Data-data rahasia dan struktur intelejen Negara Islam Khalifah terbongkar


Badan media Jerman yang terkenal, Spiegel, sebagaimana dilaporkan oleh reporternya Christoph Samir Abd Muhammad al-Khlifawi alias Haji Bakr dalang utama NIKReuter, telah mendapat kesempatan khusus melihat secara langsung data-data rahasia tentang struktur organisasi – bersifat intelejen – Negara Islam Khalifah (NIK) atau Da’ish dalam bahasa Arabnya. Data rahasia ini didapatkan setelah seorang anggota NIK dikenal dengan nama samaran “Haji Bakr” (Bakar) – si pembuat data sturktur intellejen NIK – tertembak mati saat ingin ditangkap oleh militan pemberontak kelompok Islam Sunni di Syria dari kelompok yang tidak sepaham dengan NIK. Dari rumah Haji Bakr inilah data rahasia yang sangat penting tersebut didapat. Data tulisan tangan ini berhasil dijangkau seluruhnya pada bulan November 2014. Di bawah ini adalah kutipan singkat Senjata Rohani weblog yang terambil dari tulisan Christoph Reuter.
Dari data rahasia ini, dua hal adalah jelas:
1. Haji Bakr adalah otak utama / pemimpin utama gerakkan Negara Islam Khalifah, sementara Kalifah Abu Bakr al-Bagdadi (pendiri NIK), yang tampil dipermukaan, hanyalah wajah keagamaan untuk menarik para Muslim bergabung ke dalam gerakkan militer NIK. Kondisi Ini persis seperti kepausan dalam Gereja Roma Katolik; ”Paus Hitam” (Ordo Jesuit aktif di politik dan pembuat doktrin) bergerak di belakang layar, dan ”Paus Putih” (rohaniwan) yang selalu tampil dimuka umum.
2. NIK berbahaya bagi setiap tatanan pemerintahan negara, khususnya negara-negara Islam atau mayoritas berpenduduk Muslim (saat ini), Haji Bakr, ex-intellejen Saddam Hussein ini, mengajari para Muslim untuk tidak setia kepada bangsa dan negaranya sendiri – memata-matai dan mengumpulkan informasi tentang pemimpin agama dan negara.

Isi dari data rahasia tersebut sungguh mengejutkan banyak pihak, baik bagi pihak di luar Islam dan khususnya bagi kalangan Islam sendiri. Haji Bakr, sungguh misterius, sehingga pihak yang ingin menangkap Haji Bakr tidak tahu siapa orang yang ia telah bunuh, yang ternyata bukan sekedar seorang pemimpin rohani yang bergabung ke Da’ist atau NIK yang didirikan oleh Abu Bakr al-Bagdadi.
Samir al-Khlifawi di jaman Saddam HusseinSiapakah “Haji Bakr?” Nama aslinya adalah Samir Abd Muhammad al-Khlifawi orang asal Irak, namun tidak seorang pun mengetahui nama aslinya, bahkan nama samarannya ”Haji Bakr” tidak banyak diketahui. Koran Spiegel pada laporannya menyimpulkan Samir sebagai orang: “menyendiri, sopan, pembujuk, sangat penuh perhatian, menguasai diri, tidak jujur, misterius dan berbahaya.” Bakr adalah ”seorang nasionalist, bukan seorang Islamist,” kata wartawan Irak Hisham al-Hahimi yang sepupunya satu posisi dengan Bakr di Komplek Angkatan Udara Habbaniya di jaman President Irak Saddam Hussein. Samir adalah bekas kolonel dalam badan intellejen pada angkatan udara pertahanan di pemerintahan Saddam Hussein. ”Kolonel Samir,” Hashimi memanggilnya,” adalah sangat intellijen, seorang logistik yang sangat luar biasa.
Ketika Paul Bremer, orang AS untuk wilayah pendudukan Amerika di Bangdad ”membubarkan tentara Sadam pada Mai 2003, ia kepahitan dan kehilangan pekerjaan.” Sejak itu Samir beroperasi secara rahasia. Pada masa Jalan Arab ia tinggal di Tal Rifaat, profinsi Aleppo di Syria. Di kota ini ia merekrut orang-orang muda dan mengadakan pertemuan dengan Abu Bakr al-Baghdadi – yang kelak dikenal sebagai ”pendiri dan pemimpin gerakkan Negara Islam Khalifah (NIK).” Samir begitu misterius sehingga ia dikalangan militan NIK ia hanya dikenal sebagai “Tuan Bayangan” (lord of shadows), dan bahkan tetangga sebelah rumah Samir berpikir ia hanyalah seorang imam dari kelompok Da’ist. Menurut Wikipedia, sejak Saddam tumbang, Samir menjadi pimpinan puncak dari Negara Islam Irak (NII), Samir memegang peranan dalam karir Abu Bakr dan menjadikan Abu Bakr pemimpin  NII berikutnya (dan Samir bermain di belakang layar). Dan di saat perang Syria, NII menjadi NIIS (S untuk Syria), dan segera menjadi NIK (K untuk Khalifah dalam arti global tidak hanya di Irak dan Syria), baca “Sejarah NIK modern

Isi dari data rahasia NIK buatan Kolonel Samir. Data tersebut terdiri dari 31 halaman. Saya simpulkan secara garis besarnya saja. (harap baca sumber aslinya, The Terror Strategist: Secret Files Reveal the Structure of Islamic State By Christoph Reuter.
Seperti kita ketahui bahwa sebelum serangan udara dilancarkan oleh Amerika Serikat (yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain) atas kantong-kantong militan NIK di akhir tahun 2014, militan NIK bergerak begitu cepat dan sukses, hanya dalam beberpa bulan saja NIK telah menguasai wilayah yang luar hampir sebesar negara Syria, wilayah yang ada di bawah kontol NIK tersebar dari Syria utara memanjang ke timur sampai ke Irak. Menjadi “organisasi Islam terrorist terkaya se dunia” media menulis. Kota demi kota dengan mudah dikalahkannya, Rahasia dari sukes ini ternyata adalah datang dari perencanaan strategi yang pintar tapi licik dari Kolonel Samir atau “Haji Bakr” atau “Tuan Bayangan” tersebut. [Berita-berita internasional mengabarkan, saya ingat, betapa mudahnya jihadist NIK merebut kompek-komplek militer di Irak, di tempat tertentu bahkan hampir tidak ada perlawanan sama sekali. Data rahasia ini menceritakan alasannya, pretasi NIK dan apa yang “NIK telah raih jauh melampau kerja keras bertahun-tahun organisasi Islam terroris Sunni Al-Qaida” – para ahli anti-terrorist berkata]

1 Struktur organisasi NIK seperti nampak pada gambar terbukti penuh dengan badan-badan intellejent, dan badan keagamaan (pengadilan Sharia) berfungsi untuk tujuan politik semata. Gambar ini adalah naskah asli yang telah di dijitalkan oleh Spiegel, draf tanganya berbahasa Arab dapat dilihat pada link di bawah.

Draf Struktur Badan Intelejen Da'ish Negara Islam Khalifah buatan Haji Bakr al-KhlifawiData mengatakan, mereka yang bertugas pada “hakim-hakim Sharia di pengumpulan data intellejen” bekerja sama dengan “petugas-petugas keamanan” semuanya adalah untuk suatu tujuan tunggal: pengamatan [dimata-matai] (surveillance) dan kontrol.
Kata yang Haji Bakr pakai untuk metode “pemurtadan Muslim-muslim yang sungguh,” takwin, bukanlah istilah agama, tetapi istilah teknik yang diterjemahkan sebagai “implementasi” yang dipakai oleh Muslim Shia sebagai “menciptakan kehidupan palsu (artificial life).” Pada abad 19 seorang Muslim Persia bernama Jabir Ibn Hayyan dalam bukunya “Buku Batu-batu (Book of Stones) – memakai naskah dan kode rahasia – tentang penciptaan homunculus (orang pendek), “Tujuannya adalah menbohongi semua orang, tetapi mereka yang mengasihi Allah.”  [Islam mengajar: “Muslim yang takwah haruslah berani mati bagi Allah dan Nabinya.” Indentik dengan “fungsi rakyat dalam pemerintahan Komunis,” atau “fungsi pion dalam permainan Catur. Suatu konsep yang sama sekali beda dengan Kristianiti: “Elohim mati berkorban bagi keselamatan umat-Nya.” Dr. Parvin Darabi dari Iran dengan berani menyatakan bahwa Hukum Sharia adalah berfungsi untuk mengonrol umatnya, dan bukan untuk keuntungan / kesejahteraan umat.]
Christoph menulis, “meskipun kelompok (NIK) tersebut memandang orang Shia sebagai para murtad yang merusak Islam yang benar, tetapi bagi Haji Bakr (Sunni Muslim), Allah dan kepercayaan 1400 tahun di dalam dia adalah satu dari banyak modul pada (sistim) pembuangan Bakr untuk megatur sebagaimana ia suka untuk sebuah tujuan yang lebih tinggi.” [Dengan kata lain: Bakr tahu aksi pembunuhan (pembuangan) dan praktek Islam Shia salah, namun ia tetap pakai sistim yang sama tersebut demi tujuannya]. Bakr mengulangi kejahatan pemerintahan Saddam Hussein, dimana setiap orang bisa lenyap begitu saja jika seseorang dianggab bisa membahayakan atau menghambat Sistim, yang ditulis oleh Kanan Makiya dalam bukunya “Republik of Fear” (Negara Takut).
2. Samir juga membuat coretan-coretan tangan daftar wilayah- wilayah yang harus dikuasai secara bertahap dan siapa-siapa yang bertanggung jawab, ia juga menggambar rantai-rantai logistik untuk post-post keamanan dan pertahanan militer NIK. [Telah terwujud, NIK menguasai kota-kota dan desa-desa yang strategis]

3. Merebut tanah Syria sebanyak mungkin, sebagai langkap pertama. Menjadikan Syria sebagai pusat kegerakkan, dan setelah itu baru menguasai tanah Irak. [Telah terwujud; Setelah Raqqa dan Aleppo dikuasai, NIK bergerak ke timur menduduki Mosul dan Kirkuk, dari situ mereka turun ke Bagdad]

4. Strategi perekrutan para jihadist. Kelompok NIK merekrut para pengikutnya melalui kedok keagamaan “pembukaan kantor-kantor Dawah,” yakni pusat penyebaran agama Islam. Sasaran empuk mereka adalah kelompok usia muda, bahkan usia 16 tahun.

5. Setelah direkrut, Untuk tugas mata-mata (termasuk kota/ desanya sendiri) Haji Bakr membuat daftar hal-hal yang harus mereka lakukan pada wilayah yang telah ditargetkan:

  • Daftarkan keluarga-keluarga yang berkuasa
  • Namai para pribadi yang berkuasa dalam keluarga-keluarga tersebut
  • Temukan sumber-sumber pendapatan mereka
  • Namai nama-nama dan besarnya kelompok pemberontak di desa yang bersangkutan
  • Temukan nama dari para pemimpin mereka
  • Temukan aktivitas illegal mereka (menurut Hukum Sharia), untuk bisa dipakai untuk menggancam (blackmail) mereka jika perlu.

Para mata-mata ini juga diperintahkan menulis secara detil entah seorang adalah kriminal atau seorang homosex, atau terlibat dalam hubungan gelap, sehingga dapat dipakai untuk mengontrol orang tersebut dikemudian hari. Prakek memanipulasi kelemahan orang lain terjadi di IFB – artikel ini juga memberi nasehat “bagaimana keluar dari jebakan ‘mafia’ tersebut.”

  • Pemuda yang pintar akan dijadikan imam-iman Sharia dan diutus
  • Beberapa pemuda akan diutus khusus untuk menikahi putri-putri dari keluarga-keluarga yang sangat berpengaruh untuk memastikan penyelusupan berjalan lancar
  • Haji Bakr juga ingin tahu: ideology dari imam setempat, pro rejim atau pro jihad, siapa yang menggaji dan siapa yang menugaskan imam tersebut
  • Untuk setiap dewan profinsi, Haji Bakr telah merencanakan seorang pemimpin agama Islam atau seorang komandan untuk melakukan terror untuk menyebarkan ketakutan di kedua institutusi itu (agama dan pemerintahan)

Abu Bakr al-BaghdadiHal ini dibuat sebab Haji Bakr percaya – dan ia tidak sendiri, para pemimpin Muslim Brotherhood berpikiran sama – bahwa keyakinan agama saja tidak cukup untuk mencapai kemenangan [taget Islam adalah menjadikan seluruh dunia tunduk kepada Islam atau ada dimusnahkan].
Laporan menulis bahwa tahun 2010 [sebelum lahirnya ”organisasi NIK”] Haji Bakr dan sekelompok kecil para bekas petugas intellejen Irak membuat pertemuan dengan Abu Bakr al-Baghdadi, pria lulusan S3 dari universitas Bagdad untuk bidang ilmu Islam, dan (besar kemungkinan) merekalah yang menobatkan Abu Bakr menjadi ”khalifah” bagi gerakan Neraka Islam tersebut.
Peristiwa kematian Haji Bakr
Sampai akhir 2013, segala sesuatu berjalan menurut rencana yang telah dibuat olen NIK – atau sedikitnya sesuai rencana dari Haji Bakr. Namun ketika para militan NIK menyiksa secara sadir seorang pemimpin pemberontak Sunni yang terkenal sekaligus seorang dokter yang membawa kematian pada Desember 2013, sesuatu yang tidak NIK harapan terjadi. Para pejuang pemberontak Sunni anti-President al-Hassad yang terdiri dari banyak kelompok yang semua satu tujuan dengan NIK, mereka sekarang bersatu melawan NIK. Bentrokan bersenjata terjadi antar sesama Sunni.

Haji Bakr, tetap tinggal di rumahnya di kota Tal Rifaat, yang semula dikuasai NIK. Namun kota ini terpisah menjadi dua di akhir Januari 2014 hanya dalam beberapa jam saja. Haji Bakr tertinggal di tempat yang salah – jatuh ketangan militan Sunni yang balas dendam kepada NIK. Seorang tetangga Bakr, membuka mulut kepada musuh NIK, “Seorang imam Da’ish (NIK) tinggal di pintu berikut!” Seorang komando lokal bernama Abdemalik Hadbe dan beberapa orangnya memghampiri rumah Bakr. Seorang wanita membuka pintu dan berkata dengan manis, ”Suamiku tidak di sini.”
Namun mobilnya diparkir di depan, para militan balas menjawab
Saat itu Haji Bakr keluar pintu dengan piamanya. Abdelmalik memerintahkan dia mengikuti mereka. Diprotes oleh Bakr bahwa ia ingin bertukar pakaian dulu.
”Tidak, Datang dengan kami! Segera!” Abdelmalik berseru.
Bakr melompat ke dalam rumah dan menutup pintu rumah dengan tentangan kakinya, kata dua saksi mata.
Lalu Bakr bersembunyi dibawa tangga dan bersertu: ”Saya memiliki sebuah sabuk bom bunuh diri! Saya akan ledakan kita semua! Lalu ia keluar rumah dengan pistol Kalashnikovnya dan mulai menembak.
Abdelmalik kemudian balas menembak dan membunuh Bakr.

Kemudian, setelah orang-orang ini mempelajari siapa yang mereka baru saja bunuh, mereka memasuki rumah tersebut, mengumpulkan komputer-komputer, pasport-pasport, kartu-kartu telpon mobil, navigator, dan yang terpenting surat-surat – yang ternyata rahasia dari NIK. Satu hal yang mereka tidak temui dari rumah Haji Bakr adalah kitab Kuran.
Pada buku NIK, tertanggal musim gugur 2013 ada sebuah daftar tertulis 2650 pejuang dari negara asing di profinsi Aleppo saja. Orang Tunisia mewakili ketiga dari keseluruhan, diikuti oleh orang Arab Saudi, Turki, Mesir dan jumlah terkecil adalah orang Chechen, Eropa dan orang Indonesia.
Spegel menyimpulkan: NIK ingin tahu setiap sesuatu, namun pada waktu yang bersamaan, kelompok ini ingin membohongi setiap orang – termasuk para anggotanya sendiri – tujuan NIK yang sesungguhnya.

Komentar: Untuk orang Timur, terbongkarnya data rahasia Da’ish atau Negara Islam Khalifah ini menimbulkan suatu masalah yang perlu direnungan dengan seksama: Apakah ideologi Islam yang sesungguhnya, apakah itu sekedar praktek keagamaan atau wadah praktek politik berjubah keagamaan?
Yeshua Ha Mashiah memperingatkan para murid-Nya, ”Siapa yang memakai pedang akan mati dengan pedang.” Di sini Ia menyatakan bahwa kerohanian tidak bisa dijalankan dengan cara politik, dan siapa yang mencampurkannya ia akan mati di luar ”Kebenaran” alias tidak masuk Sorga. Jalan ke Sorga, Yeshua menyatakan hanyalah melalui percaya kepada Yeshua, mengikuti ajaran dan perintah-Nya semata seperti Dia telah berkata di Injil:
“Akulah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan. Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa jika tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
Bapa mengasihi Putra dan Dia telah mengaruniakan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya.
Siapa yang percaya kepada Putra, dia mempunyai hidup kekal, tetapi siap yang tidak mentaati Putra, dia tidak akan melihat hidup, sebaliknya murka Elohim tiggal di atasnya (Yohanes 3:35-36)

Sumber: The Terror Strategist: Secret Files Reveal the Structure of Islamic State
By Christoph Reuter

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Iklan

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: