Mengerti Islam: Buddhist Common Sense vs. Western Nonsense oleh Raymond Ibrahim


Terjemahan singkat dari artkel aslinya.

Sebuah artikel dari New York Times baru-baru ini, berjudul ”Sikap Extrim bangkit Diantara Para Orang Buddha Myanmar,” menawarkan pelajaran yang penting pada pikiran sehat / masuk akal (common sense) dan tidak masuk akal (nonsense). Ditulis oleh Thomas Fuller, itu dimulai melalui bercerita bagaimana:

Setelah sebuah ritual doa pengampunan dosa-dosa masa lalu, Ashin Wirathu, pendeta Buddha hadir di depan ribuan jemaat dan memulai kotbah yang mengebu-ngebu melawan yang ia sebut ”musuh”- Negara minoritas Muslim. ”Kamu boleh penuh dengan kemurahan dan kasih, tetapi kamu tidak dapat tidur disebelah anjing gila,” Ashin Wirahu berkata, merefer kepada para Muslim. ”Saya menyebut mereka para pembuat masalah sebab mereka adalah para pembuat masalah.”

Sementara artikel (di NYT) diartikan untuk menekankan dugaan ”ketidak toleransian” para orang Buddha Myanmar (Burma, nama lama), untuk mereka yang dapat menbaca tujuan penulisan atau mereka yang mengerti pengajaran Islam, sejarah, dan peristiwa-peristiwa saat ini-itu adalah jelas bahwa para orang Buddha meresponi ancaman-ancaman yang hadir yang dibuat oleh para Muslim yang hidup di antara dan di sekitar mereka.

Pelajaran pertama: tidak seperti [Orang] Barat, para pendeta Buddha sekalipun reputasi mereka sebagai pencinta damai, tetap mampu menerima dan berespond kepada kenyataan; tetap dipimpin oleh pikiran sehat (common sense). Tidak seperti Barat yang pikiran nyatanya yang terbungkus oleh propaganda media, mengkondisikan para Amerika bagaimana berpikir dan apa yang dipercaya, para pendeta Buddha ”dunia ketiga” mengenal kenyataan dilapangan. Mereka tahu, jika dibiarakan, Muslim minoritas yang hidup diantara mereka – yang mulai permusuhan – akan tumbuh lebih agresif, fakta sejarah mendemontrasikan.

Sebagaimana di negara-negara lainnya, para Muslim Myanmar telah terlibat dalam kekerasan, terror jihad, dan pemerkosaan para gadis-gadis Buddha. … Diperbatasan Thailand, dimana orang Budha adalah mayoritas dan Muslim minoritas, ribuan pemuda Buddha, wanita dan anak-anak telah dibunuh, dipotong lehernya, dan diperkosa, sebagai separatis Muslim mereka mencoba menyapu daerah tersebut dari keberadaan semua ”infidel (kafir).”

Klik ini [peringatan: gambar mengerikan] untuk melihat laporan foto dan  gambar-gambar kekejaman Muslim yang dilakukan melawan para orang Buddha yang mungkin menjelaskan mengapa para Buddha Myanmar tidak percaya terhadap para Muslim.

Pelajaran kedua: Jika umat Buddha memahami apa yang dipertaruhkan – seluruh peradaban mereka – laporan NYT adalah kesaksian mengapa Barat masih belum bisa menghadapi kenyataan. Artikel Fuller (penulis di NYT) membawa semua merek dagang – moral relativisme dan pro-Islam bias, dan campuran berbahaya dari keyakinan dan ketidak perdulian – yang menjadi ciri ketidak mampuan utama Barat untuk mengenali dan berespond kepada Islam, melainkan tumbuh sentimental, pemikiran yang hampa.

Terbukti bahwa selama 14 abad, Islam telah menyapu seluruh masyarakat dan indentitas: apa yang kita dengan santai merefer sebagai ”Dunia Arab” yang bukanlah Arab dan hampir seluruhnya Kristen di abad ke tujuh, ketika Islam hadir dan melakukan jihad.

Fuller juga nampaknya kehilangan makna dari fakta bahwa ada lebih banyak orang Kristen dan Hindu di Myanmar dibanding orang Muslim – namun orang Buddha hanya bermusuhan kepada orang Muslim. Jika orang asli Buddha sederhananya menjadi radikal nasionalis, seperti Fuller nyatakan, kenapa mereka hanya menyerang (balik) Muslim, tidak Kristen dan Hindu?

Penyesatan yang jelas. Sementara menyoroti perlakuan orang Buddha terhadap Muslim, Fuller tidak menyinggung terror jihad dan pembunuhan yang para Muslim telah perbuatan kepada orang-orang Buddha. Ia megutuk orang Buddha yang membuat 150 ribu pendatang Muslim terusir, sementara tidak sadar  bahwa di seluruh dunia Islam Muslim telah mengusir ratusan ribu (tepatnya jutaan) bukan-Muslim, menyebabkan keluarnya secara paksa besar-besaran orang Kristen (dari Dunia Islam).

Sementara para Buddha Myanmar memperjuangkan hak mereka untuk bertahan hidup melawan Islam, the New York Times melakukan distorsi-terbaik kenyataan untuk membuat itu dapat diterima oleh “membuat dunia percaya” pada mainstream media, dalam hal ini, bahwa orang-orang Muslim adalah selalu tidak bersalah dan korban-korban salah paham.

Ralph Sidway mengingatkan saya akan Pendeta Indonesia, Fr. Daniel Byantoro, yang telah menulis kalimat yang dapat diappilikasikan:

Selama beribu-ribu tahun negaraku (Indonesia) adalah sebuah kerajaan Hindu-Buddha. Raja hindu terakhir adalah cukup baik memberikan bebas pajak bangunan bagi missionary muslim pertama untuk hidup dan mengkotbahkan agamanya. Secara perlahan para pengikut agama baru ini bertumbuh, dan setelah mereka menjadi begitu kuat kerajaan diserang, dan mereka yang menolak menjadi muslim haruslah melarikan diri untuk selamat ke pulau tetangga Bali atau ke gunung tinggi Tengger, dimana mereka mampu menjaga agamanya sampai saat ini.
Secara perlahan dari Kerajaan Hindu Buddha, Indonesia menjadi negara Muslim terbesar di dunia. Jika ada sebuah pelajaran untuk dipelajari oleh orang-orang Amerika, sejarah negara saya adalah layak untuk dihayati. Kita bukanlah para pembenci, orang-orang fanatik, melainkan pencinta demokrasi dan pencita sesama. Kita hanya tidak ingin kebebasan dan demokrasi ini dirampas dari kita oleh ketidak perdulian kita dan ’kebenaran yang bersifat politik’ salah pimpinan, dan kepalsuan toleransi.   

Catatan dari Moderator:

Referensi:

 

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: