Somalia: Nonton World Cup Dieksekusi


Dua orang Somali dibunuh oleh Islam radikal karena melihat siaran sepak bola World Cup. Sejumlah anggota Islam Hizbul menggerebek sebuah rumah dekat Mogadishu, ketika korban sedang asik melihat bertanding Nigeria v.s. Argentina, hari Saptu 12 Juni.

Lebih jauh 10 orang ditangkap oleh group Islam ini. Dan malam berikutnya 30 orang lainnya di saat Jerman v.s. Australia.

Jurubicara Islam ini, Sheikh Mohamed Abdi Aros, berkata Somalia harus menghormati larangan mereka atas World Cup Sepak bola tersebut, dan seharusnya memusatkan diri melakukan jihad, katanya, “Itu adalah  suatu pemborosan uang dan waktu, dan mereka tidak akan mendapat keuntungan apapapun atau pengalaman apapun dengan menonton orang-orang gila melompat turun-naik.” WAtoday.com.au melaporkan

Komentar: Para Islam fundamentalist menganggap menonton TV (apapun programnya) adalah perbuatan haram. TV itu sendiri adalah netral, tombol siarannya ada di jari sipenonton, banyak program yang mendidik dan banyak juga yang menghancurkan.

Dalam hal ini, menurut pendapat saya, menonton sepak bola internasional tidaklah buruk, tentu asal tidak kebanyakan dan tidak lupa tugas sehari-hari. Sedikitnya, untuk orang Afrika khususnya, mereka bisa belajar: “team work”,  bagaimana orang asing itu berprilaku, ilmu analisa “kelebihan dan kekurang” dari setiap negara; contoh orang kulit hitam kuat secara fisik, dan orang Asia tidak sekuat mereka, tapi team Asia mempunyai taktik tersendiri untuk bisa mengalahkan team yang kuat secara fisik tersebut.

Cara pikir Islam fundamental  di atas  pemain sepak bola  adalah “orang-orang gila melompat turun-naik” …  sungguh susah untuk dimengerti oleh dunia laki-laki, mungkin sedikit dapat diterima oleh dunia wanita. Sehari sebelum World Cup ini dimulai, istri saya memohon satu permohonan dari saya, ketika kami sedang duduk berduaan, katanya: ”Saya ada sebuah permohonan dari kamu. …” lalu dia berhenti bicara. Saya menjawab, dengan senyum: ”Benarkah? Saya juga ada, bahkan dua permohonan!” dan saya teruskan, “tidak, tidak , tidak. Hanya bercanda. Ok, apa permohoanmu sayang?”

”Saya berharap kamu tidak menontot World Cup tiap hari.” Dengan nada bercanda ia menyebutkan sebuah pepatah: “Nenek bilang, nonton sepok bola itu aneh, menontoni orang-orang laki dewasa berlari-lari di belakang sebuah bola.” Kami berdua tertawa ngakak.

Jujur, saya terkadang menonton pertandingan-pertandingan internasional (sepak bola, tennis, altetik, dsb. khususnya saat-saat final. Namun dengan segera saya bisa tinggalkan itu semua untuk urusan lainnya. TV sama seperti sebuah pisau, bisa menjadi alat penolong atau sebaliknya, tergantung si pemakai. Pendidikan cara memakai yang diperlukan, bukan larangan.

Saya pikir pembaca setuju dengan saya, bahwa menonton sepak bola (di TV) jauh lebih baik dari pada memikirkan ”bagaimana membunuh orang lain yang tidak mempunyai pikiran dan iman yang sama dengan kita.”

Bukan urusan kita menghakimi orang lain, kita bisa menasehati atau memperingatkan, tapi tidak dibenarkan main hakim sendiri. Jika itu dilakukan, maka ini adalah pelanggaran HAM.

Referensi:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Tulis komentar Anda di sini - dengan etika dan integrity. Thanks!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: