Kesaksian Ibrahim Muslim Kosovo beriman pada Yeshua Ha Mashiah


Catatan dari Editor: Terjemahan Indonesia ini adalah hasil gabungan dari dua sumber, bahasa Albanianya (diubah ke Indonesia melalui google)  dan bahasa Inggrisnya. Terjemahan ini bagaimanapun juga didasarkan atas text Inggrisnya.
Kata Zot (Alkitab Albania) berarti YAHWEH; diterjemahkan sebagai ”ADONAI/ LORD/ TUHAN/Tuhan), dan Perëndiberarti Elohim atau God dalam Alkitab Indonesia diterjemahkan sebagai “Allah.” Kata ”ALLAH/ Allah” (Allahu; Albania) pada terjemahan Indonesianya di sini merefer pada ’Deiti’ umat Islam. Ayat Alkitab dalam tanda ”Kutipan,” kalimat dalam kurung siku beserta gambar ditambahkan. Kata dalam tanda kurung adalah kutipan dari sumber artikel dan atau ditambahkan untuk memperjelas kalimat dari sumber-sumber aslinya.
Selamat membaca. Anggur Baru.

Peta Kosovo, Eropa Timur[Latar belakang masa kecil Ibrahim]
Nama saya adalah Ibrahim dan saya berasal dari sebuah keluarga Islam tradisi dari Kosovo. Sejak masa kanak-kanak saya memiliki ketertarikan yang besar tentang agama. Saya kagum dengan pemikiran adanya Elohim (Perendi) yang telah menciptakan segala sesuatu di langit dan di bumi dan saya rindu untuk mengerti seperti apakah Elohim ini. Saya ingat nenekku mengajariku sebagai anak kecil untuk selalu berbicara keras ”bismillah,” pengucapan Arabnya “bismi-llāhi ar-rahmāni ar-rahīmi” sebelum dan dan bangun tidur juga selalu sebelum makan dan berterima kasih kepada Allah setelah makan dengan mengucapa ”Alhamdulilah.” Nenekku sering membawa saya ke kamarnya untuk berdoa bersamanya dan ia mengajariku bahwa setiap kali aku takut akan kegelapan atau apa pun, saya akan dilepaskan dari takut tersebut dengan mengucapkan ”bismillah” tiga kali secara berurut. Dan saya pun melakukannya.

Yeshua: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10)

Keluargaku terdiri dari ayah dan ibuku, dan kakak laki-laki delapan tahun lebih tua dari ku. Saat itu saya duduk di bangku SD (Sekolah Dasar), kakaku di universitas. Dia sangat rajin belajar hingga suatu hari ia keracuan gas air-mata di asrama kuliahnya. Pasukan penjajah yang saat itu di Kosovo hendak mengusir semua mahasiswa dari semua asrama dan kampus-kampus, begitulah caranya mereka melakukannya. Sejak saat itu kondisi kesehatan kakak saya memburuk. Setahun kemudian dia menjadi sangat sakit dan banyak dokter tidak mampu menemukan dengan tepat penyakitnya, hanya memberi pernyataan sistem syarafnya telah rusak disebabkan oleh kelemahan otot. Kurang dari setahun dari sakitnya ia meninggal dunia di usia 22 tahun. Tragedi ini telah merubah arah kehidupan kami. Saya berusia 14 tahun ketika kehilangan kakaku. Ibuku mengalami depresi berat sementara ayahku mencoba mencari penghiburan dalam (agama) Islam melalui mulai menjalaninya [sebelumnya hanya nominal Muslim].

[Memperdalam ajaran agama Islamnya; pandangan Islamnya tentang ajaran Kristianiti]
Untuk ku, ini adalah waktu pencarian dan pengenalan lebih tentang Elohim melalui memperdalam pengetahuanku dan kesetianku kepada Islam, tanpa berpikir terlebih dahulu tentang agama lainnya. Dahulu saya berpikir hanya Elohim yang tahu alasan dibelakang kematian kakakku dan kami harus bersabar terhadapat keputusan apapun yang datang dari YAHWEH sebab baik dan buruk datangnya dari Elohim [Ini ajaran Islam yang bersumber dari faham predistinasi; bandingkan dengan Alkitab: Yohanes 10:10 dan Yakobus 1:16-17 misalnya].
Tragedi ini menambah ketertarikkan ku kedalam agama (Islam) ku. Saya secara rutin pergi ke mesjid, sembayang (sholat) dalam bahasa Arab, membaca Kuran dan Hadis-hadis, dan menemukan kepuasan di dalam apa yang saya lakukan. Setiap kali saya akan pergi ke mesjid saya pastilah berterima kasih kepada Elohim (Perendine) bahwa saya terlahir sebagai Muslim, sebab Islam adalah (was; past tense form) satu-satunya agama yang diterima dihadapan ADONAI (Zoti) dan jalan satu-satunya menuju keselamatan. Segera saya membentuk cara pandang (worldview) akan Islam dan secara umum akan agama-agama: Kuran adalah wahyu terakhir yang diturunkan Allah, Ia adalah esa, Dia tidak dilahirkan dan tidak juga melahirkan siapapun; tidak ada siapa pun yang sederajat dengan Dia. Keputusan-Nya mutlak dan saya haruslah pasrah saja menerima apa saja yang datang kepadaku [takdir; agama Islam menyebutnya]. Allah mendengar secara langsung doa orang tanpa perantara (intercessor). Allah tidak perlu seorang anak dan apa yang orang Kristen percaya adalah salah sama sekali. Mereka akan dihukum karena berbuat ”syrik”, dosa terbesar yang manusia dapat lakukan. Karenanya, saya haruslah selalu ada hati-hati terhadap napsu penyembahan berhala, jangan pernah menghubungkan segala sesuatu dengan Allah sebab Dia marah besar dan pastilah saya juga akan ada dihukum. Karena alasan khusus ini beserta perubahan Firman Allah yang disengaja, saya telah membenci orang-orang Kristen dan Yahudi. Lagipula para imam di mesjid-mesjid yang saya kunjungi berkotbah melawan kedua kelompok tersebut. Saya ingat sekali waktu ketika pamanku menyunat putranya bagaimana imam yang bertugas mengajar bahwa orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang dikutuki dan tidak ada sesuatu yang baik keluar dari mereka, hanyalah kejahatan, dan Yahweh (Adonai Yeshua Ha Mashiah atau Isa al-Masih Muslim memanggil-Nya) pastilah akan menghukum mereka dengan cara yang keras di Hari Penghakiman. Saya saat itu tidak setuju dengan imam tersebut sebab orang-orang Kristen lebih layak menerima hukuman dari pada orang Yahudi, sebab orang-orang Kristen merubah seorang pria biasa [Yeshua / Yesus] menjadi Elohim dan menghujat melawan ketunggalan ADONAI. Saya tidak dapat mengerti sama sekali bagaimana mereka telah dapat melakukan kesalah sejenis itu. Itu sungguh tidak dapat diterima oleh ku, tidak dapat dibayangkan, dan sesuatu yang sangat menjijikkan.

YAHWEH: “Sebab sebagaimana langit lebih tingg dari bumi, demikianlah jalan-jalan-Ku lebih tinggi dari jalan-jalanmu, dan rancangan-rancangan-Ku dari rancangan-rancanganmu.” Yesaya 55:9; ILT

Dengan pandangan-pandangan akan Islam dan Kristianiti tersebut saya berpindah ke Prishtina, ibukota, untuk tujuan mendaftar di universitas. Dalam tahun kedua dari studiku saya memutuskan untuk bergabung dengan sepupuku untuk tinggal sekamar dengannya sementara belajar di Prishtina. Ini mungkin waktu terbaik kehidupan kuliah kami sebagaimana kami membagi dan mendiskusikan banyak hal dari kehidupan kami. Agama adalah satu dari beberapa topik kami diskusi dan sering kali kami berbicara sampai dini hari. Sepupuku ini juga berasal dari latar belakang Islam tetapi lebih dipengaruhi pemikiran sekuler. Meskipun demikian kadang-kadang ia membaca buku-buku agama. Dia percaya Elohim ada tetapi kita sebagai ”kaum intelek” harus melihat hidup kita tidak hanya melalui agama, sebagai gantinya kita haruslah memenuhi karir dan ambisi kita. Sementara kami diskusi tentang masalah-masalah ini, sepupuku ini memiliki paman di Finlandia yang telah berpindah ke Kristianiti. Dia juga salah satu dari sepupu jauhku tetapi usianya sedikit lebih tua dari ku, saya suka memanggilnya juga paman. Dia telah menerima Ha Mashiah (Kristus) beberapa tahun lalu dan telah mencoba berdiskusi dengan sepupu teman kamarku ini banyak kali sebelumnya, tetapi pada titik tertentu dia berhenti berbicara kepad pamannya tentang masalah-masalah agama karena ia merasa pamannya ingin memaksakan kepercayaannya pada dia. Saya berkata kepada teman kamarku saya tertarik berdiskusi dengannya karena saya telah mendengar banyak hal buruk tentangnya meninggalkan jalan yang benar termasuk bahkan bantuan keuangan supaya berpindah ke Kristianiti. Ini menyebabkan saya tanpa ragu-ragu membuka diskusi  saat kesempatan pertama ia menelepon kami.
Untuk paman kami di Finlandia, ini berarti lampu hijau untuk memulai diskusi-diskusi baru.

[Diskusi Islam-Kristianiti via telpon; Buku Ahmed Deeded & Abdul Ahad Dawud VS Alkitab & literatur Kristen]”Apa yang telah membuatmu mengganti agama, paman?,” tanya saya kepadanya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mungkin untuk diskusi ini untuk selesai hanya dalam satu jam. Dia terus melakukannya begitu sering bahkan setiap hari, melalui percakapan berjam-jam. Saya menerima Alkitab pertama dalam bahasa Albania dari Finlandia dan juga beberapa buklet yang ia bisa dapatkan dari sana di dalam bahasa Albania. Bersama literatur tersebut, dia mengirimi kami juga sebuah paket berisi kaset-kaset audio (suara) dimana ia dia akan berbicara lebih khusus pada topik-topik yang mungkin kami akan tanyakan di dalam percakapan telpon. Sepupuku dan saya mendengarkan kaset-kaset tersebut setiap malam. Ada dua hal yang sangat sulit bagi ku sementara mendengarkan kaset-kaset tersebut. Pertama, disamping menerangkan iman Kristen, dia juga mengeritik Islam dan khususnya Muhammad. Itu membuat saya sangat marah. Kedua, dia berdoa untuk kami di dalam nama Yeshua (Yesus), lebih lagi, dia mengalamatkan Elohim sebagai Bapanya. Saya tidak dapat tahan mendengarkan doa-doa tersebut dan selalu melewatinya.

Setelah satu dari beberapa kaset tersebut, saya membuka Alkitabku untuk pertama kali, tetapi setelah beberapa hari membacanya saya berhenti melakukannya. Saya tidak mampu membaca Alkitab. Setiap garis kalimat saya baca saya akanlah berpikir bahwa itu dimanipulasi dan dibuat oleh tangan-tangan manusia. Lebih lanjut, dikarenakan peremehkan kepada iman Kristen dan orang-orang Kristen yang saya rasakan telah menyebabkan diriku merasa tidak nyaman sementara membaca Alkitab. Meskipun demikian, saya terus berdiskusi dan berbicara secara intensif dengan pamanku yang tinggal di Finlandia. Pada saat itu, sepupu juga turus bergabung meskipun dia telah mengentikan berdiskusi lebih awal namun ia terus mendengarkan kaset-kasetnya bersama saya.

Paman kami di Finlandia sangat bersemangat dan berapi-api sehubungan dengan iman barunya. Segera saya dapatkan bahwa tidak satupun dari tuduhan-tuduhan keluarga kami telah berikan menentang dia adalah benar. Saya bisa rasakan dia benar-benar yakin tentang Yeshua Ha Mashiah adalah jalan satu-satunya ke Sorga.

Bagaimanapun, sementara dia membagikan ajaran Kristianiti saya menyerang balik dirinya dengan menekankan bahwa Kuran adalah wahyu terakhir yang telah diturunkan secara langsung dari Elohim, dijaga oleh Elohim dari segala kesalahan, kitab yang berisi penuh dengan penemuan-penemuan sains dan jauh bermutu dibangingkan Alkitab. Ini menjadikan banyak perdebatan panas diantara kami. Sekarang teman kamarku bersama denganku dan kami membentuk team untuk menghancurkan argumen-argumen paman kami dengan bukti-bukti yang kami miliki. Saya menemukan beberapa buku tulisan Ahmed Deedet yang membahas kontradiksi-kontradiksi Alkitab, perbedaan Alkitab-alkitab yang dimiliki orang Kristen, penyaliban sebagai dongeng dan banyak kesalahan Alkitab (satu yang sungguh panas, “50.000 kesalahan di dalam Alkitab”). Saya juga menemukan beberapa buku dari penulis-penulis lain, yang mana teman-temanku dan saya berpikir ini semua akanlah ada senjata-senjata kami melawan paman kami. Saya periksa semua buku, tetapi meskipun beberapa tuduhan melawan Alkitab kedengarannya masuk akal untuk ku, saya memiliki kesulitan yang besar untuk percaya pada semua tuduhan-tuduhan ini. Saya mempelajari sebuah buku Muhammad di dalam Alkitab (Muhammad in the Bible)” ditulis Abdul Ahad Dawud bekas pastor (Gereja Roma) Katolik dan meskipun saya percaya bahwa Muhammad disebut di Alkitab, saya tidak dapat menerima semua klaim-klamnya. Menurut dia bahkan Yohanes Pembaptis bernubuat tentang Muhammad dan setiap nubuatan hampir sangat jelas menunjuk kepada Yeshua, dia menginterpretasikannya sebagai referensi ke Muhammad. Buku-buku ini bukannya memperkuat imanku dalam Islam, dalam ketakjubanku mereka telah memberi efek yang kebalikkannya atas diriku. Bagaimanapun, saya terus memakai buku-buku tersebut melawan pamanku, tetapi itu menjadi jelas bahwa membuktikan bahwa Alkitab adalah sungguh kontradiktori dan penuh kesalahan tidaklah sebuah pekerjaan yang mudah dilakukan sama sekali. Bukan hanya karena pamanku memiliki jawaban-jawaban yang bagus kepada kontradiksi-kontradiksi dan kesalahan-kesalahanku, tetapi pengarang-pengarang ini juga mengecewakan ku melalui mencoba memungkinkan ”misi yang tidak mungkin” (trying to make the impossible mission possible) melalui mengalamatkan kepada Muhammad banyak nubuatan dan argumen lainnya yang (sesungguhnya) dialamatkan ke Yeshua. Logikaku tidak dapat menerima semua itu. Saya rasakan sekali bahwa pengarang-pengarang ini tidak jujur di dalam motiv mereka terhadap Yeshua dan Kristianiti meskipun saya juga seorang Muslim dan tidak suka Kristianiti sama sekali.

Sementara saya terus berdebat dengan paman kami, teman kamarku mulai membaca Alkitab. Dia melakukannya secara tetap dan semangatnya untuk hal-hal agama bertambah besar. Kubu antara kami di bagian Eropa ini (Eropa Timur) dan paman kami di bagian utara Eropa sekarang telah dibuat. Agama adalah perkara utama yang kami akan berurusan. Untuk sementara saya bahkan keluar dari kuliah-kuliah. Paman kami menyiapkan diri dengan baik melawan tuduhan-tuduhan dan saya tidak melihat banyak hasil dari debat-debat tersebut.

Periode ini berakhir hampir enam bulan dan tidak mudah melindungi iman Islamku sementara dibukakan lebih lanjut kepada Kristianiti yang nampak ada semakin lama semakin berarti sementara waktu berlalu. Ada secara penuh disibukkan dengan masalah-masalah ini, saya bahkan mulai mendapat mimpi-mimpi. Pada waktu-waktu yang lain di banyak malam tanpa tidur saya memberi waktu berpikir tentang hal-hal yang didiskusikan. Dalam mimpi-mimpi tersebut saya melihat beberapa kali bagaimana saya menjadi Kristen dan setelah itu saya terbangun dikuasai ketakutan bahwa ini mungkin pasti terjadi. Saya telah membayangkan semua masalah yang akanlah saya hadapi dengan keluargaku, tetapi lebih dari itu saya takut saya akan terhilang selamanya karena iman Kristen tidaklah benar dengan semua syrik yang mereka lakukan.

Meskipun saya tidak ingin membaca Alkitab, dari sedikit yang saya telah baca dan juga dari percakapan yang berlangsung dengan paman tersebut, beberapa ayat-ayat Alkitab secara terus menerus teringat dipikiranku:

  • Kata Yeshua kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14:6)
  • Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30)
  • Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. (Yoh 5:24),
  • dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. (Yoh 12:45)

Semua ayat ini ada berhubungan dengan Yeshua, pada waktu yang sama berurusan dengan  ke-elohim-an-Nya juga, sering kali ini terlalu berat untuk ku. Pikiranku bekerja sebagai medan pertempuran. Saya tidak memiliki ketenangan sehubungan dengan kebenaran.

  • Dimana kebenaran dapat ditemukan?
  • Apakah itu di dalam Alkitab atau Kuran?
  • Apakah Muhammad rasul terakhir atau apakah Yeshua Adonai dan Juruselamat dunia?
  • Bagaimana jika semua itu adalah sebuah godaan iblis untuk aku pindah ke Kristianiti?
  • Bagaimana jika Yeshua sungguh telah datang untuk menggampuni dosa-dosa kita?

Dari semua, satu hal saya pasti: Keduanya (secara bersama) Kuran dan Alkitab tidaklah mungkin benar (sebab keduanya saling bertolak belakang); kebenaran haruslah berdiri pada satu sisi. Elohim tidaklah mungkin ada mewahyukan dua kebenaran yang saling bertentangan. Entah Alkitab benar atau Kuran, entah Kristianiti atau Islam. Dan pertarungan terus berlangsung. Tetapi jika Yeshua menampakkan diri kepada ku secara pribadi dalam bentuk tubuh fisik seperti yang saya telah dengar dari pamanku bahwa Dia telah melakukannya sering kali? Saya telah mendengar kesaksian Gulshan Esther yang lumpuh dan selama tiga tahun berdua terus-menerus, Yeshua menampakkan diri kepada dia di kamarnya dan dia disembuhkan dan berjalan pada akhirnya. Dahulu dia berdoa dan melalukan segalanya di dalam nama ALLAH, bahkan berkunjung ke Mekka beberapa kali. Tetapi doa-doanya terjawab oleh Yeshua. Dia (Yeshua) telah menjawab doa-doanya dan merubah kehidupannya secara utuh.

Tetapi tidak, tidak, saya tidak akan mengijinkan diriku jatuh kedalam jebakan; saya memiliki imanku dan saya bahagia dengan itu. Bahkan jika Yeshua menampakkan diri kepada ku saya akan menolak Dia. Tetapi mungkinkah itu mengatakan kepada Dia, bahwa Dia adalah sebagai jelmaan iblis? Saya tidak tahu, saya tidak tahu …!

[Stop diskusi dan debat mana yang benar; saatnya sekarang mencari Kebenaran]Saya berhenti berdiskusi dengan pamanku. Saya katakan padanya kita telah berdiskusi tentang Islam dan Kristianiti, saya telah mengerti pikiran-pikiranmu, tetapi maaf saya memiliki imanku. Saya mulai menghindari dia setiap kali ia ingin menelponku.
Sekarang waktunya bagi teman sekamar saya meneruskan percakapan dengan dia. Alkitab yang sepupuku baca telah banyak membuat dia kagum. Dia datang padaku suatu hari dan berkata, ”Saya berpikir setiap orang intelek haruslah membaca Alkitab sedikitnya sekali selama hidupnya. Itu adalah kitab yang layak dibaca.” Saya sungguh heran apa yang sedang berlangsung dengan dia sekarang. Saat pertama saya bergabung dengannya dia tidak banyak tertarik dengan masalah-masalah agama dan tidak mengijinkan pamannya memaksa pada nya keyakinan apapun. Namun sekarang ia membaca Alkitab, berbicara dengan paman kami dan pada waktu yang sama meminta saya untuk memulai membaca Alkitab lagi dengan sikap yang lain. Saya katakana baiklah, meskipun fondasi-fondasi (iman Islam) ku sudah tergoncang. Lebih lagi, Kuran adalah sebuah kitab yang susah dimengerti dan supaya mengerti beberapa ayat lebih dalam seorang haruslah memakai (kitab-kitab) Tafsir. Saya belum pernah punya kesempatan untuk melakukannya meskipun sudah membaca banyak buku-buku yang membahas Kuran.

Saya memutuskan sembayang langsung kepada  YAHWEH supaya Ia dapat membukakan kebenaran kepada ku. “O YAHWEH saya tahu Islam adalah agama yang benar, tetapi jika seandainya bukan, harap beritahukan itu pada saya.” Doa ini menyertai saya untuk sementara waktu hampir setiap malam di dalam mencari kebenaran-Nya. Saya tidak ingin lagi berbicara kepada siapapun tentang masalah ini, tidak juga kepada pamanku yang di Finlandia termasuk teman kamarku. Saya menghendaki hal ini terjadi hanya antara saya dan YAHWEH, sebab saya sungguh bingung.

Teman kamarku terus dengan pembacaan Alkitabnya dan menyelaminya setiap hari dari kedalaman pengetahuan dan ajaran yang dia dapatkan dari sana. Tidak lama setelah itu, dia menceritakan saya bahwa dia telah membuat keputusan yang sangat penting untuk hidupnya: mengikuti Yeshua dan Alkitab sebagai Firman Elohim. Alkitab telah menjadi begitu berarti bagi dia dan saya rasakan saya kehilangan teman sekamar saya, sepupuku dan teman baikku. Saya menjadi sangat kuatir, berpikir bahwa dari sekarang dan seterusnya saya tidak dapat ada lagi sebagai teman kamarnya; saya harus keluar dari sini. Saya melihat dia sebagai penghambat sejakdia menjadi Kristen. Saya menjadi marah padanya, tetapi apa yang dapat saya lakukan? Itu keputusa dia.

Secara umum, itu bukanlah saat yang baik untuk mengalaminya. Semua pertarungan-pertarungan ini di dalam pikiranku menjadikan aku berpikir tidak normal kadang-kadang. Suatu suara yang kasar meminta saya suatu malam untuk melompat keluar dari lantai sembilan gedung kami. Saya sadari sesuatu terjadi dengan diriku. Tetapi mengapa Elohim mengijinkan semua ini terjadi? Saya balik kepada Dia meminta minta pertolongan  dari Dia untuk membantu saya keluar dari situasi ini lagi. Saya baru berusia 19 tahun (saat itu) dan rasanya seperti saya menggendong semua masalah dunia pada punggungku.

Hanya beberapa hari kemudian sepupuku dan tetap teman kamarku membawakan saya sebuah buku bernama ”Tempat Yang Paling Saya Dambakan” (The place I desire most). Dia sudah membaca selurus isi buku ini dan melihat itu sebagai kesempatan yang bagus untuk mempengaruhiku. Lebih jauh ia bahkan berdoa untuk ku dan mencoba menolongku dalam segala cara. Dia sekarang sudah seorang Kristen selama dua minggu. Saya berjanji padanya untuk membaca buku itu dan meninggalkan itu di meja. Dia pergi tidur sementara saya membaca yang lainnya. Namun sesuatu mendorong aku untuk melihat buku itu. Saya seorang diri di ruang tamu dan membuka halaman-halaman pertamanya. Ada nampak menari untuk membaca terus. Penulisnya berasal dari abad sebelumnya dan biasanya saya tidak tertarik pengarang klasik. Tetapi buku ini nampak berbeda bagiku. Kalimat-kalimat buku ini terjalin dengan begitu indahnya, setidaknya nampaknya begitu bagiku, setiap baris yang kubaca membawa perasaan tenang. Saya berpikir khususnya alinia-alinia ini yang berkata, ”YAHWEH di Hari Pengadilan akan betanya pertanyaan ini kepadamu: ‘Apa yang telah kamu perbuat terhadap PutraKu? Saya telah banyak melakukan perbuatan baik, Elohim; saya telah melakukan ini dan itu…! Tetapi Elohim akan menjawab: Aku tidak menanyakanmu tentang perbuatan-perbuatan baikmu, sebalinya apa yang kamu telah perbuat terhadap Putra-Ku?’Ini adalah kata-kata yang paling menakjubkanku. Tepatnya semua ini mengambil semua perhatian saya. Itu tidak ada hubungannya dengan tindakan-tindakan kebaikan kita, saya merenung, tetapi masalah apa yang kita telah lakukan terhadap Yeshua. Sudahkah kita menerima Dia kedalam hidup kita atau tidak? Ini nampak ada sebagai pertanyaan kehidupan. Lebih tepatnya itu menunjuk kepada saya. Sebelumya semua yang saya pikir sejauh itu bahwa itu melalui perbuatan-perbuatan baiklah kita dapat datang kepada Elohim, ternyata kosong jika dibandingkan dengan pertanyaan tersebut. Inilah saat kehancuran kehidupanku, saat yang revolusioner dari jiwaku. Saya merasakan sepertinya Elohim berbicara kepadaku sepanjang setiap kata dari buku ini.

Saya berpikir khususnya alinia-alinia ini yang berkata, ”YAHWEH di Hari Pengadilan akan betanya pertanyaan ini kepadamu: ‘Apa yang telah kamu perbuat terhadap PutraKu? Saya telah banyak melakukan perbuatan baik, Elohim; saya telah melakukan ini dan itu…! Tetapi Elohim akan menjawab: Aku tidak menanyakanmu tentang perbuatan-perbuatan baikmu, sebalinya apa yang kamu telah perbuat terhadap Putra-Ku?’

[Yeshua menampakkan diri-Nya; segera semua keraguan dan beban berat Ibrahim terlepas!]Tidak lama kemudian sementara saya membaca dan merenungkan alinia-alinia lainnya ketika sesuatu yang ajaib terjadi padaku. Saya mendapat penglihatan. Sebuah gambar dari dua pribadi nampak pada pikiranku. Itu hampir seperti saya menonton layar pada tembok-tembok ruang tamu tersebut. Saya melihat yang satu berlutut wajahnya buruk penuh dengan borok, menjerit keras sekali. Ia memiliki rambut panjang. Pribadi yang lainnya berdiri dan berpakaian jubah putih. Ia nampak seperti Yeshua dari film yang saya pernah tonton. Tetapi saya tidak dapat melihat wajahnya, karena kabur. Pribadi yang berpakaian putih bercahaya merengut rambut orang yang sedang berlutut. Saya dapat jelas melihat wajahnya yang buruk sementara mendengar teriakan-teriakannya yang keras juga jeritan-jeritannya. Mula pertama saya sungguh takut apa yang sedang terjadi padaku saat itu. ”Saya menjadi gila,” saya berkata kepada diriku sendiri. Lalu tiba-tiba saya mendengar suara yang lembut dan jelas dipikiranku  berkata kepadaku: “Kamu melihat dia yang sedang berlutut. Dia adalah iblis yang terus mengecohmu sampai saat ini. Adonai (the Lord) membebaskan kamu sekarang dan kamu akan selamanya terbebas.” Suatu gambar baru muncul pada pikiranku, Yeshua Ha Mashiah di kayu salib. Dan suara itu berlanjut, ”Yeshua telah mati bagi dosa-dosamu. Dia adalah Kebenaran dan Satu-satunya Jalan.” Saya segera sadar bahwa Elohim sedang menunjukkan jalan dan kebenaran yang selama ini sedang saya cari. Saya merasa diriku sebagai orang bedosa, dan saya bertobat dari semua masa lalu ku dan menyerahkan kehidupanku kepada Yeshua. Sekarang saya sungguh-sungguh yakin tentang kebenaran. Dalam kondisi ini saya merasakan Elohim lebih dekat dari sebelumnya. Itu adalah tindakan Elohim menyatakan diri-Nya sendiri secara pribadi kepadaku dengan cara yang langsung dan ajaib. Itu adalah jawaban Elohim atas doa harianku. Saya merasakan kelegaan besar.

Yeshua: “You call Me the Teacher, and, the Master. And you say well, for I AM.” (John 13:13; HRB)
And Elohim said to Moses, “EHYAH ASHER EHYAH (I AM THAT I AM); and He said, You shall say this to the sons of Israel, EHYAH (I AM) has sent me to you.” (Exodus 3:14; HRB)

Tepatnya saya sungguh terbebas sekarang dari suara-suara dan serangan-serangan musuh tersebut. Tidak adalagi pertarungan di dalam pikiranku. Saya merasakan sama sekali diperbaharui, secara utuh pribadi yang baru. Dari semuanya, melewati pengalaman ini saya pastilah tidak akan pernah sama. Saya menaruh imanku kepada Yeshua Ha Mashiah, untuk pertama kalinya saya mampu memanggil Dia Adonai-ku dan Juruselamat-ku. Saya tidak dapat menolak lebih lama lagi, air mataku berjatuhan. Saya tidak dapat percaya diriku sendiri, semua yang saya percayai sebelumnya, hanya sekejab, telah pergi begitu saja. Tidak lagi takut terhadap ”syrik,” juga penghakiman. Terlebih lagi, saya mengerti sekarang bahwa orang-orang Kristen tidak meninggikan Yeshua sebagai manusia biasa, sebaliknya Elohim yang turun dari sorga dalam wujud manusia. Itu nampak sekarang masuk akal kepadaku oleh karena kasih-Nya kepada kita. Saya merasa seperti telah melewati sebuah lubang kecil, melalui luka-luka, ke sisi yang lain yang penuh dengan cahaya. Tetapi sekarang jelas  saya berada di tempat yang aman dan musuh telah kehilangan pertarungannya terhadap diriku. Pada tanggal 1 Maret malam hari, 1998 adalah pengalaman yang tidak dapat dilupakan yang telah merubah seluruh kehidupanku.

Saya berkendak membangunkan sepupuku yang ada di ruangan lain, tetapi aku biarkan untuk esok harinya sebagai kejutan. Esok paginya secepat ia membuka matanya dari tidur saya berteriak kepadanya: ”Selamat pagi saudaraku (brother),” saya berdiri dari ranjang dan bercerita kepadanya bahwa saya percaya kepada Yeshua Ha Mashiah sekarang. Pertama ia berpikir saya sedang mengodainya, Dia tidak percaya apa yang ia dengar dari ku. ”Kemarin malam kita ada berdebat dan dia menolak saya dengan keras,” ia berpikir, ”dan hari ini dia memanggilku saudaraku?” ”Kamu yakin apa yang kamu katakan,” ia berkata. ”Tentu, saya sungguh-sungguh yakin bahwa saya telah menemukan kebenaran,” saya berkata. ”Saya telah menemukan kebenaran di dalam Yeshua.” Saya memeluk dia dan membagikan semua pengalaman yang terjadi kemarin malam, bersuka cita bersama kami membagikan roh yang sama sekarang. ”Ini adalah mujizat, melihatmu berbeda hanya dalam semalam.” ia berkata. Dia memimpin saya dalam doa dan kami berdua terus mengikuti Yeshua.

[Ujian kesetiaan iman dan harga yang harus dibayar; YAHWEH setia]Saya berpikir ke masa yang telah saya alami, itu sesungguhnya perbuatan Elohim yang telah membuat aku percaya kepada Yeshua. Sebelumnya Yeshua tidaklah lebih dari se orang nabi adalah keyakinan dan ketakutanku terbesar sehingga saya tidak akan menyetarakan siapapun kepada Elohim, namun sekarang masalah ini menjadi ada penghiburan bahwa melalui iman di dalam Dia saya telah memiliki kehidupan kekal. Setiap kali saya berpikir tentang Yeshua dan apa yang Dia telah kerjakan untuk diriku, hatiku ada terisi dengan suka cita, damai dan keamanan akan hidup kekal itu. Sungguh suatu perbedaan yang sangat besar dengan apa yang saya rasakan sebelumnya.

Bagaimanapun langkah yang saya telah ambil melalui percaya kepada Yeshua sebagai hasil perbutan Elohim dalam diriku bukanlah sesuatu yang mudah. Segera keluargaku menjadi curiga. Suatu hari seorang sepupuku, sementara saya berkunjung kerumah orang tuaku, mengundang saya doa Jumat. Saya katakan padanya saya tidak bisa menemaninya ke mesjid sebab sekarang saya percaya Alkitab sebagai Firman Elohim dan percaya Yeshua sebagai ganti dari Muhammad. Dia pikir saya bercanda, tetapi setelah saya tegaskan dia akhirnya percaya. Dia segera berbicara kepada paman-pamanku dan informasi tersebut segera sampai ke ayahku. Satu dari pamanku adalah haji, orang yang telah berkunjung ke Mekkah, dialah juga yang telah menyokong keuanganku kuliah di Prishtina sebab kedua orang tuaku tidak mampu melakukannya. Dia seorang muslim yang serius dan saya telah berjanji pada dia untuk kuliah dengan benar dan terus di dalam Islam. Saya merasa tidak enak dengan janji tersebut, tetapi Yeshua lebih penting untuk saya sekarang. Saya tahu dengan pasti saya akan kehilangan bantuannya secepat ia tahu telah keluar dari Islam, tetapi saya memiliki jaminan batin bahwa saya tidak akan ditinggalkan oleh Elohim. Pada sisi lainnya, bapaku sejak kematian kakakku, ia telah mulai mempraktekkan Islam melalui doa lima waktu. Ini akan menjadi kejutan baginya.

Yeshua Ha Mashiah: “Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luke 12:11-12)

Saya masih berada di rumah orang tuaku, ketika ayahku datang kepada ku dengan segera, mempertanyakan entah yang dia telah dengar dari orang adalah benar. Ia berkata, ”Saya tidaklah akan percaya sebelum berbicara kepada mu, benarkah (berita) ini?” Saya bilang itu benar, saya tidak percaya lagi kepada Muhammad. Hatiku berdetak keras sekali, saya tidak percaya pada diri saya sendiri bahwa saya dapat menemukan kekuatan mengatakan itu terus terang.  Ayah jadi marah sebab ia telah berharap saya akan menyangkal dengan mengatakan yang berlawanan. Dia segera keluar dan mencoba melakukan suatu pekerjaan di halaman sementara memikirkan situasi tersebut. Saya memperhatikan dia melalui jendela, ia nampak sungguh gelisah; berhenti kerja sebentar, memegang kepalanya, berjalan sedikit dan kembali kerja. Malamnya ayah menemukan aku lagi berkehendak meneruskan percakapan sampai akhir. Dia memulai dengan lembut, ”Perhatikan, saudara-saudara kandungku mengharapkan jawaban dari ku besok; saya tidak dapat menjumpai mereka jika kamu tidak berjanji menjadi Muslim lagi. Kamu harus merubah pikiranmu malam ini.” Suatu tekanan tetapi dalam intonasi yang lembut. Saya berkata, ”Dengan penuh penyesalan, saya tidak dapat melakukan itu. Ayah dapat memohon apapun juga diluar menyerahkan imanku kepada Yeshua. Saya benar-benar telah memikirkan semua ini secara masak sebelum saya mengambil keputusan tersebut dan saya tidak dapat berkompromi dalam hal ini.”

Sementara saya berbicara sebuah ayat Alkitab muncul di pikiranku: ”Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di Sorga.” (Mat 10:33). Saya tidak boleh menyangkal Yeshua, saya berpikir itu tidaklah benar melakukannya setelah apa yang Dia telah lakukan kepadaku. Tidak lama kemudian ayah bertelut, matanya penuh dengan  air mata, (dan memohon): ”Saya memohon padamu tidak berbuat begitu kepada ku. Ini sungguh hal yang sangat memalukanku. Saya telah kehilangan seorang putra, dan sekarang satu-satunya yang kumiliki menentang ku. Hal ini bahkan lebih buruk dari kehilangan putra pertamaku. Saya tidak dapat menanggung hal ini, saya tidak dapat.” Hal ini juga masalah terburuk yang saya pernah alami, saya tidak pernah dapat bayangkan ayahku bertelut dihadapanku dengan air mata bercucuran. Dalam budaya kami ini tidak dapat dibayangkan. Saya tidak dapat duduk lebih lama, saya juga tidak dapat menanggung hal ini lebih lama. Dengan air mata berlinang di wajah ku, saya berkata kepada ayah: Mohon jangan meminta padaku menyangkal imanku kepada Yeshua sebab saya tidak akan pernah dapat melakukannya. Jika kehadiranku di rumah ini akan membawa situasi lebih buruk, saya akan pergi besok secepatnya.” Suara ayah menjadi tinggi: “Tapi saya adalah ayahmu, saya yang membuat kamu. Kamu harus mentaatiku,” ia meneruskan, “Apakah Alkitabmu mengajar untuk menghormati orang tuamu!?”
Saya menjawab, ”Benar, Alkitab menyatakannya. Tetapi yang pertama, dinyatakan kita harus mentaati Elohim.” Saya terpikir Matius 10.37Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Saya lari ke kamarku berdoa  minta Elohim meredahkan situasi tersebut, ayahku mengikutiku. Di meja kamarku terdapat Alkitab dan banyak buku-buku Kristen. Ayah memperhatikan semua barang tersebut, mengambil Alkitab dan mulai merobeki halaman demi halamannya. Setelah ia selesai dengan Alkitab ia mengambil semua buku di meja dan pergi ke rak bukuku mengambil buku-buku lainnya dan merobek-robeknya. Ayah berkata, Imam itu benar ketika ia berkata berkata padaku jangan biarkan putramu membaca buku-buku tersebut sebab mereka dapat merubah pikiranmu. Saya berlaga ada lebih bijaksana dengan berkata padanya ‘jangan kuatir, dia membacanya hanya untuk ingin tahu saja, saya bangga sebab putraku ingin tahu lebih banyak.’ Ini semua buku-bukumu dan jagan pernah membawa buku-buku sejenis ini masuk ke rumahku lagi!,” dia berteriak. Saya tidak bereaksi, sadar ayah sedang diluar kendali, meskipun hatiku sakit melihat semua buku Kristen ku terobek, termasuk Alkitabnya.

Yeshua: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:43-45)

Segera saya meninggalkan kota halamanku pindah ke Prishtina dimana saya belajar, berdoa sebab nasipku sungguh sekarang saya berada di tangan Elohim. Pamanku menyatakannya dengan jelas bahwa saya tidak layak mendapat dukungannya kecuali kembali jadi Muslim. Saya setuju dengan paman, ia benar dan mengerti posisinya sebagai haji tidak dapat menolong orang Kristen. Saya tetap percaya kepada Yeshua dan Dia mampu memberi jalan keluar dari situasi ini. Tidak lama kemudian Elohim memberikan saya sebuah pekerjaan di Prishtina jadi saya tidak perlu mengemis pada siapapun dan berkompromi dengan iman baruku tersebut. Saya memiliki pekerjaan sepenuh waktu di sebuah organisasi internasional dan berhenti kuliah beberapa tahun sampai saya dapat menyimpan gaji untuk tahun-tahun kuliah mendatang. Itulah caranya saya mengatus kuliah dan tidak mengemis kepada pamanku dan orang lain. Elohim membuktikan diri-Nya sendiri  bahwa Ia setia dan nyata bagiku. Bahkan tidak sedikit waktupun saya merasa ditinggalkan atau diabaikan. Dia telah menunjukkan tangan kemurahan-Nya kepada ku.

Hubungan dengan ayahku tetap susah selama hampir empat tahun. Tidak satu katapun ia katakan padaku. Ketika saya mengunjungi mereka – terutama ibuku yang sangat  menderita – , ayah akanlah meninggalkan rumah pergi menemukan orang lain. Saya berusaha mendekatinya, namun dia tidak pernah memberi kesempatan. Baginya, saya bukan lagi putranya, telah menghianatinya, tidak mentaatinya meskipun ia telah memohon, telah memalukannya dihadapan orang lain.

Berdasarkan ajaran Kuran dan tradisi Islam, sebagai orang Kristen saya tidak layak mewarisi rumah atau apapun juga darinya. Dia telah berkata bahwa ia akan memberikan semua miliknya kepada Masyarakat Islam. Bahkan ia berkata kepada ibukum, ”Ibrahim dapat bersyukur bahwa Hukum Syariah (Hukum Islam) tidak memerintah Kosovo, jika berlaku tentunya ia telah dihukum (mati) karena telah murtad.” Ayahku tahu persis apa yang hukum Syariah nyatakan dan ayah sendiri senang hidup di negara sekuler sehingga saya tidak dihukum mati. Bagaimanapun semua usahaku untuk berdamai dengan ayah sia-sia. Saya berdoa bertahun-tahun untuk pemulihan hubungan kami dan hampir menyerah. Namun apa yang mustahil bagiku adalah mungkin bagi Elohim. Suatu malam ketika saya dirumah, ayahku jatuh sakit dan menderita. Saya tidak tahu apa yang terjadi, berpikir ia mendapat serangan jantung. Kemudian saya tersadar bahwa ia telah mengalami diare selama beberapa hari karena infeksi yang berat. Saya bawa ayah ke rumah sakit, merawatnya beberapa hari, sikapnya bertambah lunak terhadap ku. Dia mulai lagi berbicara dan semakin dekat padaku meskipun saya tidak berkompromi dengan imanku. Elohim sekarang bekerja di dalam hidup ayah, saya mendapatkan ayahku kembali. Saya sungguh tidak pernah menyangka bahwa penyakit tersebut membawa kami bersatu lagi. Saya menaikkan pujian bagi Elohim sebab jalan-Nya sungguh berbeda dengan jalan-jalan kita.

Hal lain yang mengganggu ayahku adalah hubunganku denga seorang gadis Kristen. Setelah hubungan komunikasi kami membaik, ayah berharap saya akan mendengarkan dia untuk menikah dengan gadis Muslim dengan harapan gadis tersebut dapat mempengaruhiku untuk kembali ke Islam. Pertama ayahku mendengar hubunganku dengan gadis Kristen tersebut ia tidak setuju sama sekali, katanya, ”Saya tidak dapat menerima mereka di rumahku sebagai suami-istri.” Saya bersabar dan banyak berdoa berjalan dengan iman. Beberapa waktu kemudian saya memutuskan mengunjungi keluargaku bersama teman gadisku tersebut, saya ingin ayah tahu calon isteriku. Saya telah siapa menghadapi segala konsekuensinya; terburuk mugkin kedua dari kami akan ditentang keluar. Namun itu mengejutkanku ayah bersikap sangat baik terhadap pacarku, ayah senang sekali kepadanya, ia berbicara dengan sangat manis melebihi daripada berbicara kepadaku. Saya melihat tangan Elohim bekerja kembali. Kami menikah dan tinggal di rumah orang tua hampir selama setahun sebelum kami pindah ke Pristhina untuk bekerja.

[Perbandingan masa lampau dan setelah beriman kepada Yeshua Ha Mashiah]
Hari ini jika saya bandingan keyakinanku yang sekarang dengan yang sebelumnya, saya sadari banyak sekali perbedaannya. Bukanlah karena dulu saya tidak ada kebahagian dalam Islam, tapi apa yang saya telah temukan kemudian tidaklah dapat dibandingkan dengan apapun.  Saya menemukan bahwa Yeshua telah mengisi tempat hatiku yang kosong. Kekosongan yang tidak mungkin diisi dengan agama atau perbuatan-perbuatan baik, atau apapun juga sebab kekosongan tersebut telah diciptakan hanya untuk dihuni oleh Elohim sendiri.

Kekosongan yang tidak mungkin diisi dengan agama atau perbuatan-perbuatan baik, atau apapun juga sebab kekosongan tersebut telah diciptakan hanya untuk dihuni oleh Elohim sendiri.

Tambahan pula, setelah menerima Ha Mashiah banyak perbedaan antara agamaku yang lalu dan kepercayaanku yang kemudian telah menjadi jelas bagiku.

Pertama, sehubungan dengan iman. Dalam Islam, iman adalah cenderung statis. Saya percaya Elohim ada, namun jauh sekali dariku tidak perduli berapa banyak saya berdoa dan berpuasa.  Segala sesuatu yang saya lakukan didasari ketakutan pada Elohim dan konsekuensi hukuman-Nya. Hari ini imanku berfungsi dan itu didasari pada hubungan pribadi yang erat yang saya miliki dengan Elohim. Setiap perbuatan baik yang saya lakukan keluar dari hubungan yang didasari kasih kepada Elohim, dan bukanlah ketakutan.

Kedua, tentang karekter Elohim. Elohim di dalam Alkitab menyatakan diri-Nya sendiri sebagai pribadi, seperti yang saya alami sendiri pada tahun-tahun terakhir ini dan tetap merasakan hubungan pribadi dengan Dia setiap hari. Elohim sekarang adalah Bapaku dan saya anak-Nya. Dalam agama Islam, hal ini dianggap suatu penghujatan. Saya telah belajar bahwa Elohim mengasihi orang sakit (orang berdosa) tetapi tidak mengasihi penyakitnya (dosanya), dimana sebelumnya saya diajar dari Kuran bahwa semua orang berdosa akan masuk api neraka.

(Ketiga), masalah berikutnya, memiliki jaminan keselamatan kekal. Sebelumnya tujuan kekekalanku tidak aman, meskipun saya telah mencoba melakukan apapun yang mungkin untuk berbuat baik, sekali lagi saya tidak dapat menjangkau sorga. Hari ini saya tahu bahwa Yeshua telah menggambil semua tuduhan yang ada padaku sementara Ia menuju kematian di kayu salib karena dosa-dosaku. Saya tidak perlu membayar apa-apa untuk semua penebusan tersebut sebab Ia telah membayarnya. Ini adalah keyakinan yang telah kumiliki keluar dari keseimbangan semua perbuatanku pada timbangan (perbuatan baik dan dosa) di Hari Penghakiman. Kehidupan kekal yang didasari dar iman kepada Yeshua Ha Mashiah adalah anugerah yang ditawarkan kepadaku sekali untuk selamanya.

(Keempat), berikutnya. Sebelumnya saya berhadapan dengan pertanyaan: “Mengapa saya tidak dapat keluar dari dosa meskipun segala sesuatu saya telah lakukan?,” saya tidak suka melakukan dosa namun saya tidak dapat mencegahnya. Kemudian sebagai orang percaya kepada Yeshua Ha Mashiah saya sadar bahwa ada kuasa di dalam hidupku yang mampu mengalahkan dosa, menemukan diriku sendiri menang atas dosa. Ini bukan berarti saya tidak akan pernah berbuat dosa lagi, sebagaimana tetap ada benturan antara kehidupan lamaku dengan kehidupan baruku yang diberikan oleh Ha Mashiah, tetapi ini berarti dosa tidak lagi berkuasa atas hidupku.

(Kelima), satu dari perubahan lainnya yang saya teliti dari diriku sendiri ialah semakin saya percaya Islam, semakin saya benci kepada orang-orang Yahudi dan Kristen; hari ini roh kebencian ini tidak lagi ada di dalamku. Bahkan, saya mengasihi orang-orang Muslim meskipun mereka benci pada ku. Roh kebencian telah diganti dengan roh kasih sayang,

(Keenam), Doa atau sembayang dan berpuasa adalah mesin (di dalam agama Islam), saya telah mempelajari surah-surah dalam bahasa Arab, bahasa yang dianggap (oleh penganutnya) sebagai bahasa sorgawi, tetapi tidak dapat dimengerti olehku, jadi saya lafalkan saja semua surah kepada Allah. Berdoa sekarang menjadi sangat berarti bagiku sebab saya berdoa dengan bahasaku dan tidak perlu mengikuti aturan-aturan sembayang tertentu. Saya mengatakan segala sesuatu yang ada dihatiku kepada Elohim, mengetahui bahwa Dia selalu mendengarkanku. Ketika saya berpuasa sekarang, saya tidak katakan pada siapapun, cukuplah Elohim mengetahui dan melihatnya. Melalui puasa saya mendekatkan diri kepada Elohim, menyingkirkan hal yang terpenting dari hidup kita, yakni makanan. Introspeksi diri sendiri, bertobat jika ada dosa, berdoa dan melihat kedepan sesuai kehendak YAHWEH dan menyembah Elohim sebagaimana Dia adalah.

Teman-temanku itulah ceritaku bagaimana saya mengenal Yeshua secara pribadi di dalam kehidupanku. Sungguh hal itu adalah hal yang paling berharga pernah bisa dimiliki. Ini tidak ada hubungannya degan agama-agama, yang mana lebih baik dari lainnya meskipun ada banyak perbedaan, namun lebih berkait dengan awal dari hubungan dengan Elohim. Saya ingin Anda semua yang membaca cerita ini memiliki pengertian akan Yeshua Ha Mashiah melalui meminta Elohim mewujudkan diri-Nya sendiri kepada Anda, sebab Dia adalah setia dan sungguh menantikan Anda. Lebih lagi, Dia berjanji untuk menjawab Anda jika Anda mencari Dia dengan segenap hati, seperti tertulis: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7)

Teman-teman, pada waktu yang lalu saya telah membuat banyak kesalahan dan menyesali banyak hal, tetapi satu hal saya tidak pernah salah dan tidak menyesali apapun ketika saya meletakkan imanku kepada Yeshua Ha Mashiah selamanya sebagai Adonai dan Juruselamatku, itu adalah momen yang indah.

Ingatlah saat ini Dia menawarkan Anda  undangan untuk kehidupan yang baru dengan Dia, sebuah kehidupan yang melimpah, penuh damai dan sukacita. Keputusan sehubungan dengan tujuan kekekalan Anda adalah ditangan Anda sendiri.
Jangan ragu untuk menghubungi saya di sini apapun pertanyaan yang Anda miliki. Kiranya Elohim memberkati Anda dengan melimpah. [E-mailnya tersedia di artikel Inggrisnya]
Ibrahim.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya http://senjatarohani.wordpress.com/.  Hargailah karya tulis orang lain. Salam dan terima kasih, Senjata Rohani’s Weblog
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.