Doktrin Anti-Aborsi Katolik telah berubah?


Pemberian Gelar Penghargaan kepada Presiden Barack Obama yang pro-aborsi di Universitas Katolik Notre Dame menjadi suatu berita yang hangat, terlebih dengan sikat bisu Gereja Roma Katolik atas peristiwa penghormatan tersebut kepada orang yang jelas-jelas bertentangan dengan doktrin anti-aborsi  Katolik. ”Vatikan tetap diam secara penuh pada masalah ini”, demikian majalah TIME pada edisi online menyatakan. Episode ini telah menjadi sebuah kesempatan untuk memisahkan antara mereka yang benar-benar Katolik dan mereka yang Katolik hanya nama (Katolik KTP).

Beberapa Konserfatif Katolik USA protes ke jalan atas undangan pihak Universitas kepada president Obama. Tetapi surat kabar resmi Vatikan bereaksi lain.

Petobat baru Katolik, bekas juru bicara partai Republik menyatakan: ”Itu sungguh menyedihkan melihat Norte Dame mengundang presiden Obama… yang sungguh anti nilai-nilai Katolik.” Redaksi TIME menanggapi kekecewaan orang ini dengna berkata, “… Gingrich boleh menemukan  itu adalah kekecewaan untuk mencoba menjadi lebih dari orang Katolik ketimbang jadi Paus, ”

Apakah  jemaat Katolik sekarang semakin nyata doktrin apakah sebenarnya yang Roma Katolik percayai? Lihat video ini dimana Presiden Obama di sambut meriah dan juga terhambat oleh ejekan saat bicara di Notre Dame.

Sumber:

The Pope’s Stand in Obama’s Notre Dame Controversy, TIME

Bacaan berkait:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Seharusnyakah Orang Kristen ‘respek’ agama-agama lainnya?


Pertanyaan ini dilontarkan oleh Dr. Albert Mohler Jr, President Southern Baptist Theological Seminary, Kentucky, berkaitaan dengan peryataan Paus Benediktus XVI tentang agama Islam baru-baru ini. Dunia yang kita tahu sekarang adalah ditandai oleh kemajemukan agama dan pertentangan-pertentangan sudut pandang. Bagaimana seharusnya orang-orang Kristen berespond ketika ditanya tentang ini? Seharusnyakah orang-orang Kristen “respek” agama-agama lainnya?

Berita utama di seluruh dunia mengumumkan minggu ini bahwa Paus Benediktus XVI, sementara berkunjung ke Yordania (Mai 2009), telah bicara tentang “respek”-nya Paus kepada Islam. Tahun 2006 di Universitas Regensburg, Jerman, Paus di depan para hadirin mengutip perkataan Emperor Manuel II, satu dari beberapa penguasa kerajaan Byzantine, yang berkata: “Tunjukan kepada ku apa yang [nabi] Muhammad telah bawa bahwa itu baru, dan kamu akan temukan hal-hal yang hanyalah kejahatan dan tidak-manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan iman melalui pedang sebagaimana ia telah kotbahkan.”

Di Lapangan terbang Amman, Yordania, Paus yang sama berkata, sebagaimana tulisan resmi Vatikan: Kunjungan saya ke Yordania memberi saya sebuah undangan kesempatan untuk bicara dari respek saya yang dalam kepada komunitas Muslim, dan memberi penghargaan kepada kepemimpinan yang telah ditunjukan oleh Yang Mulia Raja [Yordania] dalam mempromosikan suatu pegertian yang lebih baik dari kebaikan yang dinyatakan oleh Islam.

Paus bicara tentang “respek” tanpa kejelasan pengertian dari apa yang sesungguhnya. Apakah Paus percaya bahwa orang Muslim dapat diselamatkan melalui pengajaran-pengajaran Islam?

Gereja Roma Katolik memandang ajaran Islam, sebagaimana Dr. Mohler temukan pada dokument doktrin Katolik, sebagai berikut:

Pada kata-kata Lumen Gentium, pada Vatikan II tertulis: ”Tetapi rencana keselamatan juga termasuk mereka yang percaya Pencipta. Pada tempat yang pertama diantaranya adalah pengikut-pengikut Mohammad, …” Sementara itu Gereja Roma Katolik mengajar bahwa Islam adalah salah dan tidak lengkap.” Pada kontek pengajaran resmi Katolik, Paus dapat menciptakan suatu pencampuran diplomasi [Vatikan sebagai negara] dan doktrin [Roma Katolik sebagai institusi agama]”, Dr. Mohler menulis. [Catatan sejarah menulis sejak abad ke 5 AD banyak Paus menyatakan bahwa keselamatan kekal hanya didapat dari Gereja Roma Katolik]

Sebaliknya Dr. Mohler menulis, bahwa orang-orang Kristen Injili tidak bisa melakukan pencampuran tersebut, ”Kita tidak memainkan suatu peran diplomatik sebagai kepala dari suatu negara, tetapi kita dipanggil untuk menjadi ambassador-ambassador dari Mashiah (Kristus) dan Injil-Nya.”

  • Orang-orang Kristen Injili boleh respek dengan tulus apa yang orang-orang Muslim percayai, namun tidak dapat respek kepada kepercayaan-kepercayaannya.
  • Kita dapat respek orang-orang Muslim untuk keterlibatan mereka kepada hal-hal yan bersifat kemanusiaan, pendidikan dan budaya.
  • Kita dapat respek kehebatan dari pendidian Muslim pada abad pertengahan dan keajaiban seni dan arsitektur yang bersifat Islam. Tetapi kita tidak bisa respek pada suatu sistem kepercayaan yang menolak kebenaran Injil, menolak bahwa Yahshua bukan Putra Elohim, dan memenjarakan berjuta-juta jiwa.

Kunjungan kepausan ke Yordan menunjuk langsung kepada masalah kepausan itu sendiri dan kepada kebingungan theologi Roma Katolik pada point ini khususnya. Menolak Tritunggal adalah menyembah Elohim yang lain.

Respek adalah sebuah permasalahan katagori. Pada ujungnya, orang-orang Kristen harus menunjukan respek untuk orang-orang Muslim melalui menceritakan Injil Yahshua Ha Mashiah (Yesus Kristus) di dalam roh kasih dan kebenaran. Kita dipanggil untuk mengasihi dan menghormati / respek orang-orang Muslim, bukan Islam.

Diterjemahkan dari

Should Christians “Respect” Other Religions?

Untuk melihat komentar dari para pembaca bisa melihat di sini: tekan ”View Comments”

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya https://senjatarohani.wordpress.com/. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog