Mesir: President Morsi digulingkan, reaksi pemimpin Barat dan Arab berbeda


Negara Mesir kembali bergejolak. Jalan Arab atau Arab Spring (Barat menyebutnya) kembali merebak di Mesir.

Mesir adalah negara Islam yang terkenal dengan Universitas Kaironya, dimana melalui bangku kuliahnya lahir pemimpin Islam kaliber dunia dan ajaran Islamnya menjadi acuan hukum Islam dan tatanan hidup orang-orang Islam sedunia. Organisasi Muslim Brotherhood adalah sebuah organisasi Islam yang lahir dari tanah Mesir, tertua dan paling terhormat serta sangat terorganisasi (Anwar Sadar dan Mubarak telah ditumbangkannya), bahkan memiliki cabangnya di Amerika Serikat. Dari Muslim Brotherhood lahir beberapa organisasi lainnya yang ditakuti oleh Barat, contoh: Al Qaida dan Hamas. Mesir sepanjang periode kepemimpinan Jenderal Mubarak lenyap secara legal, militer mengontrol agama Islam. Jadi terpilihnya Morsi sebagai kepala negara Mesir merupakan kebangkitan Islam di Mesir, tidaklah diragukan dunia.

Demo anti-president Morsi di Lapangan Tahrir KairoBanyak pemimpin Barat telah berpikir dengan terpilihnya Mohammed Morsi secara pemihan umum (jalur demokrasi) rakyat Mesir akanlah puas dan Arab Spring di Mesir akan benar-benar menjadi Spring (Bersemi). Namun apa yang terjadi? Belum setahun Morsi memerintah, rakyat kembali turun kejalan – beberapa meninggal dan banyak yang luka-luka – menyebut president baru ini sebagai dictator. Rakyat merasa Morsi telah menghianati Revolusi Mesir (melawan kediktoran Jenderal Mubarak) dan menghancurkan Ekonomi Mesir. “Diktaktor dan penghianat,” rakyat Mesir menyebut Morsi, sebab ia memberi kuasa dirinya sendiri untuk  memegang kuasa legislatif, kekuatan militer dan kehakiman, dan segera menempatkan teman-temannya pada jabatan penting – ingin merubah Mesir 180 derajat secara cepat dari militer ke agama. Ia segera lupa sama sekali perkataannya di depan rakyat Mesir sehari sebelum dinobatkan jadi president (30/6/2012), “Kalian adalah sumber kekuatan dan legitimasi, tidak ada yang berdiri lebih tinggi dari kehendak masyarakat.”

Hari Tepat pada hari perayaan satu tahun Morsi menjadi president, diperkirakan delapan (8) juta rakyat turun ke jalan, bukan untuk berpesta mengelu-elukan president Mohammed Morsi namun sebaliknya, ”Turun, turun, turun” mereka berteriak. Media Barat menyatakan demo Jalan Arab ini sebagai demo terbesar dalam sejarah dunia. Beberapa minggu sebelumnnya hampir 100 (seratus) wanita anti-Morsi diperkosa, hanya dalam selang waktu tiga hari, ketika berdemo di Lapangan Tahrir, the Egyptian Operation Anti-Sexual Harassment/Assault melaporkan.

Mimpi buruk Morsi semakin memburuk, demo yang besar ini membuat banyak menteri meletakkan jabatan dan bahkan pihak militer (pucuk pimpinannya ia juga pilih sendiri) tidak berpihak kepadanya.

Pihak militer, dijaman president Hosni Mubarak nampak jelas membela Mubarak selama berbulan-bulan sebelum ia tumbang, namun terhadap president Mohmmad Morsi militer berpihak kepada rakyat nampak jelas sekali dalam tindakan dan pernyataan resmi mereka ”Morsi diberi waktu 24 jam untuk menyelesaikan masalah atau militer akan intervensi” sementara demo anti Morsi terus berlanjut. Morsi bersikeras tidak akan melepaskan jabatannya, sebaliknya ia meminta pengikutnya untuk turun kejalan membela dia.

Hari Kami (4 Juli) Morsi ditangkap. Segera setelah 24 jam tidak ada perubahan militer menangkap president Mohammad Morsi. Pemimin Militer Abdel Fattah al-Sisi (Menteri Pertahanan, pilihan Morsi) menberi pengumuman “pemerintahan Morsi telah berakhir” yang disambut oleh kumpulan besar rakyat Mesir di Lapangan Tahrir Kairo dengan perayaan nyanyia, dansa dan pesta kembang api.  Bersama Morsi ditangkap juga belasan orang dekatnya.

Beberapa pemimpin Barat, seperti president Perancis menyatakan tindakan rakyat dan militer  tersebut “merusak demokrasi di Mesir.” Reporter TV France (English) dalam suatu percakapan singkat meresponi komentar pemimpin Barat tersebut dengan mengutip jawaban rakyat Mesir “Barat tidak mengerti bahwa demokrasi bukanlah sekedar pemilihan umum, tetapi juga tindakan nyata. Jika yang terpilih tidak mampu menepati janjinya maka rakyat berkuasa untuk menurunkannya.”

Sembayang Jumat (5 July) yang merubah Mesir. Pemimpin utama Muslim Brohterhood, Mohammed Badie, pada kotbahnya menyatakan “Allah membuat Morsi menang dan membawa dia kembali ke istana. Kita adalah tentaranya kita bela dia dengan hidup kita.”

Dibakar oleh pemimpin Muslim Brotherhood, puluhan ribu jemaat yang pro Morsi turun ke jalan – menyerang pihak keamanan dan rakyat yang anti Morsi di berbagai kota. Tembakan dan lemparan batu terjadi. Tidak jelas berapa banyak korban jiwa dan yang luka-luka, Ynetnews menulis total 30 tewas dan 70 luka-luka dan France24 menulis sedikitnya 50 tewas, termasuk pihak keamanan. Tiga jam setelah bentrokan Badie pemicu kerusuhan ditangkap pihak keamanan.Tentara menangkap president Morsi dan rakyat Mesir berpesta

Pihak militer berkata kepada kantor berita AFP bahwa Morsi telah berhasil di dalam menciptakan permusuhan diantara orang-orang Mesir. Dan pihak polisi sekarang juga telah menangkapi para pemimpin pergerakan Muslim Brotherhood seperti Saada l-Katatni, ia pemimpin partai politik Partai Kebebasan dan Keadilan. Beberapa sumber berkata bahwa Morsi dapatlah secara kuat menghadapi tuduhan sehubungan kaburnya ia dari penjara di tahun 2011 dan aksinya memimpin rakyat menggulingkan Hosni Mubarak.

Agama Islam di Timur Tengah sedang menghadapi ujian berat; reaksi para pemimpin negara berbeda
Aksi anti-Morsi ini sungguh suatu arah angin baru di Mesir, khusunya dilihat dari sisi agama Islam. Mesir sebagai pusat ajaran Islam sedunia yang dipimpin oleh  Muslim Brotherhood ditolak oleh mayoritas bangsa Mesir. Beberpa tahun yang lalu, seorang profesor Sejarah Islam lulusan Universitas Kairo, Dr. Mark A. Gabriel keluar dari agama Islam. Kejatuhan Muslim Brotherhood ini pukulan berat bagi para Islamist, koran The Time (India) menulis.

Di Irak, dimana kitab Kuran tercipta (di kota Bagdad) saling bunuh tetap terjadi antara jemaat Shia (pengikut Ali, mantu nabi Muhammad) dengan jemaat Sunni (pengikut Muhammad).

Di Syria, pergolakan antara Shiah dan Sunni telah berlangsung dua tahun, lebih dari 200.000 meninggal. President Bashar al-Assad, sehubungan dengan tumbangnya pemimpin Muslim Brotherhood, President Mohammad Morsi, menyatakan bahwa ”kejadian-kejadian dalam bangsa Mesir berarti kejatuhan dari politik Islam.” President Assad berasal dari aliran Shia. Tumbangnya Morsi nampak dirayakan di Syria. Ia menambahkan  “membuktikan bahwa kelompok-kelompok orang Islam seperti Brotherhood tidaklah cocok untuk memerintah. Siapapun membawa agama untuk dipakai demi keperluan politik atau faksi akan jatuh dimanapun juga di dunia,” Mr. Assad berkata. Muslim Brotherhood di tahun 1980 telah mencoba meruntuhkan kepresidentan Hafez al-Assad (ayahnya Bashar), namun gagal – puluhan ribu jiwa meninggal.

Para pemimpin Arab bersuka cita atas jatuhnya Mohamed Morsi. Berbeda reaksi dengan para pemimpin Barat, para pemimpin Arab seperti Arab Saudi, Yordania, United Arab Emirat, Qatar, Kuwait segera menyatakan suka cita mereka atas kejatuhan Morsi.
Tunggu sebentar!, bukankah mereka juga orang-orang Sunni seperti kelompok Brotherhood? Itu benar dan Tidak diragukan!!

Dunia Arab terdiri dari 26 negara, namun sebagian besar negara-negara tersebut dipimpin oleh raja-raja – dalam negara monarki hukum tertinggi negara adalah keputusan raja, dan bukan hukum agama.  Tidak lah heran bahwa naiknya Morsi sebagai president sesungguhnya membahayakan para raja Arab.

Satu-satunya negara Islam Sunni yang secara nyata protes keras penggilingan Mohammad Morsi adalah Turki. Pemerintah mengerahkan rakyatnya untuk berdemo bagi Morsi. Wartawan France TV (Inggris) menerangkan sebabnya: Pemerintah Turki takut kejadian ini menimpa mereka, sebab beberapa minggu yang lalu rakyat turun ke jalan. Pemerintah yang sekarang telah berhasil menggulingkan pemerintahan sekuler Turki yang dipimpin oleh pihak militer, jadi demo tersebut sesungguhnya bukan membela Morsi.

Hanya pemerintah Israel yang tetap diam,  – mereka telah berdiam diri sejak permulaan Jalan Arab merebak di Tunisia. Israel tetap netral sekalipun pemerintah Syria membenci Israel, telah beberapa kali mencoba menghapus Israel dengan kekuatan militer sejak berdirinya kembali negara Israel di tahun 1948.

Bacaan berkait:

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: