Mari kita bicara tentang Film Jagal – The Act of Killing


Sebab YAHWEH adalah benar. Dia mencitai kebenaran; orang yang tulus hati akan memandang wajah-Nya. Mazmur 11:7

Setiap 17 Agustus kita Film JAGAL The Act of Killing Academy Award Nomineememperingati hari kemerdekaan kita, mengheningkan cipta untuk mengenang jasa-jasa pahlawan bangsa dan negara Indonesia. Apa yang kita sudah raih selama 69 tahun ini? Kita membaca dan mendengar Pembacaan sila-sila Pancasila dan UUD 1945, mengapa sepertinya “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” nampak masih jauh dari jangkauan. Pemerasan masih terjadi atas orang miskin dan kelompok minoritas (suku maupun agama), preman-preman yang memperkaya diri melalui perbuatan mafianya masih berkeliaran tanpa tersentuh oleh pihak keamanan, ormas-ormas Islam seperti FPI masih terus melanggar UUD dan UU Negara atas nama “membela agama Islam” tanpa dikenai hukuman. Sementara orang lapar yang mencuri ayam dipukuli sampai mati, dan orang-orang Cina Indonesia yang bekerja keras siang dan malam tidak mendapat perlindungan hukum yang memadai. Baiknya kita kembali merenungkan dan intropeksi diri sendiri. Film Jagal ini kiranya bisa menjadi satu cermin untuk kita berintropeksi diri. Kita berharap positif, bahwa dengan terpilihnya bapa Jokowi menjadi president hukum di Indonesia akan berjalan sebagaimana seharusnya dan keadilan serta rasa aman dapat juga dinikmati rakyat miskin dan kelompok minoritas (suku dan agama).

Garis besar tentang latar belakang dari film Jagal atau The Act of Killing. Film Jagal adalah film dokumentasi tentang pembantaian berskala nasional terhadap orang-orang yang terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terjadi antara tahun 1965-1966. Film ini disajikan dalam bentuk rekontruksi bagaimana pembantai itu dilakukan dan di perankan oleh para pelaku pembantaian tersebut dan keluarga korban yang masih hidup. Direktur dari film ini adalah Joshua Oppenheimer and Christine Cynn. Aktor utama: Anwar Congo dan Herman. Eksektuif Produser: Werner Herzog dan Errol Morris.
Ide dari pembuatan film ini terlahir ketika di tahun 2001 Joshua mendengar langsung cerita peristiwa pembantaian PKI  ini dari para keluarga korban yang masih hidup di Medan. Dari informasi tersebut Joshua pergi untuk mewawancarai 15 pelaku pembantaian, dan sekaligus memfilmkan. Inti dari film ini dibuat tahun 2012.
Film The Act of Killing (Jagal di Indonesia) pertama kali diputar di AS pada bulan Agustus 2012, sejak itu menyebar ke negara-negar Barat lainnya, seperti Kanada, Denmark, dan Jerman. Di Indonesia, menurut Tempo, film ini telah diputar di 91 kabupaten/kota dari Aceh sampai Jayapura dengan total pemutaran 238 kali, di tonton sekitar 6000 orang di Indonesia.
Tujuan dari Film Jagal. Sering kali setelah kita keluar dari bioskop, kita memiliki perasaan yang berbeda dengan penonton lainnya, ada yang sedih, sementara yang lain marah, tidak jarang ada juga yang tidak beraksi apa-apa mungkin karena tidak mengerti atau tidak perduli, “ya itu hanya film.” Joshua Oppenheimer, di beberapa wawancara, ia menceritakan motif dari pembuatan film dokumentasi Jagal ini, intinya ialah:

Joshua berkali-kali menyatakan bahwa tujuan dari pembuatan film ini adalah pada satu sisi menolong para keluarga korban yang masih hidup untuk keluar dari trouma dan ancaman sejenis yang mungkin bisa datang kepada mereka. Pada sisi sebelahnya ia menolong para pelaku pembantai tersebut melihat kembali peritiwa tersebut dengan perspektif yang benar dan jujur: apakah mereka melakukan itu murni yakni sekedar membela Pancasila dan Negara Indonesia dari ancaman faham Komunis, atau mereka ‘memancing di air keruh’ / ‘sambil nyelam minum air’. Melalui kedua hal ini Joshua berharap akan lahirnya suatu rekonsiliasi (perdamaian di antara dua pihak yang berselisih) dalam skala kelompok maupun politik di Indonesia. Joshua bukanlah musuh atau ancaman bagi azaz Pancasila yang kita cintai dan banggakan, sebaliknya ia ingin memurnikan citra Pancasila, menolong para anggota Pemuda Pancasila untuk hidup benar sesuai cita-cita luhur Pancasila khususnya hormat dan takut akan TUHAN Yang MahaEsa.

Mendiskusikan Film Jagal / the Act of Killing. Diskusi adalah salah satu proses therapi kejiwaan yang sangat bagus. Tidaklah diragukan bahwa banyak di antara Anda, orang Indonesia, telah menyaksikan film “Penghianatan G30S/PKI” yang dibuat oleh Pemerintah Orde Baru. Nah sebelum Anda memberi komentar tentang Film Jagal ini, atau mengkomentari komentar orang lain ada baiknya kita menetralkan diri kita sendiri terlebih dahulu. Raja Salomo dalam Amsalnya berkata. Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya. (Ams 18:17). Komentar penonton atas Film JAGAL The Act of Killing
Hikmat Salomo ini diteguhkan oleh para Sejarawan yang berkata “Sejarah ditulis oleh para pemenang.” Dengan kata lain, sangatlah sering apa yang kita percayai sebagai kebenaran sesunguhnya itu hanyalah hasil dari catatan sejarah dari satu pihak belaka, yakni: para pemenang atau penguasa. Untuk itulah perlu dihadirkan Pembicara kedua.”
Karena alasan inilah, maka sebelum Anda berkomentar, lakukanlah dua hal berikut ini:
1. Simak cerita Joshua Oppenheimer pada wawancara ini:

2. Tontonlah secara penuh film Jagal / The Act of Killing ini secara penuh. Film ber subtitle Inggris dapat ditemukan di iTunes dan Netflix.

Sedikit fakta tentang hal-hal yang berkaitan dengan Peristiwa G30S PKI:

  • Pemerintah AS memberi bantuan uang kepada pihak Orde Baru dan juga daftar nama-nama tokoh yang harus mereka musnahkan, Joshua Appenheimer menyatakan.
  • Menurut Almarhum Jendral Sarwo Edhie Wibowo, ada sekitar 2,5 juta ‘orang Komunis Indonesia’ terbunuh pada kejadian G30S PKI tersebut.
  • Banyak orang ‘pribumi’ maupun ‘non-pribumi (dalam hal ini masyarakat Cina Indonesia) yang terbunuh di tahun 65-66 hanya karena mereka karyawan yang kerja di bawah suatu partai buruh atau tuduhan tetangga atau orang yang tidak suka pada mereka
  • Pemerasan terhadap keluarga korban yang masih hidup masih tetap berlangsung sampai saat ini.
  • President Soekarno menjalin hubungan politik dengan Pemerintah RRC yang komunis; namun menuduh lalu membunuh masyarakat Cina Indonesia sebagai orang Komunis adalah suatu yang perlu dikaji ulang. Umumnya orang Cina di Indonesia adalah penganut agama Buddha atau dan Konfucuisme. Di Daratan Cina sendiri, meskipun ideologi Komunis Marxist masuk ke negara Cina sejak 1920, Partai Komunis Cina (PKC) hanya memiliki 40.000 (empat pulurh ribu) anggota di tahun 1937. Dan delapan tahun kemudian menjadi 1,2 juta, inipun bertambah karena penjajahan Jepang atas negara Cina (1937-1945). Komunisme di Cina bahkan mendapat perlawanan sengit secara luas di dataran Cina dari Kuomintang (KMT) yakni Partai Nasionalis Cina , di bawah pimpinan Jendral Chiang Kai-shek (1887-1975), – yang juga merupakan Pemimpin dari Dewan Militer Nasional Republik Cina dari 1928-1948. Dan dari laporan resmi PKC bulan Juli 2013, anggota mereka baru mencapai 85 juta anggota – sangat jauh lebih sedikit dari jumlah orang Kristen di Cina: 200 juta, laporan menulis. Beberapa misionari berkata 250-300 juta saat ini.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: