Eritrea, Afrika: Lebih dari 1500 Alkitab dibakar para militer


11 Agustus 2008. Murid-murid Kristen yang memprotes tindakan para militer ini dimasukan kedalam contener besi untuk barang, yang berfungsi sebagai penjara. Para penguasa sekolah wajib militer mengambil lebih dari 1500 Alkitab milik para murid wajib militer priode akademi 2008-2009 dan kemudian membakarnya, di hadapan semua peserta, Compas Direct melaporkan.

Di Eritrea, murid-murid diharuskan masuk wajib militer (wamil) untuk dapat lulur SMA.

Di Sawa military training camp ini semua atikfitas Kekristenan dilarang; saat teduh, berdoa makan, diskus, memilki bahan bacaan Kristen. Murid wamil yang melakukan ini akan dipenjara dan mendapat hukuman militer.

Setelah pembakaran Alkitab-alkitab ini, para komando menangkap 35 remaja untuk dihukum secara militer termasuk penyiksaan badan.

Bulan May 2002, Eritrea telah menutup badan keagamaan yang tidak di bawah payung pemerintah. Gereja-gereja Protestan tidak mendapat ijin resmi.

Lebih dari dua ribu orang Kristen, termasuk para pendeta dan imam dari kedua gereja Protestant dan Orhodok, sekarang ditangkap di stasiun-stasiun polisi, kamp-kamp militer dan penjara-penjara seluruh Eritrea oleh karena kepercayaan agama mereka. Meskipun sudah ditahan berbulan-bulan bahkan tahunan, tidak seorangpun mendapat tuduhan secara resmi atau diberikan jalan untuk proses pengadilan.

Sejak Desember 2006, pemerintah Eritrea telah mengambil kuasa keuangan dari Gereja Orthodok Eritrea, sejak pemimpinnya Abune Antonios ditangkap pada Agustus 2005

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Iklan

Cina: Pendeta gereja-rumah dipidana 7,5 tahun


Compass Direct suatu organisasi yang mengawasi pelanggaran Hak Asasi Manusia melaparkan bahwa Pendeta Zhang Rongliang, nama sebelumnya Fangcheng, ditangkap tanpa tuduhan pada tgl 1 Desember 2004 oleh polisi Henan, beberapa bulan kemudian ia dituduh ”mendapatkan passport melalui berbohong” dan ”menyeberangi perbatasan secara illegal.”

Pada sidang 6 April, Zhang mempermasalahkan haknya untuk sebuah passport sebagai seorang warga negara RRC dan menolok tuduhan ”mendapatkan passport melalui berbohong” untuk ketiga rekan kerjanya.

Ia sebelumnya telah ditangkap selama 5 lima kali dan jumlah waktu total pemenjaraan 12 tahun oleh karena aktifitas-aktifitas keagamaannya.

Chen Hongxian, istrinya, terkejut dengan keputusan pengadilan tersebut, tidak menyangka suaminya akan mendapat hukuman yang begitu berat dan mengatakan, ”Itu adalah pengadilan Partai Komunis, bukan Pengadilan Masyarakat, itu alasan yang benar.”

Chen telah meminta kelompok-kelompok Hak Asasi seluruh dunia untuk mengawasi masalah suaminya ini dan meminta komunitas Kristen Internasional terus berdoa untuk suaminya.

Keputusan baru ”Regulasi-regulasi pada Masalah-masalah Keagamaan” yang diberlakukan sejak 1 Maret 2005, menyunjukan hanyalah sedikit perubahan di dalam kebijaksanaan pemerintah Cina, Organisasi Amnesti Internasional mengeluh.

Di dalam bulan July 2003, lebih dari dua belas gereja dihancurkan dan sedikitnya 300 Kristen ditahan, beberapa dilaporkan diperlakukan sangat buruk dan dipukuli, menurut laporan yang sama.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog