USA: Sedikitnya 55 juta jiwa terbunuh sejak Aborsi dilegalkan


Peta Negara Bagian Amerika SerikatTanggal 22 Januari 1973 adalah bagian dari sejarah penting bangsa Amerika Serikat; perjuangan antara hak pribadi (ego) melawan hati nurani (conscience). Pada hari bersejarah ini Mahkamah Agung USA mengeluarkan undang-undang yang melegalkan tindakan aborsi. keputusan nasional ini dibuat atas dua kasus ibu hamil yang dikenal dengan nama ”Roe v. Wade” (di Dallas, Texas) dan ”Doe v. Bolton” (di Atlanta, Georgia).”

Negara Amerika Serikat (USA), yang dibangun oleh orang-orang Eropa Kristen yang melarikan diri raja-raja yang dikendalikan oleh paus, memandang tindakan aborsi pada awalnya  secara umum dianggap sebagai kejahatan. Tahun 1821, Connecticut adalah negara bagian AS pertama mengeluarkan hukum aborsi sebagai tindak kriminal.

Jane Roe (nama aslinya Norma McCorvey) adalah wanita belum menikah yang hamil karena diperkosa, sedangkan Mary Doe (nama aslinya Sandra Cano) adalah ibu usia 22 tahun dari 3 (tiga) anak yang sedang hamil 9 minggu. Kedua masalah ini dibawa oleh para hukum untuk melawan Hukum anti-Aborsi Amerika Serikat.

Sandra Cano baru-baru ini bercerita kepada theBlaze.com tentang dirinya yang sebenarnya mengenai kasus Doe v. Bolton pengadilan yang sekarang telah merubah pola hidup kaum wanita Amerika abad 21. Selama interview melalui telpon, Mrs. Cano menerangkan kesedihan yang dia rasakan selama bertahun-tahun sehubungan dengan keterlibatannya di  dan kaitan kepada perjuangan legal kasus tersebut.

”Saya memiliki suatu kehidupan yang sukar – sangat susah,” Cano mengakui, ia berkunjung ke kantor Legal Aid di Atlanta awal tahun 1970 untuk mencari pertolongan mendapatkan ijin cerai dari suaminya yang sering keluar masuk penjara dan sekaligus berjuang untuk mendapatkan dua anaknya kembali dari tangan pemerintah sekalipun saya tidak memiliki bantuan keuangan.
Seorang ahli hukum bernama Margie Pitts-Hames, berjanji menolong Cano, namun dengan suatu harga – yang saat itu Mrs. Cano tidak tahu sama sekali.

Singkat cerita Hames dan rekan-rekannya memanipulasi kondisi Cano untuk melenyapkan hukum pemerintah AS saat itu yakni ”Perbuatan Aborsi adalah Kriminal” untuk melegalkan tindakan aborsi tanpa kondisi – dipengadilan mereka menyerang Arthur Key Bolton (1922 – 1997), yang menjabat sebagai Jaksa Agung Georgia saat itu (periode 65-81), bekas veteran Perang Dunia II, seorang yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

”Mereka tahu saya saat itu hamil, tetapi saya tidak pernah berkata bahwa saya ingin menghentikannya (mengaborsinya),” Cano berkata, dan melanjutkan: ”Pikiran demikian tidak ada di pikiran saya.”

Sadar bahwa Mrs. Cano tidak mau menggugurkan kandungannya, maka para ahli hukum ini memakai kasus ”kesusahan” dirinya dengan nama palsu, ”Mary Doe,” dengan alasan klain mereka tidak ingin indentitas aslinya diketahui umum. Hal serupa juga terjadi dengan Norma McCorvey.

Kedua kasus lokal ini diambil alih oleh pengadilan pusat di tahun 1973 yang terdiri dari 9 (sembilan) hakim. Tujuh memberi suara Yes untuk aborsi, dua (Byron White dan William Rehnquist) menolak.

Jadi Mary Doe akhirnya ’menang’ dipengadilan, dan atas ’nasehat’ mereka Cano akhirnya memberi bayinya diaborsi.

Ops, keajaiban besar tiba-tiba terjadi; kasus lokal di Georgia, dan Texas (kasus ”Roe v. Wade”) ini pada tahun yang sama telah merubah seluruh Amerika Serikat 180 derajat dari perbuatan aborsi sebagai tindakan kriminal menjadi hak ber-aborsi bagi setiap wanita – tanpa batas alasan!!

Sadar dirinya telah dimanipulasi, ”Di tahun 1974 saya pergi ke Georgia Right to Life mencari seseorang untuk menolong saya.” Tahun 1980, ia memberanikan dirinya untuk “go public” siapa sebenarnya Mary Doe tersebut, seorang Jaksa Agung bersedia membuka kasus lamanya, namun Margie Pitt-Hames melarang dirinya.
Mrs. Cano mencoba berkali-kali untuk membatalkan kasus 1973nya namun ditolak, negara Amerika telah berubah secara tiba-tiba oleh kedua kasus wanita tersebut.

Seperti McCorvey, Cano berkataKarikatur 55 juta bayi diaborsi di Amerika Serikat sejak 1973 awal-awal tahunnya setelah kasus tersebut adalah susah dan tidak stabil dan cerita sesungguhnya tentang dirinya belumlah benar-benar diceritakan media, “Saya telah membawa beban bahwa namaku telah melegalkan aborsi.. saya tidak dapat hidup dengan kenyataan bahwa saya telah mencurahkan darah seorang bayi,” Cano berkata dengan sedih kepada TheBlaze. Cano sekarang mengklaim bahwa “Elohim telah membebaskan dia dari kedua beban tersebut.

Pitt-Hames mati di dalam kecelakaan mobil di tahun 1994.

McCorvey dipengadilan juga diijinkan untuk melakukan aborsi , namun para ‘pembela’ hukum tidak puas ijin tersebut hanya berlaku untuk masalah “hamil karena diperkosa.”
Pada peringatan ke 41 Mahkamah Agung AS melegalkan aborsi, tingkat kehamilan remaja diluar nikah semakin melambung tinggi.

“55 (lima puluh lima juta). Itu adalah hampir 20% (persen) dari pupulasi (Amerika Serikat) saat ini. Berbicara tentang pembunuhan besar-besaran (genocide),” Dennis Byrne menulis. Alasan dilakukan aborsi kerena kesehatan dan keselamatan si ibu hanyalah 4%, atau kurang dari 0,5% tindak aborsi dikarenakan perkosaan dan incest, ”Namun jutaan dan jutaan lebih adalah karena masalah kepuasan atau sederhananya sebuah pilihan dari gaya hidup …10% dari seluruh aborsi, lebih dari 5 juta orang Amerika telah memberikan hidup mereka untuk kepuasan atau pilihan gaya hidup dari seorang lainnya,” Byrne memaparkan.

Komentar: Mrs. Cano adalah satu contoh dari jutaan jemaat Roma Katolik yang berhati murni, namun penuh kemalangan. Ia tidak tahu rencana-rencana rahasia para pemimpin tingkat atas ’Gerejanya.’ Mereka berbicara di media ”menolak Aborsi” dan ”anti-Homosexual” tetapi dibalik layar melakukan kebalikannya. Saat ini 9 dari Hakim Pusat di AS adalah mayoritas (5 hakim) orang Katolik, dan saat yang bersamaan puluhan ex-pendeta Gereja Roma Katolik buka mulut tentang kejahatan para pemimpin pusat mereka.
Yeshua Ha Mashiah di kitab Wahyu menyebut gereja tersebut sebagai ”Mistery Babylon the Great” (Wah 17, 18)
Hukum dibuat untuk manusia, adalah benar sekali. Namun melegalkan tindakan yang imoral (membunuh dalam hal ini) demi “1% kasus terkecualian” akan menghancurkan seluruh hukum moral. Setiap tindakan hukum yang melegalkan menentang satu dari 10 Perintah YAHWEH, konsekuensinya adalah kehancuran negara itu sendiri, sejarah telah membuktikannya berkali-kali.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: