Julian Assange: Sistem Pengakuan-Dosa Gereja Katolik adalah alat mata-mata


Julian Assange exclusive interview in London, UK, Ecuadorian EmbassyAktivist politik Julian Assange pada pernyataannya baru-baru ini di BBC Radio 4 pada awal Januari 2014, ia percaya bahwa Yeshua Ha Mashiah (Yesus Kristus) adalah ”seorang aktivist yang besar” dan bahwa Gereja Katolik memakai pengakuan-pengakuan dosa untuk memata-matai jemaatnya [hampir 1,1 milyar orang di tahun 2010]

Pendiri situs WikiLeaks ini berkata, Reformasi Protestant adalah bukan hanya sebuah gerakan keagamaan tetapi sebuah perjuangan politik, perjuangan untuk membebaskan pengumpulan pengetahuan melalui terjemahan dan pembukaan forum diskusi secara bebas (translation and dissimination).”

Julian menambahkan, ”Melalui sistem Pengakuan Dosa, Gereja Katolik telah memata-matai kehiduppan jemaatnya, sementara missa Latin tidak melibatkan kebanyakkan mereka yang tidak berbicara bahasa Latin dari pengertian dari sistem pemikiran utama yang mana mengikat mereka.”

Julian berkata ia telah melihat banyak bukti bahwa ”Yang kuat  (penguasa) ingin menjaga kekuasaan mereka, mereka akan mencoba untuk mengetahui sebanyak mungkin tentang kita mereka bisa dapat, dan mereka akan mencoba untuk membuat kepastian bahwa kita tahu sedikit mungkin tentang mereka jika itu mungkin.”

Mengutip sejarah Reformasi Gereja di Abad Pertengahan (Katolik menyebutnya “Reformasi Protestant”) dan ajaran Yeshua di Injil Markus, Julian Assange berkata:
“Saya telah melihat ini di kedua dalam tulisan-tulisan keagamaan, yang telah menjanjikan Emansipasi dari tekanan politik dan dalam para pekerjaan revolusioneri yang menjanjikan pembebasan dari tekanan-tekanan dogma gereja dan negara,” katanya.
 “Yang kuat sepanjang sejarah telah memahami ini, penemuan mesin cetak ditentang oleh kekuatan-kekuatan tua Eropa (the old powers of Europe; Julian merefer kepada negara-negara Eropa yang kuat dibawah pengaruh Gereja Roma Katolik pada abad pertengahan) karena itu telah mengeja kontrol pengetahuan akhir mereka dan karena itu akhir masa jabatan mereka sebagai powerbrokers [atau “peacebrokers” dalam kontek konflik Israel-Palestina].”

’Kotbah’ tiga menit Jullian ditutup dengan kalimat ”Kita harus ada tidak perlu minta maaf (unapologetic) mengenai dasar utama dari hal-hal kemanusian, keinginan untuk tahu. Yang kuat pastilah akan melakukan dengan baik  menyelidiki satu dari aktivist-aktivis besar sejarah sebagaimana telah dicatat di Kitab Matius. Itu dimulai: ’Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan’ [Mark 4:22]

Lengkapnya Yeshua berkata: ”Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”  (Mark 4:22-23)

Komentar: Pengertian Jullian Assange bahwa sistem Pengakuan Dosa Gereja (Roma) Katolik adalah sebagai sistem mata-mata penguasa, sangatlah menarik. Jullian mengerti pentingnya sejarah. Pendeta Charles Chiniquy, ex-pendeta Gereja Roma Katolik yang hidup di awal abad 19 (dua ratus tahun yang lalu) dalam buku autobiografinya bersaksi bahwa sistem pengakuan dosa bukan hanya telah dipakai untuk memata-matai (spying) jemaat Katolik saja (yakni para wanita pengaku dosa dan para suami mereka melalui pengakuan isteri mereka) ternyata bahkan telah dipakai secara sistimatis untuk memata-matai prilaku orang-orang besar untuk dimurtadkan ke dalam Gereja Roma Katolik melalui  pengakuan-dosa dari para pembantu rumah tangga mereka yang adalah jemaat Katolik. Anthony Parent (pemimpin Seminari Quebec) bersaksi dengan bangganya kepada pendeta ini bagaimana ratusan orang penting dan kaya Protestant Kanada telah dimurtadkan ke Katolik karena sistem tersebut.
Apakah ada yang memiliki data, berapa banyak wanita Katolik dari Filipina di Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga?
Rasul Yohanes melihat Gereja Roma Katolik ini sebagai Wanita yang mengendarai Binatang (the Beast) dan raja-raja (penguasa negara) di bumi tunduk pada kendali wanita ini (Wahyu 17 dan 18).

Harap baca online di bab 29 di buku Fifty Years in the Church of Rome by CHARLES CHINIQUY; The life story of Charles Chiniquy, who was a priest in the Roman Catholic Church for 25 years.
Chapter 29* – Conversions of Protestants to the Church of Rome- Rev. Anthony Parent, Superior of the Seminary of Quebec; His peculiar way of finding access to the Protestants and bringing them to the Catholic Church- How he SPIES the Protestants through the Confessional– I persuade Ninety-three Families to become Catholics. (penekanan ditambahkan)
*) Bab 26 di terbitan Chick Publication: 50 Years in the “Church” of Rome

Bacaan berkait:

 Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

 

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: