Bapak Basuki (Ahok) memperingati satu tahun sebagai WaGub DKI dan tantangannya


Jakarta Baru Jakarta KitaWawancara Najwa Shihab, akrap dipanggil ”Nina” (dari Metro TV) dengan Wagub DKI,  memperingati satu tahun Bapak Basuki menjabat kursi Wakil Gubernur kota Jakarta.

Ditanya ”penjahat paling besar di Jakarta, siapa ya?” di jawab santai: ”Ya kita sendiri. …”

Megenai banyak persoalan di DKI, beliau menjawab, ”DKI itu tidak ada masalah sebab semua masalah dan solusi sudah ada kajiannya masing-masing,… masalah itu (ada) pada kami (para pemimpin), berani mengeksekusi (memutuskan) atau tidak … yang menyinggung oknum aparat, oknum birokrat, oknum teknokrat … kalau kami tidak berani mengeksekusi (masalah tersebut sesuai kajian hukum) maka semuanya tidak akan jalan.” Jika pemimpin berani mati maka masalah akan selesai, beliau menerangkan, yang disambut meriah dengan tepuk tangan para hadirin.

Meninjau soal keberanian beliau mengeksekusi suatu masalah di DKI demi rakyat, beliau menjawab dengan gaya humor: ”Itu bukan masalah berani, itu seperti cerita ’nenek-nenek kecemplung dari kapal ke laut.’” ”Bagaimana ceritanya?,” Nina bertanya, Ahok menerangkan, ”Diberi pelampung tidak menolong, para anak buah kapal pada takut, jadi orang muda meloncat menyelamatkan …Ketika sampai di kapal mereka bangga dengan keberanian pemuda itu, Pemuda ini menjawab, ”Siapa yang dorong gue?”Jokowi-Basuki Jakarta Baru

Nampak dari jawaban beliau di atas Bp Basuki menunjukkan kepada pirsawan, betapa beliau menghargai tanggung jawab  yang telah dipercayakan oleh warga DKI kepada dia. Dan dukungan para warga DKI yang telah memilih beliau dan berpihak kepada kepemimpinan yang benar dan tegas merupakan faktor keberanian beliau.

Ditanya tentang keberanian beliau dibanding dengan bapak Jokowi, “Bapak Jokowi itu pasukan KOPASUS (lebih berbahaya dan berani), saya hanya nyemprot (memarahi).” yang  disambut oleh Nina dan para hadirin dengan tertawa terbahak-bahak dan tepukan tangan.

Di pertemuan lain Bapak Basuki dihadapan beberapa tamunya menegaskan betapa pentingnya pemimpin negara secara konsisten berpegang kepada konstitusi – yang digambarkan oleh Bp Ahok sebagai ”fondasi bangunan” –  agar konstitusi negara dan kepentingan rakyat itu bisa bejalan maju.

Ia mengkaitkan hal itu dengan peristiwa ibu Susan J. Zulkifli, Lurah Lenteng Agung. yang diterror oleh sekelompok kecil agar dicabut dari jabatannya karena karena ia ”bukan seorang Muslima.” Menghadapi budaya “rasis” – yang beliau gambarkan sebagai  “tidak mampu bersaing lalu memakai perang ayat” (kedok agama) – seperti ini beliau menyarankan agar kita semua, khususnya pemimpin, melihat kepada para pejuang Kemeredekaan RI yang hanya bersenjata bambu runcing berani melawan penjajah yang besenjata api; jangan mundur karena ancaman sekelompok golongan tertentu yang mencoba merusak konstitusi dan kesepakatan Nasional. Lurah Lenten Agung Susan J. Zulkifli

Gubernur DKI, Bapak Jokowi menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan faktor agama dari pejabat (ibu Susan) tetapi kemampuan bekerja dan intergritasnya, intinya ”tidak ada pindah-pindahan jabatan oleh karena agama,” beliau menandaskan itu kepada para wartawan.

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: