Makanan Tahir/ Halal (diperbolehkan) dan Najis/ Haram (dilarang) menurut Firman Elohim (Allah)


Bahwasanya Aku, YAHWEH, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap. (Malachi 3:6)

Beberapa tahun lalu seorang bertanya tentang sikap saya terhadap masalah makanan haram (najis atau jijik), dan belakangan ini Eropa sedang meributkan penyembelihan daging cara agama, kata ”makanan haram” dari mesin google terdapat lebih dari 3 juta links (6 July 2012), terbukti ini suatu perkara yang penting bagi orang Indonesia. Oleh sebab itu ada baiknya saya menulis artikel yang membahas makanan tahir dan najis tersebut.

Latar belakang pemikiran. Nilai-nilai moral berubah sesuai dengan perubahan budaya dan tradisi, standard ukuran pun memiliki perbedaan untuk sebuah masalah yang sama tergantung dimana bangsa itu tinggal.

Oleh sebab itu, jika kita melihat suatu permasalahan dengan kaca-mata budaya dan tradisi lokal, tidaklah perlu heran bahwa artikel yang membahas suatu makanan adalah halal (diperbolehkan untuk dimakan) dan lainnya halal (dilarang untuk dimakan) memiliki standard yang berbeda-beda. Mempermasalahkan suatu makanan halal dan haram tidaklah berbeda dengan mempermasalahkan apakah perbuatan homosex dihalalkan atau diharamkan, atau hidup polygami halal atau haram. Hal ini juga sama persis dengan masalah jihad.

Jika kita melihat ketiga hal ini dengan kaca-mata budaya, maka masalah halal dan haram hanyalah masalah budaya lokal, tergantung di negara mana kita tinggal.  Babi haram di negara Israel dan dunia Islam, itu halal di negara Barat dan masyarakat Cina di Asia; homosex halal (diperbolohkan, dan bahkan telah disahkan secara hukum untuk negara-negara tertentu) di Barat, namun haram di negara Islam; Hidup poligami halal di negara Islam, namun itu haram di negara Barat. Berjihad, seperti bom bunuh diri, menterror orang yang tidak setuju dengan Islam dengan senjata adalah halal dalam ajaran Islam, namun itu haram di Barat dan di negara-negara Asia pada umumnya.
50 derajat Celsius normal bagi orang Timur Tengah, namun itu dapat mematikan orang Scandinavia, sebaliknya suhu 5 derajat Celsius adalah hangat bagi orang Scandinavia, namun itu ekstrim dingin bagi orang Timur Tengah.

Standard suatu kebangsaan memiliki nilai yang berbeda dengan standard kebangsaan lainnya. Namun dimanapun kita tinggal, dokter memiliki standard yang sama mengenai suhu badan normal manusia, yaitu berkisar antara 36 derajat Celsius. Lewat dari dua derajat kita dinyatakan demam, kurang dari dua derajat dinyatakan flu atau kurang sehat. Elohim telah menciptakan manusia dengan temperatur tubuh yang sama. Firman-Nya berkata, ”bahwasanya Aku, YAHWEH tidak berubah.” Jika kita ingin memiliki standard moral yang baku maka kita harus memakai standard YAHWEH, Elohim yang telah menciptakan kita. Apakah kata Firman-Nya tentang makanan haram dan halal, Alkitablah acuaan yang akurat. Standard agama dan budaya hanya berlaku untuk kebangsaan, namun bila Anda dan saya ingin hidup kudus sesuai standard Kerajaan Sorga, maka kita harus memakai standard firman YAHWEH, Alkitab.

I. Penetapan Elohim atas makanan tahir (halal) dan najis (haram)
A. Sebelum jaman Adonai Yeshua Ha Mashiah. Penetapan suatu makanan adalah halal dan haram sama sekali tidak dimulai oleh nabi Muhammad (570-632 AD; 52 tahun), perkara ini bahkan telah ditetapkan sebelum nabi Musa (1571-1451 BC; 120 tahun). Penetapan tertua yang dicatat Alkitab tentang masalah ini datang kepada nabi Nuh (2948-1998 BC; 950 tahun), bapa dari segala bangsa yang hidup setelah seluruh manusia dimusnahkan YAHWEH dengan air bah, tertulis,

Lalu berfirmanlah YAHWEH kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kau ambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.” Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan YAHWEH kepadanya. (Kej 7:1-5). Perintah ini datang ketika nabi Nuh berumur 600 tahun (Kej 7:6).

Menarik untuk diingat, bahwa Habel, generasi pertama Adam dan Hawa, mempersembahkan korban bakaran kepada YAHWEH binatang gembalaan halalnya, domba, bukan babi guling (Kej 4:4) .

Penjelasan dari binatang yang halal (boleh dimakan) dan haram (dilarang dimakan) bagi umat-Nya, dalam hal ini bangsa Israel, terdapat pada kitab Imamat 11:1-47 dan Ulangan 14:1-20. Bangkai juga termasuk dalam daftar makanan najis/ haram.

Perintah tentang daging apa yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan diapit dengan kalimat: “sebab engkaulah umat yang kudus bagi YAHWEH, Ellohimmu.” atau diakhiri dengan kalimat ”Sebab Akulah YAHWEH, Elohimmu.”

Bangsa Israel sampai hari ini tetap melakukan perintah YAHWEH yang ditetapkan melalui nabi Musa, termasuk tidak memasak daging dalam air susu induknya (Ul 14:21); ekstrimnya mereka baru akan minum susu beberapa jam setelah makan daging.

Perhatikan baik-baik, daftar larangan makan daging najis/ haram tidak hanya daging babi, seperti yang diributkan oleh umat Islam, di dalamnya termasuk unta, tikus, anjing; binatang air tertentu (umumnya tidak bersisik), segala binatang merayap (ular, belut dan burung tertentu (umumnya pemakan bangkai, termasuk kelelawar). Daging Anjing, kucing dan kalelawar dapat menyebabkan penyakit rabies, E.Coli, Salmonella, hook worm dsb. Dr. Charlemange Calo berkata bukan saja daging anjing susah dicerna tubuh, lebih dari itu memasak tidak akan menlenyapkan virus yang ada di dalam daging anjing bagaimanapun lamanyanya itu dimasak.

Pertanyaan yang memerlukan jawaban orang beriman:

  • Bukankah larangan Elohim tentang makanan najis atau haram melibatkan binatang darat, udara dan laut tertentu, mengapa kita hanya meributkan ”tidak boleh makan babi” saja?
  • Jika larangan memakan daging tertentu di atas hanya untuk alasan kesehatan (fisik) atau sebagai ‘hukum kesehatan’ semata, mengapa Elohim (yang adalah ROH) memateraikan larangan-Nya tersebut dengan NAMA-Nya yang kudus? Lihat Im 11:44-45; Ul 14:1-2 dan 21.

B. Ajaran Adonai Yeshua Ha Mashiah (3 BC-31 AD) dan para rasul-Nya.
1. Mematahkan argument semua makanan tahir (halal).
Orang Kristen bukan-Israel, berkata bahwa larangan memakan makanan najis tersebut telah dicabut oleh Adonai Yeshua dan para rasul-Nya. Ayat yang umum dikutip untuk membela argumentasi ini adalah:

  • Perkataan Adonai Yeshua: Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. (Mark 7:18-19). Lihat juga Mat 15:11.
  • Perkataan Elohim kepada rasul Petrus dalam penglihatan roh: Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Elohim, tidak boleh engkau nyatakan haram.” (Kis 10:15)
  • Perkataan rasul Paulus: Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Mashiah. (Kol 2:16-17);  Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. (1 Kor 6:12)

Dari ayat-ayat di atas, kita perlu dulu berpikir dan bertanya, seperti:

  • Apakah yang murid-murid Yeshua telah makan, sehingga orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat komplain kepada Yeshua?
  • Apakah penglihatan rasul Petrus tersebut benar tentang makanan jasmani atau tentang orang bukan-Yahudi?
  • Benarkah rasul Paulus berkata bahwa orang Kristen bebas untuk makan dan minum yang mereka suka? Atau, benarkah ia berkata bahwa hukum dan perintah para nabi  (tentang makanan, minuman, menghormati hari Sabat) tidak berlaku lagi, sebab semuanya yang dahulu haram telah dihalalkan oleh Adonai Yeshua?

Melalui pembacaan dan penyelidikan Alkitab yang baik, ternyata ketiga ayat di atas tidak dapat dipakai sebagai argumentasi yang kuat bahwa ”larangan memakan makanan najis/ haram bagi umat Elohim telah dicabut Adonai.” Dengan kata lain ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa pengikut Adonai Yeshua (orang Kristen) boleh makan apa saja, sebab semuanya itu masuk ke jamban! Tidak sama-sekali!! Jika argument semua boleh dimakan sebab Alkitab berkata demikian adalah benar, maka Alkitab, khususnya Alkitab Perjanjian Baru akan penuh dengan kontradiksi!!! Marilah kita teliti ayat-ayat Alktiab tersebut.

a. Markus 7:18-19. Ketahuilah, 1. murid-murid Yeshua tidak memakan apa yang dilarang dalam kitab Musa! Mereka dikomplain oleh para rohaniwan Israel oleh sebab tidak mencuci tangan sebelum makan!! (Mar 7:1-4).  2. Adonai Yeshua menolak keras komplain para rohaniwan Israel yang berdasarkan tradisi nenek moyang, dan bukan berdasarkan Taurat (ay. 6-13). 3. Kalimat Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal (Mark 7:19). Jelas semua makanan tidak mengotori hati (jiwa) kita. Namun apa yang disebut ”semua makanan” tidaklah selalu baik untuk tubuh; seperti makanan yang mengandung formalin, minuman beralkohol, MSG, nikotin dan morfin dapat merusak bahkan membunuh kita. Racun dan binatang penyebar virus bukanlah makanan bagi umat Elohim, anugerah dan perlindungan Elohim tidak bisa dipakai untuk mencobai YAHWEH (Mark 16:18; Mat 4:7). Kesimpulan Markus ini haruslah kita pakai sesuai kontek, yakni makan sebelum cuci tangan tidak menajiskan orang beriman, tetapi yang keluar dari orang – semua hal yang jahat – yang menajiskan (ay. 20-22). 4. Tidak ada satu ayat pun yang menulis Yeshua pernah makan “segala sesuatu yang dinajiskan oleh Taurat sebab semuanya berakhir di jamban.” Sebaliknya banyak ayat yang menyatakan bahwa Yeshua sempurna di dalam melakukan seluruh perintah YAHWEH, Bapa-Nya. Bahkan jauh lebih sempurna dari para penganut ajaran Farisi dan semua guru-guru mereka.

Racun dan binatang penyebar virus bukanlah makanan bagi umat Elohim, anugerah dan perlindungan Elohim tidak bisa dipakai untuk mencobai YAHWEH (Mark 16:18; Mat 4:7)

b.  Kisah para Rasul 10:15. Siapakah rasul Petrus sangatlah jelas di dalam kitab Kisah para Rasul, dan juga kitabnya sendiri. 1. Cerita pada pasal 10 ini, adalah makna rohani, bukan makanan fisik, seperti tertulis, ”Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan yang telah dilihatnya itu.” (ay.17) dan setiba di rumah Kornelius, ‘orang najis / haram,’ tersebut Petrus berkata, ”Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Elohim tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. (ay.34-35). Lihat juga Kis 15:7-92. Setelah peristiwa ini, Petrus tetap tidak memakan makanan yang dilarang oleh Taurat, bahkan ia masih sembunyi-sembunyi bergaul dengan orang Kristen bukan-Yahudi. (Gal 2:11-13).

Jika argument semua boleh dimakan sebab Alkitab berkata demikian adalah benar, maka Alkitab, khususnya Alkitab Perjanjian Baru akan penuh dengan kontradiksi!!!

c. Kol 2:16-17  dan 1 Kor 6:12. Perkataan singkat rasul Paulus pada jemaat di Kolose ini sering dipakai secara salah oleh guru-guru Kristen bukan-Yahudi, untuk menghapuskan seluruh perintah di Perjanjian Lama. Di sini Paulus sedang bicara tentang aturan-aturan makan dan minum berdasarkan tradisi Yahudi, yang Yeshua telah tegur. Ia sedang berbicara segala peraturan tata ibadah yang berhubungan dengan korban binatang sebagai penebus dosa yang tidak perlu lagi diikuti sebab Yeshua telah menyelesaikan dan menghapus itu melalui korban dari darah-Nya sendiri.

Paulus juga tidak menghapus perintah Sabat, dan meniadakan hari-hari Raya yang diperintahkan YAHWEH melalui para nabi-Nya. Pada Jemaat di Korintus ia sedang berbicara tentang perzinahan rohani (penyembahan berhala, pencuri, pemabuk dsb.) dan jasmani (pelacuran, percabulan) (ay.9-13).

Terlihat bahwa ketiga ayat di atas tidak dapat dipakai untuk membenarkan – atau menyulap – makanan najis/ haram menjadi tahir/ halal.

2. Hukum makanan tahir (halal) dan najis (haram) bagi Kristen bukan-Israel
Hasil sidang Para Rasul dan tua-tua Gereja di Yerusalem: Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.” (Kis 15:28-29)

Hal-hal yang berhubungan dengan Sidang di Yerusalem:

  • Tujuan sidang ini menyelesaikan masalah harus-tidaknya orang Kristen bukan Yahudi di sunat (Kis 1-2).
  • Sidang ini terjadi jauh setelah peristiwa pertemuan Petrus dengan Kornelius (ay.6-7)
  • Untuk pembaca Muslim, Sidang ini terjadi setelah Yeshua (Isa al-Masih) terangkat ke Sorga, setelah rasul-rasul dipenuhi Roh Kudus, dan Paulus telah menjadi rasul untuk orang-orang bukan-Yahudi di Yunani. Sidang terjadi setelah petobat-petobat baru di Antiokhiah (Syria) disebut Kristen (Kis 11:26), 14 tahun setelah kunjungan Paulus ke Yerusalem sejak ia mengunjungi Kefas (Petrus) (Gal 1:18; 2:1-3).

Apa yang kita dapat dari hasil persidangan para rasul dan tua-tua Gereja di Yerusalem ini?
Orang-orang Kristen bukan-Yahudi mendapat beberapa keringanan di dalam menunaikan iman percaya mereka sebagai pengikut Adonai Yeshua Ha Mashiah, keringanan-keringan tersebut adalah:

  • Tidak perlu disunat secara lahiriah seperti orang Yahudi yang harus mengikuti perintah Musa. (ay.28)
  • Boleh memakan binatang apapun (termasuk babi, udang, keong, kodok, ular dsb.)
  • Ada makanan tertentu yang tetap harus dijauhi atau dianggap najis (haram) bagi orang Kristen bukan-Israel.

Ingat bahwa hal ini bukan berarti perintah YAHWEH telah dirubah, Yeshua tidak merubahnya, Ia berkata ”Kitab Suci tidak dapat dibatalkan” (Mat 5:17-48; Yoh 10:35), juga para rasul, termasuk rasul Paulus dan ribuan orang Kristen-Yahudi hidup sesuai Kitab Suci (saat itu tentunya Perjanjian Lama)! (Kis 21:19-24). Keputusan Sidang ini hanyalah sebuah keringanan atau anugerah dari Roh Kudus melalui para Rasul-Nya kepada orang percaya bukan-Yahudi (Kis 21:25). Sebab itu dikatakan ”Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik,” tidak dikatakan ”kamu berbuat benar” atau “sempurna.” Artinya, ”cukuplah kamu melakukan keputusan Roh Kudus dan kami tersebut, namun sangatlah baik jika kamu menuruti seluruh perintah Elohim yang tertulis di kitab Taurat, seperti kami lakukan.”  Keringanan mempraktekkan perintah Taurat bagi orang bukan-Yahudi bukanlah berarti Perintah Taurat dan para nabi telah dirubah, itu hanyalah menunjukkan  suatu bukti, dari banyak bukti lainnya, bahwa YAHWEH, Elohim Semesta Alam adalah Elohim yang hidup dan berkuasa atas seisi dunia.

Makanan dan perbuatan apa yang tetap harus dijauhi dan dipelihara oleh orang Percaya bukan-Yahudi:

  • Tidak memakan makanan yang TELAH dipersembahkan kepada berhala. Jika ALLAH Islam adalah dewa Bulan, ini berarti binatang yang disembelih oleh imam agama Islam dalam NAMA-allahnya tidak boleh dimakan oleh orang Kristen (1 Kor 10:27-28).
  • Tidak meminum atau memakan darah
  • Tidak memakan daging dari binatang yang mati tercekik, dibunuh dengan darah tetap didalamnya,
  • Menjauhkan diri dari percabulan
  • Memelihara hukum Sabat. Kalimat ”di tiap-tiap kota, sampai sekarang hukum  itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat,” (Kis 13:15) menyatakan bahwa Gereja Mula-mula, dimana para Rasul hidup, hari Sabat mingguan bukan saja dipelihara, tetapi mereka juga beribadah setiap hari Sabat tersebut di tiap kota Sampai hari ini Kristen-Yahudi tetap beribadah hari Sabtu; bukan hari Jumat atau hari Minggu.

Bila kita melihat seluruh ajaran Perjanjian Baru, tentu daftar di atas ini belumlah mendaftarkan semua hal yang harus orang beriman jalani, daftar di atas hanya menyangkut soal sunat daging dan makanan. Perintah utama apa yang belum disebut pada daftar ini? Anda benar! Hukum Kasih. Jawab Yeshua:

“Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, YAHWEH Elohim kita, YAHWEH itu esa.
Kasihilah YAHWEH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Mark 12:29-31). Ini adalah penjabaran dari 10 (Sepuluh) Perintah YAHWEH.

Hukum korban dihapuskan, namun hukum ibadah (vertikal) dan moral (horizontal) diperjelas, diawali dari “tertulis di loh batu” sekarang “tertulis di dalam hati.”

Pertanyaan yang memerlukan jawaban orang beriman:

  • Akankah kita mendasarkan iman, pengharapan dan kasih kita di atas fondasi tradisi nenek moyang atau di atas fondasi ajaran Yeshua dan para nabi serta rasul-Nya?
  • Apakah masalah makanan dan minuman jasmani lebih penting daripada masalah hati dan pikiran kita, sehingga kita lebih fokus menghakimi orang lain daripada mengawasi mata, telinga, jiwa dan hati kita sendiri?
  • Apakah kita lebih hebat dari Elohim, sehingga kita berani mengurangi, menambahi atau mengganti FIRMAN-Nya, yang Ia sendiri tidak pernah menggantinya?

Keringanan mempraktekkan perintah Taurat bagi orang bukan-Yahudi bukanlah berarti Perintah Taurat dan para nabi telah dirubah, itu hanyalah menunjukkan  suatu bukti, dari banyak bukti lainnya, bahwa YAHWEH, Elohim Semesta Alam adalah Elohim yang hidup dan berkuasa atas seisi dunia.

II. Jadi sekarang apakah yang orang Kristen bukan-Yahudi harus perbuat dalam hal makanan najis (haram) yang di larang oleh YAHWEH melalui para nabi dan rasul-Nya? Alkitab menulis beberapa hal tentang ini.

Meninjau. Kita telah lihat di atas bahwa hukum Taurat tidak dirubah, dan larangan memakan berbagai daging binatang najis/ jijik dimateraikan oleh NAMA-Nya dengan pesan, Sebab Akulah YAHWEH, Elohimmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. Sebab Akulah YAHWEH yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir (lambang perbudakan dosa) , supaya menjadi Elohimmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus. (Im 11:44-45). Dan lagi, sebab engkaulah umat yang kudus bagi YAHWEH, Elohimmu (Ul 14:21). 

Saya, secara pribadi, yakin bahwa perintah YAHWEH ini bukan saja sekedar ’hukum kesehatan’ untuk mencegah umat-Nya terkena berbagai penyakit akibat binatang najis tersebut (tidak memamah biak, pemakan bangkai, pemakan debu) dan minum darah (ahli biologi sekarang tahu, meneguhkan apa yang nabi Musa tulis, bahwa dalam darah ada kehidupan, artinya memang kita hidup karena darah tersebut, tetapi itu juga berarti dalam darah hidup banyak bakteri, dan terdapat racun kimia. Tubuh kita adalah bait Elohim, kita harus pelihara, tetapi perintah ini lebih dari sekedar merawat “bait-Elohim.” Itu adalah perintah untuk menjadi serupa dengan DIA dan Putra-Nya, hidup di dalam gaya hidup Kerajaan Elohim, Kerajaan Sorga. YAHWEH ingin umat-Nya tampil beda dibanding dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal diri-Nya. Lihat Matius 5:45-48.  Juga nampak jelas dari firman-Nya yang diberi garis bawah pada kitab Imamat di bawah ini:

Tetapi kepadamu Aku telah berfirman: … Akulah YAHWEH, Elohimmu, yang memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain. Kamu harus membedakan binatang yang tidak haram dari yang haram, dan burung-burung yang haram dari yang tidak haram, supaya kamu jangan membuat dirimu jijik oleh binatang berkaki empat dan burung-burung dan oleh segala yang merayap di muka bumi, yang telah Kupisahkan supaya kamu haramkan. Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, YAHWEH, kudus dan . (Im 20:24-26).
Ayat ini mengingatkan kita pada perkataan Yeshua,
Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (Mat 5:13-14). Perhatikan juga hal GARAM pada Markus 9:43-50 tentang hidup benar,  dan Lukas 14:25-35 tentang harga yang harus dibayar sebagai pengikut Yeshua.

Keingian Yesus kepada pengikut-Nya untuk mereka tampil beda dan menjadi faktor perubah lingkungan jelas sekali pada perkataan-Nya tersebut. Jika tidak ada perbedaan “gaya hidup” antara orang beriman dengan belum beriman, maka “keberadaan orang beriman” tersebut menjadi tidak ada gunanya, selain dibuang dan diinjak orang.

Rasul Petrus berkata kepada orang beriman dalam Yeshua, bahwa mereka adalah kaum imamat dari Kerajaan Sorga, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Pet 2:9)

Oleh karena Sidang para Rasul dan Tua-tua Jemaat di Yerusalem yang sedang kita bicarakan ini dibuat akibat dari keteguhan rasul Paulus (dan juga Barnabas rekannya), maka adalah adil dan bijaksana jika kita melihat tulisan rasul Paulus sendiri bagaimana Jemaat bukan-Yahudi harus hidup sehubungan dengan masalah makanan ini.

C.V. singkat Rasul Paulus. Ia seorang Farisi tulen (tidak munafik) dan dari faham garis keras (Kis 22:4-5; 23:6; 26: 4-5 dan Fil 3:4-6). Bukan saja sebagai pengikut, ia adalah ahli Taurat, murid dari Gamaliel, guru Taurat terkemuka saat itu (Kis 22:3). Setelah menjadi pengikut Yeshua, ia menentang dengan keras ajaran ”hidup di BAWAH perintah Taurat,” (Gal 2:19; Roma 6:14) dan menolak ajaran ”sunat lahiriah sebagai syarat keselamatan,” (Kis 15:1-2; Kol 2:11). Ia penyebab diadakan Sidang di atas (Kis 15:4-6). Pauluslah yang mengajar berharap akan masa Pengangkatan (Repture) sebelum masa Kesulitan (Tribulation) (1 Tes 4:13-18). Ia mengklaim ajarannya bukanlah dari dirinya sendiri, tetapi perintah dan ilhaman dari Yeshua Ha Mashiah (Gal 1:11-12, 15-16; 1 Kor 1:17; 7:10;) dan dari hamba-hamba-Nya yang lain (Kis 26:6-7).

Nasehat rasul Paulus, rasul dan soko guru bagi Jemaat Kristen mula-mula bukan-Yahudi
1. Kebebasan orang beriman tidak boleh membuat orang lain jatuh kedalam dosa

Bacalah 1 Korintus pasal 8 seluruhnya. Ia berkata pengetahuan rohani kita haruslah disertai kasih kepada Elohim  untuk mencapai standard kita dikenal oleh Elohim (ay.1-3). Sesungguhnya makan makanan bekas persembahan berhala sekalipun, Paulus berkata, tidak apa-apa – tidak menajiskan tubuh orang beriman yang memakannya, bagaimanapun Paulus mengingatkan, ”apa untungnya itu bagi orang lain yang melihatnya, yakni bagi orang Kristen yang masih terikat dengan berhala)”? Paulus sebagai rasul bagi orang bukan-Yahudi, dan hidup di Yunani, tentunya ia terbiasa melihat kuil-kuil berhala, seperti di Efesus, Athena lebih lanjut menyatakan,apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku. (ay.13). Paulus menyadari, jika kebebasannya – bukan hanya soal makanan dan minuman saja, tetapi juga perbuatan lainnya (1 Kor 10:31) – membuat orang jatuh dalam dosa, maka pada hakekatnya ia (sebagai pengikut Ha Mashiah) berdosa terhadapat Ha Mashiah (ay.12).

Kebebasan yang dari YAHWEH haruslah tidak menghasilkan dosa, jika hasilnya adalah dosa, maka itu adalah kebebasan palsu. Hubungan bahkan pernikahan homosek bebas di Barat, Polygami bebas di dunia Islam, namun keduanya itu menyebabkan syak dalam hati orang lain (beriman maupun atheis)  dan dapat menyebabkan oran lain tersandung ke dalam dosa, maka keduanya adalah praktek dari kebebasan palsu, pelakunya berdosa terhadap Ha Mashiah.

Paulus (dan juga para rasul dan tua-tua) yakin bahwa memakan makanan yang telah di persembahan kepada berhala adalah penjalinan hubungan rohani antara orang yang memakannya dengan roh-roh jahat yang bersangkutan, Paulus tidak mau hal ini terjadi. (1 Kor 10:20-21).

2. Berhati-hatilah dengan kebebasan dan anugerah yang Elohim telah berikan
Bacalah 1 Korintus pasal 10 seluruhnya.

  • Waspada terhadap kebebasan yang membawa kepada penyembahan berhala
  • Belajarlah dari umat Israel, Paulus berkata, sekalipun mereka Umat Pilihan, namun karena menjadi penyembah berhala, pencabul dan kejahatan lainnya, mereka tewas dan tidak dapat masuk ke Tanah Perjanjian. Penyembahan berhala ini adalah “makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria” (ay.7). Ia mengutip Kejadian 32:5-8, dimana YAHWEH menewaskan mereka, sekitar 3000 orang saat mereka berpesta pora memuaskan napsu kedagingan dan menyembah berhala dengan ”memakai NAMA-Nya.” (ay.5, 8).
  • Pakailah kebebasan kita untuk membangun Jemaat dan menyenangkan Elohim.

Bagi Kristen bukan-Yahudi, Jemaat Korintus adalah orang Yunani, ”Segala sesuatu diperbolehkan,” itu benar, Ia merefer kepada hasil keputusan Sidang para Rasul dan tua-tua Yerusalem di atas, namun ada hal perlu diperhatikan:

  • Bagi pelaku yang ingin memakannya, bertanyalah: apakah itu berguna dan membangun tubuh Ha Mashiah (Kristus)? Apakah hal itu menguntungkan saudara seiman kita?
  • Mungkin ada orang yang berkata: Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain? Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?” (ay. 29-30)

Paulus memberi beberapa alasan: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, (1) lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Elohim. (2) Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Elohim. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, (3) supaya mereka beroleh selamat. (ay. 31-33)

3. Surat Paulus kepada kedua pihak Jemaat (Yahudi dan bukan-Yahudi) yang ada di Roma; Roma pasal 14.
a. Kepada orang Yahudi, termasuk bukan-Yahudi, yang  makan sesuai aturan Torah atau Taurat:

  • janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Elohim telah menerima orang itu (ay. 3)
  • Lakukanlah aturan makan Torah tersebut dengan disertai ucapan syukur kepada Elohim dan demi untuk YAHWEH (ay. 6)

b. Kepada Kristen bukan-Yahudi, termasuk Yahudi, yang makan sesuai aturan Hasil Keputusan sidang Para Rasul dan Tua-tua di Yerusalam (Kis 15:28-29):

  • Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan (ay. 3)
  • Makanlah itu (semua daging apapun, kecuali yang dilarang) demi untuk YAHWEH (ay. 6)
  • tidak ada sesuatupun yang najis … Namun jika saudaramu dibuat sedih oleh karena makanan, maka kamu tidak lagi hidup di dalam kasih. Janganlah melalui makananmu engkau membinasakan orang itu, yang ganti dia Kristus (Ha Mashiah) telah mati. (ay. 14-15; ILT).
  • Janganlah menghancurkan pekerjaan Elohim sehubungan dengan makanan. Sesungguhnya, segala sesuatu itu (merefer kepada semua daging, kecuali diluar yang diperintahkan Roh Kudus dan para Rasul di atas) tahir, tetapi jahatlah bagi seseorang yang makan hingga menjadi sandungan. Adalah baik (Baiklah engkau; ITB) untuk tidak makan daging, atau minum anggur (wine), atau apa pun yang olehnya saudaramu tersandung atau terjerumus atau menajadi lemah (iman percayanya kepada YAHWEH) (ay. 21; ILT)

Nasehat Paulus di sini, sederhananya adalah:
“Anda makan atau tidak makan daging tertentu (kecuali yang tetap dilarang di Kis 15:28-29), lakukanlah semuanya untuk YAHWEH, sebab kita semua adalah milik YAHWEH” (ay. 8).
Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!  atau terjemahan dari bahasa Aram Peshitta-nya: Karena itu marilah kita tidak lagi menghakimi seorang terhadap yang lain; tetapi sebaliknya ada berpandagangan ini: bahwa engkau hendaknya tidak pernah menaruh sandungan pada perjalanan saudaramu. (… that you should never place a stumbling-block in the way of your brother); GLT) (Romans 14:13)

4. Paulus memberi teladan kepada kita sebagai pengikut Ha Mashiah
Pasal 9 yang diapit oleh pasal-pasal tentang kebebasan makan ini, Paulus menyatakan siapa dirinya  dan sikap hidupnya tentang “kebebasan hidup,” termasuk makanan, kepada Jemaat yang ia nasehati ini:

Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yeshua, YAHWEH kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam YAHWEH? (ay.1). Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. (ay. 15).

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

  • Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi.
  • Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
  • Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Elohim, karena aku hidup di bawah hukum Mashiah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (ay. 19-21)

 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. … Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (ay. 25-27)

Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Mashiah. (1 Kor 11:1)

Kesimpulan:

  • Perintah Taurat tidak pernah dihapus oleh Elohim, termasuk soal makanan tahir (halal) dan najis (haram). Yang dihapus hanyalah praktek-praktek ibadah yang berhubungan dengan pengorbanan binatang sebagai penghapus dosa.
  • Sejak Sidang para Rasul dan tua-tua Jemaat di Yerusalem, orang Kristen bukan-Yahudi mendapat keringan di dalam soal makanan, mereka diperbolehkan memakan daging apapun kecuali yang tertulis pada hasil Sidang tersebut. Dimana juga sunat jasmaniah atau lahiriah tidak diwajibakan lagi dilakukan untuk menjadi pengikut Yeshua Ha Mashiah.
  • Keputusan ini bukanlah dibuat atas perintah Paulus semata, melainkan keputusan Roh Kudus dan para hamba-Nya yang sudah dipenuhi oleh Roh Kudus. Sidang ini terjadi sedikitnya 17 tahun  setelah hari Pentakosta (lihat Galatia 1:15 sampai 2:9).
  • Kebebasan dan keringan ’boleh memakan daging apapun’ bagi orang Kristen bukan-Yahudi adalah kebebasan yang bertanggung jawab, baik bagi diri sendiri terlebih bagi orang lain yang melihat kehidupan orang beriman, dan itu harus disertai sikap hati untuk mengasihi Elohim.
  • Kebebasan dan keringan kita dalam hal apapun – bukan saja soal makanan dan minuman – haruslah tidak membawa syak bagi orang lain, terlebih lagi tidak boleh menyebabkan orang lain terjatuh kedalam dosa.
  • Ikutilah teladan rasul Paulus, yang siap menyangkal hak dan kebebasan dirinya sendiri demi kemulian Elohim dan supaya orang-orang lain diselamatkan.

Saya tutup artikel ini dengan ucapan nasehat dari rasul Paulus dan Adonai Yeshua Ha Mashiah
Rasul Paulus kepada Kristen bukan-Yahudi: Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. YAHWEH sudah dekat! Damai sejahtera Elohim, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Yeshua Ha Mashiah. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:5.7 dan 8)

Adonai Yeshua Ha Mashiah kepada kelompok orang yang kaku pada aturan agama, ketika Ia dikeritik ”mengapa Ia bergaul dengan orang berdosa, najis (haram), mengutip perkataan nabi Hosea (Hos 6:6), Ia berkata: Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:13)

Kiranya Elohim yang Mahakudus dan Mahapengasih memberkati kita semua. Anggur Baru

Bacaan yang lebih penting daripada mempermasalahkan makanan jasmani:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya http://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog

Kesaksian pertobatan Dr. Michael Brown: Tradisi atau Kebenaran?


Artikel ini diterjemahkan dari buku They Though For Themselves. Tradition or Truth? adalah satu dari 10 artikel kesaksian bagaimana orang-orang Yahudi dari latar belakang agama Yahudi Orthodok (Rabbinic Judaism) berbalik menjadi pengikut Yeshua Ha Mashiah.

Catatan dari Anggur baru (penterjemah): Ini adalah suatu artikel yang sangat menantang bagi setiap orang yang benar-benar haus akan kebenaran yang sejati, yang sedang mencari keselamatan yang hakiki. Artikel ini sungguh menelanjangi dan sekaligus meng-KO (knock out) tipu daya Iblis atas manusia melalui tradisi nenek moyang. Lihatlah Tradisi pada artikel ini dalam ruang lingkup yang luas – seluruh dunia keagamaan (Yudaisme, Kristianiti, Roma Katolik, Islam, New Age dan seterusnya) dan worldview dunia sekuler (atheisme, komunisme, liberalisme, materialisme, Teori Evolusi dst.).
Dr. Michael L. Brown adalah professor untuk bahasa-bahasa kuno. Ia telah memperlajari 15 rumpun bahasa kuno, tiga diantaranya ialah Ibrani, Yunani dan Latin, untuk membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman YAHWEH yang tidak berubah dan Kebenaran sorgawi tidak di dapat dari tradisi-tradisi manusia.
Beliau telah menulis banyak buku, seperti: The Real Kosher Jesus, A Queer Thing Happened To America, Answering Jewish Objections To Jesus, Our Hands Are Stained With Blood, A Time For Holy Fire, Israel’s Divene Healer dan sebagainya. Ia jupa pendiri dari pelayanan Kristen radio Line of Fire  .
Setiap teori, setiap keimanan dan setiap apapun yang kita yakini sebagai suatu kebenaran  haruslah diuji, jika hasilnya tidaklah sama seperti yang telah kita yakini – tidak lulus uji, maka keyakinan tersebut hanyalah sebuah kebenaran yang semu, dengan kata lain, itu hanyalah tradisi manusia semata.
Gaya penulisan - Huruf miring tanda tanda kurung berasal dari artikel aslinya. Huruf coklat dan huruf dalam kurung siku dan penebalan kata ditambahkan (kecuali dikatakan), adalah penambahan dari penterjemah, termasuk garis bawah.
Selamat membaca, kiranya dapat menjadi berkat bagi Anda. Salam saya, Anggur Baru.

Kamu bahkan tidak tahu bahasa Ibrani! Bagaimana kamu dapat menceritakan pada saya apa yang Alkitab katakan?”
”Itu benar, Rabbi. Saya tidak tahu bahasa Ibrani – tetapi saya akan belajar. Pada saat ini, saya dapat memakai kamus pada bagian belakang Konkordansi Strong.” [Strong adalah salah satu dari beberapa Konkordansi Alkitab yang terkenal].
Saat ini. Jika kamu tidak tahu bahasa Ibrani, itu tidak berarti sesuatu.”

Saya tidak akan melupakan kata-kata tersebut yang telah diucapkan kepadaku di tahun 1972. Saya adalah seorang seorang percaya yang baru di dalan Yeshua, hanya berumur 17 tahun. Kehidupanku sudah berubah secara dramatis – benar dramatis. Hanya satu bulan sebelumnya, saya menyuntik heroin, menggunakan dosis besar LSD dan speed,  dan hidup di dalam kehampaan total dan kegelisahan. Nama panggilan saya, “Drug Bear,” sangat diterima, dan saya berdosa, sombong, dan benar-benar rusak. Semua ini telah terjadi meskipun dari jenis, Long Island, system pertumbuhan Yahudi Konservatif dari pernikahan orang tua yang sangat bahagia. Bukti, ayahku saat itu adalah seorang ahli hukum yang sangat dihormati bekerja sebagai the Senior Law Assistant untuk hakim-hakim the New York State Supreme Court. [Penekanan ditambahkan]

Kecanduan obat-obatan saya bukanlah karena masalah batin atau pencarian pencarian yang bersifat rohani. Saya telah memakai obat-obatan sebab mereka membuat saya merasa enak! Kamu lihat, saya cukup bertalenta, rock drummer remaja, dan seluruh Woodstock [sebuah festival music di USA], terkendali, get high, mentalitas lakukan-urusan-mu-sendiri berlaku pada saya. Saya ingin menjadi seperti para rocker ternama! Segera, kehidupan menjadi satu pesta besar.

Kejutan hidup saya.
Tetapi Elohim memiliki rencara-rencana yang lain. Dua teman terbaik saya (pemain bass dan pemain gitar dalam group band kami) dibesarkan dalam keluarga “Kristen” hanya nama saja [Kristen KTP].  Mereka tidak lebih dekat kepada Yeshua dibanding saya. Namun merek bersahabat dengan dua gadis yang bapa mereka adalah berdedikasi,  Kristen ”lahir-baru,” dan paman mereka menggembalai sebuah jemaat kecil di Queens, New York. Gadis-gadis ini pergi kegereja untuk menyenangkan ayah mereka, teman-teman saya pergi ke gereja membagi waktu dengan gadis-gadis tesebut, dan lalu saya pergi ke gereja untuk menarik mereka keluar. Saya tidak suka perubahan yang saya mulai lihat di dalam mereka!

Apa yang terjadi? Saya mendapat kejutan kehidupan saya. Di dalam gereja kecil itu, saya bertemu dengan Elohim (Allah) yang saya tidak cari, dan saya menemukan kebenaran tentang Yeshua, Juruselamat dan Mashiah yang saya tidak percaya sebelumnya. Saya ditranformasi! Kasih Elohim menghancurkan pertahanan saya, dan menjawab para pendoa tersembunyi  yang setia yang tidak banyak, saya berpaling dari kehidupan kotor yang saya pernah arahkan.

Ayahku sungguh kagum melihat perubahan tersebut. Dia hanya ada satu masalah: ”Kita adalah orang-orang Yahudi! Sekarang kamu bebas dari obat-obatan, kamu perlu bertemu rabbi dan kembali ketradisi-tradisi kita.” Dan jadi, saya mulai berbicara dengan pemuda berpendidikan rabbi yang baru saja menjadi pemimpin rohani dari synagoge di mana saya menjadi  bar mitzvahed.*

Saya harus belajar bahasa Ibrani
Saya telah tahu melampaui segala keraguan bahwa pengalaman saya adalah nyata, tetapi bagaimana saya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dia (rabbi)? Apa yang dapat saya katakan ketika ia bercerita pada saya bawa terjemahan Inggris yang saya pakai adalah salah, dan bahwa, terus menerus, para penulis Perjanjian Baru salah mengartikan tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Dia dapat membaca text aslinya. Saya tidak dapat!

Dia juga membawa saya bertemu dengan para rabbi Ultra-Orthodok Lubavitcher di Brooklyn yang khusus berurusan dengan remaja-remaja Yahudi “tersesat ” seperti saya. Pada sisi saya, saya berbahagia memiliki kesempatan membagikan imanku dengan orang-orang yang jujur tersebut. Setelah semua itu, saya membaca Alkitab siang dan malam, menghafal ratusan ayat-ayat, berdoa berjam-jam, bahkan meyakinkan seorang Saksi Yehovah Yahudi yang agamanya tidak alkitabiah. Tetapi rabbi-rabbi ini di Brooklnyn memiliki jawaban-jawaban yang saya belum pernah dengar sebelumnya. Dan semua dari mereka sudah dapat membaca dan mengerti sejak masa kanak-kanak mereka. Saya ingat bagaimana mengeja huruf-huruf! Tambahan, mereka nampak begitu Yahudi, dengan janggut-janggut hitam panjang. Iman mereka nampak ada begitu kuno dan asli. Bagaimana dengan saya?

Jadi karena itu saya mulai belajar Ibrani di kampus. Jika iman saya di dasari  pada kebenaran, itu dapat berdiri jujur pada ujian akademi. Jika Yeshua adalah sungguh Mashiah Yahudi, tidak ada yang saya takuti. Pertanyaan-pertanyaan yang serius layak (mendapat) jawaban-jawaban serius, dan saya berkuputusan mengikuti kebenaran kemanapun itu memimpin, tidak terlepas dari konsekuensi-konsekuensinya.

Sedikit demi sedikit, saya menjadi yakin bahwa saya harus mengejar sarjana Alkitab dan pelajaran-pelajaran yang bersifat Yahudi. Satu tahun di kampus saya hanya mengambil kursus-khursus bahasa, enam tepatnya: Bahasa Ibrani, Arab, Yunani, Latin, Jerman dan Yiddish [bahasa orang Yahudi yang tinggal di Eropa di abad 13 -17 AD]. Bicara tentang pengosongan otak! Saya ingin membaca text-text relevant tersebut untuk diri saya sendiri, di dalam bahasa-bahasa aslinya, tanpa pertolongan seorangpun.

Tetapi college tidak cukup. Untuk mencapai target-target saya, sekolah strata diperlukan. Disana saya dapat belajar bahasa-bahasa kuno lainnya yang berkaitan ke Kitab Suci Ibrani, seperti Akkadian (itu adalah, orang Babylon dan Assyria), Ugartik (dari kota besar utara Kanaan), Aram, Syriac, Phonisia, Punic, Moab – daftar berlanjut. Saat saya menulis dissertasi doktoral ku, saya telah belajar sekitar 15 bahasa, beberapa sangat dalam, lainnya hanya umum. Saya menerima Ph.D saya dari New York University in Near Eastern Languages (Bahasa-bahasa Timur Dekat).

[Apakah sesungguhnya "Tradisi"?; Proses Tradisi menjadi Agama; Bahayanya Agama yang berfondasikan Tradisi]
Fondasi-fondasi yang salah.
Hampir semua kursus-kursus ku diajar oleh para professor Yahudi, sementara itu, saya memiliki kesempatan melakukan beberapa pelajaran  private dengan beberapa rabbi. Apa yang terjadi dengan iman saya? Itu tepatnya menjadi semakin lebih kuat. Sebagaimana saya belajar lebih, saya menjadi semakin yakin bahwa Yeshua adalah Mashiah yang dinantikan, seorang yang hidup, menebus dosa melalui kematian, bangkit kembali, dan kembali, [semua ini ] adalah bayang-bayang di dalam kitab-kitab Ibrani (Perjanjian Lama). Saya memiliki jawaban-jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan serius!

Saya juga telah menemukan sesuatu yang tidak saya harapkan: Itu bukanlah iman Perjanjian Baru yang dibangun pada fondasi-fondasi yang salah; fondasi-fondasi faham Yahudi rabbinik (rabbinic Judaism) adalah yang salah! Itu adalah faham Yahudi rabbinik, bukan iman Perjanjian Baru, yang keluar dari Alkitab Ibrani.

Faham Yahudi Rabbinik bahkan tidak mengklaim untuk ada sebagai interpretasi literal kitab-kitab suci. Sebaliknya, para rabbi berkata bahwa iman mereka adalah (is; present tense) kelanjutan dari sebuah rantai tradisi ke masa (nabi) Musa dan nabi-nabi. Ini adalah suatu titik yang penting. Seperti yang kita akan lihat kemudian, rantai yang tidak pernah putus tidaklah pernah ada.

Saya sering mendengar rabbi-rabbi dan para anti-missionari berkata  – sepertinya dalam nada meremehkan – bahwa tampa Kristus tidak akan ada Kristianiti (atau, tanpa  Meshiah tidaklah akan ada Messianic  Judaism), dimana Judaism dapat ada tanpa seorang Mashiah, figur seperti demikian adalah di dalam pemikiran Yahudi. Judaisme, itu diklaim, adalah agama dari Torah [dari mana kata Taurat dalam bahasa Indonesia berasal].

Tentu, saya setuju bahwa tidaklah akan ada Kristianiti tanpa seorang Kristus, hanya sebagaimana saya setuju tidaklah akan ada keselamatan tanpa seorang Juruselamat dan tidak ada pembebasan tanpa seorang Pembebas. Ini menunjukkan tidak ada masalah sama sekali. Iman kita didasarkan pada pribadi itu dan pekerjaan Ha Mashiah.

Tetapi pertanyaan yang sesungguhnya ialah: Pada fondasi apa tradisi Yudaisme di dasarkan? Judaisme sebagaimana kita tahu itu hari ini adalah bukan agama Torah sebanyak itu adalah agama tradisi kerabbian. Tanpa tradisi, tidaklah akan ada budaya Judaism, tanpa rabbi, tidaklah akan ada Judaism kerabbian. Ini adalah sangat penting! Karena banyak dari masyarakat kita , tradisi  manusia adalah lebih penting dari pada kebenaran Alkitab.

Lebih dari 20 tahun yang lalu, seorang rabbi Orthodok bercerita kepada saya bahwa saya membaca Kitab-kitab Suci melalui kacamata yang diwarnai-bunga rose (rose-colored glasses; ”fantasi”). Dalam kata lain, saya pastilah selalu salah mengerti Firman (YAHWEH) terlepas dari bagaimanapun jujurnya saya mencoba untuk ada. Saya dahulu tidak melihat dengan jelas. Pandangan saya dahulu terganggu.

Itu (masa lalu tersebut) sungguh sebuah tuduhan, dan saya tidak mengambil hal itu secara ringan. Saya lalu mempelajari Firman dari segala sudut , bertanya kepada diri saya sendiri entah interpretasi-interpretasi lainnya adalah benar, menantang jawaban-jawaban standard Kristen dengan apa yang saya telah terbiasa. Sekarang, hampir seperempat abad kemudian (yaitu 25 tahun kemudian), saya dapat dengan jujur berkata bahwa itu adalah agama orang-orang Yahudi – diluar kejujuran dan ibadah mereka – yang membaca Alkitab dengan kacamata berwarna. Mereka akan ada sebagai orang pertama yang akan berkata kepada kalian bahwa Alkitab berkata hanya apa para orang bijak ceritakan kepada mereka itu bilang.

[Klaim dari Yudaisme Rabbinik:] Siapakah mereka yang berbeda dengan guru-guru besar Yahudi pada masa yang lalu? Siapkah mereka yang tidak setuju dengan para komentator abad pertengahan yang terkenal? Bagaimana dapat mereka kemungkinan memutuskan tradisi-tradisi yang mereka pelajari dari bapa-bapa mereka? Setelah semuanya, apa yang dapat saya ketahui? Bapa saya telah belajar dari bapanya yang telah belajar dari bapanya, yang telah belajar dari bapanya, dan seterusnya, semua jalan kembali kepada Musa. Apakah kamu berkata kepada saya mereka telah membuat-buat? Apakah kamu berkata kepada saya mereka telah ditipu? Bagaimana kamu berani menpertanyakan tradisi-tradisi kami yang suci!”
Sehingga dongeng dari rantai tradisi yang tidak terputus menuju balik ke Musa telah menghindari banyak orang Yahudi dari membaca Alkitab dari diri mereka sendiri. Ini adalah masalah hati.

Permainan telephone.
Faham Yahudi rabbinik (Rabbinic Judaism) percaya Elohim telah memberikan Musa sebuah Hukum Tertulis (ditemukan dalam Torah,  lima kitab Musa). Tetapi, kita diceritakan, kebanyakan dari perintah di Torah itu adalah ditaruh dalam kata yang singkat, pernyataan-pernyataan yang umum, sesuatu seperti kepala paragraf di dalam sebuah buku. Mereka perlu interpretasi. Mereka perlu ada dikembangkan dan diterangkan. Jadi, menurut keyakinan tradisi, Elohim juga telah memberi Musa sebuah Hukum Tidak tertulis yang telah meninterpretasikan Hukum Tertulis. Musa kemudian meneruskan ini kepada Yoshua, yang  meneruskan itu kepada 70 tua-tua yang memimpin dalam generasinya, yang meneruskan itu kepada nabi-nabi dari generasi-generasi berikutnya.

Dan begitulah telah terjadi, tetapi tanpa sedikit tambahan. Ini disebabakan para rabbi mengajar bahwa Hukum Tidak Tertulis (Oral Law) telah terus bertumbuh,  karena dalam setiap generasi,  tradisi-tradisi baru telah berkembang dan situasi-situasi baru masuk yang meminta penerapan-penerapan baru dari Hukum tersebut. [Inilah bentuk tradisi yang sesungguhnya, ia selalu beradaptasi dengan kondisi yang baru, berbeda dengan Kebenaran YAHWEH yang selalu tetap/ unchangeable]

Di dalam dua abad setelah masa Yeshua, Hukum Lisan (Hukum Tidak Tertulis) begitu banyak dan rumit sehingga harus ditulis agar tidak dilupakan (begitulah, dasar-dasar Hukum Tidak Tertulis sekarang ditulis). Ini menjadi Mishnah, yang berkembang menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai Talmud selama berabad-abad mendatang. Setelah itu, menurut kepercayaan para rabbi, mereka yang mempelajari Talmud terus mengembangkan dan mewariskan Hukum Lisan untuk setiap generasi berikutnya. Setiap orang Yahudi agamawi percaya dengan segenap hatinya bahwa tidak mungkin untuk memahami Kitab Suci atau mengikuti Hukum Elohim tanpa tradisi-tradisi lisan.

Dan apa yang terjadi ketika seorang Yahudi yang taat dihampiri oleh orang Yahudi beriman di dalam Yeshua? Orang percaya ini dianggap sebagai pendatang baru yang bodoh, dan penafsirannya benar-benar dicemooh: “Kami memiliki tradisi tak terputus sampai kepada Musa! Beraninya kamu berbeda dengan kami! Beraninya Anda mencoba untuk mengajar kami.! “Ya, tradisi membawa cukup banyak beban!. Dan itu dapat mencegah orang berpikir untuk diri mereka sendiri. (Saya temuka itu lucu, untuk sedikitnya, ketika orang Yahudi Ortodoks mengatakan bahwa saya telah dicuci otak!)

Sekarang Anda dapat lebih memahami mengapa orang Yahudi begitu banyak dengan siapa orang percaya mencoba untuk dialog langsung akan berkata: “Saya harus bertanya rabbi saya. Dia akan menceritakan apa sebenarnya arti dari ayat tersebut. Dia akan mencarinya di buku-bukunya.”

Anda lihat, orang Yahudi rabbinik percaya bahwa semakin Anda pergi mundur ke masa lalu, semakin dekat Anda sampai ke wahyu yang asli pada Gunung Sinia (seperti jenis permainan telephon 35-100 tahun masa). Dan tradisi Talmud mengajarkan bahwa, sejak jaman Musa, kita telah ada pada penurunan rohani yang stabil. Ini adalah segala yang lebih beralasan bahwa kita harus bergantung  pada pandangan dari generasi-generasi yang lebih awal! Mereka yang telah lebih dekat kepada mereka yang telah menerima wahyu yang asli tersebut, maka mereka telah pada pesawat rohani yang lebih tinggi. Mereka dapat berkata kepada kita apa Kitab Suci maksudkan. Bicara tentang membaca Alkitab melalui kacamata berwarna!

Adakah tradisi-tradisi tersebut benar?
“Tetapi,” seorang mungkin bertanya, “bagaimana dapat kamu begitu yakin bahwa tradisi-tradisi ini tidak benar? Mengapa kamu berkata mereka tidak menyediakan interpretasi-interpretasi yang benar?”
Jawabanya adalah sederhana:
1. Mereka mengambil untuk diri mereka sendiri autoritas yang Kitab Suci tidak pernah berikan kepada mereka. [Baca: Pengganti Kristus / Vicar of Christ]
2. Mereka menaruh suara alasan duniawi pada pesawat yang lebih tinggi daripada perkataan nubuatan dari sorga.
3. Mereka mengkontradiksi arti yang gamblang dari Kitab Suci.
4. Pada waktu-waktu mereka bahkan mengkontradiksi suara Elohim.
5. Tidak ada bukti alkitabiah bagi rantai tradisi yang tidak putus dan banyak bukti menentang itu.

Sebelum saya berikan beberapa contoh, saya ingin Anda mengerti bahwa ini bukanlah masalah menemukan kontradiksi-kontradiksi minor dan kesusahan-kesusahan interpretasi. Tidak. Masalah-masalah disini berurusan dengan kedalaman hati dan jiwa dari faham tradisi Yahudi, sebuah agama yang berdiri dan jatuh pada tradisi-tradisinya.

Pertanyaan yang sungguh jujur untuk orang Yahudi harus tanyakan adalah: Bagaimana jika Alkitab berkata suatu hal dan tradisi-tradisi saya berkata lainnya? Akankah saya mengikuti Elohim atau akankah saya mengikuti manusia?

Itu bukanlah pertanyaan entah para pemimpin Yahudi orang-orang jahat dan para penipu. Kebanyakan dari mereka adalah (were; past tense) sungguh-sungguh kepada iman mereka. Mereka telah mencari pimpinan hidup baik dan menyenangkan Adonai (the Lord). Tetapi adakah (were) mereka benar? Apakah (did, past tense) tradisi-tradisi mereka sungguh asli datang hadir dari Elohim atau dari manusia? Mari lihat hati-hati. Tidak ada contoh-contoh berikut diambil keluar dari kontek bagaimanapun. Mereka jelas dan langsung kesasaran.

Pertama, mari lihat apa tradisi Yudaisme katakan tentang dirinya sendiri.
Menurut sarjana Ortodoks kontemporer H. Chaim Schimmel, orang-orang Yahudi tidak mengikuti kata literal dari Alkitab, juga mereka tidak pernah melakukannya. Mereka telah dibentuk dan diperintah  oleh interpretasi verbal dari kata-kata tertulis …. “[1]
Seperti yang diungkapkan oleh Rabbi ID Chajes, pemimpin terkemuka abad kesembilan belas, Talmud menunjukkan bahwa kata “yang ditransmisikan secara lisan” oleh Elohim adalah “lebih berharga” daripada yang dikirimkan secara tertulis. Chajes bahkan lebih jauh untuk mengatakan bahwa: “Kesetiaan pada pemimpin mengatakan tradisi rabinik adalah mengikat semua orang Israel …. Dan barangsiapa tidak memberikan kepatuhan terhadap Hukum tidak tertulis [Hukum Lisan] dan tradisi rabinik tidak memiliki hak untuk berbagi warisan Israel …. “[2]

Bagaimana klaim seperti itu dibuat? Para rabi menegaskan bahwa itu adalah Alkitab itu sendiri yang memberi mereka wewenang eksklusif untuk menafsirkan Torah dan mengembangkan hukum-hukum baru. Mereka mencari dukungan untuk ini dalam Ulangan 17:8-12, mungkin teks paling penting dalam Alkitab bagi Yudaisme rabinik. Ayat itu berkata begini:
“Apabila sesuatu perkara terlalu sukar bagimu untuk diputuskan, misalnya bunuh-membunuh, tuntut-menuntut, atau luka-melukai–perkara pendakwaan di dalam tempatmu–maka haruslah engkau pergi menghadap ke tempat yang akan dipilih YAHWEH, Elohimmu; haruslah engkau pergi kepada imam-imam orang Lewi dan kepada hakim yang ada pada waktu itu, dan meminta putusan. Mereka akan memberitahukan kepadamu keputusan hakim. Dan engkau harus berbuat menurut keputusan yang diberitahukan mereka kepadamu dari tempat yang akan dipilih YAHWEH; engkau harus melakukan dengan setia segala yang ditunjukkan mereka kepadamu. Menurut petunjuk yang diberikan mereka kepadamu (According to the sentence of the law which they shall teach thee; KJV) dan menurut keputusan yang dikatakan mereka kepadamu haruslah engkau berbuat; janganlah engkau menyimpang ke kanan atau ke kiri dari keputusan yang diberitahukan mereka kepadamu. Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan YAHWEH, Elohimmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel. (Ulangan 17:8-12). [the law, sesuai dengan artikel aslinya, artikel asli tidak di ambil dari KJV].

Apa yang Musa jelas katakan adalah bahwa dalam setiap generasi para imam Lewi dan “hakim” saat ini di Yerusalem akan berfungsi sebagai semacam Mahkamah Agung, pengadilan banding terakhir, orang-orang seperti yang ada saat ini di banyak negara di seluruh dunia, termasuk Israel dan Amerika Serikat. Pengadilan ini akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan perselisihan mengenai berbagai masalah hukum seperti pembunuhan, hukum sipil, dan serangan. Itu saja!
Ayat tersebut tidak memberikan wewenang apapun kepada generasi berikutnya dari rabi-rabi di seluruh dunia (dimana itu bahkan menyebut rabbi?), juga tidak memberikan kewenangan kepada siapapun untuk mengatakan kepada semua orang Yahudi kapan berdoa, apa yang harus di doakan, bagaimana menyembelih ternak mereka, apa untuk percaya tentang Mahsiah, kapan mengunjungi orang sakit, dapat atau tidak seseorang menulis pada hari Sabat, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. Singkatnya tidak ada! Namun, dari ayat singkat ini para orang bijak tersebut telah diturunkan begitu banyak kekuasaan.

Adapun ayat 11, yang mengatakan, “Menurut kalimat hukum (the sentence of the law) yang mereka akan ajar kepadamu dan menurut keputusan yang mereka berikan kepada engkau. janganlah engkau menyimpang ke kanan atau ke kiri,” ini tepatnya ditafsirkan oleh Nachmanides komentator abad ketigabelas berarti: ”Bahkan jika itu nampak kepada Anda sebagai jika mereka [para rabbi; pada konteknya] merubah (are + vb+ing, present continous tense) ’kanan’ menjadi ’kiri’ … itu adalah kewajiban Anda untuk berpikir apa yang mereka bilang adalah ‘benar’ adalah ‘benar.’” Mengapa? Karena Roh Elohim ada pada mereka, dan Adonai akan menjaga mereka dari kesalahan dan dari kesandung.[3]  Ini sungguh sebuah klaim! Jika para orang bijak tersebut berkata kepada Anda bahwa kiri adalah kanan, Anda harus mengikuti para pemimpin agama tersebut.

Mari ambil ini selangkah kedepan. Bagaimana jika 1000 nabi berkaliber Elia dan Elisa berkata kepada Anda bahwa Torah berarti satu hal, tetapi 1001 orang bijak berkata itu berarti sesuatu yang lain?
Siapakah yang Anda ikuti? Maimonides, cendekiawan Yahudi paling berpengaruh abad pertengahan, adalah tegas: “Putusan akhir adalah sesuai dengan 1.001 orang bijak.”[4] Ya, Talmud bahkan mengajarkan jika Elia sendiri berbeda dengan tradisi rabinik atau kebiasaan yang berlaku dari masyarakat – bukan Hukum Alkitabiah tetapi hanya tradisiatau kebiasaan yang mengenai Hukum itu-maka dia tidak harus diikuti.[5]
“Tapi,” Anda mungkin berkata, “mungkin ada sesuatu untuk itu. Bukankah seharusnya kita mengikuti arti yang sederhana dan jelas dari Alkitab bahkan jika beberapa nabi mengklaim bahwa Elohim mengatakan kepadanya lain hal? “Tentu saja kita harus. Tapi bukan itu yang Maimonides telah katakan. Dia benar-benar berpendapat bahwa jika seseorang seperti Elia menyukai arti yang sederhana dan jelas dari Kitab Suci sebagai ganti dari tradisi rabinik, tradisi tersebut  itulah yang harus diikuti.

Jadi, seorang yang terbukti nabi sekalipun,  didukung oleh kuasa Elohim dan mengikuti makna literal dari Alkitab, memiliki bobot berat yang kurang dari tradisi rabinik. Dan para orang bijak tersebut, oleh mayoritas bahkan satu, lebih berbobot daripada orang-orang seperti Elia dan Elisa dalam hal menafsirkan Hukum. Apakah hal-hal menjadi lebih jelas sekarang?

Lebih Berat – Rabi atau Elohim?
Tapi itu tidak berhenti di situ: Sebuah keputusan hukum yang dibuat oleh mayoritas orang bijak membawa bobot lebih daripada suara  Elohim! Menurut salah satu cerita paling terkenal dalam Talmud (Baba Mesia 59b), ada perselisihan antara Rabi Eliezer Agung dan para orang bijak tentang apakah jenis oven tertentu dibersihkan secara ritual atau tidak. Dia menjawab setiap argumen mereka, tetapi mereka menolak untuk menerima keputusannya. Rabi Eliezer kemudian meminta serangkaian mujizat untuk memverifikasi keputusannya: “Jika Hukum sesuai dengan saya, maka biarkan pohon carob tercabut; biarlah aliran air berhenti mengalir; biar dinding rumah belajar runtuh.” Hebatnya, Talmud mengajarkan bahwa setiap mujizat terjadi, namun tetap para rabbi lainnya menolak untuk menerima.
Akhirnya, Rabbi Eliezer meminta Elohim sendiri untuk memverifikasi posisinya. Segera, terdengarlah suara dari sorga berkata: “Mengapa engkau menyulitkan Rabi Eliezer? Putusan hukum selalu sesuai dengan dia.” Kepada apa Rabbi Yosua mengklaim, “Itu bukan di sorga!” Dengan kata lain, karena Torah diberikan di Gunung Sinai (dan karenanya itu tidak lagi “di sorga “), keputusan-keputusan hukum harus dibuat semata-mata atas dasar penalaran manusia dan deduksi logis. Periode. Seperti yang diungkapkan oleh Rabi Aryeh Leib pemimpin yang sah: “Biarkan kebenaran muncul dari bumi. Kebenaran ada sebagai para orang bijak putuskan dengan pikiran manusia.”[6]

Jadi jika Elohim berbicara-seperti yang Ia telah lakukan di sini- para orang bijak dapat (dan harus!) menolak Dia kalau mereka tidak setuju dengan interpretasi-Nya. Apa dasar untuk sebuah posisi yang luar biasa itu? Talmud mengutip tiga kata terakhir dari Keluaran 23:2 dan menafsirkan mereka berarti [demikian], “Ikuti mayoritas.” Teks mengatakan yang sebaliknya! Bacalah seluruh ayat. Artinya itu adalah jelas, “Jangan mengikuti mayoritas.” Bahkan J.H. Hertz, bekas kepala rabbi Inggris, menulis: “Rabi mengabaikan arti harfiah dari tiga kata-kata Ibrani terakhir, dan membawa mereka untuk menyiratkan bahwa, kecuali bila itu adalah ‘untuk berbuat jahat,’ satu harus mengikuti mayoritas. “[7] Dan itu adalah dukungan mereka untuk meniadakan dan mengabaikan suara Elohim! Sebuah ayat yang mengatakan “Jangan mengikuti mayoritas” telah diiris dan ditafsirkan kembali sehingga dapat berarti, “Ikuti mayoritas,” dan, atas dasar ini, Elohim sendiri telah ditolak. Itu hampir mencabut napas Anda. [Kel 23:2 - Engkau jangan jadi pengikut orang banyak dalam hal kejahatan, juga jangan masuk dalam perselisihan yang menyesatkan, mengikuti orang banyak yang tersesat; Kitab Suci ILT]

Dapatkah Rabbi Mengubah Torat?
Hebatnya, teks Talmud melanjutkan dengan mengatakan bahwa Elia kemudian memberitahu salah satu rabi bahwa Elohim tertawa tentang kejadian mengatakan, “Putra-putraku mengalahkan Aku!” Bicara tentang “aturan mayoritas”! Tidak hanya itu benar bahwa 1.000 nabi yang mengikuti makna literal dari Alkitab tidak ada kesempatan berdiri melawan 1.001 orang bijak, tapi Elohim sendiri tidak memiliki kesempatan melawan bahkan dua orang bijak harus mereka mohon untuk berbeda dengan-Nya! Apakah Anda telah tahu bahwa kekuatan tradisi dan otoritas manusia melangkah terlalu jauh?

Ini tidak berarti bahwa para rabbi arogan atau tidak sopan. Mereka sederhananya percaya bahwa itu adalah (was; past tente) tugas mereka yang diberikan-Elohim untuk menafsirkan dan membuat Hukum-hukum, dan, lewat proses waktu, mereka telah menjadi percaya bahwa tradisi mereka suci. Mereka bahkan mengaku memiliki hak untuk mengubah Hukum alkitabiah jika perlu. Apa dukungan kitab suci mereka untuk ini? Mazmur 119:126: “Sudah saatnya bagi Engkau untuk bertindak, ya YAHWEH, hukum Mu sedang dirusak.”[terjemahan literal dari sumber aslinya] Anda mungkin berkata, “Saya tidak mengerti. Bagaimana ayat ini sudah dihubungkan dengan mengubah Hukum? “Tidak ada? Tapi itu benar-benar ditafsirkan ulang (tepatnya, disalahartikan secara total) berarti: ”Kadang-kadang untuk bertindak  bagi Adonai, itu perlu merusak Hukum-hukum-Nya.” Saya tidak mencandai Anda.[8]

Apakah mengherankan, bahwa pada waktu Talmud meng-kriditkan [menghargai] para orang bijak tersebut dengan “mencabut Kitab Suci” dengan interpretasi mereka?[9] Ini adalah sesuatu yang perlu diingat pada waktu berikutnya ketika seorang mencoba berkata kepada Anda  bahwa Yeshua dan Paulus pergi berkeliling melanggar dan mengubah hukum-hukum [YAHWEH]. [Pencabutan dan perubahan perkataan Allah (cerita ini dikenal dengan "satanic verses / ayat-ayat setan") juga telah dilakukan oleh Muhammad].
Dan di mana para rabbi mengklaim bahwa Alkitab itu sendiri membuat referensi ke Hukum Lisan? Salah satu teks kunci adalah Keluaran 34:27: Berfirmanlah YAHWEH kepada Musa: “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.”Apa kena mengena ayat ini dengan Hukum Lisan? Tidak ada sama sekali. Jadi bagaimana para pembuat Talmud menemukan referensi di sini untuk Hukum tidak tertulis? Pertama, mereka gagal untuk mengutip awal dari ayat tersebut (“Tuliskan kata-kata ini”). Kemudian, mereka melihat bahwa frase Ibrani yang diterjemahkan “sesuai dengan” (al pi) sangat dekat dengan ungkapan Ibrani untuk “lisan” ( al peh). Jadi, ayat itu dipahami seolah-olah berkata: “Tuliskan kata-kata ini, untuk kesaksian atas kata-kata ini, saya telah membuat perjanjian dengan engkau dan dengan Israel” Tapi bukan itu yang bahasa Ibraninya katakan, karena setiap terjemahan Alkitab bahasa Ibrani yang tersedia akan memberitahu Anda secara langsung. Sebuah permainan kata adalah satu hal; arti sebenarnya adalah sesuatu yang lain.

Dan bagaimana Rashi, yang terbesar dari semua komentator Alkitab Yahudi, menangani arti jelas dari ayat ini bahwa perjanjian tersebut didasarkan pada Firman yang tertulis? Dia menafsirkan “Tuliskan kata-kata ini” berarti hanya kata-kata ini, menjelaskan bahwa itu tidak diijinkan menulis kata-kata Hukum Lisan.”[10] Jadi Elohim berkata, “Tulis!”  namun tradisi berkata, “Jangan tuliskan itu seluruhnya!” Elohim membuat perjanjian-Nya dengan Israel berdasarkan apa yang disampaikan secara tertulis; Talmud mengatakan bahwa esensi sebenarnya dari perjanjian itu berdasarkan apa yang disampaikan secara lisan. Dan itu tidaklah aneh bahwa teks Alkitab dengan jelas menekankan Hukum Tertulis ini dimanfaatkan oleh Talmud untuk menunjuk ke Hukum Lisan – di dasari dari sebuah permainan kata-kata saja?  Sebuah contoh mencengkeram ranting-ranting padi!

Tidak hadirnya sama sekali penyebutan Hukum Lisan dalam Alkitab Ibrani nyata langsung ke referensi yang sering  kepada kaitan alamiah dari Hukum Tertulis yang ditemukan sepanjang Kitab Suci. Bacalah ayat-ayat Ulangan 31:24-26: Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan (from beginning to end) [dan perhatikan: tidak ada sebagian dari Hukum yang Musa gagal tuliskan; dia telah menulis semuanya, dari awal sampai penghabisan], maka Musa (gave this command to the Levites) memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian YAHWEH, demikian:”Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian YAHWEH, Elohimmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. Catatan: Kata-kata di dalam kedua kurung siku di sini berasal dari teks aslinya. Catatan: tanda kurung patah di sini berasal dari artikel aslinya.

Ada banyak ayat lain yang mengatakan hal yang sama, seperti Keluaran 24:78, Ulangan 17:14-20; 28:58-59; 30:9-10; Yosua 1:8; 23:06; 1 Raja-raja 2:13; 2 Raja-raja 22 : 13; 23:3,21; 1 Tawarikh 16:3940; 2 Tawarikh 30:5; 31:3; 35:26-27; Ezra 3:24; 6:18; Nehemia 10:28-29; 13:1; dan Daniel 9:13. Saya mendorong Anda untuk mencari ayat-ayat ini dan membaca dengan cermat. Dimana ada penyebutan sebuah Hukum Lisan?[11]

Dan, jika ada semacam rantai otoritatif penafsiran, mengapa ada perbedaan pendapat begitu banyak tentang hukum di hampir setiap halaman Talmud? Orang nyaris dapat mengatakan bahwa Talmud terdiri dari perbedaan pendapat dan diskusi tentang penafsiran dan penerapan Hukum. Dan mengapa komentar-komentar para rabbi besar berbeda dengan arti beratus-ratus ayat Alkitab? Dimana rantai otoritatif dari tradisi?

Tidak, Elohim tidak memberikan Hukum Lisan kepada Musa di Gunung Sinai. Penyebutan  pertama-tama dari konsep seperti tradisi mengikat, tradisi lisan ada lebih dari 1400 tahun setelah Musa. Terlebih lagi, banyak kelompok-kelompok Yahudi yang ada pada zaman Yeshua, seperti orang-orang Saduki dan Eseni, tidak memiliki keyakinan dalam tradisi tersebut. Itu adalah doktrin yang berbeda dari orang Farisi. Mengapa? Karena mereka adalah orang-orang yang menemukan gagasan tentang sebuah rantai tak terputus yang mengikat, tradisi lisan, dimulai sesaat sebelum Yesus datang ke dunia. Dan, ketika mereka meneruskan tradisi unik mereka pada para penerus mereka, generasi baru mulai berkata: “Kami tidak menemukan ajaran-ajaran ini, kami mewarisi mereka. Mereka telah diteruskan kepada kita dari nenek moyang kita. Mereka mundur bertahun-tahun …. jalan balik… sejauh mundur kami dapat mengingat … semua balik kembali kepada Musa.” Tidak begitu!

Biarkan kebenaran diceritakan. Tidak ada Hukum rahasia yang diberikan kepada Musa dari mulut ke mulut atau diteruskan oleh dia secara lisan kepada para nabi alkitabiah dan pemimpin. Sebenarnya, nenek moyang kita terkadang lupa Hukum Tertulis (baca 2 Raja-raja 22 untuk contoh klasik ini). Sebuah Hukum Lisan tidak akan ada kesempatan berdiri. Dan tidak ada satu contoh dalam Alkitab di mana orang pernah dihukum, ditegur, atau bertanggung jawab untuk melanggar suatu yang dipanggil tradisi yang mengikat. Itu karena tidak ada tradisi seperti untuk istirahat. Hanyalah pelanggaran-pelanggaran dari Firman yang tertulis telah dianggap berdosa.

Kebenaran
Sekarang saatnya untuk mendengarkan Firman tersebut. Torah mengatakan bahwa di mana pun kita orang Yahudi, bahkan tersebar di seluruh dunia, “Dan baru di sana engkau mencari YAHWEH, Elohimmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu (Ulangan 4:29). Nabi Yeremia memberi pesan yang sama: “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, (Yeremiah 29:13). Dan Kitab Amsal mengatakan: Percayalah kepada YAHWEH dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5-6)
Elohim tidak akan mengecewakan Anda-jika Anda mencari dengan tulus kebenaran-Nya. Mengapa tidak merendahkan diri dan meminta bantuan-Nya? Ada tempat untuk alasan dan diskusi rasional, dan ada tempat untuk mencari Elohim juga. Mereka berjalan beriringan! Tetapi Adonai menentang mereka yang bijaksana menurut mata mereka sendiri. Pelajarilah Firman dan carilah Elohim. Anda tidak akan dikecewakan.

Ketika Musa dan para nabi tidak tahu bagaimana menafsirkan atau menerapkan Torat, mereka berdoa dan meminta Elohim untuk menjawab. Dan Elohim menunjukkan kepada mereka apa yang harus dilakukan![12] Mengapa tidak mengikuti langkah mereka? Mengapa ada [berlaga] lebih pintar dari Musa dan para nabi dan mencoba semuanya untuk diri sendiri?

Studi, ya, dengan segala cara. Tapi minta Elohim membuka mata Anda ketika Anda melakukan! (Itu persis bagaimana Pemazmur berdoa dalam Mazmur 119:18) Mintalah Elohim untuk memimpin Anda ke dalam kebenaran.

Ini tidak berarti bahwa para rabi berarti jahat. Mereka benar-benar percaya pada apa yang mereka lakukan, dan sering  ada keindahan dan kebijaksanaan dalam kata-kata mereka. Mereka benar berkomitmen untuk tradisi-tradisi mereka, dan melalui tradisi-tradisi ini, mereka berusaha untuk mengikat orang Israel bersama-sama. Tapi, sementara tradisi mungkin telah mengikat kita bersama-sama, mereka miliki, yang lebih penting, mengikat kita.

Anda bisa dibebaskan hari ini.

“Untuk orang Yahudi yang percaya pada Dia, Yeshua berkata, “Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:31-32)

Komentar oleh Sid Roth
Aku tidak pernah mendengar banyak percakapan tentang Ha Mashiah ketika saya masih kecil. Pada Seder Paskah kami, kami akan membuka pintu bagi Elia untuk mengumumkan Ha Mashiah. Tetapi orang dewasa telah memandang  kejadian ini sebagai sebuah dongeng, hampir seperti versi Yahudi  tentang Santa Claus. Saat aku semakin tua, saya menyadari itu hanya “berpura-pura,” tapi aku ikut-ikutan denan sandiwara ini demi anak-anak muda dan “tradisi.”

Setiap Paskah kita membaca Mazmur 118:22: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Sekarang saya bahwa batu penjuru yang kita, para tukang bangunan (orang-orang Yahudi) telah tolak adalah Ha Mashiah. Tidaklah mengherankan Elisa tidak pernah datang ke seder Paskah kita. Meshiah telah datang untuk mati pada Hari Paskah. Yesaya 53:7 berkata Dia adalah (was; past tente) ”seperti domba (Paskah) yang dibawa kepembantaian.”

[Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. (Yesaya 53:7)]

Nama “Paskah” berasal dari Keluaran 12:13: Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada (pass over) kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu (Kel 12:13). [Jadi Paskah artinya “melewati”]

Tetapi kenapa darah adalah penting? Imamat 17:11 mengatakan: “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” Dengan kata lain, pengorbanan darah adalah satu-satunya pengganti yang dapat diterima untuk menebus dosa. Selama Paskah yang pertama [Hari terakhir orang Israel di Mesir], darah itu harus dipakai (dipoleskan) pada ambang pintu. Kemudian, di bawah Perjanjian Musa, binatang harus dikorbankan di Bait Elohim di atas mezbah (Imamat 1:11).

Inilah sebabnya mengapa kita baca dalam Talmud, Yoma 5a, tidaklah ada Yom Kippur tanpa darah. Sejak Bait Elohim dihancurkan pada tahun 70  AD, belum pernah ada korban-korban Bait bagi pengampunan dosa.

Bahkan, 40 tahun sebelum Bait itu dihancurkan, para rabi kuno telah mengenali tanda-tanda supranatural yang menakutkan bahwa Elohim tidak lagi menerima korban-korban binatang yang dipersembahkan (Yoma 39a, b). Itu adalah tahun Yeshua meninggal bagi dosa-dosa kita.
Bahkan nabi Yahudi Daniel mengatakan Mahsiah kita akan datang dan mati, bukan untuk dosa-dosa sendiri, tetapi untuk dosa-dosa kita sebelum Bait tersebut dihancurkan (Daniel 9:26).
Benar Yudaisme [dan semua faham keimanan dan world view] membutuhkan darah penebusan Yeshua!

Karena kita memiliki Bait Elohim saat ini, entah dosa-dosa kita tidak dapat ditebus, atau Elohim telah mengirimkan Mashiah-Nya.
Tentang siapakah doa Yom Kippur dari buku doa tradisional Yahudi berbica?
Urapan kebenaran kita telah keluar dari kita: ketakutan telah menguasai kita, dan kita tidak memiliki seorang juga utuk membenarkan kita.

Kami diurapi benar telah berangkat dari kami: horor telah disita kami, dan kami tidak memilikinya untuk membenarkan kita. Dia telah menanggung kuk kejahatan kita dan pelanggaran kita, dan terluka karena pelanggaran kita. Dia telah menanggung dosa-dosa kita pada bahu-Nya, supaya Dia dapat menemukan pengampunan yang disebabkan oleh kejahatan kita. Kita akan disembuhkan oleh luka-Nya, pada waktu itu Yang Abadi akan membuat Dia sebagai makhluk baru (Form of Prayers for Day of Atonement – Indonesia: Bentuk Doa untuk Hari Pendamaian, rev. ed., New York:.. Rosenbaum dan Werbelowsky, 1890, pp 287-88) .

oooOooo

*) Arti literal: “seorang kepada siapa hukum-hukum berlaku,” merefer kepada seorang laki-laki Yahudi yang telah mencapai usia 13, dimana ia mulai dituntut untuk  terlibat dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat baik moral maupun keagamaan. Perubahan status ini dirayakan melalui ibadah keagamaan Yahudi. Bet mitzvahed sebutan untuk wanita. Ibadah ini tidak terdapat di Alkitab, tetapi sebuah ibadah tradisi Yahudi yang berkembang di Abad-abad Pertengahan (Middle Ages). http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Bar_Mitzvah

Catatan kaki dari artikel aslinya:
[1] H. Chaim Schimmel, The Oral Law: A Study of the Rabbinic Contribution to Torah She-Be-Al-Peh (rev. ed., Jerusalem/New York: Feldheim, 1987, italics added).
[2] Z. H. Chajes, The Student’s Guide Through the Talmud, translated and edited by Jacob Schacter (New York: Feldheim, 1960), 4.
[3] See Nachmanides to Deuteronomy 17:11 and also the Babylonian Talmud, Baba Batra 12a.
[4] See Maimonides’ introduction to his commentary on the Mishnah.
[5] See again Maimonides’ introduction to his commentary on the Mishnah, and also the Babylonian Talmud, Yebamot 102a
[6] See the introduction to his Ketzot HaHoshen on Hoshen Mishpat in Shulhan Arukh.
[7] Dr. J. H. Hertz, The Pentateuch and Haftorahs (London: Soncino, 1975), 316. The only real issue is whether to translate the Hebrew word rabbîm in this verse with “many” or “mighty.” (The Talmudic passage in Baba Mesia 59b, of course, understood the word to mean “many”—in other words, the majority.) Either way, the meaning is impossible to dispute: Don’t follow the rabbîm!
[8] See the Babylonian Talmud, Berakot 54a.
[9] See, for example, the Jerusalem Talmud, Kiddushin 1:2, 59d; the Babylonian Talmud, Sotah 16a, with Rashi’s comments to the words ‘oqeret and halakah.
[10] . See also Gittin 60a in the Babylonian Talmud
[11] . It is possible that a rabbinic Jew might point to Nehemiah 8:8, the only verse which mentions that the Levites made the Law clear as it was being read. This means either that they translated it into a more understandable language (probably Aramaic for the exiles), or else they explained its meaning. This, of course, was the role of the priests and Levites: to educate the people in the Torah (see Leviticus 10:1011). But, once again, to make some connection between this verse and an alleged unbroken chain of binding tradition is to build a mountain out of a non-existent mole hill.
[12] . See, for example, Leviticus 24:1023; Numbers 9:114; 15:3236; 27:15; Zechariah 7.

Bacaan berkait:

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya http://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.