Kesaksian Amani Mostafa, ex-Muslim Mesir, pejuang HAM


Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Elohim lebih dahulu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:18-19)

Terlahir darAmani Mustafa ex-Muslim Mesir yang menjadi Penginjili keluarga Islam di Mesir, Amani telah diajar untuk jangan pernah mempertanyakan ajaran Islam, namun neneknya adalah seorang ahli hukum dan ibunya juga seorang rationalist.
Pada usia 13 tahun kehidupan Amani dan keluarganya berubah secara drastis ketika ibunya mengumumkan bahwa ia telah berpindah ke Kristianiti setelah kuasa YAHWEH menjamah hidupnya secara ajaib – tubuh dan roh ibunya disembuhkan! Ibunya menjadi penuh damai, teguh namun penuh kasih. Sebelumnya ibunya frustasi mencari kebahagian batin, yang berujung pada jeratan minuman beralkohol.
Ibunya menjadi begitu aktif memberitakan imannya yang baru ini kepada siapapan. Amani bercerita tentang hari-hari pertama ibunya menjadi Kristen: ”ibuku pergi ke seorang pendeta Koptik untuk minta nasehat bagaimana caranya memberitakan Injil kepada orang Muslim, ia pulang ke rumah dengan setumpuk buku dan salib besar tergantung di lehernya.”
Neneknya memanggil imam Islam ke rumahnya, dan imam ini memberi waktu 3 bulan untuk ibunya ’bertobat’ kembali ke Islam atau dihukum sesuai dengan Hukum Syariah, yakni hukuman mati.
Pada kesaksiannya Amani berkata bahwa hukum Shariah di Mesir bukanlah hukum negara tetapi ”hukum jalanan” (Indonesia: ”main hakim sendiri” – masyarakat memukuli maling ayam sampai mati, misalnya). Di Mesir, Amani berkata, polisi agama atau orang tertentu (sanak-famili) biasa menciduk orang murtad dari Islam dan lenyap tidak terlihat kembali. Jadi Amani mencoba mengingatkan ibunya akan bahaya tersebut dan berusaha menyelamatkan ibunya, namun ibunya menjawab dengan tegas “Tidak, sekali saya hidup dalam Mashiah saya akan tetap dalam Mashiah!” Keputusan ibunya ini sungguh menggoncang hati Amani.
Di Mesir, orang Islam telah diajar bahwa Alktiab telah dikorupsi, Amani berkata, jadi ia berkeputusan untuk menyelidiki Alkitab untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan tersebut kepada ibunya.
“Saya lalu menggambil Alkitab dan pergi ke kamar mandi dan mengunci diri saya sendiri selama satu jam.” Ia membuka Kitab Suci tersebut dan terbuka pada Kitab Injil Yohanes, Elohim mulai berbicara ke pada hatinya. ”Hal pertama yang mengejutkan saya adalah, saya menyukainya, saya dapat mengerti isinya!” Dari sini saya mulai mengerti mengapa ibuku begitu tertarik dengan pribadi Yeshua. Melalui cerita ”Wanita Samaria” [Yohanes 4] saya mengerti mengapa ibuku tidak bisa tutup mulut tentang Yeshua. Amani lalu menerima Yeshua sebagai Master dan Juruselamatnya.
Waktu-waktu yang keras segera datang ke dalam kehidupan Amani yang masih remaja ini. Karena ancaman para Muslim, ibunya terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya, Mesir, meninggalkan segala sesuatu untuk mencari perlindungan di Amerika Serikat.
Ketika ayahnya mengetahui bahwa Amani telah meninggalkan Islam, ayahnya mengadilinya, ”Ia berkata,” Amani bercerita, ”saya memiliki pertanyaan langsung untuk kamu. Pilih Islam atau Mashiah?” Ketika saya hampir luluh, saya menjawab, ”Mashiah,” pada titik ini dia berdiri dan memukul saya.”
”Dia sungguh mengancam dan berkata bahwa ia akan mengikat saya pada mobilnya dan menjadikan saya sebuah contoh (bagi masyarakat) di kota.”
Teman-teman Kristen Aminah yang suka pergi ibadah dengan dirinya, mulai mengalami aniaya dari ayahnya bahkan sampai dipenjarakan.
Amani kemudian melarikan diri dan bersembunyi beberapa tahun lamanya. Lalu ayahnya memakai cara lain, menikahkan Amani secara paksa kepada seorang pemuda Muslim. Suaminya mengijinkan dia mempraktekkan imannya secara sembunyi-sembunyi, tetapi sikap suaminya berubah setelah Joe, anak kedua lahir. Amani tidak lagi diinjikan berkunjung ke gereja. Sepulang dari rumah bersalin, suaminya mulai melarang dia untuk tidak lagi beribicara tentang Yeshua dan Alkitab serta tidak boleh lagi pergi ke gereja.  Amani Mustafa produser TV Kristen The Muslim Woman
Ketika Joe mencapai umum 4 tahun, suami Amani semakin menuntut dia untuk hidup dibawah aturan Islam, suaminya memaksa ia membacakan Kuran bagi anak-anak mereka, Yoshua dan Joe. ”Saya merasa bahwa saya sedang memberi makan racun kepada anak-anakku. Itu adalah hal yang paling sulit bahwa sementara mengenal kebenaran namun tidak mampu mengatakannya,” Amani menuturkan masa lalunya.
Joe menjadi tidak stabil, dan sakit-sakitan. Amani merasakan bebannya terlalu berat, tidak ada yang bisa diminta tolong – suaminya telah memutuskan hubungan Amani dengan teman-teman Kristennya, keluarga kandungnya di Mesir tidak perduli, satu-satunya yang bisa diharapkan adalah ibunya, namun hidup jauh di Amerika.
Di tengah kesulitannya tersebut Amani hanya bisa menjerit kepada Yeshua, ”Tolonglah kami!,” ia menjerit.

Yeshua memakai ibunya!, ibunya menghubungi suami Amani mencoba memberi jalan keluar ”kalian sekeluarga pindah saja ke Amerika, saya akan menolong untuk mengurusnya,” ibunya berjanji.
Mujizat terjadi. Suaminya setuju, ia mengijinkan Amani dan kedua anaknya, pindah ke Amerika Serikat dengan suatu janji bahwa suaminya akan segera menyusul.
Sementara menunggu kapal terbang untuk take off, Amani diliputi ketakutan, sewaktu-waktu tentara agama masuk dan menangkap mereka bertiga. Ketika semua lampu kapal dimatikan dan pesawat mulai mengudara ia merasakan suatu kebebasan dan suatu beban terlepas dari dirinya. Segera setelah pesawat terbang meninggalkan udara Mesir, ”hal pertama yang saya lakukan adalah mencabut kerudungku,” Amina berkata, ”yang membuat putraku terperanjat dan sambil melihat kepadaku ia berkata, ’Ibu, kamu sedang pergi ke Neraka dan saya menjawab, ’Putraku, kita baru saja meninggalkannya!’”
Di Amerika Serikat.
Setiba di AS, Amani kembali mendedikasikan dirinya kepada Yeshua ha Mashiah sehingga badai aniaya dari suaminya melalui orang-orang Islam di AS menerpa hidupnya. Lalu ketika Amani bercerita kepada suaminya bahwa ia ingin bercerai, suaminya marah besar dan menuntut kedua anak mereka untuk dikembalikan ke Mesir dan ke Islam, dan mengancam Amani bahwa ia akanlah ”membayar harganya” untuk keputusan tersebut. Amani Mostafa di Program The Islamic Dilemma
”Dia (suaminya) mengirim saudaranya mengawasi kami, telpon saya dan ibuku disadap. Ada orang-orang yang mengawas-awasi kami.” Sehinga memaksa mereka pindah ke negara bagian lainnya.
10 tahun lamanya ia bersembunyi, namun Peristiwa 11 September 2001 membuat ia terbangun dari ketakutan terbunuh oleh para pengejarnya dan rasa belas kasihan atas diri sendirinya. Roh YAHWEH menaruh beban pada hatinya untuk menolong para wanita Muslim yang juga memiliki masalah yang sama yang ia telah alami. Tahun 2003 ia mulai bergabung dengan Pelayanan TV Kristen Al Hayat menjangkau wanita Muslim yang berbahasa Arab di Timur Tengah.
Pelayanan Amani Mostafa saat ini.
Amani adalah tuan rumah dari pertunjukkan TV berbahasa Arab ”Wanita Muslim” (The Muslim Woman) di saluran Al Hayat. Amani dan teman-teman studionya – semuanya adalah juga berasal dari latar belakang Islam – berbicara tentang pengalaman mereka dengan agama Islam dan bagaimana keluar dari hukum Sharia. Program mereka dipancarkan ke seluruh Timur Tengah. Ia juga direktur dari Pelayanan Wanita untuk Keymedia-MN (the Women’s Ministry for Keymedia-MN), suatu yayasan yang secara berani meng-expose penipuan-penipuan Islam dan menjangkau para Muslim di seluruh dunia dengan Injil Yeshua ha Mashiah.
“Ada banyak wanita hidup di bawah suami-suami Muslim atau ayah-ayah Muslim atau keluarga-keluarga Muslim seperti yang pernah saya telah alami. Saat ini ada begitu banyak wanita yang perlu untuk mengetahui dan mendengar tentang kebebasan dari Mashiah seperti yang pernah saya alami.”

“Musuh kita bukanlah para Mulism tetapi Hukum Islam. Islam melihat para Muslim sebagai sebuah kelompok, bukan sebagai pribadi. Jadi kita harus mengajar para Muslim bahwa mereka memiliki nilai-nilai pribadi di mata Elohim, namun kita haruslah juga tidak mengijinkan mereka merubah hukum-hukum kita (Amerika),” kata Amani memberi nasehat kepada para pendengarnya di Amerika.

Program TV-nya telah mendapat sambutan yang luar biasa di Timur Tengah; dari yang meminta Alkitab sampai siap dibaptis dan bergabung dengan gereja-gereja lokal, Amani bercerita.
Saat ini (Oktober 2013), pelayanan Amani Mostafa menjangkau 85% wilayah dunia, termasuk Amerika Utara. Delapan tahun terakhir ini mereka telah mendapat jutaan respont dari siaran mereka melalui SMS, email, situs mereka, telpon dan jaringan media sosial.
Secara global, pertunjukkan TV-nya menjangkau 300 juta rumah dengan 50 juta penonton untuk setiap pertunjukan langsungnya.
Dari September 2012 sampai September 2013 telah ada lima juta (5.000.000) kontak pirsawan.
Saat ini Amani telah bersuamikan seorang Kristen Amerika dan memiliki seorang putri, Mary. Yoshua telah lulus dari sekolah Alkitab dan menjadi seorang pendeta, sedangkan Joe juga aktif dalam pelayanan rohani.
”Saya yakin bahwa setiap pengalaman yang telah saya alami melalui kehidupan saya adalah untuk kemulian Dia, untuk dipakai bagi kemulian-Nya,” Amani berkata. ”Anda lihat, bahwa kita memiliki pilihan. Entah kita duduk dan mengepel susu yang tertumpah, atau kita kita pakai kesulitan dan keburukan pengalaman-pengalaman tersebut untuk kemulian-Nya dan saya memilih untuk memulikan Nama Elohim.” Amani berkata.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: