi siswa Arab di Loop College. Saya sangat kecewa dan frustrasi menyaksikan hal ini, karena saya menyadari bahwa tanpa persatuan, tujuan jihad di Amerika tidak akan berhasil. Pada saat itulah saya bergabung dengan Al-Ikhwan – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood).

Persaudaraan Muslim adalah organisasi yang membawahi sejumlah organisasi teroris lainnya di seluruh dunia. [Penebalan dan garis bawah dari sumber aslinya; Editor]. Saya tidak sendirian saat bergabung dengan Persaudaraan ini; ada ratusan siswa Muslim lain dari seluruh penjuru Amerika yang juga bergabung ketika itu. Saya percaya bahwa bekerja sebagai seorang aktifis untuk Persaudaraan Muslim adalah cara yang terbaik untuk membawa kesatuan diantara orang Muslim; bukan Muslim Palestina atau Muslim Yordania, melainkan satu ummat Muslim – satu komunitas Muslim universal – di bawah satu payung Islam. Hingga akhirnya, seorang sheikh Yordania bernama Jamal Said datang ke Amerika untuk merekrut siswa-siswa. Pertemuan perekrutan itu diadakan di gudang bawah tanah atau dengan menyewa kamar hotel. Para siswa Muslim berkumpul dari seluruh penjuru Amerika untuk menghadiri pertemuan itu dan mendengarkan Sheikh Jamal Said Jamal memiliki status dan reputasi yang legendaris. Dia adalah sahabat Abdullah Azzam, yang terkenal di seluruh Timur tengah sebagai mentor dari Osama Bin Laden.

Orang seringkali bertanya pada saya apakah menurut saya ada kelompok-kelompok sel teroris yang beroperasi di Amerika. Tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok itu memang ada. Sementara banyak mahasiswa Amerika di tahun 70-an bereksperimen dengan narkoba, memprotes pemerintah mereka, dan berpartisipasi dalam melahirkan gerakan “anak bunga”, mereka tidak memperkirakan adanya revolusi bawah tanah lainnya yang dilahirkan oleh para siswa Muslim radikal di seluruh negeri itu. Di dalam Islam, diajarkan bahwa jika seorang Muslim memasuki sebuah negara untuk menaklukkannya bagi Allah, ada beberapa tahapan sebelum mencapai “invasi” itu jika anda menginginkannya. Itu adalah tahap-tahap awal dari gerakan paling subversif yang akan dialami oleh negara itu. Itulah kelahiran gerakan jihadis di Amerika.

Akhirnya saya pindah ke California, dimana saya bertemu dengan istri saya, seorang Katolik dari Meksiko. Saya ingin mentobatkannya kepada Islam. Saya mengatakan padanya bahwa orang Yahudi telah memalsukan Alkitab dan ia meminta saya untuk menunjukkan beberapa contoh pemalsuan itu. Ia menantang saya: ia menantang saya untuk mempelajari Alkitab itu sendiri supaya saya sendiri melihat apakah semua yang telah diajarkan kepada saya mengenai Alkitab dan orang Yahudi itu benar atau tidak. Itu membuat saya memulai sebuah perjalanan yang mengubah hidup saya secara radikal.

[Menyelidiki Alkitab]
Pada saat itu saya harus pergi membeli Alkitab dan saya mulai membacanya dan ada banyak sekali kata “Israel” di dalamnya. Kata yang paling saya benci itu ada dimana-mana di dalam kitab itu. Saya berpikir, bagaimana ini harus dijelaskan? Saya mulai berpikir bahwa orang-orang Yahudi sesungguhnya tidak menyakiti kami tetapi kami membenci mereka dan menuduh mereka melakukan hal-hal yang mengerikan ini.

Ini adalah sebuah perjalanan, yang dalam beberapa waktu lamanya hingga saya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya, lebih merupakan sebuah obsesi. Saya begadang sampai larut malam dan membaca dengan tekun kitab suci orang Yahudi dan Kristen ini. Saya membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saya mempelajari sejarah Yahudi. Saya berdoa dan menggumuli hal-hal yang saya temukan. Banyak hal dalam kepercayaan saya yang membentuk dasar-dasar cara berpikir saya yang Islami mulai bertumbangan. Karena dikonfrontasi dengan konflik yang jelas terlihat antara cara saya memandang dunia ini dan agama saya semenjak remaja dan kebenaran Alkitab yang menusuk, lalu saya berdoa mohon bimbingan Elohim. Pada pertengahan tahun 1990, saya pergi ke reuni keluarga di selatan California, disana terjadi pertengkaran setelah saya membela tokoh Alkitab Rahel, yang disebut oleh paman saya sebagai “pelacur Yahudi.”

“Kamu layak dimusuhi,” kata paman saya, dan mereka melemparkan saya keluar dari rumah. Saya sadar mereka tidak tahu apa-apa soal sejarah; apa yang mereka ketahui hanyalah propaganda yang dulu selalu diajarkan pada saya.

Pertobatan saya membawa saya untuk meninggalkan kekerasan dan menjadi orang Kristen, tetapi untuk itu ada harga yang harus saya bayar: keluarga saya tidak mau mengakui saya lagi dan saudara saya sendiri mengancam akan membunuh saya karena telah meninggalkan Islam. Sekarang saya berharap bahwa dengan mengatakan kebenaran saya akan membuka mata orang banyak.

Sekarang, saya adalah pendiri Yayasan Walid Shoebat. Misi hidup saya dan cita-cita saya adalah membawa kebenaran tentang orang Yahudi dan Israel ke seluruh dunia, sambil mengijinkan Ha Mashiah untuk menyembuhkan jiwa saya melalui pertobatan dan mengupayakan rekonsiliasi Saya telah berketetapan untuk dengan tidak berlelah berbicara tentang Israel kepada ratusan ribu orang di dunia. Saya bersyukur kepada Elohim karena Ia memberikan saya kesempatan untuk meminta pengampunan dan berekonsiliasi dengan orang Yahudi dimana pun di seluruh penjuru dunia. Kepada siapa pun yang mau mendengarkan, saya akan menceritakan kisah saya Sebagai tambahan, walau ada banyak ancaman terhadap hidup saya – termasuk imbalan 10 juta Dollar untuk menangkap dan membunuh saya – saya terus berbicara menentang kebohongan-kebohongan Islam-Nazi yang dulu mengindoktrinasi saya. Jika mereka menangkap saya, saya akan terus bersuara.

Ya, hari ini saya mengatakan pada dunia, Saya mengasihi orang Yahudi! Dan saya sangat percaya bahwa orang Yahudi adalah umat pilihan Elohim yang bertujuan untuk memberi terang kepada orang-orang Arab dan juga seluruh dunia – jika mereka mengijinkan orang Yahudi menerangi mereka.

Mengetahui kebenaran ini telah mengubah cara berpikir saya dari menjadi seorang pengikut Muhammad dan yang mengidolakan Adolf Hitler menjadi seorang yang percaya kepada Yeshua Ha Mashiah, dari mempercayai kebohongan menjadi mengenal kebenaran, dari sakit secara spiritual menjadi dipulihkan, dari hidup dalam gelap menjadi melihat terang, dari terkutuk menjadi diselamatkan, dari keraguan kepada iman, dari benci menjadi kasih, dari perbuatan-perbuatan jahat kepada anugerah Elohim di dalam Ha Mashiah

Inilah saya hari ini Terpujilah YAHWEH! Saya berharap dengan membaca kesaksian saya dan yang lainnya dalam buku ini anda mulai menyadari bahwa ada peperangan antara yang baik dan yang jahat, dan antara damai dengan terorisme, perselisihan antara kebebasan dan neo-fasisme Sebagaimana yang saya katakan saya berbicara di Universitas Columbia: Hari ini saya berjuang untuk hak semua orang; saya berjuang untuk orang kulit hitam agar dibebaskan dari perbudakan, bagi orang Muslim agar bebas untuk bertobat kepada kekristenan, bagi orang-orang Yahudi yang menolak untuk menjadi Kristen, dan bagi orang-orang atheis untuk mendapatkan haknya menjadi orang atheis Dan saya akan mati untuk hak kebebasan berbicara bagi semua orang di Amerika Serikat. Walid Shoebat, Pendiri Yayasan Walid Shoebat

Buku kesaksian Walid: Mengapa Saya Meninggalkan Jihad dan Mengapa Kami Ingin Membunuh Anda

Bacaan berkait:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Kesaksian Ali Pektash dijamah Yeshua di Mekka saat ibadah Haji


“Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. (Yesaya 65:1)

Pendeta Ali Pektash Ali Pektash adalah pria Kurdi-Turki yang di besarkan dari sebuah keluarga Muslim. Putus asa dengan hidupnya yang terikat minuman keras, ia dianjurkan oleh pemilik kedai minum untuk kerja di Arab Saudi. Di Mekka, saat ia menunaikan ibadah Haji, Adonai Yeshua menampakkan diri-Nya melalui mimpi, menjamah Ali dan menjadikan Ali manusia yang baru.

Kesaksian Ali ini adalah satu dari lima video kesaksian  dari DVD More Then Dreams. (klik pada link untuk melihat online. tersedia dalam subtitle Inggris, Arab dan Perancis). Di dalamnya ada 5 kesaksian dari 5 negara berbeda, satu  dari Indonesia  wanita bernama “Dini.”

Latar belakang kehidupan Ali. Ali bertumbuh dalam sebuah keluarga Muslim nominal. Ia adalah anak tertua dari sembilan anak, tetapi ia tidak memiliki banyak memori yang indah dari bagian keluarga yang besar tersebut. Mereka sering menggodai dia dan berkata bahwa ia nampak berbeda dari setiap orang lainnya di dalam keluarga. Bahkan ibunya sendiri membenci dia dan merupakan anak yang paling terbelakan mendapat kasih ibunya. Ia selalu merasa ditolak oleh keluarganya sendiri dan menangis banyak sekali di masa kanak-kanaknya.
Selama empat bulan setiap tahun Ali bekerja sebagai gembala ternak. Tugas ini dimulai sejak ia berusia delapan bulan dan berlanjut sampai usianya mencapai 18 tahun. Dia membawa domba-domba ke gunung-gunung dan di sana ia menghabiskan waktunya sendirian, menikmati keindahan alam: bunga-bunga, batu-batu, buah-buahan. Ia tidak tahu bagaimana sembayang, tidak juga tahu isi Kuran, namun ia tahu bahwa bahwa ada suatu Pribadi yang mulia yang telah menciptakan keindahan alam tersebut. Di gunung tersebut ia sering kali berbicara kepada Pribadi yang tidak terlihat tersebut, ”Betapa indahnya ciptaan-ciptaan-Mu,” atau membuat pertanyaan, ”Darimanakah datangnya rasa manis pada buah appel?”
Ketika ia mencapai usia 20 tahun, ia mulai meminum minuman beralkohol. Mencapai usianya yang ke 25 ia telah menjadi pemabuk, kecanduan alkohol. Ia bekerja sebagai mandor bangunan pada sebuah perusahaan konstruksi bangunan. Sering kali ia telah mulai minum itu sebelum pukul sembilan pagi. Ketiak ia tiba di rumah, isterinya sering bertanya kepadanya apakah ia telah minum. Ini membuat dia marah sehingga ia memukuli isterinya setiap hari. Anak-anak Ali menyaksikan peristiwa tersebut dan mereka takut pulang ke rumah ketika jam sekolah selesai, jadi mereka sering pergi ke rumah teman mereka sampai mereka tahu bahwa ayah mereka telah tidur. Ia ingin berhenti mabuk dan merasa tidak enak memukuli Zehra, istrinya dan anak-anaknya, namun ia tidak mampu melepaskan ikatan alkohol yang menyebabkan pemukulan atas keluarganya sendiri.
Sebagaimana biasa kebiasaan Ali, pulang kerja dan mampir di kedai minum untuk mabuk. Pada suatu peristiwa, setelah uangnya di sakunya habis terkuras untuk botol-botol bir, dan para pengunjung sudah meninggalkan kedai, namun Ali masih duduk di kursinya dan masih ingin munum lagi.
Pemilik kedai terpaksa menghampirinya untuk mengusir Ali, sebab kedai akan segera ditutup. Sudah larut malam.
”Saya tidak bisa pulang ke rumah,” Ali yang mabuk ini berkata, ”ketika saya pulang, maka saya memukul isteri saya dengan sangat keras. … bahkan saya tidak ingat namaku sendiri.”
”Seharunya kamu pergi ke Arab Saudi,” pemilik kedai menasehati Ali, ”alkohol terlarang di sana, maka kamu akan berhenti minum. Di Arab Saudi mereka perlu pekerja-pekerja kontruksi dan gajinya bagus.”
”Allah … akan menolong saya,” Ali meresponi. Itu merupakan suatu ide yang baik pikirnya. Jadi ia pergi ke Saudi dan mencari pekerjaan.
Namun malam pertama ia tiba di Saudi, ia mencari dimana bisa mendapatkan bir. Terkejut dengan dirinya sendiri, ternyata bir juga dijual di Arab Saudi, jadi ia mulai minum lagi. Setiba di Mekka, dengan bangga ia menelpon isterinya, yang sangat terkejut sebab Ali tidak bercerita tentang kepergiannya ke Saudi.
Pada percakapan jarak jauh tersebut Ali berkata dengan optimis, ”Saya tepatnya ada di Mekka, dan ya hanya sekali-sekali minum bir. Tahun depan saya berharap akan menunaikan ibadah haji. Ini kabar baik, bukan kah begitu?” Dari saat ini dan seterunya saya akan menjadi seorang Muslim yang taat, Zehra.” Saya akan menjadi seorang ayah yang baik, saya tidak akan lagi meminum bir. Saya akan tetap mengirim uang bagi mu, ok?

Setahun berikutnya ia pergi Haji dengan rombongan dari Turki, dan teman lamanya, Ero, juga ikut dan mereka satu tenda bersama beberapa orang lain. ”Tiba di Mekka, saya mengelilingi Ka’aba dan melakukan sembayang malam, malam itu adalah sembayang pertama sepanjang hidupku.” Ali cerita.
Tiba di perkemahan, mereka bercakap-cakap di depan tenda mereka; esok pagi adalah perjanan ke Medina untuk melanjutkan ibadah haji. Di depan tenda aku berkata kepada teman-temanku, ”Dari mulai sekarang, saya akan meninggalkan masalah-masalah ku kebelakangku. Saya ingin keluar dari minuman dan hidup damai dengan isteriku dan anak-anakku.” Ero menjawab dengan haru, ”Kami senang kamu ada di sini, Ali. Mudah-mudahan Allah menjawab semua doa-doamu.” Lalu teman-temannya masuk ke tenda untuk tidur malam, sementara Ali berbaring di luar dengan beralas karpet kecil dan mata memangdang ke langit, merenungkan dan berdoa di dalam hatinya, ”Bagaimana saya bisa menjangkau Engkau, Elohim? Saya tidak tahu melakukannya. Saya berdoa kepada Mu dengan segenap hatiku, saya ingin Engkau menyatakan diri-Mu sendiri kepadaku. Selamatkanlah saya dari ikatan alkohol ini. Saya ingin Engkau menyelamatkan saya.” Dan Ali jatuh terlelap.
Malam itu Ali mendapatkan mimpi. Dalam mimpi tersebut Yeshua memegang tangan Ali dan berkata, ”Kamu adalah milik-Ku!” Aku mengambil mu untuk ada bersama Ku.”
Sambil tangan-Nya menyentuh dahi Ali, Yeshua berkata lagi, ”Pergilah dari sini, kamu adalah miliki Ku.”
Ali terbangun dari mimpinya, ia dipenuhi sukacita dan merasa seperti sedang melayang, sehingga ia menyentuh karpet tempat alas tidurnya untuk memastikan bahwa ia masih tetap di bumi. Segera ia masuk ke tenda membangunkan Ero, temannya lamanya yang ia telah kenal selama 15 tahun, untuk menceritakan mimpinya.
”Saya telah melihat Yeshua! Saya telah melihat Yeshua dalam mimpiku, Ia ada di sampingku!” Ero yang sedang tidur lelap terbangun dan dengan nada tidak acuh dan sedikit kesal ia berkata, ”Apa yang sedang kamu bicarakan?” Sementara mereka berdua berbicara, Ali kembali mendengar suara Yeshua, dan berkata kepada temannya ”kamu dengan suara itu?” Ero tidak mendengar apa-apa, dan menjawab, ”Kamu telah makan terlalu banyak semalam dan telah bermimpi buruk.”
”Tidak, Tidak. Itu adalah mimpi yang inda,” Ali coba menerangkan.
Lalu Ali kembali tidur, dengan tujuan jika mungkin ia bisa menyambung mimpinya. Sekali ini ia tidur sisi rekan-rekannya di dalam tenda.
Segera ia kembali mendengar suara Yeshua berkata, ”Ali, kamu milik Ku. Kamu tidak akan melakukan ziarah ini. Tinggalkan tempat ini.”
Saya terus menerus mendengarkan suara yang berkata ”Tinggalkan tempat ini” dan suara ini sungguh mengganggu ku. Lalu aku keluar dari tenda dan mencoba tidur di mobilku.”
Paginya teman-teman setenda Ali menemukan ia tertidur di mobil dan membangunkannya dan mengajak ia berangkat ke Medina. ”Saya akan menyusul kalian,” Ali berkata.
Ketika ia menghidupkan mesin mobilnya untuk melanjutkan ziarah, aneh mesin tidak bisa hidup, padahal mobil itu baru berusia satu bulan. Lalu, suara itu terdengar kembali, ”Kamu tidak akan pergi pada ziarah ini. Kamu adalah milik Ku!
Lalu Ali pulang ke apartemennya. Keajaiban lainnya terjadi, di cermin ia melihat bahwa separuh dari bulu dadanya telah menjadi putih. Ali mencoba membersihkannya, ia pikir itu adalah debu atau sesuaitu, namun warna putih tersebut tidak lenyap. Tiba-tiba suatu suara berbicara kepadanya, ”Kamu akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada ini.”
”Pada saat itu ketakutan besar melandaku, suatu ketakutan yang aneh bercampur dengan sukacita. Saya merasakan bahwa Elohim besertaku dan akan menolong ku.”
Lalu ia pergi berlutut di sebelah tempat tidurnya untuk berdoa, ia tidak tahu apa yang ia harus katakan. Dengan kedua tangan yang terangkat tinggi saya hanya berkata, ’Baik, Adonai, apapun yang Engkau kehendaki dari ku dari saat ini dan seterunya, saya akan melakukannya.’”
Malam itu saya mendengar suara itu kembali mengatakan pada ku untuk kembali pulang ke Turki secepatnya.
Tiga hari kemudian, ia berada pada pesta ”Welcome Home” di rumahnya di Turki. ”Semua tetanggaku telah berkumpul di rumahku. Saya sungguh berbahagia,” Ali bercerita, ”Mereka tahu bahwa saya pernah memukuli isteri dan anak-anakku, tetapi mereka tetap suka kepada ku.
Kembali ia mendengar suara, ”berdirilah dan katakan pada setiap mereka bahwa kamu sekarang adalah seorang Kristen.” Ia mentaati suara tersebut, dan berdiri dan bercerita kepada semua hadirin.
”Sementara saya ada di Arab Saudi, saya telah melihat Yeshua di dalam suatu mimpi. Yeshua menjamah saya. Saya ingin kalian semua mengetahui bahwa saya telah menjadi seorang Kristen. Saya sekarang adalah seorang Kristen.”
Pengakuannya yang singkat tetapi langsung tersebut disambut olokan tertawa para tetangganya, pria dan wanita. Lalu suasana menjadi sunyi, pelan-pelan, satu-per-satu mereka meninggalkan rumahnya.
Setelah anak-anak pergi tidur, Zehra, menghampiri suaminya yang masih tetap duduk di tempat yang sama pada saat pesta, ia duduk di samping suaminya.
”Zehra, saya benar-benar telah menjadi Kristen,” Ali berkata
”Tetapi bagaimana? Bagaimana seorang menjadi seorang Kristen di Arab Saudi? Zehra bertanya
“Sementara berada di sana, Yeshua telah datang kepada ku dalam suatu mimpi dan menjamahku. Saya merasa perubahan dalam hatiku, Dia telah memberi ku sukacita yang luar biasa. Dia berkata bahwa saya adalah milik-Nya. Saya telah jatuh hati kepada Dia.”
Lalu Ali meminta maaf kepada isterinya dan berjanji tidak akan memukulnya lagi dan berkata: ”Adonai telah mengampuni saya. Akankah kamu …. Kamu juga … mengampuni ku?” Lalu Ali menangis.
”Saya mengampuni, Ali. Mengapa kamu menangis? Apa yang salah?” Zehra bertanya
”Zehra, sekarang … sekarang saya seorang Kristen, tetapi kamu tidak. Jadi, apa yang kita akan lakukan?”
“Tidak masalah, jika kamu telah menjadi Kristen, saya akan juga,” Zehra menjawab pasti.
”Malam itu, rumah kami penuh dengan damai. Namun kami tidak tahu satu orang Kristen pun. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan,” Ali mengingat kejadian tersebut.
Ali lalu kembali mencari pekerjaan, dan mendapatkannya. Ali menyaksikan kepada rekan kerjanya bagaimana Adonai telah merubah hidupnya. Ia dipecat.
Ia pindah ke Istambul, dan dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Dua tahun setelah perjumpaan dengan Yeshua, ia tetap belum bertemu satu orang Kristen pun, dan belum memiliki Alkitab ditambah kerinduan akan keluarganya telah menyebabkan ia tertekan dan mulai kembali minum minuman keras.
Suara di hatinya berseru, ”Kembalilah ke rumahmu.” Di kotanya ia mendapat pekerjaan. Pada suatu hari ia menemukan siaran radio Kristen tanpa sengaja, bernama Dipanggil untuk Damai (Call to Peace) berbahasa Turki. Suara di radio itu berkata, ”Yeshua telah mati, bangkit dari kematian setelah tiga hari dan sekarang duduk di sisi kanan Bapa.” Itulah berita Kristen pertama yang ia pernah dengan sejak pertemuannya dengan Yeshua di Mekka. Ia segera memanggil isterinya untuk juga mendengarkan. Dan mengirim surat kepada stasiun radio Kristen tersebut untuk minta Alkitab Perjanjian Baru.
Sepuluh hari kemudian ia menerima Alkitab Perjanjian Baru. Ia juga menerima bahan-bahan Pelajaran Alkitab dari sumber yang sama. Ali berusia 38 tahun ketika ia menerima Alkitab tersebut, ”itu mungkin saat terbahagia dalam kehidupanku,” Ali mengenang.
”Saya membaca seluruh Perjanjian Baru tanpa tidur. Kehidupanku mulai berubah. Orang-orang juga dapat melihat perubahan dalam hidupku,” Ali berkata.
Dan suami-isteri ini semakin aktif bersaksi kepada orang lain dan mengundang setiap tetangga untuk datang kerumah mereka mempelajari Alkitab.
Setelah Ali dan Zehra menyelesaikan kursus-kursus Alkitab melalui korespondensi, mereka sekeluarga pindah ke Istanbul untuk menghadiri sekolah Alkitab.
Sekarang Ali Pektash adalah seorang pendeta di Turki, ia rajin membuka jemaat-jemaat baru di Turki seperti rasul Paulus.
Ali terus memberitakan iman Kristennya secara terbuka dan tanpa malu. Alkohol tidak lagi menguasai hidupnya, dan ia mengasihi isterinya. Sungguh Ali Pektash telah menjadi suatu ”ciptaan baru di dalam Yeshua Ha Mashiah.”

Bulan Mei tahun 2014, Ali dengan rombongannya berkunjung ke kota Yerusalem untuk suatu konferensi orang-orang yang beriman kepada Adonai Yeshua. ”Konferensi At the Crossroads” ini khusus diadakan untuk orang-orang Timur Tengah yang bertujuan mencari strategi Elohim bagi Timur Tengah di tengah-tengah masa gejolak politik dan sekaligus menolong mempersatukan kembali putra-putra Abraham (keturunan dari Ishak dan Ismael dan Israel/Yakub dan Esau). Orang-orang Percaya dari Israel, Mesir, Assur beribadah bersama di Yerusalem
Pada konferensi ini, hadir orang-orang Percaya dari latar belakang kebangsaan, seperti Mesir, Irak, Iran, Cyprus dan Yordan, Turki, Armenia, juga orang Israel yang tinggal di luar Israel. Pendeta Ali Pektash adalah salah satu pembicara pada konferensi tersebut. Baca: Petkash: Petkash: “Kita memiliki pelayanan yang sangat penting – memperdamaikan Dunia.”
Visi dari Konferensi ini di dasari pada nubuatan nabi Yesaya 19:23-25Pada waktu itu akan ada jalan raya dari Mesir ke Asyur, sehingga orang Asyur dapat masuk ke Mesir dan orang Mesir ke Asyur, dan Mesir akan beribadah bersama-sama Asyur. Pada waktu itu Israel akan menjadi yang ketiga di samping Mesir dan di samping Asyur, suatu berkat di atas bumi, yang diberkati oleh TUHAN semesta alam dengan berfirman: “Diberkatilah Mesir, umat-Ku, dan Asyur, buatan tangan-Ku, dan Israel, milik pusaka-Ku.”
Seluruh isi pasal 19 pada nubuatan nabi Yesaya ini tepatnya adalah untuk negara Mesir, diawali dengan kalimat: “Ucapan terhadap Mesir. Lihat, YAHWEH mengendarai awan yang cepat dan datang ke Mesir, maka berhala-berhala Mesir gemetar di hadapan-Nya, dan hati orang Mesir, merana hancur dalam diri mereka.” (ayat 1). Kericuhan berdarah pada peristiwa Arab Spring di Mesir menurunkan President Mubarak dan juga Morsi terjadi telah dipercayai oleh orang-orang Kristen Mesir sebagai penggenapan nubuatan nabi Yesaya. YAHWEH membersihan Mesir dari berhala-berhala dan membawa bangsa Mesir berbalik dan beribadah kepada Dia saja.

Ayat 23 sampai 25 adalah nubuatan yang bersifat janji bahwa Dia akan membuat “Jalan Raya penghubung antara Mesir dengan Asyur.” Bangsa Asyur kono hidup di sekitar Irak utara, Iran, Armenia, Turki Timur saat ini, itu adalah Pengungan Kurdistan, yang di huni oleh bangsa Kurdi saat ini. Pendeta Ali Pektash bukan saja tinggal di Asyur (Turki Timur), lebih dari itu ia orang Kurdi.
Siapakah yang bisa percaya nubuatan ini jika itu dibaca 70 tahun yang lalu? 70 tahun yang lalu negara Israel masih belum bangun sejak diruntuhkan oleh Kerajaan Romawi di bawah Jendral Titus di tahun 70 AD. Israel baru lahir kembali tahun 1948 dan indentitas bangsa Kurdi baru muncul tahun 1988 ketika President Saddam Hussein bom-bom beracun ke desa-desa suku Kurdi yang menewaskan 4000-5000 hampir semuanya adalah rakyat sipil Kurdi. Sekarang bangsa Kurdi diambang ke merdekaan. Yesaya melayani sebagai nabi dari 740-681 BC.   ALKITAB memiliki lebih dari 800 nubuatan, 80%nya telah tergenapi! ALKITAB adalah sungguh Kitab Suci yang diwahyukan dari Sorga!!

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Kesaksian Amani Mostafa, ex-Muslim Mesir, pejuang HAM


Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Elohim lebih dahulu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:18-19)

Terlahir darAmani Mustafa ex-Muslim Mesir yang menjadi Penginjili keluarga Islam di Mesir, Amani telah diajar untuk jangan pernah mempertanyakan ajaran Islam, namun neneknya adalah seorang ahli hukum dan ibunya juga seorang rationalist.
Pada usia 13 tahun kehidupan Amani dan keluarganya berubah secara drastis ketika ibunya mengumumkan bahwa ia telah berpindah ke Kristianiti setelah kuasa YAHWEH menjamah hidupnya secara ajaib – tubuh dan roh ibunya disembuhkan! Ibunya menjadi penuh damai, teguh namun penuh kasih. Sebelumnya ibunya frustasi mencari kebahagian batin, yang berujung pada jeratan minuman beralkohol.
Ibunya menjadi begitu aktif memberitakan imannya yang baru ini kepada siapapan. Amani bercerita tentang hari-hari pertama ibunya menjadi Kristen: ”ibuku pergi ke seorang pendeta Koptik untuk minta nasehat bagaimana caranya memberitakan Injil kepada orang Muslim, ia pulang ke rumah dengan setumpuk buku dan salib besar tergantung di lehernya.”
Neneknya memanggil imam Islam ke rumahnya, dan imam ini memberi waktu 3 bulan untuk ibunya ’bertobat’ kembali ke Islam atau dihukum sesuai dengan Hukum Syariah, yakni hukuman mati.
Pada kesaksiannya Amani berkata bahwa hukum Shariah di Mesir bukanlah hukum negara tetapi ”hukum jalanan” (Indonesia: ”main hakim sendiri” – masyarakat memukuli maling ayam sampai mati, misalnya). Di Mesir, Amani berkata, polisi agama atau orang tertentu (sanak-famili) biasa menciduk orang murtad dari Islam dan lenyap tidak terlihat kembali. Jadi Amani mencoba mengingatkan ibunya akan bahaya tersebut dan berusaha menyelamatkan ibunya, namun ibunya menjawab dengan tegas “Tidak, sekali saya hidup dalam Mashiah saya akan tetap dalam Mashiah!” Keputusan ibunya ini sungguh menggoncang hati Amani.
Di Mesir, orang Islam telah diajar bahwa Alktiab telah dikorupsi, Amani berkata, jadi ia berkeputusan untuk menyelidiki Alkitab untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan tersebut kepada ibunya.
“Saya lalu menggambil Alkitab dan pergi ke kamar mandi dan mengunci diri saya sendiri selama satu jam.” Ia membuka Kitab Suci tersebut dan terbuka pada Kitab Injil Yohanes, Elohim mulai berbicara ke pada hatinya. ”Hal pertama yang mengejutkan saya adalah, saya menyukainya, saya dapat mengerti isinya!” Dari sini saya mulai mengerti mengapa ibuku begitu tertarik dengan pribadi Yeshua. Melalui cerita ”Wanita Samaria” [Yohanes 4] saya mengerti mengapa ibuku tidak bisa tutup mulut tentang Yeshua. Amani lalu menerima Yeshua sebagai Master dan Juruselamatnya.
Waktu-waktu yang keras segera datang ke dalam kehidupan Amani yang masih remaja ini. Karena ancaman para Muslim, ibunya terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya, Mesir, meninggalkan segala sesuatu untuk mencari perlindungan di Amerika Serikat.
Ketika ayahnya mengetahui bahwa Amani telah meninggalkan Islam, ayahnya mengadilinya, ”Ia berkata,” Amani bercerita, ”saya memiliki pertanyaan langsung untuk kamu. Pilih Islam atau Mashiah?” Ketika saya hampir luluh, saya menjawab, ”Mashiah,” pada titik ini dia berdiri dan memukul saya.”
”Dia sungguh mengancam dan berkata bahwa ia akan mengikat saya pada mobilnya dan menjadikan saya sebuah contoh (bagi masyarakat) di kota.”
Teman-teman Kristen Aminah yang suka pergi ibadah dengan dirinya, mulai mengalami aniaya dari ayahnya bahkan sampai dipenjarakan.
Amani kemudian melarikan diri dan bersembunyi beberapa tahun lamanya. Lalu ayahnya memakai cara lain, menikahkan Amani secara paksa kepada seorang pemuda Muslim. Suaminya mengijinkan dia mempraktekkan imannya secara sembunyi-sembunyi, tetapi sikap suaminya berubah setelah Joe, anak kedua lahir. Amani tidak lagi diinjikan berkunjung ke gereja. Sepulang dari rumah bersalin, suaminya mulai melarang dia untuk tidak lagi beribicara tentang Yeshua dan Alkitab serta tidak boleh lagi pergi ke gereja.  Amani Mustafa produser TV Kristen The Muslim Woman
Ketika Joe mencapai umum 4 tahun, suami Amani semakin menuntut dia untuk hidup dibawah aturan Islam, suaminya memaksa ia membacakan Kuran bagi anak-anak mereka, Yoshua dan Joe. ”Saya merasa bahwa saya sedang memberi makan racun kepada anak-anakku. Itu adalah hal yang paling sulit bahwa sementara mengenal kebenaran namun tidak mampu mengatakannya,” Amani menuturkan masa lalunya.
Joe menjadi tidak stabil, dan sakit-sakitan. Amani merasakan bebannya terlalu berat, tidak ada yang bisa diminta tolong – suaminya telah memutuskan hubungan Amani dengan teman-teman Kristennya, keluarga kandungnya di Mesir tidak perduli, satu-satunya yang bisa diharapkan adalah ibunya, namun hidup jauh di Amerika.
Di tengah kesulitannya tersebut Amani hanya bisa menjerit kepada Yeshua, ”Tolonglah kami!,” ia menjerit.

Yeshua memakai ibunya!, ibunya menghubungi suami Amani mencoba memberi jalan keluar ”kalian sekeluarga pindah saja ke Amerika, saya akan menolong untuk mengurusnya,” ibunya berjanji.
Mujizat terjadi. Suaminya setuju, ia mengijinkan Amani dan kedua anaknya, pindah ke Amerika Serikat dengan suatu janji bahwa suaminya akan segera menyusul.
Sementara menunggu kapal terbang untuk take off, Amani diliputi ketakutan, sewaktu-waktu tentara agama masuk dan menangkap mereka bertiga. Ketika semua lampu kapal dimatikan dan pesawat mulai mengudara ia merasakan suatu kebebasan dan suatu beban terlepas dari dirinya. Segera setelah pesawat terbang meninggalkan udara Mesir, ”hal pertama yang saya lakukan adalah mencabut kerudungku,” Amina berkata, ”yang membuat putraku terperanjat dan sambil melihat kepadaku ia berkata, ’Ibu, kamu sedang pergi ke Neraka dan saya menjawab, ’Putraku, kita baru saja meninggalkannya!’”
Di Amerika Serikat.
Setiba di AS, Amani kembali mendedikasikan dirinya kepada Yeshua ha Mashiah sehingga badai aniaya dari suaminya melalui orang-orang Islam di AS menerpa hidupnya. Lalu ketika Amani bercerita kepada suaminya bahwa ia ingin bercerai, suaminya marah besar dan menuntut kedua anak mereka untuk dikembalikan ke Mesir dan ke Islam, dan mengancam Amani bahwa ia akanlah ”membayar harganya” untuk keputusan tersebut. Amani Mostafa di Program The Islamic Dilemma
”Dia (suaminya) mengirim saudaranya mengawasi kami, telpon saya dan ibuku disadap. Ada orang-orang yang mengawas-awasi kami.” Sehinga memaksa mereka pindah ke negara bagian lainnya.
10 tahun lamanya ia bersembunyi, namun Peristiwa 11 September 2001 membuat ia terbangun dari ketakutan terbunuh oleh para pengejarnya dan rasa belas kasihan atas diri sendirinya. Roh YAHWEH menaruh beban pada hatinya untuk menolong para wanita Muslim yang juga memiliki masalah yang sama yang ia telah alami. Tahun 2003 ia mulai bergabung dengan Pelayanan TV Kristen Al Hayat menjangkau wanita Muslim yang berbahasa Arab di Timur Tengah.
Pelayanan Amani Mostafa saat ini.
Amani adalah tuan rumah dari pertunjukkan TV berbahasa Arab ”Wanita Muslim” (The Muslim Woman) di saluran Al Hayat. Amani dan teman-teman studionya – semuanya adalah juga berasal dari latar belakang Islam – berbicara tentang pengalaman mereka dengan agama Islam dan bagaimana keluar dari hukum Sharia. Program mereka dipancarkan ke seluruh Timur Tengah. Ia juga direktur dari Pelayanan Wanita untuk Keymedia-MN (the Women’s Ministry for Keymedia-MN), suatu yayasan yang secara berani meng-expose penipuan-penipuan Islam dan menjangkau para Muslim di seluruh dunia dengan Injil Yeshua ha Mashiah.
“Ada banyak wanita hidup di bawah suami-suami Muslim atau ayah-ayah Muslim atau keluarga-keluarga Muslim seperti yang pernah saya telah alami. Saat ini ada begitu banyak wanita yang perlu untuk mengetahui dan mendengar tentang kebebasan dari Mashiah seperti yang pernah saya alami.”

“Musuh kita bukanlah para Mulism tetapi Hukum Islam. Islam melihat para Muslim sebagai sebuah kelompok, bukan sebagai pribadi. Jadi kita harus mengajar para Muslim bahwa mereka memiliki nilai-nilai pribadi di mata Elohim, namun kita haruslah juga tidak mengijinkan mereka merubah hukum-hukum kita (Amerika),” kata Amani memberi nasehat kepada para pendengarnya di Amerika.

Program TV-nya telah mendapat sambutan yang luar biasa di Timur Tengah; dari yang meminta Alkitab sampai siap dibaptis dan bergabung dengan gereja-gereja lokal, Amani bercerita.
Saat ini (Oktober 2013), pelayanan Amani Mostafa menjangkau 85% wilayah dunia, termasuk Amerika Utara. Delapan tahun terakhir ini mereka telah mendapat jutaan respont dari siaran mereka melalui SMS, email, situs mereka, telpon dan jaringan media sosial.
Secara global, pertunjukkan TV-nya menjangkau 300 juta rumah dengan 50 juta penonton untuk setiap pertunjukan langsungnya.
Dari September 2012 sampai September 2013 telah ada lima juta (5.000.000) kontak pirsawan.
Saat ini Amani telah bersuamikan seorang Kristen Amerika dan memiliki seorang putri, Mary. Yoshua telah lulus dari sekolah Alkitab dan menjadi seorang pendeta, sedangkan Joe juga aktif dalam pelayanan rohani.
”Saya yakin bahwa setiap pengalaman yang telah saya alami melalui kehidupan saya adalah untuk kemulian Dia, untuk dipakai bagi kemulian-Nya,” Amani berkata. ”Anda lihat, bahwa kita memiliki pilihan. Entah kita duduk dan mengepel susu yang tertumpah, atau kita kita pakai kesulitan dan keburukan pengalaman-pengalaman tersebut untuk kemulian-Nya dan saya memilih untuk memulikan Nama Elohim.” Amani berkata.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog